Keluarga suamiku merendahkanku setiap hari, aku di jadikan babu di rumah itu, rumahku sendiri. Tapi suamiku tak peduli, ia hanya bisa terus berselingkuh dengan wanita di Bar.
Satu malam, aku mabuk berat dan tidur dengan pria asing yang ku temui di parkiran, kami melakukannya di mobil.
"Ah...lakukan dengan pelan." Kataku, karena hanya itu yang bisa ku balas pada dunia yang menyakitiku.
Tapi aku tak tau, pria itu ternyata....ketua organisasi paling berbahaya di kota ini.
Sekarang aku terjebak
Antara pernikahan yang akan membunuhku pelan pelan, atau pria yang bisa membunuhku dalam semalam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Clue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 Masa ber—
Malam berakhir
Pagi datang lagi, langit layu. Matahari tak kunjung datang, namun hujan pun tak kunjung turun
Clare membuka mata, lalu menarik selimutnya, ia melirik ke samping ranjang, Jhon sudah tidak ada, mata Clare tak sengaja menyapu laci di samping tempat tidur Jhon, ada surat kecil yang ditindih gelas kaca.
Ia langsung meraih surat itu. Tulisan tangan Jhon. Rapi, tapi tergesa.
"maaf, saya tidak pamit terlebih dahulu. Ada meeting mendadak di luar negeri yang harus saya hadiri" pesannya
"buang setelah pakai ya?" gumam Clare, meniru tulisan di surat itu, nadanya datar seperti sudah mengetahuinya
Tok... tok...
Suara ketukan pelan memecah keheningan kamar. Clare melirik ke arah pintu, buru-buru mengusap sudut matanya
"masuk saja"
Pintu terbuka perlahan. Seorang pria dengan jas hitam rapi berdiri di ambang pintu. Rambutnya tersisir ke belakang, dan di tangannya ada map kulit berwarna hitam. Wajahnya datar, profesional.
"Nyonya?" sapanya dengan suara tenang.
Clare mengangkat dagu, berusaha terlihat biasa saja. "ya?"
"Perkenalkan, saya Bima. Asisten pribadi Tuan Jhon." Ia menundukkan kepala sedikit. "Tuan Jhon mengutus saya untuk menemui Nyonya pagi ini."
Clare menatap lama mata Bima, mencari sesuatu "saya mengingat kamu"
Bima tersenyum tipis. Ia melangkah masuk dan meletakkan map hitam di atas meja. Dari dalamnya ia mengeluarkan sebuah kartu. Kartu hitam, mengkilap. Black card.
"Tuan Jhon harus berangkat subuh tadi. Ada krisis besar di kantor cabang Singapura yang hanya beliau yang bisa tangani. Pesawatnya lepas landas 30 menit setelah beliau menghubungi saya." jelas Bima.
"saya mengerti" jawab Clare, datar
Bima menyerahkan kartu itu dengan kedua tangan. "Ini pesan dari Tuan Jhon. 'Gunakan kartu ini untuk apapun yang kamu butuhkan. Tinggallah di hotel ini selama kamu ingin'"
Clare menatap kartu hitam di tangan Bima. Dingin. Berat. Tidak ada nominal yang tertulis, tapi Clare tahu itu kartu tanpa limit.
Ia tidak langsung mengambilnya. Matanya menatap Bima tajam. "Dan jika saya menolak?"
Hening...
"saya pikir dia laki-laki yang berbeda, dan ternyata Dia menganggap saya seperti wanita murahan yang menerima uang begitu saja dari pria setelah tidur" ujar Clare, suaranya sedikit meninggi
Bima terdiam beberapa detik. Wajahnya tetap profesional, tapi sorot matanya melembut.
"Nona salah paham." jawab Bima pelan. "Jika Tuan Jhon hanya ingin 'membayar' beliau tidak akan menyuruh saya datang, dan tidak akan memberikan kartu atas nama nona"
Clare mengerutkan kening. "Maksud kamu?"
"Kartu ini sudah didaftarkan dengan nama dan identitas Nona." Bima meletakkan black card itu di atas nakas, tidak memaksa. "Tuan Jhon bilang, ini bukan ganti rugi. Ini... bentuk tanggung jawabnya."
"Dan satu lagi." lanjut Bima. Ia mengeluarkan sebuah ponsel baru dari dalam map. "Ini nomor pribadi Tuan Jhon. Beliau minta Nona menghubunginya kapanpun. Beliau juga sudah memesan penerbangan pulang tercepat. Tiga hari"
"Clare menatap ponsel itu lalu menatap surat di tangannya. Amarahnya belum padam, tapi mulai retak
"Baik" jawab Clare pelan "tapi hubungan saya dengan tuan Jhon tidak seperti yang kamu pikirkan" Bima mengerutkan kening
"bahkan kami belum meresmikan hubungan kami, lagipula saya..."
Bima mengedipkan matanya lama "saya sudah mengetahuinya. Tapi tolong untuk mempertimbangkannya lagi, nyonya" ujarnya
Clare diam, menatap mata Bima yang memohon. Lalu ia mengangguk kecil "baik, beri saya waktu"
Bima tersenyum lebar, meletakan ponsel baru itu di meja, dan berbalik hendak pergi. Namun langkahnya berhenti di ambang pintu
"Oh ya, Nyonya." Bima tersenyum kecil
"saya ingin memberi tahu anda rahasia kecil, sebenarnya ini kali pertama tuan Jhon bersikap seperti ini kepada wanita, saya pun heran mengapa ini bisa terjadi, tapi percayalah, nyonya. Tuan Jhon dia orang yang sangat baik walau wajahnya selalu terlihat dingin"
Pintu tertutup.
Kamar kembali hening. Hanya ada suara AC dan detak jam dinding.
Clare duduk di tepi ranjang. Ia menggenggam black card di tangan kanan, dan surat Jhon di tangan kiri
"apa pria itu serius!? apa dia tidak sedang bermain-main denganku!" gumamnya, sembari mengelus surat itu
Clare bangkit, membuka laci tepi ranjang lalu menaruh suratnya disana, ia berjalan ke arah meja mengambil ponsel yang di letakkan Bima
"apa aku harus menghubunginya?" Clare membuka telepon, hanya ada satu nomor di dalamnya, yaitu Jhon
Clare mengetik sebuah nomor, Jarinya bergerak perlahan di atas layar ponsel.
Satu angka.
Lalu angka berikutnya.
Ia mengetik nomor yang entah sejak kapan sudah tersimpan begitu jelas di dalam ingatannya. Tidak ada nama di layar—hanya deretan angka panjang yang membuat tatapannya seketika berubah serius.
Berhenti sejenak.
Jempolnya menggantung tepat di atas tombol panggil.
Kemudian, tanpa ragu, ia menekannya.
Tut... tut...
Tatapannya tetap tertuju pada layar.
Panggilan itu tersambung.
"halo" panggil Clare
"yeah, Siapa?" tanya nya
"aku Clare" jawab Clare, dengan suara yang lirih
"Clare? Tapi ini bukanlah nomornya!"
"ini nomor keduaku, Nana!" jawabnya lagi, dengan nada yang berat
"ternyata ini beneran kamu!... Kita sudah beberapa hari tidak bertemu bukan? aku sangat merindukanmu, Clare" ujar Nana, riang
"yeah, dan kamu sama sekali tak mencari ku" Clare mengerutkan wajahnya
"maaf... Aku di kurung oleh ayahku, dan dia merebut ponselku" keluhnya
Clare tertawa kecil "yang benar saja, Nana. kamu membuat kesalahan apa?"
Nana terdiam beberapa detik, lalu
"Clare...maaf..."
"ada masalah apa?" tanyanya, bingung
"aku tidak bisa membantumu merebut perusahaan itu dari Hans, perusahaan ayahku juga mempunyai masalah yang cukup serius!"
Clare terdiam
Hening...
"tidak masalah, aku akan mencari jalannya sendiri"
"aku sungguh ingin meminta maaf... Oh ya, mengapa kamu menghubungiku dengan nomor baru, ada apa dengan nomor yang lama?" tanyanya
"tidak apa-apa dengan nomor lamaku, sebenarnya aku menelepon mu karena ingin menyalahkan kamu tentang sesuatu yang sudah terjadi.." ujar Clare, menuntut
"apa yang terjadi, aku berbuat apa?!" tanya Nana panik
"aku bertemu lagi dengan pria malam itu... Dan plot twist nya dia adalah CEO Anata group" ungkap Clare, malu
"APA!!!??, pantas saja dia mempunyai supir dan mengenakan mobil mewah" ujar Nana, suaranya keras mengiung di telinga Clare
"Dan bodohnya aku, aku memberikan sejumlah uang kecil kepada orang terkaya, harga diriku hilang, Nana!" Clare berteriak suaranya memeragakan tangisan
"memang kamu memberinya berapa?"
"lima ratus ribu, itu separuh dari uang yang tersisa di dompetku!"
"LIMA RATUS RIBU!!!!? mungkin dengan uang segitu membeli waktunya pun tak cukup" ujar Nana, dengan nada lemas
"tapi dia bukannya marah kepadaku karena telah menghinanya dengan uang segitu, dia malah mencariku"
"tunggu... Mencari mu? Untuk apa?" ujar Nana dengan nada kepo nya
"aku tidak tahu, tapi baru saja asistennya memberiku sebuah kartu, Black card"
"Black card?" Ulangnya "itu adalah kartu tanpa limit, serius dia memberimu itu?" ujarnya, terkejut lagi
"aku tidak tahu, aku beruntung atau malah sebaliknya"
"mengapa?" tanya Nana
Tring... satu pesan masuk
Clare melirik layarnya. dilayar tertulis nama 'Jhon' yang sudah tersimpan
"sebentar, Jhon mengirimiku pesan!" ujar Clare kepada Nana, tanpa menunggu jawaban, Clare langsung mematikan teleponnya
*mengapa dia masih sempat mengetik pesan, harusnya saat ini dia masih sedang rapat?* batin Clare