NovelToon NovelToon
Damian: Jerat Sang Iblis

Damian: Jerat Sang Iblis

Status: tamat
Genre:Iblis / Romansa Fantasi / Hantu / Tamat
Popularitas:279
Nilai: 5
Nama Author: cinnamon girl

Jatuh cinta pada Hantu adalah sebuah kutukan. Kutukan takdir yang akan terus berputar pada keluarganya.

Ketika logika manusianya tertutupi oleh manipulasi gaib yang Damian lakukan. Membuat Cindy yang awalnya murni jatuh hati pada sikap dan ketampanan pria itu menjadi buta pada segala hal keanehan yang terjadi pada tubuhnya serta pada Damian. Namun setelah melahirkan anak pria itu perlahan ia sadar bahwa ia terlanjur jatuh pada jeratnya. Demi cinta ia mau jiwanya terjerat mati bersamanya selamanya....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cinnamon girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 33 - epilog

Bohong. Semuanya bohong.

Kalimat penenang Helena malam itu hanyalah pengalih perhatian. Sekarang, sudah hampir seminggu berlalu sejak hari di mana Damian melesat membelah langit merah di lembah curug, dan pria itu belum juga kunjung pulang.

Tidak ada tanda-tanda ketukan pintu, tidak ada hawa dingin lembut yang menyelimuti tempat tidur, dan tidak ada aroma kenanga mati yang biasanya memandu kepulangan suaminya. Keheningan di rumah kolonial tua itu terasa begitu pekat, menindas, dan menggerogoti waras Cindy perlahan-lahan.

Perasaan gundah, takut, dan cemas bercampur menjadi satu adonan racun di dalam dadanya. Namun, setiap kali mata cokelat terangnya menatap Helena yang sedang menggambar di meja makan, Cindy memaksakan sebuah senyuman hangat. Ia berpura-pura tegar, berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, demi menjaga mental putri kecil mereka agar tidak terguncang.

Sementara itu, Piko sang Harimau Putih Raksasa tidak pernah menyusutkan wujudnya. Sosok gaib bertubuh perak itu terus siaga penuh, mengelilingi ruang tengah dan teras, bertindak sebagai benteng bernapas yang tak pernah tertidur demi melindungi Cindy dan Helena dari sisa-sisa kebocoran energi Pangilon.

Pagi itu, saat Helena sedang asyik mewarnai di kamar bersama bonekanya, Cindy berjalan ke teras belakang dengan cangkir teh chamomile hangat yang bahkan tidak ia sentuh sama sekali. Matanya sembab, lingkaran hitam tercetak jelas di bawah matanya.

Di sana, Piko sedang merebahkan tubuh besarnya di atas tegel dingin, sepasang mata birunya menatap lurus ke arah pohon beringin tua.

"Piko..." panggil Cindy lirih, suaranya parau dan teramat lelah.

Piko memutar kepalanya yang anggun, menatap Cindy dengan tatapan dalam. *“Nyonya... Anda tidak tidur lagi semalaman.”*

Cindy menghembuskan napas panjang, duduk bersimpuh di tegel tepat di samping kepala besar Piko. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kayu, menatap kosong ke arah langit pagi yang mendung.

"Bagaimana aku bisa tidur, Piko? Sudah seminggu..." bisik Cindy, jemarinya meremas kain daster bahagian bawahnya. "Tapi... ada hal lain yang bikin aku makin gelisah beberapa hari terakhir ini."

Piko menegakkan telinganya, menyipitkan mata. *“Hal apa, Nyonya? Apakah ada aura asing yang mengganggu ketenangan sukmamu?”*

"Bukan mahluk jahat," Cindy menggeleng pelan, lalu menoleh menatap sepasang mata biru sang khodam. "Akhir-akhir ini... aku selalu bermimpi hal yang sama setiap kali memejamkan mata. Aku bermimpi tentang mendiang kakekku."

Piko terdiam, mengibaskan ekornya yang tebal di atas tegel. *“Mbah Broto? Kakek dari garismu yang wafat di usia seratus tahun lebih itu?”*

"Iya," angguk Cindy, matanya menerawang mengingat bayangan di alam bawah sadarnya. "Di dalam mimpi itu, Kakek selalu berdiri di bawah pohon beringin belakang rumah ini. Beliau tidak bicara, tapi tangannya menunjuk ke arah tanah, lalu menunjuk ke dada Helena. Wajahnya tenang sekali, seperti sedang mencoba memberitahuku sesuatu. Aneh, Piko... Kakek sudah meninggal belasan tahun lalu. Kenapa beliau baru muncul sekarang? Tepat di saat Damian hilang di Pangilon?"

Piko mengembuskan napas gaibnya yang hangat, membuat beberapa helai rambut Cindy bergerak pelan. Sang Harimau Putih merendahkan kepalanya, menyejajarkan matanya dengan Cindy.

*“Mimpi di saat-saat kritis seperti ini bukanlah bunga tidur biasa, Nyonya,”* suara gaib Piko mengalun dalam dan penuh teka-teki di dalam pikiran Cindy. *“Darah manusiamu mungkin merasa fana, tapi garismu bukanlah garis sembarangan. Mbah Broto adalah seorang sesepuh tanah Jawa yang semasa hidupnya memegang perjanjian lama dengan penjaga alam ini.”*

Cindy mengernyit bingung. "Maksudmu... Kakek ada hubungannya dengan situasi Damian sekarang?"

*“Silsilah darahmu adalah alasan utama mengapa Batu Giok Sukma dari Pangilon bisa menyatu sempurna dengan tubuhmu tanpa membunuhmu tujuh tahun lalu, Nyonya,”* pencerahan dari Piko membuat jantung Cindy berdegup kencang. *“Mbah Broto tidak muncul untuk menakutimu. Jiwa leluhurmu itu hadir karena beliau merasakan bahaya yang mengancam keturunan darahnya. Beliau mencoba memberi petunjuk... tentang kunci rahasia yang tersimpan di tanah rumah ini.”*

"Kunci rahasia?" celah suara Cindy bergetar. "Kunci untuk apa, Piko? Untuk membantu Damian?!"

*“Untuk mengakhiri perang di Pangilon seutuhnya,”* balas Piko tegas. *“Tuan Agung Damian bertarung dengan kekuatan fisik dan es iblisnya, namun Sang Penguasa Pangilon adalah entitas tanah kuno. Hanya kekuatan penyeimbang dari leluhurmu, darah suci yang diwariskan padamu dan Helena yang bisa memutus pasokan energi sang raja iblis purba tersebut.”*

Cindy menatap telapak tangannya sendiri yang gemetar, lalu menoleh ke arah kamar tempat Helena berada. Logikanya yang dulu selalu menolak hal-hal gaib kini sepenuhnya terbuka. Jika leluhurnya turun tangan melalui mimpi, itu artinya penantian pasifnya harus berakhir.

"Katakan padaku, Piko..." bisik Cindy dengan mata cokelat yang kini menyala oleh tekad baru yang membakar ketakutannya. "Apa yang harus aku lakukan dengan petunjuk Kakek? Bagaimana cara kita membawa Damian pulang?"

Piko menggeser posisi tubuh besarnya, membuat tegel teras bergetar halus. Sepasang mata birunya menatap lekat-lekat ke arah sudut pekarangan belakang, tepat di bawah rindangnya akar-akar gantung pohon beringin tua yang menjuntai laksana rambut raksasa.

*“Mbah Broto menunjuk ke tanah dan ke dada Helena di dalam mimpimu, Nyonya,”* suara gaib Piko mengalun berat, setiap kata yang terucap di pikiran Cindy membawa kehangatan mistis yang anehnya menenangkan. *“Di bawah akar beringin tua itu, tertanam sebuah *pusaka penambat bumi* yang dikubur oleh kakekmu delapan puluh tahun lalu. Sebuah keris cilik berkerangka kayu cendana yang disepuh dengan darah leluhurmu.”*

Cindy menahan napasnya, matanya membelalak menatap lurus ke arah pangkal pohon beringin yang nampak begitu gelap dan angker. "Keris... milik Kakek? Tapi untuk apa Kakek menanam hal seperti itu di rumah kolonial ini?"

*“Rumah ini berdiri di atas celah garis simpul gaib antara tanah Jawa dan dimensi bawah, Nyonya,”* pencerahan dari Piko terus berlanjut dengan detail yang begitu masuk akal bagi benak Cindy yang kian terbiasa dengan logika mistis. *“Mbah Broto menanamnya untuk mengunci gerbang itu agar mahluk-mahluk dari Pangilon tidak bisa seenaknya melintasi dunia manusia. Namun, saat Tuan Agung Damian datang dan mengunci sukmamu dengan Batu Giok dulu, segel itu terlapisi oleh hawa es milik Tuan Agung.”*

"Jadi..." Cindy menggenggam jemarinya sendiri, memajukan tubuhnya mendekati Piko. "Maksudmu, Kakek mau aku menggali pusaka itu?"

*“Bukan sekadar menggali, Nyonya,”* Piko menundukkan kepalanya, menyentuhkan hidung peraknya yang dingin ke punggung tangan Cindy. *“Pusaka itu butuh tetesan darah murni dari keturunan Mbah Broto darahmu dan pendaran energi suci dari Helena untuk membangkitkan intinya. Jika pusaka itu bangkit, guncangan energinya akan langsung memutus aliran daya Sang Penguasa Pangilon dari tanah ini. Tuan Agung Damian akan mendapat celah untuk menghancurkan raja iblis itu seutuhnya.”*

Mendengar ada cara nyata untuk membantu suaminya, seluruh rasa takut dan lelah yang menumpuk selama seminggu ini meleleh seketika, berganti menjadi keberanian murni seorang istri dan ibu.

"Bunda? Bunda lagi bicara sama Piko, ya?"

Suara mungil Helena memecah percakapan gaib itu. Gadis kecil itu melangkah keluar dari pintu belakang, memegang cangkir plastik berisi susu hangat. Kaki telanjangnya menapak di tegel, dan mata birunya menatap Cindy dengan polos.

Cindy segera menyeka sisa air mata di sudut matanya, lalu menyunggingkan senyuman paling hangat yang ia miliki. Ia merentangkan kedua tangannya. "Sini, sayang. Sini dekat Bunda."

Helena berlari kecil dan langsung menghambur ke dalam pelukan Cindy. Anak itu menyandarkan kepalanya di dada Cindy, menghirup aroma minyak kayu putih dan wangi katun daster ibunya.

"Helena..." panggil Cindy lembut, membelai rambut hitam lebat putrinya. "Helena sayang Papa, kan?"

Helena mendongak cepat, mata birunya berkilat tegas. "Sayang banget! Helena kangen Papa... Helena mau Papa pulang. Piko bilang Papa lagi lawan iblis jahat, kan?"

Cindy tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca menatap kemiripan wajah putrinya dengan Damian. "Iya, sayang. Papa lagi berjuang buat kita. Tapi sekarang... Papa butuh bantuan kita. Bantuan dari Helena dan Bunda."

"Bantuan?" Helena miringkan kepalanya bingung. "Memangnya Helena bisa bantu apa, Bunda? Helena kan belum bisa pakai pedang api seperti Papa."

Cindy terkekeh pelan, rasa haru mengelus dadanya. Ia mengusap pipi gembil Helena dengan penuh kasih sayang. "Helena punya hal yang jauh lebih hebat dari pedang api. Helena punya darah suci dan cinta buat Papa. Mbah Broto kakek buyutmu titip pesan lewat mimpi Bunda. Kita harus bangunkan 'penjaga' yang tidur di bawah pohon beringin itu."

Helena menoleh menatap pohon beringin tua di pekarangan belakang. Anehnya, bukannya takut melihat kegelapan di balik akar-akar besar itu, mata biru Helena justru berbinar halus, memancarkan pendaran cahaya keemasan tipis dari dalam dirinya reaksi alami darah perinya terhadap peninggalan leluhur.

"Pohon besar itu ya, Bunda?" tunjuk Helena dengan jari mungilnya. "Helena sering denger ada suara bisikan lembut dari bawah situ kalau malam... Suaranya mirip suara kakek tua yang ramah."

Cindy tertegun menatap putrinya, makin yakin bahwa takdir keluarga mereka memang tidak pernah kebetulan. Ia menoleh ke arah Piko yang kini sudah berdiri tegap, siap memandu ritual tersebut.

"Piko," kata Cindy tegas, berdiri sambil menggandeng erat tangan mungil Helena. "Ayo kita lakukan sekarang. Kita gali pusaka Kakek, dan kita panggil Damian pulang!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!