NovelToon NovelToon
Transmigrasi Gadis Imut

Transmigrasi Gadis Imut

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Mengubah Takdir
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadia Utari

Lily adalah gadis biasa yang suka makan kue dan membaca novel, tiba-tiba masuk ke dalam dunia buku yang baru saja ia baca! Dan yang lebih parah—ia bukan menjadi tokoh utama, melainkan penjahat sampingan yang nasibnya berakhir sangat menyedihkan di akhir cerita.

Dengan wajah imut, sifat polos, dan hobi makan kue, Lily bertekad mengubah takdirnya. Tapi siapa sangka, rencana hidup tenangnya malah berubah jadi rumit—karena siswa paling dingin di sekolah, ketua OSIS yang tegas, dan bahkan pewaris perusahaan besar… semuanya jadi terpesona padanya!

"Kau ini sebenarnya makhluk apa?" tanya siswa dingin itu dengan wajah datar, tapi tangannya tak melepaskan pinggangnya.
Lily tersenyum polos sambil memegang kue: "Aku cuma gadis yang suka makan, Mas~"

Apakah Lily bisa selamat dari akhir cerita yang tragis? Atau malah menemukan kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia Utari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 23: Janji di Bawah Pohon Maple

Semester berakhir dan liburan musim dingin semakin dekat. Udara semakin dingin, dan langit sering kali berwarna abu-abu lembut yang menenangkan. Sekolah mulai sepi setelah ujian akhir, dan kami berempat berjanji untuk menghabiskan satu hari terakhir bersama di tempat yang paling berkesan bagi kami—taman sekolah tempat semuanya bermula. Pohon maple merah yang dulu penuh dedaunan kini sudah mulai merontokkan sisa-sisa daunnya, menyisakan ranting-ranting yang tegak namun tetap kokoh, seolah melambangkan persahabatan dan cinta kami yang semakin kuat meski musim terus berganti.

Pagi itu, udara terasa dingin dan segar, menusuk kulit namun menyegarkan. Aku mengenakan mantel tebal berwarna krem dengan syal rajut berwarna merah muda yang dililitkan di leher, tangan kumasukkan ke dalam saku mantel agar tetap hangat. Saat aku sampai di taman, Ethan sudah menungguku di bawah pohon maple itu, mengenakan mantel abu-abu gelap yang membuatnya tampak semakin tenang dan dewasa. Begitu melihatku, ia tersenyum lebar dan melambaikan tangan, lalu segera berjalan mendekat untuk menyambutku.

"Kau datang tepat waktu," sapanya lembut saat aku sampai di hadapannya. Ia mengulurkan tangannya yang sudah mengenakan sarung tangan wol berwarna cokelat, lalu menggenggam tanganku yang juga terbungkus sarung tangan senada. "Kau kedinginan? Mari kita ke sana, Mark dan Elena sudah menunggu."

Kami berjalan berdampingan menuju bangku kayu yang sudah dilapisi selimut tebal oleh Elena. Di atasnya tersaji bekal makanan hangat yang kami siapkan bersama sejak pagi: sup jagung panas, roti gandum panggang, teh susu manis, dan kue-kue kecil buatan Tante Lisa. Mark dan Elena duduk berdekatan, keduanya tampak sangat bahagia. Saat melihat kami datang, Elena segera melambai dan menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.

"Ayo duduk! Supnya masih panas lho, kalau didiamkan terus dingin nanti!" serunya ceria.

Kami duduk melingkar di atas selimut tebal, berbagi makanan dan cerita dengan tawa yang tak putus-putusnya. Kami berbicara tentang ujian yang telah selesai, tentang rencana liburan musim dingin masing-masing, tentang hal-hal konyol yang pernah terjadi di sekolah, dan tentang perjalanan panjang yang telah kami lalui sejak hari pertama semuanya berubah. Mark bercerita tentang bagaimana ia dulu menyembunyikan perasaannya padaku, dan bagaimana ia takut kehilangan persahabatan dengan Ethan. Ethan tertawa menceritakan betapa kagetnya saat melihatku yang dulu jahat tiba-tiba berubah menjadi gadis yang lembut dan penuh kasih sayang. Elena menambahkan betapa ia dulu berharap aku benar-benar berubah, dan ternyata harapannya tidak sia-sia. Suasana begitu hangat dan penuh rasa syukur, seolah semua kebaikan di dunia ini berkumpul di tempat itu.

"Siapa yang menyangka," ucap Mark tiba-tiba di tengah obrolan, suaranya lembut namun penuh perasaan, "bahwa dari semua kekacauan, kesalahpahaman, dan rasa sakit yang dulu ada, kita bisa berdiri di titik ini sekarang. Bersama-sama, saling menyayangi, dan tidak ada yang merasa tersisih. Aku bersyukur sekali pada takdir yang membawa Lily ke sini. Tanpanya, mungkin kita semua masih hidup dalam kegelapan masing-masing."

Elena menyandarkan kepalanya di bahu Mark, menatapku dengan mata berbinar. "Benar sekali. Satu perubahan kecil saja bisa mengubah seluruh dunia orang-orang di sekitarmu. Dan Lily, kau adalah perubahan terindah yang pernah datang ke hidup kami."

Aku tersenyum mendengar kata-kata mereka, hatiku terasa penuh hingga hampir meluap. "Bukan aku yang melakukannya sendirian. Kalian semua juga berubah. Kalian memberi aku kesempatan, kalian mempercayaiku, dan kalian berdiri di sisiku saat aku paling membutuhkan. Tanpa kalian, aku tidak akan menjadi diriku yang sekarang."

Setelah kami selesai makan dan merapikan barang-barang, Mark berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Elena. "Ayo kita berjalan-jalan sebentar di pinggir taman. Biarkan mereka berdua punya waktu sebentar untuk berbicara berdua saja."

Elena tersenyum paham dan berdiri, lalu berbisik pelan di telingaku, "Sampai nanti ya!" Keduanya berjalan pergi beriringan, meninggalkan aku dan Ethan berdua di bawah pohon maple yang kini berdiri tegak dan sunyi.

Ethan berdiri dan mengulurkan tangannya kepadaku. Aku meletakkan tanganku di atas telapak tangannya, dan ia membimbingku berdiri tepat di hadapan batang pohon besar itu. Angin berhembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting maple yang kini nyaris tanpa daun, namun di dekat Ethan, aku tidak merasa kedinginan sama sekali.

"Lily," mulainya dengan suara yang tenang namun dalam, matanya menatapku lekat-lekat seolah ingin menyimpan setiap detail wajahku di dalam ingatannya selamanya. "Hampir setahun lalu, di tempat ini juga, kau pertama kali tersenyum padaku. Kau menawarkanku kue buatanmu, dan sejak saat itu, seluruh dinding dingin yang kubangun di sekeliling hatiku runtuh satu per satu. Kau mengajarkanku bahwa dunia ini bukan sekadar tentang kesendirian, tentang aturan, dan tentang kekuasaan. Kau mengajarkanku bahwa hal terpenting dalam hidup adalah mencintai dan dipercaya dengan tulus."

Ia menggenggam kedua tanganku di dalam tangannya, mendekapnya di dekat dadanya agar tetap hangat. "Hari ini, di tempat yang sama, aku ingin membuat janji kepadamu. Bukan janji manis yang hanya berlaku saat kita bahagia, tapi janji yang akan tetap berdiri walau badai datang. Aku berjanji akan selalu ada untukmu. Saat kau sedih, aku akan menjadi bahumu. Saat kau ragu, aku akan menjadi keyakinanmu. Saat kau lemah, aku akan menjadi kekuatanmu. Aku tidak akan pernah membiarkanmu berjalan sendirian lagi. Dan suatu hari nanti… saat kita sudah dewasa, saat kita sudah membangun masa depan kita sendiri… aku akan kembali ke sini, ke pohon ini, dan aku akan memintamu untuk menjadi pendamping hidupku selamanya. Bukan karena kewajiban, bukan karena keadaan, tapi karena hatiku memilihmu setiap detik dalam hidupku."

Air mata bahagia mengalir perlahan di pipiku, terasa hangat meskipun udara di sekitar kami dingin. Aku menatapnya lekat-lekat, melihat ketulusan yang begitu dalam di matanya, dan di saat itu aku tahu bahwa tidak peduli apa pun yang terjadi di masa depan, aku tidak akan pernah takut lagi. Karena aku memiliki dia. Aku memiliki rumah tempat aku selalu bisa pulang.

"Ethan," jawabku dengan suara yang bergetar namun penuh keyakinan, "aku juga berjanji padamu. Aku akan menemaniimu ke mana pun kau pergi. Aku akan mendukungmu dalam setiap impianmu. Aku akan menjadi orang yang selalu kau rindukan saat kau jauh, dan orang yang selalu membuatmu merasa damai saat kau dekat. Aku mencintaimu, bukan hanya untuk masa depan yang indah, tapi juga untuk setiap detik masa kini yang kita miliki. Dan aku akan menunggu hari itu. Aku akan menunggu hari di mana kau memintaku untuk bersamamu selamanya. Karena bagiku, tidak ada masa depan yang lebih indah selain masa depan yang ada kau di dalamnya."

Ethan tersenyum—senyum yang paling tulus, paling bahagia, dan paling indah yang pernah kulihat di wajahnya. Perlahan, ia menarikku ke dalam pelukannya, memelukku erat dan lembut di bawah pohon maple itu. Angin musim dingin berhembus pelan di sekitar kami, namun kami tidak merasakannya. Karena di dalam pelukannya, musim selalu berubah menjadi musim semi yang hangat dan penuh harapan. Di momen itu, di bawah pohon yang menyaksikan awal mula semuanya, kami berjanji satu sama lain untuk saling menjaga, saling mencintai, dan saling tumbuh bersama—selamanya.

1
little girl
terima kasih ya sudah mampir 😍😍
Dewiendahsetiowati
hadir thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!