Chen Yiyi adalah pelayan di Puncak Sakte. Namun nyaris tak ada satu pun murid atau Tetua Sekte yang pernah melihat wajahnya. Dia tak pernah turun ke bawah, tak pernah bergaul, tak pernah meminta apa-apa.
Selama ini dia hanya mengurung diri di gubuk tua itu, merawat taman bunga obat dan menjaga tempat ini untuk orang yang pernah memberinya tempat bernaung — Tetua Puncak Sakte.
Hingga hari itu, kabar datang bagaikan badai: Tetua Puncak telah meninggal dunia. Tanpa pelindung, tanpa nama, tanpa keluarga, Chen Yiyi merasa tak ada lagi alasan baginya untuk tetap hidup. Di tengah malam yang sunyi, di dalam gubuk tua itu, dia memilih mengakhiri hidupnya sendiri.
Darah menetes ke lantai kayu yang lapuk. Matanya perlahan tertutup. Napasnya berhenti.
Namun kematian bukanlah akhir.
Saat kesadaran asli Chen Yiyi lenyap, seketika itu juga cahaya menyelimuti ruangan. Sebuah jiwa dari dunia lain, seorang manusia dari zaman modern yang baru saja meninggal, tersentak masuk ke dalam tubuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Fii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23. Balas Dendam
Berita tentang penerimaan murid Sekte Surgawi Langit menyebar ke seluruh penjuru benua.
Nama-nama yang terpilih ditulis di papan pengumuman di setiap kota besar, dan di antaranya tercantum jelas — Su Yao, Zhang Hu, Qing Yue, dan Li Chen.
Nama-nama itu sampai ke telinga keluarga asal mereka, namun reaksi yang muncul bukanlah kegembiraan melainkan keraguan dan penolakan.
Di rumah keluarga Su, ayah dan ibu kandung Su Yao menatap papan nama itu dengan wajah dingin.
Mereka menggeleng keras dan berkata bahwa itu pasti hanya nama yang sama. Anak perempuan yang mereka buang dan biarkan mati tidak mungkin diterima di sekte yang begitu agung.
Apalagi menjadi murid inti, itu mustahil. Keraguan serupa juga terjadi di rumah keluarga Zhang, keluarga Qing, dan keluarga Li. Semua orang menolak percaya dan menganggap itu sekadar kebetulan nama yang sama.
Namun banyak orang yang merekam seluruh proses penerimaan murid menggunakan Batu Perekam. Gambar dan suara itu tersebar luas di mana-mana. Orang-orang dari desa yang sama mengenali wajah mereka.
"Itu memang dia..." ucap kepala keluarga Su dengan suara gemetar saat melihat wajah putrinya yang tampak tenang namun matanya berubah tajam. "Dia masih hidup. Dan dia menjadi murid di Sekte Surgawi Langit."
Kabar itu menggema di setiap rumah keluarga besar yang dulu menyiksa dan membuang mereka.
Ketakutan mulai merayap di hati setiap orang yang pernah berbuat jahat kepada keempat anak itu. Mereka tahu betul betapa kejamnya mereka dulu. Dan sekarang, anak-anak yang mereka injak-injak itu berdiri di tempat yang jauh lebih tinggi dari mereka.
Di puncak gunung, keempat murid inti itu berdiri membelakangi dunia luar. Mereka tidak peduli apa yang dipikirkan keluarga asal mereka.
Yang mereka tahu hanyalah satu hal — waktu pembalasan belum tiba. Ketika waktu itu datang, tidak ada permohonan maaf yang bisa menebus darah yang sudah tumpah.
...----------------...
Tiga bulan berlalu tanpa terasa. Di dalam Sekte Surgawi Langit, waktu terasa berjalan berbeda — energi roh yang pekat membuat setiap hari latihan terasa setara dengan beberapa bulan di dunia luar.
Keempat murid inti itu tidak pernah bermalas-malasan. Mereka bangun sebelum fajar dan beristirahat setelah bulan berada di puncak tertinggi. Setiap tetesan keringat mereka menjadi bukti tekad yang tak tergoyahkan.
Li Chen menghabiskan waktu berjam-jam di bawah Pohon Roh, membiarkan teknik Jalan Langit Suci menyatu dengan napas dan detak jantungnya.
Semakin tulus hatinya, semakin kuat kekuatan yang mengalir di tubuhnya. Ia tidak mengejar kekuatan untuk balas dendam semata. Ia mengejarnya agar tidak ada lagi orang lemah yang menderita seperti dirinya dulu.
Su Yao berlatih pedang di halaman terbuka setiap pagi. Setiap ayunan pedangnya membawa udara yang terasa dingin hingga ke tulang.
Teknik Pedang Bulan Terbelah semakin tajam setiap harinya. Kadang ia berhenti dan menatap ke arah kejauhan, matanya dingin dan tanpa emosi. Pedangnya bukan lagi sekadar senjata. Itu adalah perpanjangan dari hatinya yang sudah membeku sejak hari itu.
Zhang Hu berlatih di antara bebatuan curam. Pukulannya kini mampu menghancurkan batu raksasa menjadi serpihan dalam satu kali hantaman. Kulitnya sekeras baja, tidak ada senjata biasa yang bisa melukainya.
Qing Yue sering duduk diam di tepi danau. Ia tidak banyak bergerak, namun energi roh di sekelilingnya berputar perlahan dan menurut. Ia bisa merasakan apa yang terjadi di sekelilingnya tanpa melihat.
Teknik Arus Roh Tak Terlihat membuatnya mampu mengendalikan kekuatan alam itu sendiri. Musuh bahkan tidak akan tahu dari mana serangan itu datang sebelum semuanya berakhir.
Ketika bulan ketiga berakhir, keempatnya berdiri bersama di halaman utama. Aura yang mereka pancarkan bukan lagi aura murid baru.
Mereka kini berada di tingkat akhir Tahap Pengumpulan Energi, setara dengan murid inti sekte besar yang telah berlatih selama belasan tahun. Lompatan kemajuan itu sungguh luar biasa, bahkan para Tetua pun takjub melihatnya.
"Tiga bulan lagi," ucap Lin Yue dari kejauhan, suaranya terdengar jelas di telinga mereka berempat. "Kalian sudah siap untuk kembali. Tapi ingatlah — gunakan kekuatan itu untuk keadilan, bukan untuk amarah buta."
Mereka mengangguk patuh. Waktu mereka di sekte belum berakhir. Namun benih kekuatan itu sudah tumbuh kokoh di dalam diri mereka. Dan suatu hari nanti, ketika mereka melangkah keluar dari gerbang ini, dunia luar akan tahu betapa kelirunya mereka pernah membuang anak-anak yang luar biasa ini.
...----------------...
Hari keberangkatan tiba. Keempat murid inti itu berdiri di depan gerbang giok Sekte Surgawi Langit.
Seragam jubah putih dengan lis emas berkilau di bawah sinar matahari. Di dada mereka terpasang lambang sekte — bunga surgawi yang mekar sempurna. Lin Yue berdiri di depan mereka, cadarnya berkibar pelan.
"Pergilah," ucapnya tenang namun tegas. "Tegakkan keadilan. Jangan biarkan amarah menutup mata. Dan ingat — kalian tidak pergi sendirian. Nama Sekte Surgawi Langit menyertai kalian."
Mereka mengangguk hormat, lalu berbalik dan melesat turun gunung, tidak ada keraguan sedikit pun. Hari ini bukan hari untuk menangis. Hari ini adalah hari pembalasan.
***
• SU YAO — PEDANG YANG KEMBALI MEMBELAH MALAM
Di kediaman utama Klan Su, suasana sangat tegang. Berita kedatangannya sudah sampai lebih awal.
Puluhan murid klan berbaris di halaman depan. Saat Su Yao melangkah masuk, ayah dan istri kedua berdiri di tangga utama. Keduanya berada di Tahap 3 — Pemadatan Qi, aura mereka menyebar menekan siapa pun di bawah.
"Anak durhaka! Berani kau kembali!" teriak ayahnya, energinya melonjak keluar. "Kau pikir dengan sekte baru kau bisa menantang kami? Kami sudah berkultivasi puluhan tahun!"
Su Yao tidak mundur selangkah pun. Meski tahapnya masih Pemula tingkat akhir, ia memegang erat pedang di pinggangnya — pusaka yang diberikan Tetua Bai Yuan, pedang itu sendiri sudah memancarkan kekuatan yang sebanding dengan Tahap Transformasi.
"Kau menyerahkanku pada orang yang melecehkanku. Kau membiarkan ibuku mati beracun di depanku. Hari ini aku datang bukan untuk berdamai."
Istri kedua melangkah maju, telapak tangannya berkilau hijau — racun mematikan. "Kalau begitu, kau tinggal di sini selamanya!" Ia meluncur menyerang dengan kecepatan tinggi.
Su Yao mengayunkan pedangnya sekali. Cahaya bulan terbelah memotong serangan itu di tengah udara — Teknik Pedang Bulan Terbelah, teknik tingkat tinggi yang melampaui pemahaman dunia fana.
Ibu tirinya terpental mundur, luka di lengannya berdarah deras. "Kau masih menggunakan racun? Sama seperti dulu saat meracuni Ibu," ucap Su Yao dingin.
Ibu tiri sangat terkejut, tapi rasa sakit lebih mendominasi. Semua orang yang ada di halaman juga syok dibuatnya — sangat hebat.
Tiba-tiba pintu aula leluhur terbuka. Seorang pria tua berjubah tua keluar, aura yang jauh lebih dahsyat menyelimuti halaman.
Leluhur Klan Su berada di Tahap 4 — Transformasi, satu tahap di atas orang tuanya. "Klan Su tidak boleh dihina oleh anak sendiri!" suaranya menggelegar. Ia melompat turun, telapak tangannya bersiap menghancurkan Su Yao dalam satu serangan.
Su Yao tidak panik. Ia mengerahkan seluruh energi ke pedangnya. Cahaya perak menyelimuti seluruh halaman, Pedang Bulan Terbelah — Gelombang Bulan Dingin.
Serangan leluhur itu terhenti seolah membeku, lalu retak dan hancur. Leluhur itu terpental mundur dengan mata terbelalak tak percaya.
"Tidak mungkin... teknik apa ini? Kekuatannya melampaui tahapnya sendiri!" serunya tak percaya.
"Kalian yang memulai ini," ucap Su Yao melangkah maju. "Kalian menyerangku bersamaan. Dan tetap saja — kalian tidak bisa mengalahkanku."
Su Yao tidak membunuh mereka. Tapi dengan satu gerakan pedang, ia memotong aliran energi di dalam tubuh ketiga orang itu.
Kekuatan mereka perlahan merosot. Lalu ia menatap seluruh penghuni klan. "Siapa yang tidak bersalah, tinggalkan tempat ini sekarang."
Dalam waktu singkat, Klan Su yang megah menjadi kosong. Bangunan utama dibiarkan berdiri namun tanpa penghuni — menjadi monumen keadilan yang terlambat datang.
"Kehancuran klan ini adalah bayaran untuk kejahatan kalian," ucapnya dingin lalu berbalik pergi. "Tapi aku tidak membunuh kalian. Biarkan hidup dengan rasa malu yang tak akan pernah hilang."
Mereka menatap Su You dengan tatapan yang sulit diartikan. Tentu perasaan tidak terima karena dikalahkan dengan anak yang belum lama berkultivasi.
Tapi semuanya telah terjadi, Klan mereka sudah hancur.
.
.
.
cerita nya seru banget.... singgah juga di karya baru aku ya🤭🔥🔥