Luki Subroto— atau yang lebih dikenal dunia bawah tanah Jakarta sebagai "Tuan L" — adalah pemimpin sindikat paling ditakuti di Asia Tenggara. Di ruang rapat organisasinya, satu kata darinya bisa mengakhiri karier, bahkan nyawa. Di jalanan, namanya cukup diucapkan untuk membuat preman kelas kakap gemetar.
Tapi setiap pukul tujuh malam, pintu kamar bernuansa dinosaurus di lantai tiga penthouse-nya terbuka, dan sosok yang muncul bukan lagi Tuan L. Dialah "Ayah" bagi Indra — putranya yang berusia enam tahun dengan IQ yang bahkan membuat neurolog Singapura terheran-heran.
Indra bukan anak biasa. Di usia enam tahun ia sudah membaca jurnal fisika kuantum untuk hiburan, meretas firewall sekolahnya, dan yang paling berbahaya mulai bertanya-tanya kenapa banyak pria berjas hitam selalu mengawal rumah mereka, dan kenapa ada folder terenkripsi bernama "Operasi Elang" di laptop ayahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LORD KING, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga kecil
Enam bulan berlalu sejak malam di gudang biru, dan penthouse keluarga Subroto kini terasa jauh berbeda dari yang pernah ada sebelumnya — bukan karena perubahan fisik pada bangunannya, melainkan karena kehangatan yang kini mengisi setiap sudutnya, sesuatu yang dulu hanya bisa ditemukan di kamar Indra pada pukul tujuh malam, kini merambat ke seluruh rumah.
Luki masih menjalankan bisnisnya — dunia yang ia jalani tidak bisa begitu saja ia tinggalkan, meski kini dengan pendekatan yang jauh lebih hati-hati dan, dalam beberapa hal, lebih etis dari sebelumnya. Runtuhnya jaringan Antasena membuka kesempatan bagi Luki untuk mereorganisasi sebagian besar operasinya, menjauh dari beberapa lini bisnis paling berbahaya dan fokus pada bidang-bidang yang, meski masih berada di luar hukum, jauh lebih jauh dari kekerasan langsung yang selama ini mendominasi hari-harinya.
"Aku tidak bisa berhenti sepenuhnya," katanya suatu malam pada Alena, saat mereka duduk di balkon penthouse menikmati udara malam Jakarta yang jarang sekali terasa setenang ini. "Terlalu banyak orang bergantung padaku, terlalu banyak yang akan runtuh kalau aku tiba-tiba menghilang dari dunia ini. Tapi aku bisa mengubah caranya, sedikit demi sedikit."
"Itu sudah lebih dari cukup," jawab Alena, menyandarkan kepalanya ke bahunya. "Aku tidak pernah meminta kamu jadi orang yang sempurna, Luki. Aku hanya ingin kamu jadi ayah yang baik untuk Indra, dan pria yang jujur padaku. Itu saja."
Bram, yang kini menjabat sebagai kepala keamanan sekaligus tangan kanan Luki dalam kapasitas yang lebih luas dari sebelumnya, telah membangun hubungan yang semakin dekat dengan Indra — mengajarinya taktik pertahanan diri dasar yang sesuai usia, sesuatu yang disetujui Luki dan Alena setelah perdebatan panjang tentang keseimbangan antara keamanan dan trauma.
"Bukan buat nyerang orang," jelas Bram pada Indra suatu sore, mendemonstrasikan gerakan sederhana untuk melepaskan diri dari cengkeraman, "tapi buat kasih kamu waktu buat lari dan minta tolong, kalau-kalau situasi buruk terjadi lagi. Itu aja."
Indra mempelajarinya dengan antusiasme yang sama seperti ia mempelajari fisika kuantum atau kode Morse — dengan fokus penuh dan kecerdasan yang membuat Bram sendiri terkejut betapa cepatnya anak itu menguasai teknik-teknik dasar yang biasanya butuh waktu berbulan-bulan bagi orang dewasa untuk pelajari.
Sekolah Cendekia Mulia, yang sempat terguncang dengan insiden karnaval, akhirnya menyusun program khusus untuk anak-anak dengan kebutuhan kognitif ekstrem — sebuah proyek yang didanai penuh oleh Luki, tapi kali ini dengan kurikulum yang dirancang bersama Alena, memastikan bahwa anak-anak seperti Indra tidak hanya mendapat tantangan intelektual yang sesuai, tapi juga dukungan emosional yang mereka butuhkan untuk tetap menjadi anak-anak seutuhnya, bukan sekadar mesin penghasil prestasi akademik.
"Aku sekarang punya temen," kata Indra bangga suatu hari sepulang sekolah, menceritakan tentang seorang anak baru bernama Kevin yang, ternyata, memiliki minat yang sama terhadap robotika dan bahkan bisa mengimbangi beberapa argumennya soal fisika — sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam hidup sosial Indra.
"Itu bagus sekali, Bintang Kecil," kata Luki, tersenyum lebar mendengar antusiasme anaknya. "Kalian bisa jadi partner buat proyek robotika kalian."
"Udah," jawab Indra cepat, "kita udah mulai rencanakan robot buat kompetisi tahun depan. Kevin bilang aku 'genius tapi keren', bukan cuma 'genius doang'."
Alena tertawa mendengar itu, hatinya hangat menyaksikan anak itu perlahan menemukan tempatnya di dunia — bukan hanya sebagai anak jenius yang terisolasi oleh kepintarannya sendiri, tapi sebagai anak yang, dengan dukungan yang tepat, bisa menemukan koneksi yang tulus dengan orang lain seusianya.
Malam itu, seperti biasa, ritual dongeng tetap berjalan, meski kini dengan tambahan kecil yang sudah menjadi kebiasaan baru — Alena, yang kini duduk di sisi lain ranjang Indra, ikut membaca bergantian dengan Luki, keduanya menciptakan suara-suara karakter yang berbeda dengan gaya masing-masing, membuat Indra tertawa setiap kali mereka berdua saling berebut memberikan suara terbaik untuk karakter yang sama.
"Ayah suara naganya jelek," protes Indra, tertawa, saat Luki mencoba menirukan suara naga yang menurutnya cukup meyakinkan.
"Kak Alena, tolong ajarin Ayah suara naga yang bener," lanjutnya, memicu tawa dari ketiganya yang memenuhi kamar bertema galaksi itu dengan kehangatan yang jauh berbeda dari ketegangan yang biasa mengisi rumah ini bertahun-tahun lalu.
Setelah dongeng selesai dan Indra akhirnya tertidur, tersenyum dalam tidurnya, Luki dan Alena duduk berdua di ruang kerja, seperti kebiasaan mereka setiap malam.
"Kamu tahu," kata Luki, menuangkan dua gelas anggur merah, "aku dulu pikir hidupku sudah ditentukan sejak ayahku meninggal. Aku pikir aku hanya akan jadi Tuan L selamanya, tanpa ruang untuk jadi apa pun yang lain."
"Dan sekarang?" tanya Alena, menerima gelasnya, duduk di sampingnya di sofa.
"Sekarang," jawab Luki, menatapnya dengan kelembutan yang dulu ia kira sudah mati bersama masa lalunya, "aku sadar aku bisa jadi keduanya. Tuan L yang tetap harus melindungi apa yang kumiliki, dan Luki, ayah yang membacakan dongeng dan berusaha jadi versi terbaik dari dirinya untuk keluarga yang kucintai."
Alena tersenyum, meletakkan gelasnya, mendekat untuk menyandarkan kepalanya ke bahu Luki. "Itu yang selalu kucintai darimu, Luki. Bukan salah satu dari dua sisi itu. Tapi keberanianmu untuk menjadi keduanya sekaligus, tanpa harus memilih salah satu."
Mereka duduk dalam keheningan yang nyaman, menikmati momen sederhana itu, sementara di kamar sebelah, anak jenius yang pernah menjadi target paling berharga di dunia bawah tanah Jakarta kini tidur dengan tenang, dikelilingi cinta yang, meski datang dari cara yang paling tidak biasa, kini menjadi fondasi paling kokoh dalam hidupnya.