SALAHKAN AKU MENCINTAIMU
Sinopsis
Pernikahan kedua orang tua mereka tidak hanya menyatukan dua kepala, tetapi juga menyematkan status baru bagi Devan dan Aluna: saudara tiri.
Tinggal di bawah satu atap yang sama membuat mereka tidak pernah benar-benar bisa saling menghindari. Di sekolah, mereka mengikat janji untuk bersikap layaknya kakak-adik biasa—canggung, berjarak, dan sewajarnya. Namun, di balik dinding rumah yang sunyi, perhatian-perhatian kecil Devan, tatapan mata yang tertahan, dan rasa nyaman yang tumbuh mendalam perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Di antara seragam putih-abu, riuk pikuk koridor sekolah, dan keheningan malam di dalam rumah, Devan dan Aluna terjebak dalam dilema cinta pertama yang paling rumit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhea Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: CEMBURU YANG TERSIMPUL DAN RUANG LATIHAN YANG SEPI
Suasana koridor SMA Garuda siang itu terasa sangat terik. Bel istirahat kedua baru saja menggema di seluruh pelosok sekolah, memancing ratakan siswa berhamburan ke kantin atau sekadar mengobrol di selasar kelas.
Aluna berjalan perlahan menyusuri lorong menuju kantin bersama Maya. Namun, belum sampai mereka melintasi tangga tengah, suara panggil yang familiar terdengar dari arah belakang.
"Aluna! Tunggu!"
Rafi berlari kecil menghampirinya, membawa dua botol minuman dingin di tangannya. Senyum ramah dari cowok itu mengembang lebar begitu ia berdiri di hadapan Aluna dan Maya.
"Nih, buat kamu, Na. Tadi aku beli di kantin IPA, inget dulu kamu suka banget rasa lemon tea," ujar Rafi menyodorkan satu botol minuman itu dengan santai.
Maya membelalakkan mata heboh, menyenggol siku Aluna sambil menahan tawa gembira. "Wah, siapa nih, Na? Kok perhatian banget?"
Aluna tersenyum canggung, merasa tidak enak hati sekaligus panik. "E-eh... makasih ya, Raf. Tapi nggak usah repot-repot padahal. Kenalin, ini Maya, sahabatku."
"Rafi," sapa Rafi ramah pada Maya. "Aku temen SMP-nya Aluna. Baru pindah minggu lalu ke sini."
"Oalah! Pantesan... pantes ramah banget!" goda Maya makin gencar, tidak tahu bahwa di balik dinding kelas 12 tak jauh dari mereka, ada sepasang mata gelap yang sedang mengawasi dengan dingin.
Devan berdiri di depan kelasnya bersama beberapa anggota tim basket. Tangannya terpangku di dada, sementara tatapan matanya terkunci rapat pada sosok Rafi yang sedang tertawa lebar di depan Aluna. Papan jalan berkas OSIS yang dipegang Devan dicengkeramnya sedikit lebih erat hingga kertasnya sedikit terlipat di tepi.
"Bro, Devan," tegur Rian, teman tim basketnya, heran melihat Devan yang mendadak diam seribu bahasa. "Lu liatin siapa sih dari tadi? Serem amat mukanya."
Devan tidak menjawab. Ia memutar tubuhnya tanpa kata, melangkah masuk kembali ke dalam kelasnya dengan raut wajah yang sepenuhnya tak tersentuh.
Sore harinya, pukul empat lewat tiga puluh menit. Sekolah sudah mulai sepi dari aktivitas. Hujan gerimis tipis membasahi kaca-kaca jendela ruang olah raga tertutup (gymnasium) yang terletak di bagian belakang sekolah.
Aluna berjalan perlahan menyusuri koridor gimnasium. Tadi Devan sempat mengirim pesan singkat lewat buku binder rahasia mereka: Tunggu aku di ruang peralatan basket habis latihan.
Aluna mendorong pintu dorong besi gimnasium yang agak berat. Suasana di dalam lapangan dalam ruangan itu sepi dan remang-remang, hanya diterangi beberapa lampu dinding yang menyala redup. Bau lantai kayu berlapis lilin dan aroma khas bola kulit memenuhi udara.
"Kak Devan?" panggil Aluna pelan, suaranya bergema tipis di dalam ruangan yang luas itu.
Tak ada jawaban. Aluna melangkah lebih dalam menuju ruang penyimpanan peralatan yang pintunya terbuka sedikit.
Begitu Aluna melangkah masuk ke dalam ruang penyimpanan yang dipenuhi bola basket dan matras lipat itu, sebuah tangan kokoh dari balik pintu mendadak mencengkeram pergelangan tangannya pelan namun tegas.
"Ehh!" Aluna tersentak kaget.
Sebelum ia sempat bersuara lebih lanjut, tubuhnya ditarik masuk, dan pintu ruang penyimpanan diapit hingga tertutup rapat oleh Devan. Pria itu menyudutkan Aluna pelan ke dinding matras tebal yang tertumpuk rapi di sudut ruangan.
"Kak Devan! Kaget tau..." desah Aluna lega saat mengenali aroma parfum maskulin khas mint dan sabun mandi milik pria itu.
Namun, Devan tidak tersenyum. Dalam keremangan ruang penyimpanan, raut wajah Devan terlihat begitu mengeras dan tegas. Ia menumpukan sebelah tangannya di matras tepat di samping kepala Aluna, mengurung gadis itu dalam bayang-bayangnya yang tinggi.
"Enak lemon tea-nya?" tanya Devan rendah, suaranya begitu dalam dan sarat akan cemburu yang tertahan sejak siang tadi.
Aluna terpaku. Pipinya perlahan memerah saat menyadari Devan melihat kejadian di koridor siang tadi. "Kakak... liat ya?"
"Menurut kamu?" balas Devan dingin, matanya mengunci pandangan Aluna tanpa ampun. "Aku udah bilang di parkiran tadi pagi, Aluna. Aku nggak suka dia dekat-dekat kamu. Tapi tadi di koridor, kamu malah ketawa bareng dia, nerima minuman dari dia."
"Aku cuma nggak enak nolak, Kak Devan..." cicit Aluna membela diri. Tangannya terulur menyentuh dada kemeja olahraga hitam yang dikenakan Devan. "Dia cuma temen lama yang baru ketemu lagi. Nggak ada apa-apa, demi Allah."
Devan menatap mata Aluna yang berkaca-kaca penuh kejujuran. Napas pria itu memburu pelan, pertahanan dinginnya perlahan mencair berganti menjadi dorongan protektif yang begitu menuntut.
"Aku nggak peduli alasan kamu nggak enak atau apa, Na," bisik Devan serak, merendahkan badannya hingga dahinya menempel pada dahi Aluna. "Tiap kali ada cowok lain yang liat kamu kayak gitu, rasanya aku mau narik kamu depan mereka semua dan bilang kalau kamu milik aku."
Detak jantung Aluna melonjak liar. Sentuhan kulit dahi mereka dan helaan napas hangat Devan yang menyapu bibirnya membakar habis sisa logikanya.
"Maaf..." bisik Aluna lembut, jemarinya naik mengusap rahang Devan yang tegang. "Jangan marah lagi, ya?"
Devan memejamkan matanya sejenak menikmati usapan lembut jemari Aluna di wajahnya. Rasa hangat dari cewek itu selalu sanggup meredam seluruh amarah dan kegelisahannya. Devan membuka matanya kembali, menatap bibir Aluna yang merona merah alami di bawah cahaya temaram.
Tanpa peringatan lagi, Devan membungkam bibir Aluna dengan ciuman yang dalam, tegas, dan sarat akan dominasi penuh kasih sayang. Tangannya melingkar di pinggang Aluna, mengangkat sedikit tubuh mungil gadis itu agar makin rapat dalam dekapannya.
Aluna mengalungkan kedua tangannya di leher Devan, membalas ciuman manis terlarang itu dengan kepasrahan penuh. Di dalam ruang penyimpanan gimnasium yang sepi, di antara tumpukan matras dan bola basket, mereka kembali tenggelam dalam perasaan mendalam yang tak bisa digoyahkan oleh siapa pun di luar sana.
Setelah ciuman mendalam yang sarat akan kerinduan dan kepasrahan itu perlahan mereda, dahi Devan tetap bersandar di dahi Aluna. Ibu jari Devan bergerak lembut menyapu sudut bibir Aluna yang merona basah.
"Kak... nanti kalau ada yang dengar..." bisik Aluna dengan nada bergetar, berusaha mencari sisa-sisa logikanya di antara rasa takut terpergok dan gejolak perasaan yang membakar dadanya.
Devan tidak menjawab dengan kata-kata. Sebagai gantinya, ia mempererat pelukannya di pinggang Aluna, menarik tubuh mungil gadis itu hingga menyatu tanpa celah di dadanya.
"Nggak ada yang bakal ke sini saat hujan deras begini, Na," suara Devan terdengar begitu serak, penuh intensitas yang membuat pertahanan Aluna runtuh seketika.
Devan memiringkan kepalanya, mengecup leher halus Aluna dengan lembut. Sentuhan bibir dan desah napas hangat Devan di sepanjang garis lehernya mengirimkan getaran elektrik yang membuat Aluna mendesah pelan, mencengkeram kuat bahu kaus Devan.
Sentuhan Devan menjadi makin intim dan menuntut. Telapak tangannya yang hangat menyusup pelan di bawah pinggang kaus Aluna, mengusap kulit punggungnya yang halus dengan kelembutan yang teramat protektif. Setiap gesekan jemari Devan membawa gelombang desiran manis yang membuat lutut Aluna terasa lemas.
Aluna memejamkan mata erat-erat, menengadahkan kepalanya dan memasrahkan dirinya dalam kungkungan hangat kakak tirinya. Devan menyapu bibir Aluna sekali lagi—kali ini lebih menuntut, mendalam, dan sarat akan penumpahan Hasrat serta cinta terlarang yang selama ini mereka sembunyikan rapat-rapat di balik norma dan status keluarga baru mereka.
Di dalam keremangan ruang penyimpanan yang terisolasi dari dunia luar, mereka membiarkan perasaan jujur itu mengambil alih sepenuhnya, menyatukan desah napas dan kepemilikan rahasia yang tak terpatahkan sebelum akhirnya derap langkah hujan mengingatkan mereka untuk kembali berpijak pada kenyataan.