Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25: MALAM SEBELUM FINAL
Devan merogoh saku jaketnya, mengulurkan tangan kanan yang kini sudah pulih sepenuhnya, lalu meletakkan dua buah tiket masuk ke arena bukit bintang di atas telapak tangan Raina.
"Liburan semester besok... ikut gua lagi, ya? Kali ini bukan cuma buat selebrasi kemenangan basket, tapi buat ngerayain langkah pertama kita menyambut kelas 12," ujar Devan dengan binar mata penuh harapan.
Raina meraih tiket tersebut, menggenggamnya erat bersama jemari Devan yang hangat.
"Janji," jawab Raina mantap.
Di bawah rindangnya pohon beringin yang menjadi saksi bisu perjalanan mereka, dua insan itu saling melempar senyum. Masa depan di kelas 12 mungkin akan membawa tantangan baru yang lebih besar, namun mereka tahu—selama mereka melangkah bersama, tak ada rumus rumit atau rintangan yang tak bisa mereka selesaikan
BAB 31: KELAS 12 DAN LEMBARAN BARU
Papan penunjuk kelas di lantai dua kini menunjukkan angka 12 IPA 1. Suasana hari pertama masuk sekolah di kelas 12 terasa jauh lebih riuh dan penuh antisipasi. Bagi murid-murid SMA Garuda, tahun terakhir ini bukan lagi tentang euforia festival atau pertandingan antar-sekolah, melainkan tentang bayang-bayang ujian nasional dan seleksi masuk perguruan tinggi.
Di barisan meja dekat jendela, Raina sedang menata tumpukan buku persiapan UTBK dengan rapi. Di sebelah kirinya, Devan duduk santai sambil menopang dagu dengan satu tangan, memerhatikan jemari Raina yang bergerak lincah menyusun stabilo warna-warni.
"Raina," panggil Devan pelan, memecah fokus gadis itu.
"Hmm?" sahut Raina tanpa menengok, sibuk memberi label nama pada buku catatannya.
"Kamu beneran mau ambil Teknik Kimia ITB?" tanya Devan, suaranya terdengar sedikit lebih serius dari biasanya.
Raina menghentikan pulpennya. Ia memutar tubuhnya, menatap Devan dari balik kacamata tipisnya. "Iya. Itu kan target aku dari awal masuk SMA, Dev. Kenapa?"
Devan menarik napas panjang, merogoh saku seragamnya, lalu meletakkan sebuah brosur kampus negeri ternama di Bandung—persis di sebelah buku latihan Raina. Di brosur itu, terdapat lingkar spidol merah pada jurusan Manajemen Olahraga dan Ilmu Olahraga.
Raina terbelalak pelan. "Devan... kamu mau daftar ke Bandung juga?"
Devan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pipinya sedikit merona canggung. "Ya... lagian Coach Farhan bilang gua punya peluang lewat jalur prestasi atlet nasional. Dan... gua mikir, bakal lebih gampang kalau ada tutor pribadi gua di kota yang sama."
Raina tertegun sejenak, sebelum akhirnya tawa kecil yang hangat lolos dari bibirnya. Ia meraih brosur itu, mengamati lingkar spidol merah buatan Devan yang sejujurnya agak berantakan.
"Jadi ini alasan kamu tiba-tiba minta latihan soal Logika Matematika kemarin malam?" goda Raina sambil menyunggingkan senyum tipis.
"E-eh... ya itu salah satunya," sanggah Devan cepat sambil memalingkan wajah, berpura-pura melihat pemandangan di luar jendela. "Tapi jujur, Na... gua beneran mau berjuang bareng kamu. Gua gak mau cuma jadi Kapten Basket yang stuck di tempat."
Raina menggenggam jemari Devan yang berada di atas meja, memberikan remasan lembut yang penuh dorongan. Binar matanya memancarkan rasa bangga yang tak terhingga.
"Kita bakal berjuang bareng-bareng, Devan," bisik Raina mantap. "Sama kayak waktu kita selesaikan soal Fisika dan bikin Festival Seni sukses."
Devan menggenggam balik tangan Raina dengan erat, tersenyum lebar hingga mata cokelatnya menyipit.
Bell masuk berbunyi nyaring memenuhi koridor sekolah, menandakan mulainya babak perjuangan baru mereka. Tantangan kelas 12 mungkin akan jauh lebih berat, namun di antara tumpukan buku dan impian masa depan, dua hati itu sudah mantap berjalan berdampingan menuju satu tujuan yang sama