Sinopsis
Sarah Lestari, seorang personal assistant, menerima tawaran kontrak untuk mengandung anak bosnya, Samudra Grayson, CEO muda pemilik berbagai perusahaan di Eropa. Awalnya hubungan mereka hanya sebatas kesepakatan, tetapi seiring waktu benih cinta tumbuh di antara keduanya. Saat kontrak berakhir, mereka harus memilih antara menepati perjanjian atau memperjuangkan cinta yang tak pernah direncanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Mual di Kantor
Hari di kantor berjalan seperti biasa. Sarah duduk di mejanya, mencoba fokus pada tumpukan dokumen yang harus diselesaikan. Namun, sejak pagi, ia sudah merasakan ada yang tidak beres. Perutnya terasa tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang berputar-putar di dalam.
Awalnya, Sarah mengabaikannya. Ia mengira itu hanya efek dari sarapan pagi yang mungkin terlalu banyak. Tapi rasa tidak nyaman itu semakin menjadi. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia merasakan mual yang menjalar dari perut hingga tenggorokan.
Sarah menelan ludah, mencoba menahan rasa mual itu. Ia mengambil botol air minum di mejanya, menyesap sedikit, berharap rasa mualnya mereda. Namun, bukannya mereda, rasa mual itu justru semakin kuat.
Ia menatap layar laptopnya, mencoba mengetik satu paragraf laporan. Tapi jari-jarinya gemetar. Ia tidak bisa fokus. Rasa mual itu seperti ombak yang datang dan pergi, semakin kuat setiap detiknya.
Sarah menutup matanya, menarik napas dalam-dalam. "Tenang, Sarah. Ini hanya mual biasa. Kamu bisa melewatinya."
Tapi tubuhnya berkata lain. Tiba-tiba, rasa mual itu meledak. Sarah menutup mulutnya dengan tangan, dan tanpa bisa menahan lagi, ia melompat dari kursinya dan berlari menuju kamar mandi.
Luna yang duduk di dekatnya melihat Sarah berlari dengan wajah pucat. Ia mengerutkan kening, lalu berdiri dan mengikuti Sarah ke kamar mandi.
Di dalam kamar mandi, Sarah berlutut di depan wastafel, muntah dengan keras. Badannya lemas, keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya. Ia merasakan perutnya seperti ditarik-tarik, dan rasa pusing mulai menyerang kepalanya.
Luna masuk dan segera membelai punggung Sarah. "Sar! Kamu kenapa? Kamu pucat banget!"
Sarah mengangkat wajahnya, matanya berkaca-kaca. "Aku... aku mual, Lun. Sangat mual."
"Ini efek hamil, Sar. Wajar kok. Tapi kamu kelihatan lemas banget. Kamu sudah makan pagi?" tanya Luna.
"Sudah... tapi mungkin perutku belum terbiasa," jawab Sarah, suaranya serak.
Luna mengambil handuk kertas, membasahinya dengan air dingin, lalu mengusapkannya ke dahi Sarah. "Kamu harus istirahat. Jangan dipaksa kerja. Aku bilang sama Bos."
"Jangan, Lun. Aku nggak mau Bos khawatir," ujar Sarah.
"Kamu ini, sudah sakit masih mikirin Bos. Ayo, duduk dulu sebentar," pinta Luna.
Sarah duduk di lantai kamar mandi yang dingin, bersandar pada dinding. Ia menutup matanya, merasakan badannya yang lemas seperti kapas. Rasa mual masih terasa, tapi sudah sedikit mereda.
Luna berlari keluar, mengambil segelas air dan beberapa biskuit dari kantin, lalu kembali ke kamar mandi. "Minum air, Sar. Nanti kalau sudah tenang, makan biskuit sedikit. Ini bisa bantu redakan mual."
Sarah menerima air dan biskuit itu, meminumnya perlahan. Air dingin itu sedikit menenangkan tenggorokannya. Ia mengunyah biskuit dengan susah payah, tapi setidaknya perutnya mulai merasa lebih baik.
Setelah beberapa menit, Sarah berdiri, meskipun masih terlihat lemas. "Terima kasih, Lun. Kamu baik banget."
"Sudah, jangan banyak bicara. Ayo, aku antar kamu ke ruang istirahat," ujar Luna.
Sarah menggeleng. "Aku harus kerja, Lun. Ada laporan yang harus selesai hari ini."
"Laporan bisa ditunda, Sar. Kesehatan kamu lebih penting. Kalau kamu pingsan di meja, gimana?" jawab Luna tegas.
Sarah ingin membantah, tapi badannya memang tidak memungkinkan. Ia akhirnya mengikuti Luna ke ruang istirahat. Luna menyuruh Sarah berbaring di sofa, dan menutupinya dengan selimut tipis.
"Istirahat. Aku akan bilang ke Bos kalau kamu nggak enak badan," ujar Luna.
"Lun, jangan bilang Bos—" tapi Luna sudah berlari keluar.
Sarah menghela napas panjang, menutup matanya. Badannya terasa sangat lelah, seperti semua tenaga terkuras habis. Ia tidur di ruang istirahat, berharap rasa mualnya mereda.
Di ruang rapat, Samudra sedang memimpin meeting dengan tim Jerman. Ia sedang menjelaskan strategi pemasaran produk baru, dengan bahasa Inggris yang fasih. Namun, saat pintu ruang rapat terbuka sedikit, ia melihat Luna melambai-lambai dari luar.
Samudra mengerutkan kening. "Permisi, sebentar."
Ia keluar dari ruang rapat, menatap Luna. "Ada apa, Luna?"
"Pak, Sarah tadi muntah-muntah di kamar mandi. Badannya lemas banget. Sekarang dia istirahat di ruang istirahat. Saya khawatir dia nggak kuat," lapor Luna.
Samudra langsung berubah. Matanya yang tadinya tenang, kini tampak panik. "Sarah? Dia muntah? Seberapa parah?"
"Cukup parah, Pak. Dia sampai lemas banget. Pucat, keringat dingin. Saya kasih air dan biskuit, tapi dia masih kelihatan capek," jawab Luna.
Samudra menatap ruang rapat, lalu kembali menatap Luna. "Meeting ini bisa ditunda. Aku akan ke ruang istirahat."
"Tapi Pak, tim Jerman—"
"Bilang mereka ada emergency. Aku akan lanjutkan nanti," potong Samudra.
Samudra berjalan cepat menuju ruang istirahat. Ia membuka pintu, dan melihat Sarah berbaring di sofa, dengan wajah yang masih pucat. Rambutnya sedikit berantakan, dan matanya tertutup.
Samudra duduk di kursi di samping sofa. "Sarah."
Sarah membuka matanya perlahan. "Pak... saya minta maaf. Saya tidak bisa kerja—"
"Jangan bicara soal kerja," potong Samudra lembut. "Bagaimana perasaanmu?"
"Saya masih lemas, Pak. Tapi saya sudah lebih baik," jawab Sarah.
Samudra menghela napas. "Kamu tidak boleh memaksakan diri. Kenapa tidak bilang dari awal kalau kamu tidak enak badan?"
"Saya pikir ini hanya mual biasa, Pak. Saya tidak mau Bapak khawatir," jawab Sarah.
Samudra menatap Sarah, matanya melembut. "Tentu saja aku khawatir. Kamu hamil. Kamu tidak boleh seenaknya bekerja. Kalau kamu mual, kamu harus istirahat. Aku tidak mau kamu pingsan."
Sarah menatap Samudra. "Pak, saya tidak bisa terus-terusan istirahat. Saya punya tanggung jawab pekerjaan."
"Tanggung jawab pekerjaan bisa diatur," jawab Samudra tegas. "Aku akan meminta Felix mengambil alih beberapa tugasmu. Dan kamu, pulang sekarang. Aku antar kamu pulang."
"Pak, saya sudah minta diturunkan di halte—"
"Kali ini, kamu tidak bisa menolak," potong Samudra. "Kamu sakit. Aku tidak akan membiarkanmu pulang sendiri."
Sarah ingin membantah, tapi melihat tatapan Samudra yang serius, ia tidak bisa menolak. Ia akhirnya mengangguk lemah. "Baik, Pak."
Samudra membantu Sarah bangkit, menopang lengannya saat Sarah berjalan perlahan. Mereka melewati area kantor, dan beberapa pegawai menatap mereka dengan tatapan aneh. Tapi Samudra tidak peduli. Ia hanya fokus pada Sarah.
Saat mereka keluar dari gedung kantor, mobil Samudra sudah menunggu. Felix membukakan pintu, dan Samudra membantu Sarah masuk.
"Pak, saya tidak enak sama pegawai lain," ujar Sarah.
"Biarkan mereka bicara. Yang penting kamu sehat," jawab Samudra.
Mobil melaju meninggalkan kantor. Sarah bersandar di kursi, menutup matanya. Rasa mual mulai mereda, tapi badannya masih terasa lemas. Di sampingnya, Samudra duduk tenang, tapi sesekali ia melirik Sarah dengan tatapan penuh perhatian.
Perjalanan menuju mansion terasa lebih singkat dari biasanya. Mungkin karena Sarah tertidur. Saat mobil berhenti, Samudra membangunkan Sarah dengan lembut.
"Sarah, kita sudah sampai."
Sarah membuka matanya perlahan. "Pak... saya di mansion lagi?"
"Ya. Sampai kamu benar-benar pulih. Yola akan menyiapkan sup hangat untukmu. Dan kamu harus istirahat total hari ini," ujar Samudra.
Sarah menatap Samudra, matanya berkaca-kaca. "Pak... terima kasih. Bapak terlalu baik padaku."
Samudra tersenyum tipis. "Kamu berhak mendapatkannya, Sarah."
Malam itu, Sarah tidur di mansion Samudra lagi. Dan untuk pertama kalinya, ia tidak lagi merasa sebagai tamu. Ia merasa seperti bagian dari rumah itu.