Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab - 23 Teman Lama Adrian
Perempuan itu masih berdiri di ujung koridor.
Tangannya menggenggam sebuah map tipis di depan dada, sementara matanya mengikuti sosok Adrian dan Arunika yang perlahan menghilang di balik pintu lift.
Tidak ada senyum di wajahnya Namun juga tidak ada kemarahan, Hanya tatapan panjang yang sulit diartikan. Beberapa detik kemudian, seorang staf perempuan datang menghampirinya.
"Bu nita?"
Perempuan itu menoleh.
"Ya?"
"Anda sudah menunggu cukup lama. Saya bisa mengantar Anda ke ruang tunggu."
nita menatap pintu lift yang baru saja tertutup.
"Adrian sudah pergi?"
"Sepertinya begitu."
nita tersenyum tipis.
"Begitu rupanya."
Ia kemudian menyerahkan map yang ada di tangannya kepada staf tersebut.
"Tolong sampaikan kepada Adrian kalau saya sudah datang."
Staf itu menerima map tersebut.
"Baik, Bu."
nita berbalik Namun sebelum melangkah, ia kembali menoleh ke arah lift. Senyumnya perlahan menghilang Sudah hampir lima tahun, Lima tahun sejak pertama kali ia mengenal Adrian.
Lima tahun sejak ia mulai menyukai pria itu tanpa pernah benar-benar mengatakannya. Selama itu pula, nita tidak pernah memaksa.
Ia tahu Adrian bukan seseorang yang mudah membuka hati.
Bahkan ketika banyak perempuan mencoba mendekatinya, Adrian selalu memberikan jarak yang sama.
Dingin Dan tidak memberi harapan, Nita sudah terbiasa dengan itu. Setidaknya sampai hari ini, Karena baru saja ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Adrian menatap perempuan itu dengan cara berbeda. Bukan sekadar perhatian, Bukan sekadar kepedulian, Ada kelembutan di sana.
Kelembutan yang selama bertahun-tahun bahkan tidak pernah Adrian tunjukkan kepadanya. nita menarik napas pelan.
"Arunika..."
Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya Ia pernah mendengarnya beberapa kali, Tetapi selama ini ia tidak pernah menganggapnya penting Sampai sekarang.
Di dalam lift, Arunika berdiri di samping Adrian Tangannya terlipat di depan dada, Sejak mereka meninggalkan ruang rapat, perempuan itu terus memikirkan satu hal.
Ia melirik Adrian dari samping Pria itu sedang memeriksa ponselnya, Wajahnya kembali tenang seperti biasa. Seolah beberapa menit lalu ia bukan orang yang membuat satu ruangan penuh karyawan menahan napas.
Arunika menyipitkan mata.
"Adrian."
"Hm?"
"Kamu benar-benar orang yang berbeda kalau sedang kerja."
Adrian masih melihat ponselnya.
"Berbeda bagaimana?"
"Galak."
"Tegas."
Adrian akhirnya menoleh.
"Kalau kamu terus mengulanginya, jawabannya tidak akan berubah."
Arunika menahan senyum.
"Baiklah. Pak Direktur."
Adrian memasukkan ponselnya ke saku.
"Jangan panggil begitu."
"Kenapa?"
"Karena terdengar menyebalkan."
Arunika tersenyum kecil.
"Berarti cocok."
Adrian menghela napas Pintu lift terbuka, Arunika keluar lebih dulu Namun baru beberapa langkah, ia berhenti Adrian yang berjalan di belakangnya hampir menabraknya.
"Kenapa berhenti?"
Arunika tidak menjawab Tatapannya tertuju pada seorang perempuan yang berdiri beberapa meter dari mereka, Perempuan itu cantik.
Rambutnya panjang dan tertata rapi. Pakaian yang dikenakannya sederhana, tetapi jelas terlihat mahal. Sikapnya anggun dan tenang.
Yang paling menarik perhatian Arunika bukan penampilannya Melainkan cara perempuan itu menatap Adrian, Tatapan yang terlalu akrab. Dan entah kenapa... membuat Arunika merasa sedikit tidak nyaman.
Perempuan itu tersenyum.
"Adrian."
Adrian ikut berhenti.
Ekspresinya berubah sedikit.
"nita?"
Arunika langsung menoleh kepada Adrian Nita berjalan mendekat.
"Akhirnya bertemu juga."
Adrian mengangguk singkat.
"Kamu datang tanpa memberi kabar."
"Aku sudah mengirimkan pesan kepada sekretarismu."
"Pesannya belum sampai kepadaku."
nita tertawa kecil.
"Sepertinya kamu masih sama."
Adrian hanya mengangkat alis Nita kemudian mengalihkan pandangannya kepada Arunika.
Untuk sesaat, tatapan kedua perempuan itu bertemu. Arunika tidak tahu kenapa, tetapi ia merasa sedang diperhatikan.
Bukan sekadar dilihat Seolah Nita sedang mencoba memahami siapa dirinya. Adrian menyadarinya.
"Ini Arunika."
nita menatap Arunika Kemudian tersenyum.
"Arunika."
Cara ia mengucapkan nama itu membuat Arunika sedikit mengernyit.
"Ya."
nita mengulurkan tangan.
"Aku nita"
Arunika membalas jabatannya.
"Arunika."
"Aku tahu."
Arunika terdiam.
nita segera tersenyum.
"Maksudku, aku pernah mendengar namamu."
"Oh."
Hening sebentar Adrian melihat keduanya.
"Ada urusan apa kamu datang?"
Clarissa menoleh kepadanya.
"Sebenarnya aku datang untuk membicarakan kerja sama yang kemarin."
"Oh."
Adrian mengangguk.
"Kita bisa bicarakan di ruanganku."
Clarissa tersenyum.
"Tentu."
Namun kemudian matanya kembali beralih kepada Arunika.
"Kalian mau pergi?"
Adrian menjawab tanpa ragu.
"Makan."
Arunika langsung menoleh.
"Adrian!"
nita terdiam Adrian justru terlihat tenang.
"Kamu sendiri yang bilang belum makan."
"Itu tidak berarti kamu harus mengumumkannya."
"Kamu malu?"
"Siapa yang malu?"
Adrian menatapnya Arunika langsung diam, Nita memperhatikan percakapan itu dalam diam. Sesuatu di dalam dirinya terasa aneh Adrian tidak pernah seperti itu, Tidak pernah.
Dulu, ketika Nita mengingatkan Adrian untuk makan, pria itu bahkan hanya menjawab singkat.
Nanti.
Ketika Nita mengajaknya makan bersama, Adrian selalu punya alasan. Ada pekerjaan, Lain kali, Tidak sempat, Tetapi sekarang?
Adrian sendiri yang mengajak perempuan itu makan, Bahkan memperhatikan apakah perempuan itu sudah makan atau belum.
Clarissa tersenyum.
"Kalau begitu, aku tidak akan mengganggu."
Adrian mengangguk.
"Baik."
nita berbalik Namun baru beberapa langkah, ia berhenti.
"Adrian."
"Hm?"
"Sudah lama kita tidak makan bersama."
Arunika tanpa sadar menoleh Nita tersenyum kepada Adrian.
"Kalau kamu tidak sibuk nanti malam, bagaimana kalau makan malam?"
Adrian terdiam sejenak Arunika tidak tahu kenapa ia tiba-tiba merasa ingin mendengar jawabannya. Adrian akhirnya berkata,
"Sepertinya tidak bisa."
Senyum Nita membeku tipis.
"Kenapa?"
Adrian melirik Arunika.
"Aku sudah punya janji."
Arunika ikut terkejut.
"Aku?"
Adrian menatapnya.
"Kamu tadi bilang belum makan."
"Itu makan siang!"
"Dan sekarang sudah waktunya makan siang."
Arunika membuka mulut Lalu menutupnya lagi. Nita melihat pertukaran kecil itu. Kali ini, senyum di wajahnya tidak sampai ke matanya.
"Begitu."
Ia mengangguk pelan.
"Kalau begitu lain kali."
Adrian tidak menjawab banyak.
"Ya."
nita pergi Arunika masih berdiri di tempatnya Sampai Adrian berjalan melewatinya.
"Kamu tidak ikut?"
Arunika tersadar.
"Ikut."
Ia segera mengejar Namun setelah beberapa langkah, Arunika melirik ke belakang. Nita sudah tidak terlihat. Entah kenapa, pertanyaan tiba-tiba muncul di kepalanya.
"Adrian."
"Hm?"
"Dia siapa?"
Adrian terus berjalan.
"Teman."
"Teman?"
"Ya."
Arunika mengangguk pelan.
"Oh."
Beberapa detik berlalu Adrian meliriknya.
"Kenapa?"
"Kenapa apanya?"
"Kamu terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu."
"Aku tidak."
"Kamu iya."
Arunika mendengus.
"Dia cantik."
Langkah Adrian berhenti Arunika yang tidak menyadarinya terus berjalan dua langkah sebelum akhirnya berhenti juga. Ia menoleh Adrian sedang menatapnya.
"Apa?"
"Kamu tiba-tiba membicarakan dia."
Arunika mengangkat bahu.
"Memangnya kenapa?"
"Entahlah."
Adrian berjalan mendekat.
"Kenapa kamu memperhatikan dia?"
Arunika terdiam Pertanyaan itu justru membuatnya bingung.
"Aku cuma..."
Ia mengalihkan pandangan.
"...penasaran."
Adrian menatapnya beberapa detik Kemudian sudut bibirnya terangkat tipis.
"Jangan terlalu penasaran."
Arunika langsung menatapnya.
"Kenapa?"
"Karena kamu bisa salah paham."