Demi Rp 288 juta untuk pengobatan adiknya, Senja menikah kontrak dengan Damar Adiwangsa, konglomerat dingin yang sepuluh tahun lebih tua dan memiliki seorang putri kecil. Mereka sepakat tidak melibatkan perasaan. Namun ketika Bintang mulai memanggil Senja Mama, rumah yang semula dingin berubah menjadi keluarga. Damar yang dahulu menganggap Senja matre perlahan menjadi suami posesif yang tak sanggup melepaskannya. Saat kontrak berakhir dan Senja bersiap pergi, Damar justru menagih satu hal yang tidak pernah tertulis dalam perjanjian: cintanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aura Rizki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 16
Bab 16
Kesempatan Terakhir
Damar mempercayai satu bagian dari cerita Vania: Senja pernah bersama Reza dan kini dekat dengan Rayhan. Rasa tidak nyaman muncul, disertai penyesalan karena pernah menawarkan uang untuk kewajiban istri.
Namun Vania tetap menampar Bintang.
"Mulai hari ini kamu tidak perlu bekerja di RS Adiwangsa," katanya.
Vania pucat. "Om, aku keponakanmu."
"Itu sebabnya aku hanya memberhentikanmu, bukan langsung membuat laporan."
Damar menatap Reza. "Kamu bekerja di anak perusahaan Adiwangsa Group. Besok tidak perlu datang."
"Pak, saya tidak ikut menampar."
"Kamu meminta seorang ibu minta maaf kepada orang yang memukul anaknya. Aku tidak butuh orang dengan penilaian seperti itu."
Keduanya keluar dalam keadaan terpukul.
Di RS, pemeriksaan memastikan Bintang tidak mengalami cedera kepala. Dokter memberi obat untuk bengkak dan meminta pemantauan dua puluh empat jam. Senja mencatat semua instruksi.
"Kita pulang?" tanyanya.
Bintang menggeleng. "Mau main. Tadi belum naik apa-apa."
Karena tiket berlaku sepanjang hari, Senja membawa Bintang dan Hana kembali. Ia menjaga anak itu tanpa melepaskan tangan. Saat bertemu Vania dan Reza lagi, Vania hanya menatap penuh dendam. Reza justru memandang Senja seolah baru menyadari sesuatu yang hilang.
Kalau kuberi Rp 288 juta, apa dia mau kembali? pikirnya.
Sore hari, Senja mengantar Hana ke penginapan dan menyelipkan uang tunai ke tasnya. Ia lalu menggendong Bintang yang tertidur sampai ke rumah.
Damar menunggu di ruang tengah. "Kata dokter?"
"Tidak ada cedera di dalam. Cuma bengkak. Maaf, saya lalai lagi."
"Letakkan dia di kamar."
Senja kembali setelah menyelimuti Bintang. Damar masih berdiri di tempat yang sama.
"Kalau Bintang terluka lagi karena kamu, jangan tunggu aku mengusir. Pergi sendiri."
Senja menunduk. "Saya mengerti."
Ia takut Damar menagih mahar dan membatalkan semua penghasilan yang dijanjikan. Lebih dari itu, ia takut tidak lagi melihat Bintang. Ia berjanji akan lebih berhati-hati.
Damar sebenarnya ingin mengatakan Bintang terluka karena kekejaman Vania, bukan hanya kelalaian Senja. Namun cerita Reza dan Rayhan kembali mengeraskan suaranya.
"Pantau memarnya. Kalau muntah atau pusing, hubungi dokter."
"Sudah saya pasang alarm."
Damar melihat kesungguhannya, tetapi tidak menarik ancaman. Senja menerima semuanya karena takut kehilangan Bintang.
"Hana sudah pulang?" tanya Damar.
"Masih di penginapan. Besok kembali ke kampus setelah situasi aman."
"Kirim Bayu untuk mengantar."
"Enggak perlu."
Penolakan otomatis itu membuat Damar kesal. "Aku tidak menagih biaya."
"Saya tahu. Hana belum siap bertemu keluarga Mas."
Damar tidak mengatakan bahwa ia juga belum memperkenalkan Senja kepada keluarganya sebagai istri. Kemarahannya berubah arah, tetapi telanjur keluar sebagai nada dingin.
"Terserah."
Senja membawa obat ke kamar Bintang. Ia menempelkan kompres baru dan membangunkan anak itu untuk pemeriksaan singkat sesuai alarm. Bintang mampu menyebut nama, lokasi, dan kejadian dengan benar.
"Mama jangan pergi," pintanya.
"Mama di sini."
Senja mengirim hasil pemantauan kepada dokter keluarga. Setelah mendapat jawaban tidak ada tanda bahaya, ia baru menghubungi Hana. Adiknya sudah mengunci pintu dan menyiapkan tiket kembali.
"Besok Bayu antar kamu ke stasiun," kata Senja melalui telepon.
"Kakak yakin suamimu enggak keberatan?"
Senja melihat pintu kamar yang setengah terbuka. Damar berdiri di lorong, cukup dekat untuk mendengar. "Dia yang menawarkan."
Hana terdiam sejenak. "Berarti dia enggak sejahat yang Kakak takutkan."
Senja tidak menjawab. Ancaman untuk pergi sendiri masih terasa dingin di tengkuknya.
Di ruang kerja, Damar menerima telepon dari Ratih. Kakaknya menuntut Vania dikembalikan ke rumah sakit dan Reza tidak dipecat.
"Vania memukul Bintang," kata Damar.
Ratih terdiam, lalu mencoba menyalahkan Senja karena tidak menjaga anak.
"Kesalahan Senja tidak menghapus pilihan Vania mengangkat tangan. Kalau Mbak ingin membela, tonton rekamannya dulu."
Damar mengakhiri panggilan. Ia mampu menilai masalah dengan adil ketika menghadapi orang lain, tetapi masih gagal memberikan keadilan sama kepada Senja.
Ketika kembali ke kamar Bintang, ia menemukan Senja sedang memotret memar dari empat sudut untuk dibandingkan setiap dua jam. Waktu, suhu tubuh, keluhan pusing, dan jumlah obat tercatat rapi di selembar kertas.
"Dokter minta semua ini?" tanya Damar.
"Sebagian. Sisanya supaya saya enggak lupa."
"Kamu seharusnya istirahat."
Senja menatapnya sebentar. "Kalau saya lengah lagi, Mas bilang saya harus pergi."
Kalimat itu tidak menuduh, tetapi membuat ancaman Damar terdengar kembali dengan bentuk yang lebih kejam. Ia ingin menarik ucapan tersebut. Bayangan Reza yang mengejar Senja dan Rayhan yang memberinya uang masih menahan permintaan maaf di tenggorokan.
"Aku akan ikut memantau," katanya akhirnya.
Senja menyerahkan kertas tanpa tersenyum. Mereka berdiri di dua sisi ranjang, sama-sama menjaga Bintang, tetapi jarak di antara keduanya terasa lebih lebar daripada sebelum Damar membela anaknya di depan Vania.
Saat Bintang bergerak dalam tidur, tangan Senja dan Damar bersamaan meraih selimut. Jemari mereka hampir bersentuhan. Senja menarik tangan lebih dulu, bukan karena malu seperti saat permainan petak umpet, melainkan karena takut salah lagi.
Damar melihat gerakan itu. Tuduhan-tuduhannya telah membuat istrinya memandang setiap kedekatan sebagai potensi hukuman.
Mendekati tengah malam, ia memeriksa kamar Bintang. Senja tertidur di kursi, kepala bersandar pada kasur. Alarm berikutnya akan berbunyi dua jam lagi. Damar mematikan alarm itu dan memutuskan dirinya yang akan memeriksa anak, agar Senja bisa tidur.
Ia menempelkan punggung tangan ke dahi Bintang, lalu memeriksa apakah anak itu bernapas teratur. Senja terbangun saat Damar mengganti kompres.
"Alarm saya belum bunyi."
"Aku matikan. Tidur lagi."
"Saya harus pantau sampai pagi."
"Aku ayahnya. Aku bisa."
Senja hendak membantah, tetapi Damar sudah mencatat jam pemeriksaan di kertas yang disiapkannya. Untuk beberapa menit mereka bekerja tanpa saling menyalahkan: Senja membaca instruksi dokter, Damar menulis suhu dan keluhan, lalu Bintang membuka mata dan mengenali keduanya.
"Papa sama Mama jangan berantem," gumamnya.
Senja membetulkan selimut. "Kami enggak berantem."
Damar tidak ikut berbohong. Ia hanya menyuruh Bintang tidur kembali.
Namun satu jam kemudian Bintang terbangun meminta air. Senja juga terjaga dan bersikeras mengambilnya.
"Biar Bik Inah," kata Damar dari lorong.
"Cuma air. Semua sudah tidur."
Ia masih merasa harus membuktikan dirinya berguna setelah ancaman diusir. Damar melihatnya berjalan ke tangga, tetapi tidak menghentikan.
Rumah telah gelap. Senja tidak menyalakan lampu karena Bintang sensitif terhadap cahaya setelah baru tidur. Ia meraba pegangan dan turun menuju dapur.
Damar berdiri di lantai atas, diliputi pikiran buruk tentang Reza dan Rayhan. Ketika mendengar langkah Senja di lantai bawah, prasangka kembali menguasai cara ia melihat istrinya. Ia seharusnya turun membantu. Sebaliknya, ia menunggu di dalam gelap dan menyiapkan tuduhan.