Genta, pemuda udik dari gunung dengan kemampuan medis legendaris, turun ke kota metropolitan untuk menikahi Kiara Prameswari, CEO cantik dan dingin dari keluarga konglomerat, sesuai wasiat gurunya. Alih-alih sambutan hangat, Genta justru dihina dan dianggap benalu oleh Kiara dan keluarganya yang tidak tahu bahwa di balik penampilannya yang lusuh, Genta didampingi oleh "Sistem Pewaris Tabib Sakti" yang memungkinkannya menyembuhkan penyakit mustahil. Terjebak dalam pernikahan politik yang dingin, Genta harus menggunakan ilmu medis magis dan bantuan sistemnya untuk menampar balik semua orang yang meremehkannya, menyelamatkan nyawa, dan membangun kekuasaannya sendiri di rimba kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Bunyi klik yang nyaring terdengar saat Genta mengunci pintu ruang ICU dari dalam.
Genta membalikkan badannya dan menatap tubuh tua renta yang terbaring kaku dengan puluhan selang medis menancap di tubuhnya.
Kakek Kiara itu terlihat lebih seperti mayat hidup dibandingkan manusia.
Di luar ruangan kaca, kepanikan dan kemarahan meledak tak terkendali.
Brak! Brak! Brak!
Paman Hermawan menggedor kaca pembatas dengan kepalan tangannya sekuat tenaga.
"Buka pintunya, dasar gembel kurang ajar!" teriak Hermawan dengan wajah merah padam.
"Kau sengaja ingin membunuh ayahku agar kau bisa merebut hartanya bersama Kiara, kan?!"
Kiara yang masih terisak langsung menepis tangan pamannya itu dengan kasar.
"Tutup mulutmu, Paman, Genta sedang berusaha menyelamatkan Kakek!" balas Kiara dengan sisa tenaga yang dimilikinya.
Profesor Johan ikut mendekati kaca, wajahnya terlihat sangat meremehkan tindakan pemuda di dalam sana.
"Nona Kiara, Anda harus segera menghentikan orang gila itu sebelum terlambat."
"Mesin penyokong kehidupan Tuan Besar sangat sensitif, satu sentuhan salah saja nyawanya akan melayang!" ancam Profesor Johan.
Genta sama sekali tidak mengacuhkan suara-suara bising dari luar ruangan yang terdengar samar.
Fokusnya kini sepenuhnya tertuju pada layar transparan berwarna biru yang melayang di depan matanya.
[Sistem memproses perintah Master.]
[Mengeluarkan Item: Satu Set Jarum Emas Seribu Jiwa.]
Cahaya keemasan berkedip redup di telapak tangan Genta.
Detik berikutnya, sebuah kantung kain beludru hitam tiba-tiba muncul dari udara kosong dan jatuh tepat ke genggaman tangannya.
Genta membuka gulungan kain itu, memperlihatkan deretan sembilan puluh sembilan jarum emas murni yang memancarkan aura kuno.
"Mari kita lihat seberapa parah racun yang ditanamkan pembunuh bayaran ini di tubuhmu, Tuan Besar," gumam Genta pelan.
Genta menarik selimut rumah sakit dan membuka baju pasien yang menutupi dada kakek Kiara.
Kulit kakek itu terlihat sangat keriput dan dipenuhi bercak hitam keunguan yang menjalar seperti akar pohon dari dada hingga ke leher.
[Mata Surgawi Level 1 dipacu ke batas maksimal.]
Pandangan Genta menembus lapisan kulit, otot, dan tulang rusuk pasien di depannya.
Dia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana racun hitam kental itu membekukan titik-titik saraf utama di sekitar jantung dan otak.
"Pantas saja dokter spesialis bedah saraf dari luar negeri sekalipun angkat tangan."
"Ini bukan penyakit medis biasa, ini adalah racun pembeku darah yang bekerja perlahan selama lebih dari sepuluh tahun."
Genta menjepit tiga batang jarum emas di antara sela-sela jarinya.
Gerakannya sangat tenang namun memancarkan ketegasan yang luar biasa presisi.
Zras! Zras! Zras!
Dalam kedipan mata, tiga jarum emas itu menancap tepat di tiga titik saraf krusial di atas dada pasien.
Di luar ruangan kaca, Profesor Johan membelalakkan matanya ngeri melihat letak tusukan Genta.
"Gila! Anak itu benar-benar sudah gila!" jerit Profesor Johan histeris sambil menunjuk ke arah Genta.
"Itu adalah Titik Kematian di jalur meridian jantung!"
"Menusuk area itu sama saja dengan menghentikan aliran darah ke jantung secara paksa, dia benar-benar sedang membunuh Tuan Besar!"
Paman Hermawan mendengar penjelasan itu dan diam-diam menyeringai licik di dalam hatinya.
Namun di luar, Hermawan berpura-pura menangis dan meronta marah ke arah keponakannya.
"Kiara, kau dengar sendiri kata dokter spesialis?!" teriak Hermawan menyalahkan Kiara di depan seluruh keluarga besar.
"Suami gembelmu itu sengaja melakukan pembunuhan berencana di depan mata kita semua!"
Kiara menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah, hatinya berkecamuk hebat antara rasa percaya dan keputusasaan.
"Kumohon Genta, buktikan pada mereka semua bahwa kau bukan pembual," batin Kiara terus berdoa dengan tangan gemetar.
Di dalam ruangan, Genta sama sekali tidak berhenti bergerak.
Tangannya menari-nari di atas tubuh pasien seperti bayangan, menancapkan puluhan jarum emas tambahan ke berbagai titik di perut, leher, dan kepala.
Jarum-jarum emas yang tadinya berkilau kini perlahan berubah warna menjadi hitam pekat.
Logam ajaib itu sedang menyedot dan memusatkan seluruh racun mematikan ke satu titik di tengah dada kakek Kiara.
Keringat mulai bermunculan di dahi Genta, menggunakan teknik akupuntur tingkat tinggi ini benar-benar menguras energi fisiknya secara drastis.
"Sekarang adalah tahap terakhir," ucap Genta mengatur napasnya.
"Pijat Pemecah Meridian."
Genta mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi dan memusatkan seluruh tenaganya ke ujung jari telunjuk dan tengah.
Brak!
Genta memukul tepat di tengah dada kakek Kiara dengan tenaga yang terukur sempurna.
Pukulan itu tidak meremukkan tulang rusuk, melainkan menciptakan gelombang kejut yang menggetarkan seluruh saraf yang tadinya beku.
Tit! Tit! Tiiiiiiiiiiiiiiiiiit!
Suara nyaring dari monitor pendeteksi jantung langsung berubah menjadi satu nada panjang yang memekakkan telinga.
Garis bergelombang di layar monitor yang tadinya lemah kini berubah menjadi garis lurus hijau tanpa pergerakan.
Seluruh keluarga Prameswari di luar kaca menahan napas secara bersamaan.
"Dia mati! Garis jantungnya lurus, mesinnya berhenti!" teriak Profesor Johan merasa tebakannya terbukti benar.
"Kalian semua menjadi saksi, gembel itu baru saja mengeksekusi Tuan Besar dengan tangannya sendiri!"
Paman Hermawan langsung bertindak cepat, dia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo kepolisian kota? Kirim pasukan bersenjata sekarang juga ke Rumah Sakit Pusat, terjadi pembunuhan keji di sini!" ucap Hermawan keras-keras agar semua orang dengar.
Kaki Kiara langsung lemas tanpa tenaga, dia merosot jatuh ke lantai lorong yang dingin.
Air matanya mengalir deras tanpa suara, dunianya terasa hancur lebur melihat garis lurus di monitor itu.
"Kakek... maafkan Kiara," isak wanita dingin itu benar-benar menyerah pada takdir.
Namun di dalam ruangan, Genta sama sekali tidak panik apalagi merasa gagal.
Dia menatap tubuh kakek tua itu dengan saksama, menghitung mundur di dalam kepalanya dengan sangat tenang.
"Tiga... dua... satu."
Ukhuk!
Tubuh tua kakek Kiara tiba-tiba tersentak hebat ke atas ranjang hingga membuat selang oksigennya terguncang.
Pasien yang divonis mati itu membuka mulutnya lebar-lebar dan memuntahkan segumpal besar darah hitam pekat yang luar biasa bau.
Darah beracun itu tumpah mengotori lantai putih ICU, mengeluarkan sedikit asap tipis berbau busuk daging.
Tit! Tit! Tit! Tit!
Bersamaan dengan keluarnya darah kotor itu, monitor pendeteksi jantung kembali berbunyi.
Kali ini garisnya tidak lagi lemah, melainkan bergelombang sangat kuat dan stabil layaknya detak jantung pria dewasa yang sehat.
Di luar ruangan, suasana yang tadinya penuh makian dan isak tangis mendadak senyap bagaikan kuburan.