NovelToon NovelToon
Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Dikejar Mafia, Tapi Gue Cuma Mau Lulus Skripsi

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Romansa / Komedi
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nisaicha

Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Amukan Badai Pelabuhan

"Tahan," desis Bara tiba-tiba, menghentikan langkah mereka di balik bayangan kontainer. Hujan badai malam itu langsung menghantam tubuh mereka tanpa ampun.

"Ada apa?" suara Arka bergemuruh rendah, menyaingi suara petir. Tangan kanannya masih mencengkeram erat pergelangan tangan Rara.

"Dua penjaga berseragam hitam di depan van operasional. Bersenjata lengkap," lapor Bara datar, matanya menyipit menembus tirai hujan. "Mesin van menyala."

"Bereskan," perintah Arka mutlak dan kejam. "Jangan buang peluru."

"Siap, Bos."

Tanpa suara, Bara melesat ke depan dengan pisau taktis di tangan. Rara menahan napas. Hanya butuh hitungan detik, Bara membekap penjaga pertama dari belakang dan menggorok lehernya, lalu menancapkan pisaunya ke dada penjaga kedua yang baru mau menoleh.

"Astaga..." Rara membuang muka, perutnya bergejolak mual melihat darah segar yang bercampur genangan hujan.

"Jangan cengeng," potong Arka kaku, menarik paksa tangan Rara. "Naik sekarang."

Arka mendorong Rara masuk ke kabin belakang van rampasan itu, lalu ikut melompat naik. Dino langsung menyusul ke kursi depan dengan napas nyaris putus, tepat sebelum Bara membanting pintu geser dan menginjak pedal gas dalam-dalam.

"Gila! Gila! Gila!" Dino meracau panik, mengusap wajahnya yang basah kuyup. Tubuhnya gemetar hebat di kursi depan. "Tadi itu leher orang bunyi krek begitu aja! Darahnya muncrat! Aduh, Gusti... kalau gue selamat, gue sumpah mau resign aja! Mending gue buka warung pecel lele di kampung daripada mati konyol di sini!"

"Bisa diem nggak lo, Dino?!" bentak Rara dari kursi belakang, suaranya bergetar menahan takut. "Lo kira cuma lo doang yang jantungan?! Gue juga rasanya mau pingsan dari tadi!"

Bara melirik sekilas dari spion tengah, wajahnya lurus ke depan menembus kegelapan pelabuhan. "Tugas saya mengamankan jalur pelarian. Tugas Bos Arka menghabisi ancaman. Ini risiko dunia kami. Biasakan dirimu."

Rara mengusap wajahnya kasar. Pandangannya perlahan turun ke arah pria yang duduk bersandar kaku di sebelahnya. Kemeja putih yang dikenakan Arka basah kuyup oleh hujan, namun yang membuat Rara menahan napas adalah noda merah pekat yang kian meluas di perut pria itu.

"Darah lo nembus jaket lagi, Arka," tegur Rara panik, menunjuk perut bos mafia itu. "Luka lo makin parah. Lo harusnya rebahan, jangan maksa duduk tegak begitu!"

Arka menoleh pelan. Tidak ada raut kesakitan di wajahnya yang sepucat porselen. "Fokus pada keselamatanmu sendiri. Jangan mengurus urusan saya," desisnya parau namun tajam.

"Batu banget sih jadi orang!" Rara mendengus keras, tangannya refleks merogoh saku mencari sesuatu. "Gue cuma nggak mau lo mati kehabisan darah sebelum kita sampai perbatasan! Kalau lo mokat, gue sama Dino yang repot ngadepin si Victor itu!"

Arka menepis tangan Rara yang hendak menyentuh perutnya. "Saya tidak butuh simpati dari seorang sandera. Diam dan duduk tenang."

"Sektor barat ditembus," potong Bara cepat, menajamkan pandangan pada kaca spion luar. "Dua SUV hitam mengejar kita."

Arka menegakkan punggungnya, sorot matanya kembali memancarkan insting membunuh. "Arahkan ke jalur dermaga timur. Biarkan mereka masuk ke area tumpukan kontainer kosong."

Bara membanting setir tajam ke kanan. Ban van berdecit keras. Dino berteriak histeris saat wajahnya nyaris membentur kaca jendela. Di belakang mereka, rentetan tembakan laras panjang mulai menyalak, menghantam bodi belakang van hingga memunculkan suara dentingan logam yang memekakkan telinga.

"Mbak Rara, tiarap! Ya Allah, pelurunya kayak hujan turun!" jerit Dino sambil memeluk dasbor mobil.

Rara menjerit tertahan, refleks menundukkan kepalanya hingga menyentuh lutut dan menutup telinga.

Bara mengemudi beringas, berbelok zig-zag menghindari tembakan membabi buta. Namun, musuh Victor rupanya bukan amatiran. Salah satu SUV berhasil mengambil jalan memotong dan berada tepat di sisi kanan van.

*Brak!*

SUV itu menabrak bodi van dengan keras. Rara terpelanting ke samping, bahunya membentur dinding seng dengan keras.

Sebelum Rara bisa mengaduh, hantaman berat terdengar di atap van.

BUGH!

Atap besi di atas kepala Rara melengkung ke dalam, disusul suara langkah sepatu bot. Ujung laras senapan menembus pelat besi atap, memuntahkan peluru ke dalam kabin.

"Awas!" Bara berteriak datar, memutar kemudi ke kiri untuk melempar keseimbangan musuh di atas atap.

Mengabaikan perutnya yang robek, Arka menarik pistol Glock 19 dari sarungnya. Wajahnya mengeras dan kejam. Ia menendang pintu geser van hingga terbuka lebar, membiarkan angin badai merangsek masuk ke dalam kabin.

"Lo mau ngapain, gila?!" teriak Rara histeris melihat Arka setengah badannya keluar dari mobil yang melaju kencang.

Arka tidak menjawab. Dengan tangan kiri berpegangan pada pinggiran pintu, ia mendongak. Musuh itu baru saja akan menyeimbangkan diri. Namun, Arka lebih cepat. Tanpa belas kasihan, ia menembak tepat di tempurung lutut pria itu. Terdengar lolongan kesakitan saat pria itu tergelincir dari atap.

Saat tubuh musuh itu melayang jatuh di depan wajahnya, Arka tidak berkedip. Dengan ekspresi sedingin es, ia mengarahkan moncong pistolnya tepat ke dahi musuh tersebut.

DOR!

Mayat itu terhempas keras ke aspal, lalu terlindas habis oleh roda SUV rekannya sendiri.

Arka kembali menarik tubuhnya masuk dan membanting pintu geser hingga tertutup rapat. Napasnya memburu keras. Noda merah di perutnya kini benar-benar membanjiri separuh kemejanya.

Rara menatap Arka dengan tubuh gemetar hebat. Antara ngeri melihat pembunuhan berdarah dingin itu, dan panik melihat kondisi Arka. Tanpa banyak bicara, Rara menarik paksa sapu tangan dari sakunya dan langsung menekannya kuat-kuat ke perut Arka. Kali ini ia tidak peduli saat Arka melotot tajam padanya.

"Udah gue bilang jangan sok jagoan!" bentak Rara dengan mata berkaca-kaca, suaranya pecah menahan tangis dan amarah. "Lo itu bos mafia, harusnya lo nyuruh anak buah lo yang kerja! Bukan malah ngorbanin nyawa sendiri!"

Arka menatap Rara lekat-lekat. Tangan kirinya yang berlumur darah terangkat, mencengkeram rahang Rara dengan kaku. Ia memaksa gadis itu menatap matanya yang mematikan.

"Saya yang memimpin dunia hitam ini, Rara," bisik Arka parau, suaranya bergemuruh berbahaya. "Saya tidak bersembunyi di balik punggung anak buah saya. Dan sudah saya peringatkan, saya tidak akan mati malam ini. Berhenti menangisi saya."

Pria itu melepaskan cengkeramannya, lalu menoleh lurus ke depan. Rara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, membiarkan tangannya tetap menekan luka pria arogan itu sementara van terus membelah gelapnya badai pelabuhan.

1
beybi T.Halim
ya Allah gak ada tenang nya 1 hr pun ,neng rara apa gak tauma berat itu waduh..,mana mau sidang lagi kudu konsentrasi🙈laa ini malah tembak2an ,kejar2an haih saket dadaku
nischa: Hahaha maafkan Rara ya kak, Ujian hidupnya emang paket komplit, urusan skripsi bonus kejar-kejaran mafia 😭 Makasih banyak ya udah ikutan gregetan sama ceritanya
total 1 replies
beybi T.Halim
🤣🤣🤣🤣kocak ini
beybi T.Halim
kita mampir.,suka karakter ceweknya di awal sedikit penakut tapii bar bar👍kita lanjutkan
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
lanjut Thor pengen baca bab selanjutnya
Yuyum Yunengsih
mulai seru nih, interaksi antar tokohnya dapet banget
Yuyum Yunengsih
wah, awal cerita yang langsung bikin penasaran sama karakternya😍
Yuyum Yunengsih
keren banget ceritanya, nggak nyesel ikutan baca dari awal. pertahankan terus kualitas tulisannya author
nischa: makasih kak✨
total 1 replies
Yuyum Yunengsih
semangat💪cerita nya seru😍
Winna Yun
wah wahh seru ni ka, lanjut ka
nischa: siap,ka😍
total 1 replies
Erni Saputri
lama kali upnya Thor🥺
Erni Saputri: ok semangat💪💪💪
total 2 replies
Suzie
💪 mangatt
nischa: siap,makasih🤩
total 1 replies
Cilia
Ceritanya enteng banget! Enak buat dibaca pas lagi ngisi waktu kosong. Vibesnya berasa lagi baca AU yang target audience nya emang nyari bacaan pas lagi penat😆
nischa: Makasih banyak ya! Senang banget kalau ceritanya bisa jadi teman pas lagi santai atau penat. Enjoy terus ya bacanya! ✨
total 1 replies
partini
lucu banget ini mahasiswi
nischa: terimakasih kak sudah mampir😍🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!