Seorang ojol yang masih muda. mengidamkan hidup di tahun 90an karena cerita kakeknya. siapa sangka keinginannya itu malah membuatnya terjebak dalam lintasan waktu.
Warning: cerita ini alur sangat lambat. dan buat yang punya masalah psikotis lebih baik tak baca cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Sejak pulang dari rumah Profesor Surya, pikiran Zain tidak tenang. Wajah lelaki tua itu terus terbayang, terutama saat menatap foto mendiang istrinya.
Ada tatapan yang pernah ia lihat sebelumnya—tatapan kakeknya ketika memandangi album keluarga. Tatapan seseorang yang merindukan masa lalu. Bedanya, kakeknya senang bercerita, sedangkan Profesor Surya seperti sengaja menyimpan semuanya sendirian.
Malam itu hujan turun lagi. Zain duduk di teras sambil memperhatikan kakeknya memperbaikkan radio tua yang kadang hidup, kadang mati.
"Kakek masih simpan radio itu?"
"Ya."
"Padahal sekarang tinggal buka HP."
Kakek tersenyum. "Suara radio ini beda. Dulu setiap malam kakek dengerin berita pakai ini."
Ia memutar kenop perlahan. Terdengar suara berdesis, lalu suara penyiar mengisi udara teras: *Selamat malam, pendengar...*
Zain tersenyum. "Masih hidup juga."
"Namanya barang lama. Kalau dirawat, panjang umurnya."
Kalimat itu mengingatkan Zain pada motor merah marun milik Profesor Surya.
"Kek."
"Hm?"
"Kalau dulu bisa diulang... Kakek mau ubah apa?"
Tangan Kakek berhenti memutar kenop radio. Ia tidak langsung menjawab—cukup lama, sangat lama.
"Sebenarnya... ada."
"Apa?"
"Kakek pengin lebih banyak menghabiskan waktu sama nenekmu."
Zain menatap kakeknya.
"Waktu masih muda, kakek terlalu sibuk kerja. Pulang malam, berangkat pagi. Selalu bilang nanti. Nanti jalan-jalan, nanti liburan, nanti makan di luar. Ternyata..." Kakek tersenyum pahit. "...kata nanti itu habis duluan."
Zain menunduk. Ia baru sadar bahwa orang-orang tua di sekitarnya ternyata tidak terlalu merindukan barang-barang lama. Mereka lebih merindukan orang-orang yang dulu pernah ada bersama mereka.
...
Keesokan paginya, Zain kembali menarik seperti biasa. Order pertama, kedua, dan ketiga berjalan normal. Menjelang pukul sepuluh, nama yang sudah dikenalnya muncul lagi: Prof. Surya.
Saat Profesor naik ke motor, Zain langsung bertanya, "Pak... boleh saya tanya sesuatu?"
"Tentu."
"Bapak bikin penelitian itu... karena istri Bapak?"
Beberapa detik hanya terdengar suara angin. Profesor tidak marah, tidak juga terkejut.
"Apa saya terlalu lancang?" tanya Zain.
"Tidak." Profesor menggeleng pelan. "Kamu hanya penasaran."
Mereka berhenti di lampu merah. Profesor memandang lurus ke depan.
"Saya mulai penelitian ini... jauh sebelum istri saya meninggal."
Zain mengernyit. "Jadi bukan karena itu?"
"Bukan."
"Lalu kenapa?"
Profesor tersenyum tipis. "Dulu saya hanya ingin membuktikan sebuah teori. Sesederhana itu."
"Lalu?"
"Seiring bertambahnya usia... alasannya ikut berubah."
Lampu berubah hijau dan motor kembali melaju.
"Setiap orang yang mengejar mimpi terlalu lama... suatu hari akan lupa."
"Lupa apa, Pak?"
"Kenapa dia memulainya."
Zain mengulang kalimat itu dalam hati. Ia merasa Profesor Surya sedang berbicara tentang dirinya sendiri.
Sesampainya di kampus, Profesor turun. Namun sebelum melangkah pergi, ia berkata, "Sabtu depan ada uji coba."
Zain tersenyum. "Mesin yang cincin besar itu?"
Profesor mengangguk. "Belum penuh, hanya pengujian kecil."
"Boleh lihat?"
"Boleh." Profesor tersenyum. "Tapi jangan berharap terlalu banyak. Percobaan ilmiah lebih sering gagal daripada berhasil."
Zain tertawa kecil. "Kalau gagal terus, Bapak nyerah?"
Profesor menatapnya. tatapan itu begitu tajam. "Kalau saya mudah menyerah... mesin itu sudah saya bongkar dua puluh tahun yang lalu."
Lalu ia berbalik dan berjalan memasuki gedung. Zain memandangi punggungnya hingga menghilang di balik pintu.
Hari Sabtu akhirnya tiba. Sejak pagi, Zain sudah beberapa kali melirik jam di ponselnya. Entah kenapa, ia merasa lebih gugup daripada saat pertama kali melamar kerja.
Pukul satu siang, ia memarkir motornya di halaman Kampus Nusantara. Profesor Surya sudah menunggu di depan gedung riset.
"Tepat waktu."
"Takut telat, Pak."
"Itu kebiasaan yang bagus."
Keduanya berjalan menuju lift lalu turun ke basement dua. Lorong itu terasa lebih ramai daripada biasanya. Beberapa peneliti lalu-lalang membawa laptop, ada yang mendorong troli berisi tabung logam, dan ada pula yang sibuk menarik kabel.
"Pak Surya, modul ketiga sudah siap."
"Listrik cadangan juga sudah aktif."
"Baik."
Zain hanya mengikuti dari belakang. Ia merasa seperti masuk ke dunia yang sama sekali asing.
Sesampainya di ruang utama, cincin logam raksasa kini tampak berbeda. Semua lampunya menyala dan puluhan kabel tebal terhubung ke beberapa kabinet besar. Suara kipas pendingin berdengung memenuhi ruangan.
Di dekat panel kontrol berdiri tiga orang peneliti. Mereka langsung menyapa Profesor Surya.
"Selamat siang, Prof."
"Siang."
Salah satu dari mereka melirik Zain. "Mahasiswa baru, Prof?"
"Bukan."
"Keponakan?"
"Bukan juga."
Profesor tersenyum tipis. "Teman."
Ketiga peneliti itu tampak heran, namun tak ada yang bertanya lagi.
Profesor mengajak Zain berdiri di balik dinding kaca tebal.
"Dari sini aman."
"Aman dari apa?"
"Kalau alat gagal."
Zain langsung menelan ludah. "Bapak bilang tadi cuma uji coba kecil."
Profesor terkekeh. "Memang kecil. Tapi tetap harus hati-hati."
Di tengah cincin logam itu, seorang peneliti meletakkan sebuah bola baja sebesar bola tenis. Hanya itu.
"Bola doang?" gumam Zain.
Profesor mengangguk. "Hari ini cuma menguji kestabilan."
Seorang peneliti menghitung keras.
"Semua sistem siap. Daya masuk sepuluh persen. Pendingin aktif. Lima... empat... tiga... dua... satu... mulai."
Suara dengungan memenuhi ruangan. Lampu-lampu di cincin logam menyala semakin terang, sementara udara di sekitarnya tampak bergetar hingga bulu kuduk Zain merinding.
"Wah..."
Bola baja di tengah perlahan bergetar. Satu sentimeter, dua sentimeter, lalu... melayang.
"Bisa terbang..." bisik Zain.
Profesor tidak menjawab. Matanya hanya tertuju ke monitor tempat angka-angka terus bergerak cepat.
Tiba-tiba...
BZZZZTTT!
Percikan listrik muncul dari sisi kanan mesin dan alarm langsung berbunyi.
"Matikan!" teriak salah satu peneliti. "Putuskan daya!"
Dengungan berhenti seketika. Bola baja jatuh berdenting ke lantai.
Ting... ting...
Ruangan kembali sunyi. Salah seorang peneliti mengembuskan napas lega. "Hampir saja."
Profesor tetap tenang. "Cek modul ketiga."
"Baik, Prof."
Semua orang kembali bekerja. Tak ada yang panik, seolah kegagalan memang sudah menjadi makanan sehari-hari.
"Kecewa?" tanya Profesor kepada Zain.
"Sedikit. Saya kira bakal keluar portal."
Profesor tertawa pelan. "Kalau penelitian semudah itu, dunia sudah berubah sejak lama."
Zain ikut tertawa. "Iya juga."
Profesor memandang cincin logam itu. "Hari ini gagal. Tapi..." Ia tersenyum tipis. "...kami mendapat data. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar berhasil tanpa tahu alasannya."
Zain mengangguk. Ia mulai mengerti bahwa yang dikejar para ilmuwan bukan hanya hasil akhir, tetapi seluruh prosesnya.
Di sudut ruangan, seorang teknisi membuka panel mesin yang mengeluarkan percikan tadi. Profesor melirik ke arah sana.
"Sepertinya... akhir pekan saya kembali habis di laboratorium."
Zain spontan menjawab, "Kalau butuh bantuan ngopi atau beli gorengan, tinggal telepon saya, Pak."
Profesor tertawa cukup keras hingga beberapa peneliti menoleh. "Baik. Mungkin itu justru bantuan yang paling penting hari ini."
Zain ikut tertawa. Ia sama sekali tidak tahu bahwa kegagalan kecil hari itu akan membuat Profesor Surya mengambil sebuah keputusan besar—keputusan yang pelan-pelan akan menyeret seorang pengemudi ojek online biasa ke dalam eksperimen paling berbahaya yang pernah ia lakukan.