Di dunia di mana para penyihir saling pamer ledakan dan mantra panjang, Kaelen Vance mantan pakar cybersecurity yang bereinkarnasi menjadi putra bangsawan miskin memilih menjadi anomali yang tak terlihat. Melihat sihir kuno tak lebih dari sistem jaringan yang penuh celah keamanan, Kael dengan sengaja memasukkan "kode rusak" pada ujian masuk Akademi Sihir. Tujuannya satu: dibuang ke Kelas F, sebuah gedung tua dengan sistem keamanan magis kedaluwarsa yang menjadi titik buta sempurna untuk meretas arsip kerajaan.
Publik mencapnya sebagai "Sampah Akademi". Mereka tidak tahu bahwa Kael tidak butuh merapal mantra; ia menyimpan struktur sihir di otaknya secara permanen layaknya NVRAM, dan menggunakan cincinnya sebagai router untuk meretas dan membelokkan serangan musuh di udara. Kael tidak butuh validasi atau menjadi pahlawan—ia menghancurkan musuhnya secara diam-diam dari balik layar.
Namun,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YANDRI HS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep 11: Root Access
Proyeksi data hijau yang memancar dari konsol utama memantul di wajah Kael, menciptakan garis-garis kode biner yang bergerak cepat di bola mata abu-abunya. Di sekeliling mereka, jutaan pilar kristal yang mengapung di dalam bola transparan itu kini berhenti berputar, membeku dalam kesunyian yang khidmat seolah sedang menunggu titah dari pemilik baru sistem.
Elara masih berdiri bersandar di tepi konsol, napasnya perlahan kembali normal, meski sisa-sisa keterkejutan masih terlihat jelas di matanya. Ia menatap punggung Kael yang berdiri tegak tanpa keraguan sedikit pun. Pemuda itu bukan lagi sekadar siswa buangan Kelas F atau peretas bayangan; ia kini berada di puncak kendali infrastruktur magis yang mengatur seluruh kehidupan di Akademi Aethelgard.
"Sistem terkunci dalam mode siaga," kata Kael, suaranya terdengar datar namun membawa otoritas mutlak. Jari-jarinya mulai menari di atas permukaan konsol kristal, mengetuk dengan pola ritmis yang sangat cepat. "Topologi jaringan inti berada di bawah kendali kita. Tidak ada lagi sisa log aktivitas yang bisa dilacak oleh para *Inquisitor* di permukaan."
"Lalu, apa langkah selanjutnya?" tanya Elara, suaranya sedikit bergetar oleh perpaduan antara rasa takjub dan antisipasi. "Kita sudah mengamankan *root access*. Apakah kita akan mematikan seluruh sistem pertahanan akademi dan membongkar kebusukan Dewan Agung sekarang juga?"
Kael menghentikan gerakan jarinya sejenak. Ia melirik sekilas ke arah Elara lewat sudut matanya. "Tindakan yang tidak efisien," jawab Kael dingin. "Mematikan total sistem pertahanan akan memicu kepanikan massal, mendatangkan bala bantuan dari kerajaan luar, dan merusak infrastruktur yang sedang kita kuasai. Kita tidak menghancurkan sistem ini, Elara. Kita memperbaruinya dengan aturan main kita sendiri."
Kael kembali fokus ke konsol. Jari telunjuknya menyentuh titik pusat dari proyeksi data tiga dimensi di udara.
"Pertama, kita bersihkan jejak kita," lanjut Kael. "Aku akan menulis ulang riwayat akses arsip dan menghapus seluruh log anomali yang tercipta sejak hari pertama aku masuk akademi. Di mata para *Inquisitor*, sistem ini tidak pernah tersentuh. Mereka akan mengira lonjakan beban kemarin hanyalah gangguan teknis akibat usia server yang sudah tua."
Di udara, deretan baris kode berwarna hijau tua mengalir deras, menimpa dan menghapus file-file log lama secara otomatis. Dalam hitungan detik, seluruh bukti penyusupan Kael lenyap tanpa sisa, meninggalkan riwayat digital yang bersih dan sempurna.
"Kedua," Kael melanjutkan, suaranya semakin pelan namun tajam, "kita ubah hak akses faksi Therion. Mulai detik ini, seluruh otoritas mereka atas artefak arena, ruang arsip, dan jaringan komunikasi asrama elit telah dicabut secara permanen. Mereka diturunkan statusnya menjadi pengguna biasa tanpa hak istimewa."
Elara menahan napasnya. "Kau... kau baru saja melucuti seluruh kekuasaan politik keluarga Therion di akademi ini dalam satu kedipan mata?"
"Mereka tidak kehilangan status sosialnya di atas kertas," koreksi Kael tanpa ekspresi. "Mereka hanya kehilangan akses terhadap infrastruktur. Di dunia modern—atau dalam kasus ini, di dunia yang digerakkan oleh jaringan sihir—kekuasaan yang sesungguhnya bukan berada pada gelar bangsawan, melainkan pada siapa yang memegang kendali atas server utama. Tanpa akses jaringan, mereka tidak lebih dari sekadar pengguna biasa yang suaranya bisa diabaikan."
Selesai dengan instruksi keduanya, Kael mengangkat tangannya dari konsol kristal. Seluruh proyeksi hijau di udara perlahan meredup, menyatu kembali ke dalam pilar-pilar kristal di sekeliling bola transparan tersebut. Suara dengungan sistem kembali normal, berubah menjadi alunan sunyi yang menenangkan.
Proses pengambilalihan telah rampung seratus persen.
Kael berbalik menghadap Elara. Wajahnya tetap tenang, tidak ada senyum kemenangan atau keangkuhan yang biasanya ditunjukkan oleh orang-orang yang berhasil meraup kekuasaan absolut. Bagi Kael, ini hanyalah tugas logis yang telah diselesaikan dengan efisiensi maksimal.
"Ayo pergi," ujar Kael singkat. "Siklus pemindaian malam para *Inquisitor* akan segera bergeser ke sektor timur dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Kita harus kembali lewat jalur utilitas sebelum mereka menyadari adanya anomali kestabilan di ruang server."
Elara mengangguk pelan. Ia menatap Kael dengan pandangan yang jauh berbeda dari saat pertama kali ia memergoki pemuda itu di perpustakaan lama. Kali ini, ia melihat sosok yang benar-benar berdiri di atas takhta dunia sihir, mengendalikan segala sesuatu dari balik bayang-bayang.
Mereka berdua berjalan menuju pintu keluar ruang server inti, merayap kembali melalui saluran pipa utilitas yang panas, hingga akhirnya tiba dengan selamat di kamar sempit Kael di Kelas F sebelum fajar mulai menyingsing di ufuk timur.
Keluarnya mereka dari ruang server menandai akhir dari fase peretasan pasif. Akademi Sihir Aethelgard kini berada dalam genggaman Kaelen Vance, dan para bangsawan sombong itu sama sekali tidak menyadari bahwa benteng yang mereka banggakan telah resmi berganti administrator.