Seorang driver ojol tampan tapi bernasib sial mendapatkan sistem aplikasi "Godjek" misterius, di mana setiap orderan absurd dari pelanggan cantik memberinya hadiah kekuatan aneh yang bikin geleng-geleng kepala.
Bertahun-tahun lalu, sebelum jadi ojol, Raka memiliki seorang adik perempuan yang sangat dia sayangi. Suatu hari, adiknya memesan ojek online malam-malam untuk pulang. Raka yang saat itu sibuk, tidak bisa menjemputnya sendiri.
Malam itu, ojol yang ditumpangi adiknya mengalami kecelakaan fatal.
Kata-kata terakhir adiknya di telepon sebelum kecelakaan adalah: "Mas, aku udah jalan ya, ojolnya baik banget." Raka tidak pernah memaafkan dirinya sendiri. Dia menjadi ojol yang baik untuk "menebus Dosa" dan penyesalan di dasar hatinya setelah adiknya pergi untuk selama-lamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lihazel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Terbaik
Warung Soto Tangkar Pak Haji Yusuf berdiri kokoh di sudut tikungan gang arteri Tambora bagaikan monumen waktu yang runtuh oleh zaman. Spanduk kain putihnya yang bertuliskan menu andalan menggunakan cat semprot merah sudah berubah warna menjadi abu-abu kecokelatan, dipenuhi noda jelaga minyak hitam dari asap kompor yang mengepul tanpa henti sejak tahun 1980-an. Aroma rempah purba—perpaduan pekat antara kayu manis, kapulaga, cengkih, dan gurihnya santan segar yang mendidih di dalam kuali tembaga raksasa—langsung menyergap indra penciuman begitu tirai kain spanduk itu disibak oleh Arya.
Arya melangkah masuk terlebih dahulu, mengorbankan tubuhnya sebagai pembuka jalan, sementara lengan kanan dan kirinya masih dikunci rapat oleh Nadia Anastasia dan Citra Kirana. Kehadiran trio absurd ini seketika membuat suasana di dalam warung tenda yang berukuran empat kali tiga meter itu mendadak hening. Pak Haji Yusuf, seorang pria sepuh berpeci putih kumal yang sedang memegang pisau daging besar, langsung menghentikan gerakan tangannya di atas talenan kayu jati yang sudah cekung di bagian tengahnya. Dua orang buruh pabrik konveksi yang sedang mengunyah paru goreng di sudut meja kayu panjang bahkan hampir tersedak jengkol muda akibat mata mereka melotot mendadak melihat pemandangan kosmik di depan pintu masuk.
Bagaimana tidak? Diapit di antara jaket ojol hijau-perak milik Arya yang memancarkan kilau maskulin tingkat tinggi, berdiri dua makhluk visual kasta tertinggi Jakarta yang seolah-olah salah turun dari dimensi khayangan. Nadia Anastasia dengan gaun rajut abu-abu ketatnya yang memperlihatkan lekuk tubuh setingkat supermodel Milan, dan Citra Kirana dengan blazer korporat premium navy blue-nya yang memancarkan wibawa dingin seorang penguasa mal megah.
“Pak Haji. Pesan tiga porsi soto tangkar daging campur babat yang paling mantap ya, pakai nasi tiga,” sapa Arya dengan suara baritonnya yang tenang, berusaha memecah kebekuan atmosfer tenda sekaligus menyembunyikan getaran gugup di dalam batinnya.
“Siaapp.. eh. Arya?” Pak Haji Yusuf mengerjapkan matanya beberapa kali, membetulkan letak kacamata silindrisnya yang beruap. “Ini... kamu beneran Arya anak bujangnya Pak Surya kan? Bukan siluman penunggu pohon beringin gang sebelah yang lagi nyamar? Ini kamu habis menang undian berhadiah dari aplikasi ojekmu, atau lagi nganterin turis asing salah alamat, Ya? Kok bawaannya... Masyaallah, cantik-cantik bener mirip potongan gambar di kalender toko emas.”
Nadia Anastasia langsung melepaskan sedikit jepitan lengannya, memberikan senyuman manis profesionalnya yang biasa bernilai ratusan juta per jepretan kamera. “Malam, Pak. Saya Nadia, pelanggan setianya Arya. Arya bilang soto di sini rasanya legendaris, jadi saya minta diantar ke sini.”
Citra Kirana juga mengangguk pelan dengan keanggunan formal yang sangat terjaga. “Selamat malam. Saya Citra. Kami ke sini untuk menikmati hidangan historis buatan Anda atas rekomendasi langsung dari mitra navigasi logistik terbaik kami, Arya Prasetya.”
Mendengar pujian dari dua wanita berkelas tersebut, Pak Haji Yusuf langsung tertawa terbahak-bahak hingga jenggot putihnya bergetar. “Wah, si Arya bisa aja promosinya! Padahal biasanya dia ke sini cuma kuat beli kuah sama kerupuk doang kalau dompetnya lagi kering! Oke neng-neng geulis, silakan duduk di meja tengah. Biar bapak racikin potongan daging sandung lamur yang paling empuk khusus buat tamu agungnya Arya!”
Arya menarik sebuah bangku bakso plastik berwarna merah yang permukaannya sudah agak buram untuk Citra, lalu sebuah bangku plastik biru untuk Nadia. Sebelum duduk, ia dengan sigap mengambil selembar tisu dari wadah plastik bekas botol mineral, lalu mengelap permukaan meja kayu panjang yang agak berminyak dengan satu gerakan tangan yang presisi—sebuah refleks alami dari seorang pria kelas pekerja yang selalu mengutamakan kenyamanan orang lain di sekitarnya.
“Silakan duduk, Nona-nona. Kursinya agak goyang sedikit di kaki bagian kanan belakang, jadi posisi duduknya harus agak seimbang ya,” ujar Arya memberi tahu dengan nada protektif yang sangat natural.
Citra Kirana duduk terlebih dahulu. Begitu gaun blazernya menyentuh permukaan bangku plastik murahan tersebut, ia merasakan sebuah pengalaman sensorik yang sama sekali belum pernah tercatat dalam lembaran sejarah hidupnya sebagai pewaris tunggal dinasti bisnis retail. Ada sedikit goyangan mikro pada struktur kursi tersebut, namun entah mengapa, setelah melihat bagaimana Arya dengan telaten memastikan meja di depannya bersih dari debu, Citra tidak merasakan kejengkelan sedikit pun. Sebaliknya, rasa aman yang aneh justru merayap di dalam dadanya.
Nadia Anastasia ikut duduk di samping kanan Arya, melipat kakinya yang jenjang dengan anggun, mengabaikan fakta bahwa ujung gaun rajut mahalnya kini bergesekan dengan dinding tripleks warung yang penuh coretan nomor telepon sedot WC. Matanya yang tajam langsung mengamati profil wajah Arya yang kini sedang sibuk menuangkan air hangat ke dalam tiga pasang sendok dan garpu di dalam gelas kaca—sebuah ritual higienitas warung tenda yang diajarkan oleh ibunya sejak kecil.
“Kamu selalu melakukan ini, Arya?” tanya Nadia, menopang dagunya dengan tangan kanan, matanya berbinar penuh rasa ingin tahu yang mendalam.
“Melakukan apa, Nona?” Arya menoleh, menyerahkan sepasang sendok yang sudah dilap bersih kepada Nadia, lalu sepasang lagi kepada Citra.
“Ini... mengelap meja, membersihkan sendok dengan air hangat, dan memastikan kursi kami tidak patah,” urai Nadia dengan nada melembut. “Pria-pria yang biasa aku temui di restoran bintang lima... mereka biasanya hanya akan duduk manis, menjentikkan jari memanggil pelayan, lalu mengeluh jika suhu ruangan kurang dingin satu derajat saja. Mereka tidak pernah peduli apakah wanita di sebelahnya merasa nyaman secara fisik, yang mereka pedulikan hanya apakah jam tangan Rolex mereka terlihat jelas saat memegang buku menu.”
Citra Kirana menerima sendok dari tangan Arya, merasakan kehangatan sisa air panas di permukaannya. “Nadia benar, Arya. Dalam ekosistem sosial saya, perhatian pria biasanya bersifat transaksional dan superfisial. Mereka membukakan pintu mobil atau menarikkan kursi hanya jika ada kamera wartawan atau jika mereka sedang mengincar keuntungan dari tanda tangan kontrak ayah saya. Tapi tindakanmu... ini tidak memiliki motif ekonomi sama sekali. Ini adalah murni refleksi karakter pelindung yang lahir dari kebiasaan hidup yang luhur.”
Arya seketika tersedak udaranya sendiri, menepuk dadanya canggung sambil terkekeh pelan. “Aduh... ini dua dewi kenapa mendadak jadi puitis begini sih? Gua ngelap meja sama bersihin sendok kan murni karena tahu kalau Pak Haji Yusuf kalau nyuci mangkok cuma dicelup sekali di ember bilasan! Kalau gua enggak bersihin dulu, bisa-bisa besok pagi gua kena komplain Bintang 1 gara-gara dua pelanggan VIP gua masuk angin berjamaah akibat bakteri purba Tambora! Tapi kalau dibilang karakter pelindung... ya ampun, hati ojol gua mendadak melayang juga dibilang begitu.”
“Ah, itu sudah biasa, Nona-nona,” jawab Arya merendah, menyembunyikan monolog batinnya di balik senyum tipisnya yang menawan. “Ibu saya selalu bilang, kalau kita bawa tamu ke tempat kita, kita harus pastikan tamu itu pulang dalam keadaan kenyang dan selamat, enggak peduli tempatnya di restoran mewah atau di warung tenda pinggir jalan yang atapnya bocor kalau hujan.”
Tepat saat Arya menyelesaikan kalimatnya, Pak Haji Yusuf datang membawa tiga mangkuk soto tangkar yang asapnya mengepul hebat ke udara, menyebarkan aroma kolaborasi rempah Nusantara yang luar biasa dahsyat. Di samping mangkuk, tersaji tiga piring nasi putih hangat dengan taburan bawang goreng yang berlimpah, lengkap dengan potongan jeruk limau dan sepiring kecil emping melinjo yang renyah.
“Ini dia! Soto Tangkar Mahakarya Tambora khusus buat Arya dan para dewi kayangan!” seru Pak Haji Yusuf penuh semangat, meletakkan mangkuk-mangkuk tersebut dengan bunyi dentingan yang khas. “Ayo dimakan selagi panas, Neng. Dijamin rasanya bikin lupa sama mantan!”
Melihat kuah soto yang berwarna kuning kemerahan dengan potongan gajih dan daging sapi yang tebal mengapung di permukaan, mata Nadia dan Citra sempat berkedip ragu selama beberapa detik. Ini adalah makanan berkadar kolesterol tinggi yang sangat dihindari oleh standar diet ketat seorang supermodel maupun standar kalori seorang eksekutif muda yang terbiasa dengan menu salad organik.
Namun, sebelum mereka sempat ragu lebih jauh, ponsel gaib di dalam saku jaket Arya mendadak bergetar dengan frekuensi halus yang memancarkan energi keemasan tersembunyi.
TING-TONG!
[NOTIFIKASI SISTEM: ITEM GAIB DIOTOMATISASI!]
Sistem mendeteksi Driver telah berhasil membawa target ke lokasi kuliner sakral. Efek item "Kecap Manis Pengikat Jiwa (Level Mahakarya)" dan "Sambal Rawit Penggetar Ego Korporat" kini telah disuntikkan secara molekuler langsung ke dalam botol kecap dan mangkok sambal yang ada di atas meja kayu di depan Driver.
Petunjuk Operasional: Driver diwajibkan memeras jeruk limau, menambahkan satu sendok teh Sambal Rawit Penggetar Ego, dan meneteskan Kecap Manis Pengikat Jiwa ke dalam mangkuk kedua pelanggan cantik tersebut. Hambatan psikologis kasta elit mereka akan runtuh dalam hitungan detik setelah suapan pertama menyentuh dinding lidah.
Arya mengembuskan napas taktis melalui hidung. “Oke sistem, waktunya pertunjukan sulap kuliner dimulai.”
Dengan gerakan tangan yang sangat terampil layaknya seorang peracik soto profesional, Arya mengambil potongan jeruk limau, memerasnya dengan presisi di atas mangkuk milik Nadia hingga mengeluarkan bunyi cees halus saat air asam segar itu menyatu dengan kuah panas santan. Ia kemudian mengambil sendok kecil, menyendok sambal rawit merah pekat yang sudah dimodifikasi sistem, lalu menambahkannya ke mangkuk Nadia, disusul dengan guratan lingkaran kecap manis kental yang memotong kepekatan kuah kuning tersebut. Arya melakukan hal yang sama pada mangkuk milik Citra Kirana dengan ritme gerakan yang sangat berwibawa dan penuh perhatian.
“Coba diaduk dulu kuahnya sampai warnanya berubah agak cokelat kemerahan,” petunjuk Arya dengan suara rendah yang menenangkan. “Lalu hirup dulu uapnya sebelum disuap. Ini adalah cara terbaik untuk menikmati esensi kuliner Tambora.”
Nadia Anastasia, yang seolah terhipnotis oleh gerakan tangan Arya dan perhatian personal yang begitu intim, perlahan mengambil sendoknya. Ia mengaduk kuah soto tangkar tersebut hingga aroma kayu manis purba dan cabai rawit gaib menyatu menjadi satu entitas aroma yang luar biasa memikat iman kuliner. Nadia mendekatkan mangkuk ke wajahnya, menghirup uap panasnya, dan seketika itu juga, matanya melebar. Rasa lapar yang murni—sesuatu yang sudah bertahun-tahun ditekan oleh dogma industri fesyen—mendadak bangkit meronta-ronta di dalam perutnya.
Nadia menyendok sedikit kuah beserta sepotong kecil daging sapi, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang mungil.
DEG!
Pada detik pertama kuah soto itu menyentuh permukaan lidah Nadia, sebuah ledakan rasa yang sangat dahsyat seolah-olah meledak di dalam pusat kesadaran otaknya. Efek dari Kecap Manis Pengikat Jiwa langsung bekerja memotong seluruh memori diet ketat, tekanan ekspektasi publik, dan rasa sepi yang biasa melanda kamarnya yang mewah di apartemen distrik elit. Rasa gurih santan asli yang berpadu dengan kehangatan kapulaga purba dan manisnya kecap gaib sistem menciptakan sebuah sensasi kenyamanan batin yang teramat sangat tebal, seolah-olah ia sedang dipeluk oleh kehangatan rumah yang tulus di tengah badai salju.
“Ya Tuhan...” desis Nadia pelan, matanya berair, namun kali ini bukan karena pedas, melainkan karena rasa haru kuliner yang luar biasa ekstrem. “Ini... ini rasanya luar biasa sekali, Arya! Aku belum pernah merasakan makanan seotentik dan sehangat ini seumur hidupku... Ini jauh lebih mewah daripada sup truffle seharga ribuan euro yang pernah aku makan di restoran berbintang Michelin di Paris!” tanpa memedulikan lagi etiket seorang supermodel papan atas, Nadia langsung menyendok nasi putihnya dengan lahap, menyuapkannya bersama potongan daging tangkar yang sangat empuk ke dalam mulutnya.
Citra Kirana di sisi lain juga baru saja menelan suapan pertamanya. Begitu zat dari Sambal Rawit Penggetar Ego Korporat berinteraksi dengan saraf pengecapnya, seluruh beban target laba kuartalan perusahaan, laporan keuangan yang rumit, dan benteng pertahanan mentalnya sebagai CEO yang dingin mendadak runtuh berkeping-keping. Rasa pedas yang bersih dan tajam namun tidak menyiksa itu seolah-olah membakar habis seluruh kepalsuan kasta korporat di dalam dirinya, menyisakan esensi murni dari seorang Citra Kirana sebagai manusia biasa yang mendambakan kedamaian yang bersahaja.
Mata Citra yang biasanya memancarkan kalkulasi bisnis yang dingin kini tampak berkaca-kaca, memancarkan kelembutan yang sangat murni. Ia mengunyah daging babat yang begitu empuk dengan ekspresi wajah yang dipenuhi oleh kebahagiaan slice of life yang sangat hakiki.
“Struktur rasanya sangat solid,” ucap Citra dengan suara yang sedikit bergetar, menatap mangkuk sotonya seolah-olah melihat sebuah keajaiban dunia baru. “Kombinasi antara tingkat keasaman jeruk limau dan kepekatan bumbu rempahnya berada dalam rasio keseimbangan yang mutlak sempurna. Ini bukan sekadar makanan, Arya... ini adalah sebuah mahakarya pelestarian budaya kuliner yang tidak bisa dinilai dengan lembaran uang saham. Saya... saya merasa seluruh kelelahan mental saya setelah berhari-hari menghadapi konflik internal korporasi mendadak menguap begitu saja setelah meminum kuah ini.”
Arya yang melihat reaksi luar biasa dari kedua dewi tersebut hanya bisa tersenyum puas di dalam hatinya, sambil mengacungkan jempol gaib kepada sistem di dalam benaknya. “Mantap, sistem! Efek kecap sama sambal lu bener-bener gak ada obat! Dua cewek elit yang tadi di warkop depan gang hampir saling cakar pake argumen investasi finansial kasta tinggi, sekarang malah sibuk nambah kerupuk putih emping sambil nunduk lahap di atas meja kayu tripleks yang reyot! Ini dia diplomasi kerakyatan yang sesungguhnya!”
Sambil menikmati soto tangkarnya sendiri, Arya kembali melanjutkan ceritanya tentang masa lalu pangkalan ojol Tambora untuk menjaga kehangatan suasana.
“Makanya, Nona-nona... seperti yang saya bilang tadi saat kita jalan kaki di gang,” kata Arya sambil mengunyah kerupuk putihnya dengan santai. “Anak-anak pangkalan Tambora itu, terutama Bang Jay, Dedi, sama Mbak Sri yang punya warkop... mereka adalah orang-orang paling berharga buat saya setelah orang tua saya. Mbak Sri itu, warkopnya kecil banget, dindingnya cuma dari papan tripleks bekas sisa bangunan yang dicat warna hijau pudar. Tapi dari warkop sempit itulah, dari secangkir kopi hitam seharga tiga ribu perak yang sering digratisin kalau kami lagi sepi orderan, tali persaudaraan kami diikat kuat. Mereka tahu segalanya tentang perjalanan hidup saya dari zaman susah sampai sekarang.”
Mendengar penegasan kembali dari mulut Arya mengenai posisi sakral dari para anggota pangkalan Tambora, terutama Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri selaku pemegang kunci seluruh basis data memori masa kecil Arya, sebuah sinyal taktik rahasia kembali menyala di dalam benak Citra Kirana dan Nadia Anastasia yang kini tingkat keangkuhannya sudah merosot drastis hingga 80 persen akibat manipulasi rasa soto tangkar gaib.
Citra Kirana meletakkan sendoknya dengan perlahan, menyeka sudut bibirnya yang merah menggunakan tisu dengan keanggunan yang alami. Di dalam otak jenius bisnisnya, sebuah rencana kontingensi rahasia jangka pendek telah matang seutuhnya. “Arya adalah pria yang digerakkan oleh rasa kesetiaan dan utang budi. Jika dia menganggap warkop Mbak Sri dan pangkalan Tambora sebagai rumah keduanya, maka aku akan menjadikan area itu sebagai surga terkondusif di seluruh Jakarta untuknya. Besok pagi-pagi sekali, sebelum matahari terbit, aku akan menginstruksikan tim ekspansi CSR (Corporate Social Responsibility) perusahaanku untuk mendatangi lokasi pangkalan tersebut secara rahasia tanpa sepengetahuan Arya. Kami akan melakukan perombakan total secara instan menggunakan sistem konstruksi modular modern.”
Citra melirik Nadia dari sudut matanya, memastikan saingannya itu tidak menyadari kilatan taktis di wajahnya. “Aku akan membangun sebuah basecamp ojol yang luar biasa layak, kokoh, dan berkelas untuk mereka. Atap seng karatan itu akan diganti dengan struktur kanopi baja ringan anti-panas. Kami akan memasang unit pendingin udara (AC) inverter yang sejuk, menyediakan deretan kursi refleksi kulit premium agar Bang Jay tidak lagi mengeluh tentang encoknya setelah seharian membelah aspal. Dan untuk warkop Mbak Sri... bangunan kayunya yang lapuk akan diubah menjadi warkop modern yang bersih, higienis, namun tetap mempertahankan menu otentik merakyatnya. Seluruh pasokan kopi, gula, mi instan, dan es batu akan disuplai langsung oleh jaringan logistik Grand Indonesia secara gratis selamanya, sehingga Mbak Sri bisa menggratiskan seluruh hidangan untuk anak-anak pangkalan Tambora tanpa perlu memikirkan modal operasional lagi. Dan sebagai imbalan rahasianya... Bang Jay dan Mbak Sri harus menceritakan kepadaku setiap detail kecil tentang masa lalu Arya, makanan kesukaannya saat kecil, hingga daftar nama wanita yang pernah membuatnya baper di masa lalu!”
Sementara itu, Nadia Anastasia yang sedang mengunyah potongan emping terakhirnya juga sedang menyusun peta jalan taktik sosial yang tidak kalah revolusioner di dalam batinnya yang penuh ambisi kreatif. “Citra pasti berpikir untuk menggunakan kekuatan finansial korporatnya lagi untuk membangun gedung atau merenovasi properti fisik. Sangat klise dan kaku. Aku akan menyasar aspek yang jauh lebih esensial, yaitu masa depan ekosistem sumber daya manusia di sekeliling Arya! Jika Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri sudah menganggap Arya seperti adik kandung mereka sendiri, maka aku akan mengangkat derajat keluarga mereka ke tingkat tertinggi dalam hierarki sosial.”
Nadia mengambil segelas air putih, meminumnya perlahan, sambil menyusun rencana aksi di kepalanya. “Besok pagi, aku akan mengirim asisten pribadi kepercayaanku untuk menemui Bang Jay, Dedi, dan Mbak Sri secara terpisah dari pengawasan Arya. Aku tahu anak-anak pangkalan itu pasti memiliki anak-anak atau keponakan yang membutuhkan masa depan yang cerah. Aku akan mengaktifkan jaringan yayasan beasiswa kreatif internasional milikku. Anak Mbak Sri akan langsung aku masukkan ke dalam sekolah tata boga (culinary art) bersertifikasi internasional tingkat tinggi agar warkopnya kelak dikelola oleh generasi muda yang berpendidikan global, sekaligus membelikan Mbak Sri set peralatan dapur masak paling ergonomis dari Italia. Untuk anak-anak Bang Jay dan Dedi, yang memiliki bakat visual atau menggambar akan dikirim ke sekolah desain grafis terbaik, dan yang memiliki potensi fisik akan langsung dimasukkan ke dalam kelas pelatihan model, akting, dan agensi kreatif di bawah bimbinganku sendiri secara cuma-cuma! Aku juga akan mendaftarkan seluruh anggota pangkalan Tambora ke dalam program asuransi kesehatan kelas satu premium seumur hidup! Dengan memberikan masa depan yang cerah bagi ekosistem sosialnya, Bang Jay dan Mbak Sri pasti akan menganggapku sebagai calon pendamping hidup terbaik untuk Arya, dan mereka akan dengan sukarela membocorkan seluruh data sensitif rahasia hati Arya kepadaku!”
Arya yang baru saja selesai membayar seluruh total tagihan soto tangkar kepada Pak Haji Yusuf menggunakan selembar uang seratus ribuan tunai dari dompetnya—menolak mentah-mentah saat kedua gadis itu mencoba mengeluarkan kartu kredit hitam korporat mereka—kembali ke meja dengan senyum lebar yang sangat menyegarkan.
“Gimana, Nona-nona? Kenyang?” tanya Arya dengan nada ramah, merasa misinya malam ini telah berhasil diselesaikan dengan tingkat keberhasilan yang mutlak stabil.
“Sangat kenyang, Arya. Terima kasih banyak atas traktirannya yang luar biasa berharga ini,” sahut Citra Kirana dengan senyuman lembut yang sangat tulus, matanya memancarkan kehangatan yang belum pernah ia perlihatkan kepada siapa pun di dunia korporat.
“Ini adalah makan malam terbaik dalam hidupku, Arya,” timpal Nadia Anastasia dengan binar mata yang penuh dengan rasa keterikatan emosional yang semakin menebal.
Saat mereka bertiga bangkit dari kursi plastik dan melangkah keluar meninggalkan warung soto untuk kembali menuju area parkir pangkalan tempat mobil mewah mereka berada, Arya sama sekali tidak menyadari bahwa di balik keheningan malam Tambora yang bersahaja ini, sebuah badai kemakmuran rahasia yang digerakkan oleh intrik persaingan asmara dua dewi ibu kota bersiap untuk menghantam pangkalan ojol Tambora besok pagi! Dan semua itu dilakukan murni demi memperebutkan satu ulasan Bintang 5 kelap-kelip di dalam hati sang driver tampan, Arya Prasetya!