NovelToon NovelToon
Langit Yang Menyimpan Janji

Langit Yang Menyimpan Janji

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Dunia kultivasi terbagi menjadi banyak sekte dan keluarga besar. Orang-orang berlomba mencapai tingkat tertinggi demi keabadian.
Tapi protagonis kita?
Seorang pemuda biasa yang dianggap sampah oleh semua orang.
Dia nggak punya bakat kultivasi yang bagus. Bahkan keluarganya sendiri malu mengakuinya.
Sampai suatu hari, dia bertemu dengan seorang gadis dari sekte besar.
Cantik, dingin, berbakat, dan statusnya jauh di atasnya.
Awalnya mereka saling benci.
Lalu mulai saling peduli.
Lalu muncul masalah...
Si gadis ternyata sudah dijodohkan dengan seorang jenius dari sekte lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Yunche terbungkam sepenuhnya. Gu Qingli di sampingnya pun tak sanggup menyela sepatah kata pun.

Shen Tianyu melanjutkan kalimatnya dengan nada yang kian membobot: "Gu Tianming bukanlah satu-satunya sosok yang melancarkan Serangan pada malam kelam itu."

Yunche mendongak tajam, sepasang matanya membelalak. "Apa maksud Ayah?!"

"Ada pihak lain yang bergerak di balik bayangan."

"Siapa mereka?!" cecar Yunche tuntas.

Shen Tianyu menoleh, raut wajahnya berubah teramat serius. "Mereka adalah pihak yang sebenarnya... menginginkan darah muliamu."

Sebelum rahasia itu terucap lebih jauh, Shen Mo mendadak berteriak histeris dari kejauhan: "SEMUA MENJAUH DARI SANA!"

Namun segalanya sudah terlambat.

SWISH!

Sebuah anak panah berbalut pendar hitam pekat melesat membelah udara dengan kecepatan luar biasa. Bayangan wujud Shen Tianyu seketika memudar dan melenyap ditelan tebasan angin. Anak panah itu menghantam dinding gua secara telak.

"AYAH!!!" jerit Yunche histeris.

Gu Qingli refleks menyergap dan menarik lengan Yunche. "Yunche, awas!"

BOOM!

Ledakan dahsyat tercipta seketika. Seluruh dinding gua berguncang hebat, meruntuhkan bebatuan raksasa dari langit-langit.

Pria tua berambut putih itu memanfaatkan kekacauan tersebut dan memberi komando: "Serang mereka sekarang! Jangan biarkan ada yang lolos!"

Pasukan berjubah hitam kembali melesat maju. Yunche dengan cepat meraih jemari Gu Qingli, mengunci genggamannya erat-erat. "Qingli!"

"Aku di sini, Yunche!"

"Jangan pernah melepaskan tanganku!"

"Tidak akan pernah!" tegasa Qingli penuh ketetapan hati.

Shen Mo berteriak memberi petunjuk di tengah kepulan debu: "Cepat keluar dari gua ini!"

Mereka bertiga berlari cepat menerobos reruntuhan batu. Namun di tengah kekacauan itu, iris mata Yunche mendadak menangkap sesosok bayangan yang berdiri tegap di atas tebing tinggi di luar gua.

Sosok itu dibalut jubah hitam kelam dengan wajah yang tertutup rapat. Tatapannya yang dingin dan misterius terpatri lurus tepat ke arah Yunche.

Yunche mendadak menghentikan langkahnya. "Siapa kau sebenarnya?!"

Sosok di atas tebing itu tak bersuara. Perlahan, dia mengangkat sebelah tangannya dan memancarkan sebuah pola simbol bercahaya—simbol Kuno yang persis sama dengan ukiran pada liontin di dada Yunche.

SWOOSH!

Dalam sekedip mata, sosok misterius itu melenyap begitu saja ditelan kegelapan.

Yunche mematung penuh guncangan sampai Gu Qingli menarik tangannya dengan kuat. "Yunche! Apa yang kau lamunkan?! Kita harus segera pergi dari sini!"

Yunche tersentak, lalu mengangguk cepat. "Ayo!"

Mereka melesat keluar menembus pintu gua. Tepat pada saat yang sama, pilar-pilar Gunung Tianyuan mulai runtuh hebat. Gempa dahsyat meretakkan permukaan tanah, meruntuhkan batu-batu raksasa dari atas tebing.

Di tengah guncangan hebat itu, Gu Qingli kehilangan pijakannya dan terpeleset. "Yunche!"

Dengan refleks kilat, Yunche menangkap tubuh gadis itu. Keduanya berguling di atas tanah batu dan jatuh berdempetan. Yunche mendekap tubuh Qingli dengan erat, menahan hempasan reruntuhan di sekeliling mereka.

Ketika guncangan mereda sejenak, Gu Qingli perlahan membuka matanya—begitu pula dengan Yunche.

Seketika, keheningan yang aneh menyergap di antara mereka. Di tengah hiruk-pikuk Gunung Tianyuan yang hancur berantakan, jarak wajah mereka teramat dekat hingga helaan napas satu sama lain terasa menembus kulit. Sepasang mata mereka bertaut tajam, membeku dalam waktu.

Yunche memandangi paras elok gadis di dekapannya, lalu berbisik pelan, "Qingli..."

"Hm?" sahut Qingli lembut.

"Jika kita berhasil keluar dari tempat ini dengan selamat..."

Gu Qingli berkedip pelan. "Ya? Ada apa?"

Yunche menyunggingkan senyum tipisnya yang menawan. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu."

"Soal apa?" cecar Qingli penasaran.

"Nanti saja kukatakan."

"Kenapa harus nanti?"

"Sebab untuk saat ini..." Yunche melirik sekelilingnya yang kian hancur, "...hal terpenting adalah memastikan kita berdua tetap bernapas dan bertahan hidup."

Gu Qingli tak sanggup menahan tawa kecilnya di balik situasi mencekam itu. "Dasar kau ini..."

BOOM!

Tanah di bawah mereka kembali berguncang hebat. Yunche bangkit berlutut dengan cepat, lalu mengulurkan sebelah tangannya. "Ayo!"

Gu Qingli menatap sepasang mata Yunche yang penuh keteguhan, lalu menyambut genggaman tangan itu tanpa ragu sedikit pun. Mereka kembali berlari menerobos badai reruntuhan—saling menguatkan, tanpa ada satu pun yang bersedia melepaskan jemari satu sama lain.

Malam kian melarut ketika mereka akhirnya berhasil mencapai tempat yang aman—sebuah rumah kayu kosong yang tersembunyi di kaki gunung.

Di salah satu sudut ruangan, Shen Mo tampak sibuk mengobati luka-lukanya sendiri secara mandiri. Sementara itu, Yunche duduk bersandar di dekat jendela, mendampingi Gu Qingli yang duduk tepat di sebelahnya. Keduanya membisu, menikmati keheningan langka yang menyelimuti mereka setelah badai pertarungan.

Sampai akhirnya, Gu Qingli memecah hening. "Yunche."

"Hm?"

"Soal pertanyaanmu tadi..."

Yunche menoleh. "Pertanyaan yang mana?"

"Saat di gunung tadi, kau bilang ada sesuatu yang ingin kau tanyakan padaku."

"Oh..." Yunche terdiam sejenak, memasang raut polos. "Aku lupa."

PAK!

Gu Qingli refleks memukul lengan Yunche cukup keras. "Dasar konyol!"

"Aduh! Sakit, Qingli!"

"Aku serius tahu!"

"Aku benar-benar lupa, Qingli!" cengir Yunche.

"Pembohong!" pangkas Qingli kesal.

Yunche tak sanggup lagi menahan tawa kecilnya, sementara Gu Qingli akhirnya ikut sunggingkan senyum di paras cantiknya.Namun, hanya dalam hitungan detik, raut wajah Yunche berubah menjadi teramat serius. "Qingli."

"Hm?"

Yunche menatap lurus ke dalam sepasang mata gadis itu. "Jika suatu hari nanti... aku benar-benar harus berdiri sebagai musuh dari ayahmu..."

Tubuh Gu Qingli menegang seketika.

"...dan jika pada akhirnya aku terpaksa bertarung melawannya," lanjut Yunche lirih, "apakah kau akan membenciku?"

Gu Qingli membisu cukup lama. Tatapannya tertuju pada pendar rembulan di luar jendela sebelum akhirnya dia menggelengkan kepala pelan. "Tidak."

"Kenapa?"

"Karena..." Gu Qingli kembali menatap mata Yunche, "...kau bukan musuhku, Yunche."

Yunche terpaku.

Gu Qingli tersenyum tipis yang sarat kesedihan. "Jika suatu saat kau harus berhadapan dengan Ayah... aku tidak akan menghalangi jalanmu."

Yunche membelalak. "Qingli..."

"Tapi..." tambah Qingli cepat seraya mengencangkan cengkeraman tangannya, "...janjilah kau tidak boleh mati di tangannya."

Yunche tersenyum teduh. "Baiklah."

"Dan satu hal lagi..." Gu Qingli menatapnya dengan binar memohon. "...jangan pernah tinggalkan aku sendirian lagi."

Yunche memiringkan kepalanya, sementara Gu Qingli buru-buru memalingkan wajahnya yang merona. "Sebab jika kau pergi—"

"Qingli," potong Yunche lembut.

"Hm?"

Yunche menyunggingkan senyum tulus. "Aku tidak akan pernah pergi meninggalkanmu lagi."

Gu Qingli menoleh kembali.

Perlahan, Yunche mengulurkan sebelah tangannya. "Setidaknya... aku tak akan pergi tanpa membawamu serta di sisiku."

Gu Qingli memandangi telapak tangan Yunche sejenak, lalu perlahan merapatkan jemarinya dan mengunci genggaman mereka. "Kau berjanji?"

Yunche mengangguk mantap. "Aku berjanji."

Sementara itu, di tempat yang sangat jauh di kedalaman Gunung Tianyuan...

Sesosok pria berdiri tegap di hadapan sebuah altar batu Kuno. Di atas altar tersebut, terpajang sebuah lukisan kenangan yang melapuk ditelan zaman. Lukisan itu menampilkan sosok Shen Tianyu muda yang bersanding mesra dengan seorang wanita berparas jelita—wanita yang garis wajah dan struktur matanya teramat mirip dengan Shen Yunche.

Pria berbalut jubah hitam itu berdiri bergeming menatap lukisan sang wanita. "Sudah waktunya," gumamnya dingin.

Dari balik bayangan, seorang pengawal berbisik bertanya, "Apakah kita akan membeberkan kenyataan ini padanya sekarang?"

Pria berjubah hitam itu menggelengkan kepala pelan. "Belum saatnya."

"Mengapa?"

Pria itu memiringkan kepalanya, menatap dalam-dalam pada paras sang wanita di dalam lukisan. "Karena pemuda itu sama sekali belum siap..."

Dia menghentikan kalimatnya sejenak, lalu melanjutkan dengan bisikan penuh misteri: "...untuk mengetahui identitas asli dari ibu kandungnya sendiri."

1
Deutsch
mantap thor
Gia Uw
lanjut lagi
Alia Chans
Datang tiba-tiba, tujuan nya Darah 😭😭
apa gk syok tuh thor
obeng min
luar biasa
obeng min
hurra
obeng min
josss
obeng min
mana nih ketua
DeZigur: besok bang. 5 bab crazy up.
total 1 replies
obeng min
joss
obeng min
mantap
obeng min
lanjut thor
obeng min
gas thor mantap💪💪💪💪👍👍👍👍👍
Semoli Ginon
blom waktunga yunche. sabar 🤭
Semoli Ginon
🤣🤣
Semoli Ginon
duh yunche celamitan pula/Cry/
Semoli Ginon
dasar mc koplak emang 🤣
Semoli Ginon
merepet aja mulutnya yunche. husss diam dulu
Semoli Ginon
sangat tidak sopan 🤣
Semoli Ginon
mc nya rada koplak ini ya? 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!