"Kau terlalu banyak menyimpan kebohongan sehingga kejujuran mu di pandang semu sekarang."
Kepergian Reno bukan lah sesuatu yang salah, aku yang salah disini aku paham arti perginya. "Jangan pergi! jangan tinggalkan rumah."
Dia amat marah setelah berita itu sampai ke telinga nya...
yukk buruan cari sepenggal kalimat ini dibalik cerita aku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MAMI ADRIELLA20, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup baru 2
Pagi ditemani dengan serapan lanjut acara mencari warung atau pasar kecil untuk belanja bulanan, semuanya dapat dilengkapi dengan baik. Benar adanya kata Dean dulu lebih baik aku beli mobil ketimbang motor ya. Okelah nasehat kakanda Dinda kerjakan.
Sebagian hasil penjualan mampu untuk aku membayar lunas satu mobil hitam seri 2 Tahun silam dari merek terkenal namun di kelas kaum mendang-mending. Mobilnya inisial E mirip Mobil papajero lah jadi Taukan berapa hasil uang haram dari penjualan barang-barang itu, itu masih sebagian saja belum di buka semuanya.
"Urusan surat-surat saya tunggu Minggu depan ya," kata ku memastikan sebelum membawa surat aman untuk kepemilikan mobil ku.
"Ini saya rekomendasikan tempat kursus mobil kak, nanti kalau mau pake supir bisa hubungi."
"Baik," kata ku menerima arahan, that simpel bro. Berkat diantar supir mobil hitam sampai dirumah, nanti juga aku kerja pasti sudah bisa bawa mobil.
"Ini ongkos nya ya pak," sejumlah uang ku perkirakan untuk ongkosnya.
"Terimakasih Bu,"padahal aku tau ada temannya jemput dia. Belum apa-apa sudah terjebak tugas aja, ntar zoom mata' pelajaran kesukaan harus tetap stay strong ini walaupun capek banget rasanya,badan sih memang gak capek cuman mental kok rada down banget ya.
Zoom sudah di mulai dan sangat tidak worth it jika aku ketinggalan padahal tidak ada kegiatan, pertemuan kali ini menjelaskan prosedur dan manajemen marketing sebuah usaha menarik bukan cocok mendukung karir ku saat ini. Setelah dosen sudah wanti-wanti kalau misalnya akan ada kegiatan kampus yang mengharuskan kami berjualan dengan target market yang sudah kami rancang.
"Untuk kelompok nanti Zulfa yang bagi ya." arahan dosen mengharuskan satu murid bertanggung jawab untuk membagi kami dalam beberapa kelompok. "Baik pak," sungguh pekerja idaman zoom selesai dia langsung membagikan kami menjadi beberapa kelompok, dimana setiap
kelompok nanti nya berisi 4 orang.
Aku sudah mengantongi Empat nama kelompok ku, juga sudah tau mana saja kontak telepon mereka,namun berhubung aku ketua agak jual mahal dikit lah ya kan masak ia aku yang cari, kumpul inisiatif sendiri dong.
Pukul delapan malam satu orang dari kelompok wanita sudah menghubungi ku, tinggal 2 orang laki-laki dari kelompok kami. Seperti nya mereka memang tipikal lelaki yang harus di cari, hah nanti lah bagian mu batinku saat itu.
Nomor tidak dikenal datang memberikan penawaran menarik untuk ku, dia anak nya Tante ku. Dulu sewaktu kecil aku mengingatnya sebagai orang yang baik, hanya tak terlalu banyak bicara lihat cara dia mengirimkan pesan pada ku, selalu dengan penawaran yang menarik.
Risma: Dek bisanya kami menumpang dirumah mu, nanti kakak dan abang-abang mu merembuk soal biaya yang kau sebutkan selama Mamak berobat disitu. Kakak bawa teman mamak dari sini ya dek, soalnya enggak bisa kami temanin Mamak.
Sungguh benar kata pepatah, seorang ibu bisa membesarkan 10 anak,namun satu anak belum tentu bisa merawat satu ibu.
"Baiknya gimana aja dari orang kakak, kalau aku cuman bisa bantu tempat yang aman untuk Tante disini." Ku pikir itu jawaban yang okay untuk permasalahan itu.
Risma: Terimakasih bantuan mu dek, enggak ku pikir bantuan itu datang dari mu.
Sedih' juga ya
"Iya kak, sehat-sehat kita semua."
Malam ini ditutup dengan cerita kedamaian dan hal baru dalam hidup, aku kembali menjadi seorang yang memaafkan. Satu kemajuan dalam hidup,namun jujur dihati ku masih ada rasa enggak enak dan masih sulit untuk tenang. Rasanya pengen emosi banget!!
Entah kenapa namanya makan setelah itu mandi, tempat tidur merupakan tempat ternyaman dalam hidupku, panggilan nya membuat ku ngantuk berat banget. Jadinya malam ini aku dapat beristirahat lebih lama.
Hari mentereng aku baru bangun, sudah ada tanggung jawab datang dari Tante untuk menjemput dia sore ini di bandara. Yakinlah aku masih berusaha berdamai sampai saat ini, terlebih dia adek Mama ku wanita yang hampir 86% memiliki kemiripan dengan Mama secara fisik dan sikap.
Rasanya aneh bila aku berusaha baik dengan nya pasti ada rasa canggung dan juga rasa enggan cuman nama nya mencoba apakah aku benar-benar sudah berdamai atau belum hanya Tuhan lah yang tau ke depannya.
"Halo pak amin, nanti sore bisa booking gak sampai malam?" satpam apartemen kepercayaan ku selalu dapat ku andalkan. "Bisa Bu, mau jemput pak Dean?"
"Enggak pak, datang ke lokasi yang saya bagikan ya, jam 2 aja."
"Baik Bu."
Menjelang waktu yang ditentukan aku sempat memilih jadwal sekaligus tempat untuk belajar mengemudi,rasa ku harga dan kualitas nya sebanding dengan yang ku dapatkan.
Aku tidak masak rencananya nanti beli aja di luar, begitu juga untuk pak Amin.
Lama enggak berselang pak Amin datang masih menggunakan celana PDHL hanya menggunakan jaket untuk menutupi jati dirinya. "Ibu pindah pak Dean gak tau ya Bu."
Ucap nya pertama kali sampai sembari memanaskan mesin mobil, aku diam seribu bahasa. "Enggak pak, jangan diberi tahu ya."
"Pantesan Bu,pak Dean kemarin malam datang. Katanya ibu enggak bisa di hubungi,saya di minta hubungi ibu lah saya enggak berani dong, kan enggak ada kepentingan di saya ya."
"Benar pak, Saya minta tolong siapapun itu yang tanya keberadaan saya jangan di gubris ya pak."
"Baik Bu," mobil mulai jalan. Kami berdua duduk barengan, begitulah aku jika sudah percaya menganggap semua kebaikan harus dibalas dengan kebaikan. Perlahan jadwal serta kegiatan training telah aku baca untuk langsung terjun ke dunia kerja, ini enaknya dengan pak Amin dia tidak terlalu kepo dan mampu menciptakan suasana tenang di dalam mobil.
Detik-detik di kursi dihitung dengan tetesan air mata, ternyata se enggak sanggup itu aku menerima ini. Ayo Adri angkat kepala mu, apa gunanya kau menunduk dan meneteskan air mata. Tunjukkan kemewahan ini bisa kau dapat tanpa mereka,jadilah kejam sementara kamu bukan rapuh!!! kamu bukan lemah!!!
Angkat kepala mu Adri, jadilah ADRIELLA yang sesungguhnya!!! Naikan pandangan mu untuk siapa kau menunduk takut seperti itu, untuk masalah mu atau mereka!!!
Ubah ketakutan ini untuk pembalasan lewat kebaikan mu, tunjukkan pada mereka bahwa yang mati di dalam sungai itu ada kemiskinan mental mereka bukan kamu, angkat kepala mu tersenyum lah, Itu dia.
"Sofi,"Kenapa pelukan yang ku dapat tak pernah berasa hangat,senaif itukah aku untuk kata pishycal touch? Enggak pengen di peluk atau ditangisi seperti ini aneh banget.
"Sehat Tante," bahkan balasan peluk itu tidak tulus dari ku, itu hanya alasan supaya ia melepaskan kemunafikan itu dari tubuh ku. "Sehat Sofi, Mirip siapa lah kayak... tinggi, mirip..."
"Tentu nya enggak mirip orang sana Tan!, yuk kita jalan Tan.Jakarta ini beda sama dikampung, untuk kerumah aja kita makan waktu 2 Jam." Ia masih merangkul tangan ku, kopernya dibantu bawa oleh anak gadis dan juga satu tas yang di bantu bawa pak Amin.
Aku merindukan ini cuman rindu itu terasa semu, aneh dan gak nyaman untuk dinikmati apakah aku juga tergolong munafik?