NovelToon NovelToon
Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Penyihir Sampah Naik Level Jadi Archmage

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Akademi Sihir
Popularitas:310
Nilai: 5
Nama Author: Benhard Ayub Simanjuntak

Aku dilahirkan tanpa mana. Dijuluki "Sampah Magic" dan dikeluarkan dari Akademi Sihir Kerajaan.

Saat hampir mati di hutan iblis, aku mendapatkan [Sistem Archmage].

Setiap mengalahkan monster = dapat skill sihir baru.
Api, Petir, Ruang, Waktu... semua sihir bisa kupelajari!

Sekarang, aku akan kembali ke akademi itu.
Dan membuat mereka semua berlutut di hadapanku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benhard Ayub Simanjuntak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 24 Dungeon Goblin Level 2 dan Healer Tsundere

Gerbang dungeon di depanku menjulang seperti rahang monster yang siap menelan siapa saja.

Pintu batu hitam setinggi 5 meter itu dipenuhi ukiran tengkorak goblin dan lumut hijau. Di atasnya ada tulisan bercahaya merah:

*[DUNGEON GOBLIN LEVEL 2 - DILARANG MASUK UNTUK RANK F KE BAWAH]*

Aku tertawa kecil.

"Rank F ya? Pas banget."

Angin dingin dari dalam dungeon menyapu wajahku. Membawa bau darah, tanah basah, dan... bau goblin.

"Ugh... Tuan," suara kecil dari sampingku. "Aku nyium bau goblin. Dan bau... putus asa."

Grom. Goblin kecil setinggi lututku dengan mata merah menyala. Dia satu-satunya "teman" yang kupunya setelah dikeluarkan dari akademi.

"Aku juga nyium bau itu," kataku sambil mengepalkan tangan. "Bau orang-orang yang nyerah sebelum mencoba."

Sudah 2 minggu sejak aku diusir dari Akademi Sihir Eldoria. 2 minggu jadi bahan tertawaan. "Sampah tanpa mana". "Gagal sihir".

Tapi mereka salah.

Aku punya dia.

[DING!]

[SISTEM ARCHMAGE TELAH AKTIF]

[STATUS: KAEL]

[RANK: F-]

[LEVEL: 1]

[MPA: 2/100]

Angka 2 di mana itu menyakitkan. Dulu di akademi, murid rata-rata punya 80. Jenius punya 200.

Tapi 2 ini... ini milikku. Hasilku sendiri. Bukan warisan keluarga bangsawan.

"Grom, siap?" tanyaku.

"Tuan, pertanyaan yang lebih penting: kalau kita mati di sini, siapa yang akan kuburin kita?" Grom menggaruk kepalanya. "Aku gak mau dimakan goblin lain. Rasanya jijik."

Aku menepuk kepala kecilnya. "Tenang. Kita gak akan mati. Kita akan naik level."

Aku melangkah maju. Begitu kakiku menyentuh ambang pintu batu, hawa dingin menusuk sampai ke tulang.

[DING!]

[MEMASUKI DUNGEON GOBLIN LEVEL 2]

[PERINGATAN: REKOMENDASI PARTY 3 ORANG RANK E]

[PERINGATAN DIABAIKAN]

Gelap.

Langsung gelap gulita begitu pintu di belakang kami tertutup dengan suara _DUM_.

Hanya ada cahaya redup dari lumut di dinding dan... suara tetesan air. _Tetes... tetes..._

Grom menempel di kakiku. "Tuan... serem."

"Di sini kita latihan," bisikku. "Di sini kita jadi kuat. Di sini kita buktikan mereka salah."

Aku memejamkan mata. Mengingat semua hinaan. Elara yang menertawakanku. Aldric yang mematahkan tongkatku. Profesor yang bilang "Kau tidak berbakat, Kael. Pulanglah jadi petani."

Api kecil menyala di dadaku. Bukan api sihir. Api amarah. Api tekad.

Aku membuka mata.

Di kejauhan, sekitar 20 meter, ada cahaya obor. Dan bayangan... banyak bayangan kecil berjalan mondar-mandir.

Goblin.

Jantungku berdegup kencang. Ini pertarungan pertamaku. Pertarungan sesungguhnya. Bukan latihan di akademi.

Aku mencabut pedang kayu dari pinggang. Satu-satunya senjata yang kumiliki.

"Tuan, tunggu," Grom menarik celanaku. "Sebelum kita maju... ada satu hal lagi."

"Apa?"

"Aku nyium bau manusia lain. Bau parfum mahal. Bau... arogansi tingkat bangsawan."

Alisku menyatu. "Manusia? Di sini?"

Belum sempat aku menjawab, suara tajam memecah keheningan dungeon.

"SIAPA DI SANA?!"

Suara perempuan. Dingin. Tinggi. Penuh wibawa.

Dari balik tikungan lorong, muncul cahaya terang. Cahaya sihir penyembuh berwarna biru muda.

Dan di tengah cahaya itu... berdiri seorang gadis.

Rambut perak panjang sampai pinggang. Mata biru es yang menatapku seperti melihat sampah. Jubah healer putih dengan bordir emas. Tongkat kristal di tangannya.

Dia cantik. Sangat cantik. Cantik yang menyebalkan.

"Astaga..." gumamnya sambil menutup hidung dengan tangan. "Bau apa ini? Oh... ternyata cuma sampah akademi."

Darahku langsung mendidih.

Elara? Tidak. Bukan dia. Tapi auranya sama. Angkuhnya sama.

"Siapa kau?" tanyaku dingin.

Gadis itu mendengus. Menatapku dari atas sampai bawah. Dari pedang kayu sampai baju compang-campingku.

"Aku?" Dia mengangkat dagu. "Aku Luna von Astrea. Healer Rank E. Anak ketiga keluarga Astrea. Dan kau..."

Dia menunjukku dengan tongkatnya.

"Kau itu Kael, kan? Sampah yang dikeluarkan 2 minggu lalu? Ngapain kau di sini? Tempat ini bukan untuk orang sepertimu."

Grom menggeram pelan. "Tuan... aku mau gigit dia."

"Tahan," bisikku.

Aku menatap Luna. Gadis ini... dia lebih kuat dariku. Jauh. Mananya pasti di atas 100.

Tapi aku tidak akan mundur.

"Tempat ini milik siapa-siapa," kataku. "Dungeon tidak punya nama."

Luna tertawa. Tawanya seperti lonceng, tapi menusuk.

"Oh ya? Kalau gitu kenapa kau gemetar, sampah? Takut ya?"

Aku tidak menjawab. Tanganku semakin erat menggenggam pedang kayu.

Tiba-tiba tanah bergetar.

_DUG! DUG! DUG!_

Dari kedua sisi lorong, suara langkah kaki. Banyak.

Luna langsung siaga. Matanya menyipit. "Sial... gelombang goblin lebih cepat dari jadwal."

Dia menatapku sekilas. "Dengar. Aku tidak peduli kau mati atau hidup. Tapi kalau kau menggangguku, aku sendiri yang akan membunuhmu. Mengerti?"

Tanpa menunggu jawabanku, dia mengangkat tongkatnya.

Cahaya biru menyelimuti tubuhnya.

Dan saat itu juga, dari kegelapan, muncul 10 goblin. Mata merah. Gigi tajam. Membawa pentungan.

Pertarungan dimulai.

[DING!]

[MISI DARURAT: BERTAHAN HIDUP SELAMA 1 JAM]

[HADIAH: TIDAK DIKETAHUI]

[PENALTI KEGAGALAN: KEMATIAN]

Aku menarik napas dalam.

"Grom. Kita mulai."

"Siap Tuan!"

Api tekad di dadaku menyala lebih besar.

Sampah? Baiklah. Mari kita lihat siapa sampah sebenarnya.

10 goblin keluar dari kegelapan seperti kecoa yang melihat makanan.

Tinggi mereka cuma sedada orang dewasa. Kulit hijau keabu-abuan. Mata merah menyala. Tapi pentungan di tangan mereka sebesar kepala manusia.

"Menyerahlah sampah!" teriak salah satu goblin. "Serahkan gadis itu!"

Luna mengernyit jijik. "Berisik."

Dia mengangkat tongkat kristalnya. Cahaya biru langsung meledak.

"[HEALING LIGHT!]"

_Swoosh_

Cahaya itu tidak menyerang goblin. Cahaya itu menyelimuti dirinya sendiri. Luka kecil di lengannya yang bahkan aku tidak lihat kapan terjadinya, langsung menghilang.

Dia... dia heal diri sendiri dulu.

"Gila," gumamku.

"Apa katamu?!" Luna melotot ke arahku tanpa menoleh. "Aku healer. Tugasku menjaga diri sendiri biar bisa nyembuhin orang lain. Bukan berarti aku harus nyembuhin sampah sepertimu!"

"AKU GAK MINTA!" bentakku.

Grom sudah lebih dulu maju. Tubuh kecilnya melompat dengan kecepatan tidak wajar.

"RAAA!! UNTUK TUAN!!"

_BUK!_

Grom menanduk lutut goblin paling depan. Goblin itu terhuyung.

"Kerja bagus," kataku sambil mengangkat pedang kayu.

Pedang ini... dulu aku buat sendiri dari dahan pohon di halaman akademi. Saat itu aku masih bermimpi jadi penyihir hebat.

Sekarang pedang ini satu-satunya yang kupunya.

Aku berlari. Target: goblin yang sedang lengah karena diserang Grom.

_PRAK!_

Pedang kayu menghantam kepala goblin.

Tidak ada efek.

Goblin itu cuma menoleh. Menatapku. Lalu menyeringai.

"Manusia lemah."

_DUG!_

Pentungannya menghantam bahuku.

Rasa sakit luar biasa. Tulangku rasanya retak. Aku terpental 3 meter dan menghantam dinding batu.

"BATUK!" Darah keluar dari mulutku.

[DING!]

[PERINGATAN: DARAH 60%]

[PERINGATAN: TULANG BAHU RETAK]

"TUANN!!" Grom menjerit.

Dari sudut mataku, aku melihat Luna. Dia sedang dengan santainya melambaikan tongkat, melemparkan [HEALING LIGHT] ke dirinya sendiri lagi.

Dia tidak menoleh sedikit pun ke arahku.

"Kenapa... tidak nolong..." bisikku.

Luna mendengar. Dia akhirnya melirikku sekilas. Wajahnya datar.

"Kenapa aku harus nolong sampah? Kau masuk sini atas kemauanmu sendiri. Tanggung jawab sendiri."

Kata-katanya seperti pisau. Lebih sakit dari pentungan goblin.

3 goblin sekarang mengelilingiku. Yang satunya mengangkat pentungan tinggi-tinggi.

Ini... ini akhirku?

Mati di dungeon level 2? Setelah semua hinaan? Setelah semua janji untuk balas dendam?

"TIDAK!!"

Aku berteriak. Bukan karena takut mati. Tapi karena marah. Marah pada diriku yang lemah. Marah pada sistem yang tidak adil.

Di dalam dadaku, sesuatu yang dingin dan panas bercampur jadi satu.

Mana. 2 poin manaku yang menyedihkan.

"Kalau 2 tidak cukup..." gigiku gemertak. "MAKA BAKAR SEMUANYA!!"

[DING!]

[KONDISI DARURAT TERDETEKSI]

[KEINGINAN KUAT UNTUK HIDUP TERDETEKSI]

[MENCARI SKILL YANG SESUAI...]

[SKILL DITEMUKAN: FIREBOLT - SKILL API DASAR]

[SYARAT: DARAH DI BAWAH 50%]

[SYARAT TERPENUHI]

[MEMBUKA SKILL: FIREBOLT]

Panas.

Panas luar biasa menjalar dari dadaku ke lengan. Ke telapak tangan kananku.

"Apa... apa ini..."

Telapak tanganku menyala. Api biru kecil, sebesar bola tenis, berputar di atasnya.

Sakit. Seperti ada ribuan jarum menusuk. Tapi juga... lega.

Goblin di depanku mengerutkan kening. "Apa itu? Mainan?"

"Mainan ibumu," desisku.

Aku mengayunkan tangan.

"[FIREBOLT!]"

_SHUUUUUUUUT!_

Bola api melesat. Kecepatannya 3x lipat dari lemparanku.

_DUAAAR!_

Tepat mengenai dada goblin.

Tidak ada ledakan besar. Hanya suara mendesis dan bau daging terbakar.

Goblin itu... hangus. Dalam 2 detik. Tinggal abu.

Hening.

9 goblin yang lain berhenti. Menatap abu temannya. Menatapku.

Luna juga berhenti. Matanya melebar. Untuk pertama kalinya, ekspresi angkuh itu retak.

"Api...?" gumamnya. "Kau... kau bisa sihir api? Dengan mana 2?"

Aku tidak menjawab. Keringat dingin membasahi tubuhku. Menggunakan skill itu menguras semua manaku.

[DING!]

[MPA: 0/100]

[PERINGATAN: KELELAHAN BERAT]

Kakiku lemas. Aku berlutut.

"Tu... Tuan!" Grom lari ke arahku.

Tapi sudah terlambat.

2 goblin yang tersisa meraung dan menyerang bersamaan.

Yang satu ke arahku. Yang satu ke arah Luna.

Luna bereaksi cepat. Dia mengangkat tongkat.

"[SHIELD!]"

Dinding cahaya muncul di depannya. Pentungan goblin memantul.

Tapi tidak ada yang melindungi aku.

Pentungan itu meluncur ke kepalaku.

Aku menutup mata.

_Ini dia..._

Tiba-tiba...

_BUK!_

Bukan suara kepalaku pecah. Tapi suara benturan.

Aku membuka mata.

Luna.

Dia berdiri di depanku. Punggungnya menghadapku. Tongkatnya menahan pentungan goblin.

"Jangan mati bodoh," katanya pelan. Tanpa menoleh. "Aku... aku belum selesai menghina kau."

pipinya sedikit merah.

"Kenapa...?" tanyaku lemah.

"DIAM!" bentaknya. "Aku cuma tidak mau ada mayat bau di dekatku!"

Dia mendorong goblin itu mundur dengan sihir angin. Lalu menoleh sekilas ke arahku.

Mata biru es itu... ada khawatir di dalamnya. Sekilas. Sangat cepat.

"Grom. Jaga dia," perintahnya.

"Siap!" Grom langsung berdiri di depanku seperti prajurit.

Luna menarik napas. Rambut peraknya berkibar meski tidak ada angin.

"Baiklah. Karena kau sudah tunjukin api itu... aku akan bantu. Sekali ini saja. Jangan GR."

Dia mengangkat kedua tangannya.

"[CHAIN LIGHTNING HEAL!]"

Cahaya biru dan putih menyambar. Bukan ke kami. Tapi ke 9 goblin yang tersisa.

_CZART! CZART! CZART!_

Satu persatu goblin kesetrum dan jatuh.

Dalam 10 detik. Selesai.

Pertarungan pertama. Menang.

Aku tersungkur. Kelelahan. Tapi senyum kecil muncul di bibirku.

Kami... kami berhasil.

Tapi sebelum aku bisa berkata apa-apa...

Tanah bergetar lagi. Lebih kuat.

_DUUUUG! DUG! DUG!_

Dari ujung lorong yang gelap, suara langkah berat.

Langkah yang membuat dinding dungeon retak.

Sebuah bayangan besar muncul. Tinggi 3 meter. Otot kekar. Membawa pentungan sebesar batang pohon.

Di kepalanya ada mahkota tulang.

Goblin Berserker. Level 3. Bos dungeon ini.

[DING!]

[BOSS: GOBLIN BERSERKER LEVEL 3 MUNCUL]

[PERINGATAN: KEKUATAN 5X LIPAT DARI GOBLIN BIASA]

Luna menoleh. Wajahnya pucat.

"Mananya aku... habis," bisiknya. "Untuk pakai Chain Lightning tadi..."

Dia menatap tangannya yang gemetar. Lalu menatapku.

Kael yang tergeletak. Tidak bisa bergerak.

"Brengsek," umpatnya pelan. "Sialan."

Dia menggertakkan gigi.

Lalu... dia berjalan ke arahku. Jongkok.

Tanpa berkata apa-apa, dia mengeluarkan ramuan kecil dari sakunya. Warna merah.

Dia menuangkannya ke bibirku.

Rasanya pahit. Tapi hangat.

[DING!]

[MEMINUM RAMUAN PEMULIH DARAH]

[DARAH: 60% → 80%]

"Minum. Semua," perintahnya. Suaranya masih dingin, tapi tangannya gemetar.

Setelah habis, dia berdiri.

Mengangkat tongkatnya yang sudah retak.

"Aku akan tahan dia," katanya. "Kau... pulihkan mana. Lalu... bakar dia."

Dia menoleh. Dan untuk sepersekian detik, mata kami bertemu.

"Ayo buktikan. Sampah."

Goblin Berserker mengaum. Mengangkat pentungannya.

Pertarungan sesungguhnya... baru akan dimulai.

SIAP BANG!!! GAS TERUS 🔥🔥🔥

Kita tancap ke *BAGIAN 3: KEBANGKITAN API + KALAHIN BOS*

Auman Goblin Berserker mengguncang seluruh dungeon.

_GRAAAKHHH!!!_

Dinding batu retak. Debu berjatuhan.

Goblin itu tingginya 3 meter. Ototnya seperti diukir dari batu. Pentungan di tangannya sebesar batang pohon, dililit rantai dan paku.

Mahkota tulang di kepalanya menandakan satu hal: Dia sudah membunuh banyak petualang.

[DING!]

[STATUS BOSS: GOBLIN BERSERKER LV.3]

[KEKUATAN: 50]

[DURABILITY: 80]

[KELEMAHAN: API]

Luna berdiri di depanku. Punggungnya tegak, tapi aku bisa lihat bahunya gemetar.

"Manaku... habis," bisiknya. "Chain Lightning tadi... menguras 90%."

"Terus kenapa masih maju?!" bentakku. "Mundur!"

Dia tidak menjawab. Dia cuma mengangkat tongkatnya yang sudah retak.

"Karena..." katanya pelan. "Karena aku tidak mau ada orang mati di depanku. Meski itu sampah."

"AKU BUKAN SAMPAH!"

Aku mengepalkan tangan. Ramuan merah tadi mulai bekerja. Hangat menjalar ke seluruh tubuh.

[DING!]

[MPA: 0/100 → 5/100]

[PEMILIHAN: PULIH LAMBAT]

Cuma 5. Tidak cukup untuk Firebolt lagi. Firebolt butuh 20.

Goblin Berserker mengangkat pentungannya tinggi-tinggi.

_SAAAATTT!_

_BUUMM!!!_

Tanah tempat kami berdiri tadi hancur. Beruntung Luna menarikku menghindar di detik terakhir.

"Jangan bengong!" teriaknya. "Lari!"

"Kau yang lari!" aku mendorongnya. "Aku yang harus lawan!"

Luna menatapku. Marah. "Kau gila?! Dengan mana 5 itu?!"

"Kalau tidak sekarang, kapan lagi?!"

Aku berdiri. Kaki masih gemetar. Bahu masih sakit. Tapi api di dadaku... masih ada.

Goblin itu mengaum lagi dan mengayunkan pentungan ke arah Luna.

Tidak sempat berpikir.

Tubuhku bergerak sendiri.

Aku melompat. Menerjang ke depan.

_PRAK!!!_

Pentungan itu menghantam punggungku.

Rasanya seperti ditabrak kereta.

[DING!]

[PERINGATAN KRITIS: DARAH 80% → 30%]

[TULANG RUSUK RETAK]

"TUAAANN!!" Grom menjerit.

Aku terlempar. Menggelinding 4 meter. Darah menggenang di mulutku.

Tapi aku tertawa.

"HAH... HAH..."

"Kenapa ketawa?!" Luna berlari ke arahku. Wajahnya panik. Untuk pertama kalinya, topeng tsundere nya lepas.

"Karena..." aku batuk darah. "Karena aku... nemu kelemahannya..."

Aku menunjuk ke arah Goblin Berserker.

Di dadanya. Ada bekas luka bakar. Luka lama. Seperti terbakar sihir api.

"Api..." gumamku. "Dia takut api..."

Mata Luna melebar. Dia langsung paham.

"Sialan... kau benar," katanya. Dia menatapku. "Tahan. Jangan mati."

Dia berdiri. Menghadap Goblin itu sendirian. Tanpa mana. Cuma dengan tongkat retak.

"Kau... kau mau apa?" tanyaku.

Luna tidak menoleh.

"Aku akan tahan dia. 30 detik. Itu saja yang kubutuhkan."

"Untuk apa?!"

"Untuk kau. Bakar dia. Kael."

Nama itu. Dia menyebut namaku. Bukan "sampah".

Jantungku berdegup kencang.

"Gila... kau gila..."

"DIAM DAN LAKUKAN!" bentaknya. "APAKAH KAU MAU SEMUA PENGORBANAN INI SIA-SIA?!"

Dia benar.

Aku menggertakkan gigi. Menutup mata.

Fokus.

5 mana. Cuma 5. Tidak cukup untuk Firebolt.

Lalu bagaimana?

_Dulu di akademi, profesor bilang... mana itu seperti air. Kalau gayung kecil, ambilnya sedikit-sedikit. Tapi kalau kau punya sumur..._

Sumur.

Aku tidak punya sumur. Tapi aku punya... kemarahan. Tekad. Keputusasaan.

Mungkin... mungkin aku bisa memerasnya.

Aku menggigit bibirku sampai berdarah. Mengingat semua hinaan. Elara. Aldric. Profesor.

"Kael, kau sampah."

"Kau tidak berbakat."

"Pulanglah jadi petani."

"AKU BUKAN SAMPAH!!!"

Aku berteriak.

Dari dalam diriku, dari tempat paling dalam, sesuatu meledak.

[DING!]

[KEINGINAN KUAT TERDETEKSI]

[MENGABAIKAN BATAS MANA]

[MEMAKSA PENGGUNAAN SKILL: FIREBOLT]

Rasa sakit. Sakit seperti tubuhku terbakar dari dalam.

Tapi di telapak tanganku... api biru itu muncul lagi. Lebih besar. Lebih liar.

15 mana. Dipaksa jadi 20.

Tangan kiriku melepuh. Tapi aku tidak peduli.

Di depan, Luna sedang mati-matian menghindar. Pentungan Goblin Berserker menghantam tanah di sampingnya.

"10 DETIK LAGI!!" teriaknya.

Aku berdiri. Goyah.

Mengangkat tangan kananku.

Goblin itu menoleh ke arahku. Matanya... takut. Dia ingat. Dia ingat api.

"TERLAMBAT!" raungku.

"[FIREBOLT!!!]"

_SHUUUUUUUUUUUT!!!_

Bola api biru sebesar kepala manusia melesat.

Lebih cepat. Lebih panas. Lebih marah dari sebelumnya.

Goblin Berserker meraung dan mencoba menghindar. Tapi terlambat.

_DUAAAAAAAAARRR!!!!_

Api menghantam tepat di dada. Di bekas luka lamanya.

Tidak ada ledakan.

Yang ada hanya... pembakaran.

Api menjalar ke seluruh tubuhnya seperti hidup. Membakar kulitnya. Ototnya. Tulangnya.

"GRAAAAAAAKKKKHHH!!!!"

Jeritan terakhirnya menggema di seluruh dungeon.

Lalu...

_CRASH_

Tubuh besar itu jatuh. Terbakar. Menjadi abu.

Hening.

Hanya suara api yang padam dan napasku yang terengah-engah.

[DING!]

[VICTORY!]

[BOSS GOBLIN BERSERKER LV.3 TELAH DIKALAHKAN]

[EXP DIDAPAT: 300]

[ITEM DIDAPAT: CORE GOBLIN LV.3]

Aku jatuh berlutut.

Selesai.

Kami menang.

"Kael..."

Suara Luna. Lemah.

Aku menoleh.

Luna tergeletak 2 meter dariku. Tongkatnya patah. Ada luka di lengannya.

Dia memaksakan senyum.

"Kau... kau berhasil, sampah..."

"Jangan panggil aku sampah!"

Aku merangkak ke arahnya.

"DIAM," katanya. Tapi suaranya bergetar. "Aku... aku cuma..."

Dia tidak selesai bicara. Matanya terpejam. Pingsan karena kelelahan dan kehilangan darah.

"LUNA!!"

Aku menggendongnya. Tubuhnya ringan. Terlalu ringan.

Grom lari ke arahku. "Tuan! Tuan! Dia kenapa?!"

"Tidak apa-apa," kataku. Bohong. "Dia cuma kecapekan."

Aku menatap wajah Luna. Wajah angkuh itu sekarang tenang. Damai.

Untuk pertama kalinya sejak aku kenal dia... dia terlihat seperti usianya. 17 tahun.

"Tuan," bisik Grom. "Dia... dia nolong kita."

"Aku tau," kataku pelan.

Aku mendekapnya lebih erat.

[DING!]

[LEVEL UP!]

[KAEL: F- → E RANK]

[LEVEL: 1 → 3]

[MPA: 5/100 → 50/100]

[POIN STATUS: +10]

[SKILL BARU: MANA CONTROL DASAR]

Hangat menjalar ke tubuhku. Luka-lukaku terasa lebih baik.

Tapi yang lebih hangat... adalah di dada.

Aku menatap ke atas. Ke langit-langit dungeon yang mulai retak karena pertarungan tadi.

"Sistem..." bisikku. "Ini baru awal."

Pintu keluar dungeon di ujung lorong... terbuka. Cahaya masuk.

Kami berhasil.

Tapi saat aku melangkah keluar, aku merasakan sesuatu.

Tatapan.

Dari kegelapan terdalam dungeon.

Sepasang mata merah. Mengawasi.

Lalu menghilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!