Arden Voss hanya menginginkan satu hal: kehidupan sederhana bersama dua belas anggota Jangkar Kelabu.
Ia tidak mengejar ketenaran, pangkat, ataupun kekuatan.
Sampai sebuah relik di Menara Verlanth menyala ketika disentuhnya.
Sejak saat itu, anomali dalam dirinya mulai terungkap dan kelompok kecilnya terseret ke dalam rahasia yang jauh lebih besar dari yang mereka bayangkan.
Mengapa Menara itu bereaksi kepada Arden?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilentNovels, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 — Reruntuhan yang Berbicara
Malam turun cepat di tepi jurang, membawa dingin yang menusuk lewat lapisan jubah perjalanan mereka. Arden memutuskan tidak turun ke lembah dalam gelap, meski Petra sempat mendesak sekali sebelum diam sendiri, mengingat kata-kata Arden di Hollowreach tentang mengejar sesuatu tanpa tahu apa yang menunggu.
"Pola kehancurannya terlalu rapi untuk serangan biasa," kata Tomas, memandangi lembah dari kejauhan, siluet reruntuhan hampir tak terlihat di bawah cahaya bulan yang tertutup awan tipis. "Kalau ini ritual, kita butuh Yuna. Kalau ini catatan, kita butuh Brann."
"Kau yakin?" tanya Petra. "Kita bisa saja masuk sekarang, lihat sendiri."
"Kita bisa," jawab Arden. "Tapi kalau ternyata sesuatu di sana masih hidup dan menunggu, aku tidak mau kita masuk tanpa orang yang tahu cara menghadapinya."
Doran sudah mengirim Ashe kembali ke Aldenmere sebelum Tomas selesai bicara, membawa pesan singkat digulung di kaki grypin muda itu, mengawasi sosoknya menghilang di kegelapan langit malam. Api unggun kecil dinyalakan jauh dari tepi jurang, cukup untuk menghangatkan tanpa terlihat dari lembah. Tidak ada yang tidur nyenyak malam itu; giliran jaga dibagi tanpa perlu diperintah, masing-masing terjaga lebih lama dari jatah mereka.
Brann dan Sister Yuna tiba menjelang tengah hari berikutnya, kuda mereka berkeringat dari perjalanan cepat semalaman, wajah keduanya kusut karena kurang tidur. Brann turun dari kuda sambil masih menyeka mata, sempoyongan sesaat sebelum menemukan keseimbangannya. "Ashe hampir membuatku jatuh dari tempat tidur. Aku pikir markas diserang."
"Lebih penting," kata Arden. "Kita menemukan kamp ekspedisi Draymoor."
Brann langsung berhenti mengeluh, punggungnya menegak. "Sudah kalian masuki?"
"Belum. Kami menunggu kalian."
Sesuatu di wajah Brann berubah mendengar itu, bukan bangga, tapi sesuatu yang lebih diam, seperti seseorang yang baru sadar pekerjaannya dianggap perlu, bukan sekadar diterima karena kebetulan ada.
Yuna tidak banyak bicara, hanya mengangguk pelan, jubahnya masih berdebu dari perjalanan. Matanya sudah menatap ke arah lembah jauh sebelum yang lain sempat menjelaskan lebih banyak, seolah sesuatu di sana sudah memanggilnya bahkan dari jarak ini. Ia turun dari kuda tanpa bantuan, langsung meraih tas obat dan alat pemurniannya dari pelana.
Mereka turun bersama sebelum siang terlalu tinggi, jalur yang sama yang ditemukan Petra dan Tomas kemarin, kini lebih mudah dilalui karena sudah dikenal. Bau logam berkarat yang tercium samar kemarin kini jelas begitu mereka mencapai dasar lembah, bercampur bau kayu lapuk dan sesuatu yang lebih tajam, mengingatkan pada daging yang lama tak tersentuh. Rumput di sekitar bekas kamp tumbuh liar tak terpangkas, beberapa bagiannya menghitam seperti pernah terbakar lalu tumbuh kembali dengan warna yang salah.
Brann berjalan paling belakang, matanya menyapu setiap sudut dengan rasa ingin tahu yang lebih besar dari rasa takutnya sendiri, sesekali berhenti untuk mencatat sesuatu di buku kecil yang selalu ia bawa. Petra memperhatikan itu diam-diam, teringat caranya sendiri dulu ingin membuktikan diri dengan tergesa, jauh berbeda dari cara Brann bergerak: pelan, teliti, tanpa perlu diakui siapa pun.
Kamp itu lebih luas dari perkiraan dari kejauhan. Sisa-sisa dinding batu tua, mungkin peninggalan pos penjaga kuno sebelum Greywood ditinggalkan seluruhnya, berdiri di tengah lembah, sebagian atapnya sudah runtuh ditumbuhi akar. Ekspedisi Draymoor rupanya menjadikan reruntuhan itu sebagai markas sementara, tenda-tenda didirikan menempel pada dinding batu yang masih berdiri. Lumut hijau tua merambat naik di sela-sela batu, dan angin yang lewat membawa desau pelan lewat celah-celah dinding yang runtuh, seperti bangunan itu sendiri masih bernapas pelan-pelan.
Petra menyentuh salah satu tenda robek, kainnya rapuh di ujung jarinya, koyak bukan oleh angin atau waktu, melainkan oleh sesuatu yang menariknya paksa. Peti perbekalan tergeletak terbalik, isinya berserakan: gulungan tali, pecahan lentera kaca, sebuah kompas yang jarumnya berputar liar tanpa arah pasti meski tidak ada logam besar di dekatnya.
"Kompas rusak begini bukan karena jatuh," gumam Corym, mengangkatnya sebentar sebelum meletakkannya kembali, jarumnya masih berputar pelan di telapak tangannya.
Tomas berjongkok di dekat perapian yang lain, memeriksa jejak sepatu yang masih membekas keras di tanah kering, terlalu banyak arah untuk dibaca sebagai satu peristiwa tunggal. "Ada pertarungan di sini. Bukan cuma satu titik. Mereka lari ke segala arah."
"Berapa lama pertarungannya menurutmu?" tanya Corym.
"Singkat," jawab Tomas, jarinya menelusuri pola jejak yang saling tumpang tindih. "Terlalu singkat untuk dua belas orang terlatih. Siapa pun yang menyerang, mereka tidak diberi banyak kesempatan melawan."
Brann sudah berlutut di dekat perapian lama, memilah-milah sisa kertas yang setengah terbakar, sebagian hancur jadi abu begitu disentuh, meninggalkan noda hitam di ujung jarinya. "Mereka membakar catatan sebelum kabur. Atau seseorang membakarnya untuk mereka."
"Bisa dibaca?" tanya Arden.
"Sebagian." Brann mengangkat selembar kertas yang masih utuh di pinggirnya, tulisan tangan kecil dan rapat memenuhi permukaannya, tepinya menghitam rapuh seperti akan hancur kalau ditiup terlalu keras. Ia membaca dalam diam sesaat, alisnya berkerut semakin dalam setiap baris, bibirnya bergerak tanpa suara mengikuti kata demi kata. "Ini catatan harian salah satu anggota ekspedisi. Tanggalnya sepuluh bulan lalu, dekat akhir."
"Bacakan," kata Corym.
Brann mengangkat kertas itu lebih dekat ke cahaya yang masuk lewat celah atap. "'Lord D. semakin tidak sabar. Ia terus bertanya soal lokasi persis reruntuhan yang disebut peta lama, sesuatu yang katanya berkaitan dengan Lantai Tersegel di Menara jauh dari sini. Aku tidak paham kenapa seorang bangsawan tanah begitu peduli pada legenda semacam itu.'" Ia berhenti, menelan ludah. "Ada bagian lagi di baris berikutnya, tapi tintanya luntur."
Ia mencoba lagi, memiringkan kertas ke arah cahaya, menyipitkan mata. "Cuma sepotong kata yang bisa kubaca. 'Bukan legenda... nyata... ia melihatnya sendiri.'"
Arden merasakan sesuatu mengencang di dadanya, sensasi yang sudah dikenalnya sejak sebelum Verlanth tanpa pernah benar-benar mengerti asalnya. Ia menekan telapak tangan ke dinding batu dingin, membiarkan dingin itu menariknya kembali fokus.
"Lantai Tersegel," ulang Petra pelan. "Sama seperti yang dibisikkan orang Ashcloak itu di Hollowreach."
"Lantai itu tidak akan diam selamanya," gumam Tomas, mengulang kalimat yang sudah membekas di kepala semua orang yang mendengarnya malam itu.
Doran berjalan menyusuri dinding luar reruntuhan, memeriksa permukaan batu yang kasar dan retak, sesekali menyentuhnya dengan ujung sarung tangan. Ashe belum kembali dari Aldenmere, dan tanpa mata familiarnya di udara, Doran terlihat lebih waspada dari biasa, kepalanya berputar cepat menyapu tiap sudut. Ia berhenti di satu titik, jarinya menelusuri sesuatu yang tergores dalam pada batu, bukan lapuk oleh alam, melainkan diukir sengaja dengan benda tajam.
"Ke sini," panggilnya, suaranya datar tapi cukup keras untuk membuat semua orang berhenti dari pekerjaan masing-masing.
Simbol itu sudah dikenal semua orang: lingkaran dengan tiga garis melengkung asimetris, sama seperti yang dijahit tersembunyi di kerah jubah Ashcloak yang tewas di Hollowreach. Tapi di sini ukurannya jauh lebih besar, digores kasar dan dalam, seolah dibuat terburu-buru, atau dengan amarah, alur ukirannya tidak rapi seperti tergores berkali-kali sebelum bentuknya jadi.
Petra menyentuh tepi ukiran itu, menarik jarinya cepat begitu merasakan permukaannya, meski batu itu terasa sama dinginnya dengan bagian dinding lain.
"Mereka ada di sini," kata Arden. "Bukan cuma lewat. Mereka menyerang ekspedisi ini secara langsung."
"Atau ekspedisi ini menemukan sesuatu yang membuat Ashcloak datang," kata Brann, masih memegang kertas yang tersisa, ibu jarinya mengusap sudutnya tanpa sadar. "Draymoor mencari lokasi. Kalau mereka menemukannya, dan Ashcloak tahu..."
Ia tidak perlu menyelesaikan kalimatnya. Semua orang di ruangan itu sudah bisa membayangkan sendiri kelanjutannya.
Arden melangkah menjauh dari simbol itu, menatap ke seluruh reruntuhan sekali lagi, mencoba menyusun gambaran utuh dari yang tersisa: kompas rusak, catatan terbakar, jejak pertarungan singkat, dan sekarang ukiran yang digores dengan amarah. Semuanya menunjuk ke arah yang sama, meski belum ada yang berani mengatakannya keras-keras.
Yuna belum bicara sejak turun ke lembah. Ia berjalan pelan menjauh dari yang lain, menyusuri dinding dalam reruntuhan menuju ruang kecil yang mungkin dulunya gudang, atapnya masih separuh utuh, gelap meski siang di luar terang. Udara di dalamnya terasa lebih dingin dari bagian reruntuhan lain, dingin yang tidak wajar untuk siang hari, menempel di kulit seperti kabut basah. Tangannya terangkat perlahan, telapaknya terbuka menghadap udara kosong di depannya, seolah merasakan sesuatu yang tidak terlihat mata.
Wajahnya berubah. Bukan takut, tapi sesuatu yang lebih dalam, lebih tua, seperti mengenali bau lama yang berharap tidak akan pernah ia cium lagi. Napasnya memendek sesaat, dadanya naik turun lebih cepat sebelum ia sadar dan menahannya kembali teratur.
"Yuna?" Corym mendekat, suaranya hati-hati, langkahnya melambat begitu melihat ekspresi di wajah Yuna.
Yuna tidak menjawab segera. Jarinya gemetar halus, ditariknya kembali ke dada, menggenggam liontin kecil di lehernya sendiri, kebiasaan yang biasanya muncul hanya saat ia berdoa. Yang lain berkumpul di ambang ruangan, menunggu, tidak ada yang berani masuk lebih jauh sebelum Yuna memberi tanda aman.
"Ada residu di sini," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan dari biasa, nyaris tenggelam oleh suara angin lewat celah atap. "Anima gelap. Terkorupsi, bukan alami."
"Seperti apa?" tanya Arden.
Yuna menoleh, matanya bertemu mata Arden untuk pertama kalinya sejak tiba di lembah. "Seperti yang pernah kurasakan bertahun-tahun lalu. Saat memurnikan korban ritual di desa dekat perbatasan selatan." Ia berhenti, menahan napas sebentar sebelum melanjutkan, tangannya masih menggenggam liontin erat-erat. "Rasanya sama persis. Dan itu bukan sesuatu yang bisa kulupakan, sekeras apa pun aku mencoba."
Tidak ada yang bertanya lebih jauh. Corym mengangguk pelan, satu-satunya tanggapan yang terasa cukup di ruangan sempit dan dingin itu, sementara di luar, matahari sore mulai menyusuri celah reruntuhan, memanjangkan bayangan mereka di atas tanah yang pernah menyaksikan sesuatu yang tak seorang pun di antara mereka sepenuhnya paham.