NovelToon NovelToon
Veterinary Love

Veterinary Love

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan / Idola sekolah
Popularitas:543
Nilai: 5
Nama Author: Inayusrina

Farra dan Barra adalah murid kelas 3 SMK Kesehatan Hewan dari dua keluarga penguasa industri kesehatan hewan Indonesia—keluarga Barra pemilik Saputra Pet Hospitals (rumah sakit hewan terbesar), sedangkan keluarga Farra pemilik Aurelie Vet Medicine (produsen obat hewan terbesar).

​Dua bulan sebelum Ujian Nasional, hidup mereka berubah total saat dipaksa menikah demi memenuhi janji masa lalu Opa dan Oma mereka. Enggan memicu skandal dan demi fokus lulus UN, keduanya sepakat menikah diam-diam dengan dua aturan ketat: menjadi suami-istri di rumah, tetapi berpura-pura asing saat di sekolah.

​Tinggal serumah sambil menyembunyikan status pernikahan dari teman-teman sekolah ternyata memicu berbagai canggung, kecemburuan, dan drama praktik lapangan. Di tengah tekanan Ujian Nasional dan ego masing-masing, persaingan dingin di antara mereka perlahan berganti menjadi benih cinta yang tak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inayusrina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Sejak tangis pilu Farra di depan cermin malam itu, Barra bertindak bagaikan benteng yang tak tertembus. Pria itu benar-benar menutup akses bagi perempuan mana pun di luar Farra dan keluarganya. Di kampus, Barra tidak pernah lagi membiarkan dirinya berjalan sendirian tanpa dikawal Ben atau berada tepat di sisi Farra. Sikap protektif dan benteng dinginnya semakin tidak tersentuh.

​Indira, yang beberapa kali sengaja memutar jalan dan mondar-mandir di area Fakultas Kedokteran Hewan untuk sekadar "tidak sengaja" bertemu Barra, selalu pulang dengan tangan hampa. Barra seolah hilang ditelan bumi begitu jam kuliah usai, membuat rasa penasaran dan ambisi Indira makin membara.

​Di samping kesibukan kuliahnya, Barra kini mulai aktif membantu Byan Saputra mengelola jaringan bisnis keluarga, khususnya divisi jaringan Rumah Sakit Hewan Saputra Corp. Barra ingin membuktikan kepemimpinannya sekaligus mempersiapkan masa depan yang mapan untuk Farra dan calon anak kembar mereka.

​Namun, ujian bisnis datang tanpa diduga. Salah satu cabang RSH Saputra Corp mendadak dihantam krisis reputasi besar. Seorang pasien bernama Kharisma, seorang jaksa senior yang berpengaruh, tidak terima saat anjing ras kesayangannya mati di fasilitas medis tersebut. Padahal, secara medis, anjing tersebut tiba dalam kondisi koma dan kritis akibat keterlambatan pemiliknya sendiri dalam membawa ke rumah sakit. Enggan mengakui kelalaian pribadi, sang jaksa justru menyalahkan penanganan dokter, melayangkan tuntutan ganti rugi fantastis, dan menyebarkan rumor jahat di media massa yang merusak kredibilitas RSH Saputra Corp.

​Tak ingin nama baik bisnis keluarganya tercemar oleh kesewenang-wenangan, Barra memimpin langsung penanganan krisis ini. Ia menginstruksikan tim internal untuk mencari firma hukum paling tangguh dan bereputasi tinggi di ibu kota guna mengawal kasus ini hingga tuntas di meja hijau.

​Pilihan akhirnya jatuh pada Firma Hukum Pratama, sebuah korporasi hukum ternama yang memiliki rekam jejak tanpa cela dalam memenangkan kasus-kasus sengketa besar. Tanpa disadari oleh Barra, firma hukum elit tersebut adalah milik Hendra Pratama—ayah kandung dari Indira.

​Begitu berkas kerja sama antara Saputra Corp dan Firma Hukum Pratama resmi ditandatangani, berita tersebut langsung sampai ke telinga Indira. Saat mengetahui bahwa klien utama ayahnya adalah Barra Saputra dan kasus yang ditangani adalah sengketa jaringan rumah sakit keluarganya, mata Indira berbinar penuh kejahatan dan antusiasme.

​"Papi, izinkan Indira ikut masuk ke dalam tim penanganan kasus Saputra Corp ini," pinda Indira dengan manja namun tegas saat menghadap ayahnya di ruang kerja. "Indira kan mahasiswi Hukum, ini kesempatan bagus buat Indira belajar langsung di lapangan."

​Sang ayah yang sangat memanjakan putri tunggalnya itu tanpa ragu menyetujui permintaan Indira, bahkan menunjuk Indira sebagai salah satu perwakilan asistensi resmi yang akan sering mendampingi proses negosiasi dan persidangan bersama Barra.

​Bagi Indira, takdir seolah kembali memihaknya. Karpet merah kini terbentang lebar di hadapannya. Berkedok profesionalisme dan perwakilan firma hukum ayahnya, Indira merasa memiliki alasan sah yang tak bisa ditolak oleh Barra untuk terus berada di sekitar pria itu. Rencana manis untuk merapatkan jarak dan menggeser posisi Farra pun siap ia jalankan kembali.

....................................

Keesokan harinya, pertemuan perdana antara pihak RSH Saputra Corp dan Firma Hukum Pratama digelar di ruang rapat eksklusif gedung Saputra Tower. Barra hadir memakai setelan jas hitam yang memancarkan wibawa dan ketegasan, didampingi oleh tim manajerial rumah sakit serta Ben yang ikut memantau.

​Pintu ruang rapat terbuka, dan rombongan tim pengacara Firma Hukum Pratama melangkah masuk. Di barisan depan, sosok advokat senior melangkah mantap, disusul oleh Indira yang tampil begitu elegan menggunakan blazer formal dan rok pendek rapi. Rambut pendeknya ditata anggun, menyiratkan kesan wanita karir yang cerdas dan memikat.

​Saat pandangan mereka beradu di meja rapat, senyum kemenangan terukir di bibir Indira. Baginya, takdir telah memberinya panggung sempurna untuk membuktikan bahwa dirinya adalah sosok wanita mandiri yang jauh lebih sepadan mendampingi pria berkelas seperti Barra.

​"Selamat pagi, Pak Barra. Saya perwakilan dari tim hukum Pratama yang ditunjuk langsung oleh Papi saya untuk mengawal kasus ini," sapa Indira dengan nada suara yang tenang, percaya diri, dan profesional, sembari mengulurkan tangannya di atas meja.

​Barra hanya menatap uluran tangan itu dengan dingin selama beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya sejenak—murni demi etika bisnis—lalu menarik tangannya kembali. Wajah tegas Barra sama sekali tak menunjukkan keterkejutan maupun ketertarikan. Bagi Barra, siapa pun perwakilan firma hukum tersebut tidak ada bedanya, selama mereka bisa menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas.

​"Langsung saja ke poin utama," potong Barra dingin tanpa basa-basi, mengabaikan senyum manis Indira. Pria itu membuka berkas tebal di hadapannya. "Hasil autopsi medis, rekam medis penerimaan, serta rekaman CCTV saat anjing milik Jaksa Kharisma tiba di RSH sudah kami amankan. Anjing tersebut sudah mengalami gagal organ akibat penanganan mandiri yang salah sebelum dibawa ke tempat kami."

​Indira yang sedikit tersentak oleh sikap cuek Barra segera menguasai diri. Ia memajukan posisinya, menatap lurus ke dalam manik mata tajam Barra. "Kami sudah mempelajari seluruh berkasnya, Pak Barra. Pihak lawan memanfaatkan celah opini publik untuk menekan reputasi Saputra Corp. Strategi kami adalah mengajukan gugatan balik atas pencemaran nama baik. Saya pribadi yang akan memastikan kasus ini bersih tanpa celah."

​Indira sengaja menekankan kata "saya" sembari melempar tatapan sarat makna, mencoba menarik perhatian Barra di sela-sela pembahasan profesional. Namun, Barra tetap bertindak bagaikan dinding batu yang tak tertembus. Setiap kali Indira mencoba membelokkan obrolan ke arah yang lebih personal atau melempar pujian subtle, Barra dengan tegas mengembalikannya ke topik hukum dan fakta medis.

​"Saya bayar mahal Firma Hukum Pratama untuk hasil di pengadilan, bukan untuk obrolan di luar konteks," tegas Barra dengan suara berat dan penuh intimidasi yang membuat suasana ruang rapat seketika hening. "Saya harap Anda dan tim bekerja profesional."

​Meskipun mendapat penolakan dingin dan tebasan kata-kata yang menohok, Indira justru tersenyum tipis di dalam hatinya. Sifat dominan, tegas, dan tak tersentuh yang ditunjukkan Barra di meja rapat itu bukannya membuat Indira mundur, melainkan justru makin menyulut ambisinya untuk bisa menaklukkan pria tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!