No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ruang rahasia
Dengan napas yang masih memburu, Valerie mengulurkan tangan ke arah gagang pintu.
Jemarinya gemetar, perlahan.
KREK.
Pintu itu terbuka.
Valerie sempat membayangkan ruangan yang dipenuhi rahasia besar. Namun yang ia lihat justru sebuah kamar tidur yang tertata sangat rapi.
Sebuah ranjang berukuran besar, dan beberapa bingkai foto tersusun rapi di atas lemari. Sekilas, ruangan itu tampak seperti kamar biasa.
Valerie melangkah masuk dengan hati-hati, tatapannya menyapu setiap sudut ruangan. Hingga, langkahnya tiba-tiba terhenti. Matanya membelalak, tubuhnya seolah kehilangan tenaga.
“Itu!”
Dengan langkah gontai, Valerie menghampiri salah satu bingkai foto. Tangannya perlahan mengambilnya, air matanya langsung jatuh.
“Tidak mungkin...”
Di dalam foto itu, seorang anak laki-laki sedang tersenyum cerah. Wajah itu, senyum itu, dan atapan mata itu.
Valerie mengenalnya dengan sangat baik.
“Hazel...”
Bisiknya lirih, jemarinya mengusap wajah anak laki-laki dalam foto tersebut.
“Ini benar-benar Hazel...”
Tangisnya pecah, valerie memeluk bingkai foto itu erat ke dadanya.
“Siapa sebenarnya kamu, Hazel?”
“Kenapa foto masa kecilmu ada di rumah Damian?”
“Lalu, jika kamu memang ada didunia nyata...”
“Mengapa selama ini kamu selalu hadir dalam mimpiku...”
Dadanya terasa semakin sesak. Dengan tangan gemetar, Valerie kembali melihat foto-foto lainnya. Satu per satu, lalu.
Tatapannya membeku.
Di dalam sebuah foto lain, Hazel kecil mengenakan pakaian pengantin anak-anak. Di sampingnya berdiri seorang gadis kecil yang mengenakan gaun pengantin putih.
Gadis itu sangat manis, kulitnya pucat, namun kecantikannya tetap begitu menonjol. Keduanya tersenyum bahagia ke arah kamera.
Valerie mengernyit.
“Apa ini...?”
Ia terus melihat foto berikutnya.
Foto Hazel dan gadis kecil itu saling menggenggam tangan, terlihat dijari mereka memakai cincin kecil. Foto pernikahan yang tampak begitu bahagia.
“Aku masih tidak mengerti?”
“Kenapa Hazel menikah dengan gadis itu saat masih dibawah umur?”
Tatapannya perlahan bergeser ke sisi ranjang. Di dalam lemari kaca kecil, masih tersimpan rapi sepasang pakaian pengantin anak-anak. Di sampingnya terdapat dua cincin mungil yang tampak begitu dijaga.
Ruangan itu dipenuhi kenangan yang sama sekali tidak dipahami Valerie. Kepalanya terasa semakin pening.
“Siapa sebenarnya Hazel...”
“Dan siapa gadis ini...?”
“Lalu keduanya dimana?”
Ditempat lain.
Damian perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berdenyut hebat, pandangannya kabur. Seluruh tubuhnya terasa panas.
“Apa yang...?”
Ia berusaha duduk, namun tiba-tiba ia menyadari sesuatu. Olivia sedang duduk tepat di atas tubuhnya, wanita itu menatapnya sambil tersenyum penuh hasrat.
“Damian...”
Perlahan tangan Olivia mengusap dada bidang Damian, sementara tangan satunya mulai menarik turun tali gaunnya.
Kesadaran Damian langsung kembali sepenuhnya.
“Olivia?”
“Apa yang kamu lakukan?!”
Dengan tenaga yang tersisa, Damian mendorong tubuh Olivia hingga wanita itu terjatuh ke samping. Ia segera bangkit dari ranjang. Napasnya memburu, tatapannya penuh kemarahan.
“Olivia, apa tujuanmu melakukan semua ini?”
“Mengapa aku tertidur dikasurmu?”
Olivia perlahan bangkit, air matanya mulai mengalir.
“Itu karena aku mencintaimu, Damian...”
“Sejak dulu.”
“Sejak kita masih kecil.”
“Tapi... kedua orang tuamu justru menjodohkanmu dengan Kak Selena.”
“Aku marah, tapi aku tidak berdaya.”
“Karena aku tidak ingin menyakiti hati kakakku sendiri.”
Isaknya semakin keras.
“Tapi Kak Selena sudah meninggal, dia sudah tidak ada.”
“Aku merasa ini adalah kesempatan ku, tapi kamu tetap menolakku dan menghindari ku.”
“Aku tahu...”
“Kamu masih perduli dan menjagaku hanya karena permintaan terakhir Kak Selena.”
“Tapi Damian...”
“Kakaku sudah pergi, kenapa kamu tidak bisa melupakannya?”
“Kenapa kamu tidak melihat cintaku padamu?”
“Kenapa justru menikahi Valerie yang bahkan orang asing?”
Damian mengepalkan kedua tangannya, sorot matanya berubah dingin.
“Justru karena itu.”
“Aku tidak suka dengan cinta yang dipenuhi ambisi dan arogan.”
“Mulai hari ini...”
“Aku tidak ingin melihatmu lagi.”
Tanpa menoleh sedikit pun, Damian mengenakan kembali pakaiannya. Kemudian melangkah keluar dari apartemen.
BRAK!
Pintu tertutup keras.
Olivia menangis sambil mengepalkan tangannya.
“Damian!”
"Aku tidak akan menyerah."
"Sampai kapan pun."
“Aku tetap akan mengejarmu!”
Sementara itu, di dalam mansion.
Valerie masih berdiri di tengah ruangan rahasia itu, pikirannya benar-benar kacau.
Hazel, pernikahan masa kecil, sepasang cincin, dan gadis kecil yang sama sekali tidak dikenalnya. Semuanya terasa seperti potongan teka-teki yang tidak bisa ia susun.
Perlahan. Tangannya terulur ke arah gaun pengantin kecil yang tersimpan di dalam lemari kaca.
Baru beberapa sentimeter tangannya dari lembari kaca tersebut.
BRAK!
Pintu kamar terbuka dengan keras.
Valerie tersentak.
Damian berdiri di ambang pintu. Wajahnya memerah, napasnya memburu. Tatapannya tajam menatap Valerie.
“Valerie!”
“Apa yang sedang kamu lakukan di sini?”
Valerie membeku.
Damian melangkah cepat menghampirinya.
“Asal kamu tau, aku tidak pernah mengizinkan siapa pun masuk ke ruangan ini.”
“Dan hari ini, kamu sudah melewati batas.”
“Aku paling tidak suka dengan orang yang melanggar privasiku.”
“Kamu benar-benar mengecewakanku?!”
Valerie mengangkat bingkai foto yang bergetar di tangannya. Dengan napas memburu, ia menunjuk anak laki-laki kecil yang berdiri di samping Hazel.
“Damian dengarkan aku dulu?!”
“Apa kamu mengenal anak laki-laki ini?” tanyanya pelan.
Damian melirik sekilas ke arah foto itu. Keningnya berkerut, tetapi tidak ada sedikit pun pengakuan di wajahnya.
“Apa maksudmu?”
Valerie menatapnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
“Aku mengenalnya. Namanya Hazel.” Suaranya bergetar. “Dia sudah menemaniku di dalam mimpi selama bertahun-tahun. Sejak aku masih kecil, aku selalu bermimpi tentang dia. Wajahnya... senyumnya... semuanya sama seperti di foto ini.”
Damian menghela napas panjang. Baginya, ucapan Valerie terdengar seperti alasan yang dibuat-buat.
“Cukup, Valerie.”
“Jangan mengalihkan pembicaraan!”
Valerie menggelengkan wajahnya.
“Aku tidak berbohong.”
“Menurutmu aku akan percaya cerita tentang mimpimu?”
Nada suaranya semakin dingin.
“Semua ceritamu hanya omong kosong, aku benci dengan wanita yang tidak menghargaiku?!”
Valerie berusaha meyakinkan Damian.
“Aku serius, Damian. Aku benar-benar mengenalnya.”
Namun Damian sudah tidak mampu berpikir jernih.
Sensasi panas yang sejak tadi menjalari tubuhnya kembali menyerang, bahkan jauh lebih kuat dari sebelumnya. Napasnya mulai memburu, pandangannya mengabur.
Ia mengepalkan kedua tangannya, berusaha mempertahankan kesadaran yang perlahan direnggut oleh efek obat yang masuk ke dalam tubuhnya.
“Sial...”
Ia memejamkan mata sejenak, mencoba mengendalikan dirinya. Akan tetapi, semakin ia melawan, semakin kuat dorongan itu menguasai tubuh dan pikirannya.
Valerie yang menyadari perubahan itu segera melangkah mendekat.
“Damian... kamu kenapa?”
Tanpa menjawab, Damian mengangkat kepalanya. Tatapannya kini dipenuhi pergulatan antara akal sehat dan pengaruh obat, ia berdiri tepat di hadapan Valerie.
“Damian...?”
“Jawab aku?”
Belum sempat Valerie bereaksi, Damian menangkup kedua pipinya dengan gemetar. Tatapannya sesaat bertemu dengan mata Valerie, seolah masih ada bagian dirinya yang memohon agar dihentikan.
Namun kendali itu akhirnya runtuh.
Dengan gerakan perlahan namun tak terbendung, Damian menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Valerie.
Valerie membelalak kaget. Tubuhnya membeku, sementara pikirannya dipenuhi kebingungan atas tindakan Damian yang sama sekali tidak ia duga.