Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Kabar Gembira
Desi merasa lega karena sudah melalui tahapan tes P3K. Tinggal menunggu pengumumannya saja. Untuk selanjutnya, dia akan mengerjar PPG nya. Semoga saja dia bisa ikut PPG nya. Namun, kesempatannya belum ada.
"Kapan pengumuman tes P3K nya bu Desi?" , tanya bu Sumarni, rekan kerja Desi.
"Belum tau bu, katanya sih semingguan lagi tapi belum tau tanggal pastinya. Do'ain ya bu, biar saya bisa lulus." , jawab Desi.
"Iya pasti, ibu do'ain semua yang ikut tes P3K bisa lulus. Aamiin...." , jawab bu Sumarni lagi.
"Aamiin ya rabbal 'alamiin. Makasih banyak do'anya bu." , balas Desi.
Hari-hari Desi lalui seperti biasa, suaminya sesekali pulang. Mungkin hanya untuk melepas rindu pada anak-anaknya. Desi pun sudah terbiasa dengan hal itu.
Malam hari, Ridwan pulang. Kemudian setelah mandi dan makan malam, Ridwan menyempatkan diri bermain bersama anak-anaknya. Tentunya setelah anak-anak selesai belajar. Setelah anak-anak semua tidur, Ridwan berbicara serius dengan istrinya Desi.
"Dek, mas ada tawaran pekerjaan di luar kota Bogor ini. Temen mas nawarin kerja di Jakarta dan gajinya tinggi katanya hampir 2x lipat jika dibandingkan dengan gaji mas sekarang. Kerjaannya sama jadi satpam juga dek. Bagaimana dek? Mas janji, akan mengirim uang setiap bulan untuk anak-anak." , ucap Ridwan panjang lebar.
"Jika itu keputusan mas, ya sudah. Disini juga mas jarang pulang karena lembur, tapi hasilnya nggak ada." , jawab Desi sambil menyindir Ridwan.
"Jangan gitu lah dek, kebutuhan mas juga kan banyak. Adek kan kerja juga, bisa lah gajinya untuk makan dan kebutuhan anak-anak. Juga anak-anak masih kecil. Belum banyak pengeluaran. Kalau gaji adek nggak bisa buat makan dan lain-lain, lebih baik berhenti kerja aja." , ucap Ridwan tanpa rasa bersalah selama ini sudah mengabaikan anak-anak nya.
"Iya mas, kalau aku berhenti kerja nanti anak-anak makan apa?" , jawab Desi masih menyindir suaminya.
"Jangan sombong dek, mas kan juga kerja, kalau adek nggak kerja, ya mas yang kasih makan mereka. Memang mereka makan apa sih? Habis berapa sebulan buat makan, paling nggak nyampe 500 ribu. Gajimu juga kecil kan buktinya bisa kan buat makan dan lain-lain. Nggak usah manja lah." , jawab Ridwan ketus.
Desi hanya bisa beristigfar di dalam hati. Entah terbuat dari apa hati suaminya, sungguh tidak mempunyai perasaan sama sekali. Dan tidak bisa melihat setiap hari Desi mengajar sambil berjualan. Desi sudah tidak perduli lagi. Jika suaminya memang ingin pindah kerja ke Jakarta, juga sama saja. Sekarang ini juga suaminya jarang pulang dan jarang memberi nafkah baik lahir maupun bathin.
'Miris sekali hidupku. Mungkin ini memang sudah takdir hidupku.' , bathin Desi.
"Iya mas, terserah kalau mau pindah kerja ke Jakarta, yang penting seseali pulang, kasihan anak-anak." , jawab Desi.
"Ya pastilah itu, nggak usah dibilangin juga sudah tau. Ya sudah, bantu mas siapin baju-baju mas." , jawab Ridwan.
"Iya mas." , jawab Desi patuh.
"Kapan mas berangkat ke Jakarta?" , tanya Desi sambil nyiapin baju suaminya, memasukkannya ke dalam koper.
"Mungkin besok malam, biar pagi bisa langsung kerja." , jawab Ridwan.
"Iya mas. Besok sempatkan main sama anak-anak, jangan lupa kasih tau juga kalo mas pindah kerja di Jakarta supaya mereka nggak nanyain mas terus." , ucap Desi.
"Iya tenang aja. Sudah malam istirahat dulu. Mas kangen nie." , jawab Ridwan sambil memeluk Desi.
Desi hanya bisa pasrah, dia sudah bisa menebak ke depannya rumah tangganya akan seperti apa. Saat ini saja suaminya masih dekat kerjanya sudah jarang pulang apalagi kalau jauh kerjanya. Jangan-jangan suaminya sengaja pindah kerja yang jauh supaya tidak ketahuan kalau mau menikah lagi. Desi semakin kalut. Biasanya firasat seorang istri selalu benar.
Keesokkan harinya, Desi tetap pergi ke sekolah bersama Bagas dan Rafi. Mereka berangkat ke sekolah diantar Ridwan. Tetapi Aqilla tidak dititipkan ke mbok Muna. Aqilla di rumah bersama ayahnya. Sambil menunggu pulang sekolah, Ridwan mengajak Aqilla jalan-jalan di taman. Mereka bermain ayunan dan perosotan. Aqilla senang sekali bisa bermain di taman.
"Ayah, aku mau main ayunan. Ayah yang ngayun ya." , pinta Aqilla.
"Iya sayang." , jawab Ridwan sambil mengayun ayunan.
"Jangan kenceng-kenceng ayah, Qilla takut." , teriak Aqilla.
"Iya Qilla, ini sudah pelan kok." , jawab Ridwan.
Kemudian habis bermain ayunan, Qilla bermain perosotan. Ayahnya menjaganya supaya tidak jatuh. Setelah puas bermain di taman, merekapun pulang.
Siang hari, Desi dan anak-anaknya pulang. Setelah berganti pakaian, Bagas dan Rafi ikut bermain bersama. Mereka begitu menikmati kebersamaan itu yang sudah jarang terjadi.
Setelah capek, mereka beristirahat.
Malam hari, Desi dan anak-anak melepas kepergian Rudwan. Anak-anak begitu sedih pas tau ayah mereka pindah kerja. Tapi, Ridwan menghibur mereka dengan mengatakan akan sering-sering pulang melihat anak-anak dan mereka dijanjikan akan dibelikan mainan kalau ayah mereka pulang.
Kemudian Ridwan berangkat. Anak-anak mencium tangan ayahnya begitupun dengan Desi. Setelah kepergian ayah mereka, Desi menyuruh anak-anaknya untuk istirahat karena besok harus sekolah.
Keesokkan harinya, Desi bekerja seperti biasa. Dia sudah tidak sabar untuk melihat pengumuman kelulusan tes P3K nya. Hari ini adalah hari yang menentukan buat masa depan Desi dan anak-anaknya. Desi sangat berharap dia bisa lulus P3K nya.
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba. Desi segera membuka aplikasi yang berisi pengumuman tes P3K nya. Setelah muncul, dia segera mencari namanya ada atau tidak. Dia mencari pelan-pelan supaya tidak ada yang terlewat. Alhamdulillah, di no.urut yg ke 150, Desi membaca namanya ada disana.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah. Semoga ini adalah langkah awal yang baik untuk hamba dan juga anak-anak hamba." , ucap Desi dalam hati.
Ini merupakan kabar gembia yang tak terkira buat Desi. Setelah pengumuman itu, Desi segera mempersiaplƙan apa-apa yang diperlukan untuk pemberkasannya nanti.
"Selamat ya bu Desi dan bu Mila sudah lulus P3K." , ucap teman-teman Desi dan Mila.
"Makasih banyak teman-teman semua." , jawab Desi dan Mila.
Desi mulai memfotokopi ataupun melegalisir berkas-berkas apa saja yang diperlukan mulai dari ijazah, surat keterangan mengajar, surat keterangan sehat dari rumah sakit dan lain-lain.
Waktu untuk melengkapi berkas selama 1 bulan. Namun, Desi ingin secepatnya melakukan validasi data agar tidak tertinggal.
Setelah semua berkas lengkap, Desi dan Mila segera membawa berkas tersebut ke dinas pendidikan.
Sesampainya disana, ternyata begitu banyak yang mengantri untuk mengumpulkan berkas. Desi dan Mila dengan sabar menunggu sampai nama mereka dipanggil. Setelah selesai, mereka segera kembali ke sekolah untuk melanjutkan tugas mengajar. Desi dan Mila berusaha untuk selalu menjalankan semua kewajiban dengan baik.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.