NovelToon NovelToon
Arkaholic

Arkaholic

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: siyunr

Satu sekolah tahu Lintang Gentariana adalah gadis paling gigih yang setiap hari memanggil nama Arka—atlet pencak silat kebanggaan sekolah yang sedingin es.

Dua tahun cintanya bertepuk sebelah tangan, sebuah wasiat tiba-tiba memaksa mereka menikah secara rahasia di bangku SMA.

Lintang mengira impiannya jadi nyata. Namun, ia keliru. Arka menikahinya tepat ketika dunia cowok itu di ambang runtuh.

Di sekolah Lintang adalah gadis yang selalu terlihat mengejar Arka, tapi di rumah, Lintang harus menghadapi kemarahan dan luka terdalam Arka.

Lantas, bagaimanakah kelanjutan kisah pernikahan rahasia mereka?

Sanggupkah Lintang bertahan, atau perpisahan justru menjadi jalan terbaik bagi keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siyunr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raga Menolak, Jiwa Bertindak

Setelah prosesi pemakaman selesai, Arka dan Lintang langsung pulang menuju rumah Frina—rumah yang kini secara resmi telah jatuh ke tangan Arka sebagai ahli waris tunggal.

Mobil Baleno merah milik Lintang perlahan memasuki pekarangan rumah yang tampak sepi itu. Namun, atmosfer di dalam mobil mendadak mendingin.

Dari balik kaca depan, terlihat sesosok pria paruh baya sedang berdiri tegak di depan teras rumah.

Melihat sosok itu, rahang Arka seketika mengeras sempurna. Buku-buku jarinya memutih karena mencengkeram jok mobil dengan amat kuat.

Begitu mobil berhenti total, Arka langsung membuka pintu dan keluar dengan langkah kaki yang memburu cepat. Amarah yang sempat padam di makam tadi kini kembali menyulut hebat.

Lintang yang menyadari hal itu bahkan tidak sempat menahan pergerakan suaminya.

"Arka, tunggu!" seru Lintang panik.

Set!

Begitu sampai di hadapan Hansanto, tanpa basa-basi Arka langsung merangsek maju dan menarik kerah baju pria paruh baya itu dengan kasar.

"NGAPAIN LAGI LU KESINI?! BELUM PUAS LIAT BUNDA GUE MATI?! HAH?!" teriak Arka telak di depan wajah ayahnya. Urat-urat di lehernya menegang, matanya memerah penuh kebencian.

Lintang yang baru saja menyusul langsung berlari ke tengah-tengah mereka untuk melerai. "Arka, jangan! Tolong lepasin, Ka!"

Hansanto tidak membalas cengkeraman itu. Pria itu menatap putranya dengan sorot mata yang sarat akan rasa bersalah. "Ayah cuma mau takziah, Arka... Ayah mau turut berduka cita atas kepergian Bunda Frina."

"NGGAK PERLU! BUNDA NGGAK BUTUH DUKA CITA DARI COWOK BEJAT KAYAK LU!" bentak Arka kesetanan. Dada cowok itu naik turun dengan napas yang memburu pendek-pendek.

"Sekarang, pergi lu dari rumah gue!" usir Arka dingin, melepaskan cengkeramannya pada kerah baju Hansanto hingga pria itu sedikit terhuyung.

"Arka... Ayah mau bicara sebentar sama kamu—"

"PERGI! GUE BILANG PERGIIII!" bentak Arka lagi dengan suara yang menggelegar di halaman rumah.

Akibat emosi yang terlalu meluap-luap, keseimbangan tubuh Arka mendadak goyah. Kepalanya kembali pening hebat, membuat tubuh bongsornya limbung tak karuan ke belakang.

Lintang dengan sigap langsung bergerak menopang lengan Arka agar suaminya tidak jatuh. Namun, detik berikutnya, Arka langsung menepis tangan Lintang dengan sangat kasar. Cowok itu menatap Lintang dengan sorot mata yang begitu dingin dan asing.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Arka berbalik dan melangkah pergi begitu saja masuk ke dalam rumah, meninggalkan Lintang dan ayahnya di halaman.

Lintang sempat terdiam di tempatnya, menatap telapak tangannya yang baru saja ditepis oleh Arka. Dadanya terasa sedikit sesak melihat gestur penolakan suaminya yang begitu kentara.

Lintang menarik napas panjang, mencoba menguatkan hatinya, lalu berbalik menatap Hansanto dengan dingin.

"Silakan Bapak pergi dari rumah ini," ujar Lintang dengan nada bicara yang tegas namun tetap sopar.

Hansanto mengernyitkan alisnya, menatap gadis muda di depannya dengan heran. "Kamu... siapa?"

"Saya istrinya Arka," ujar Lintang lugas.

Alis Hansanto terangkat sebelah. "Oh... jadi kamu menantu saya?"

"Bukan," sanggah Lintang cepat tanpa ragu sedikit pun. Sepasang matanya menatap lurus ke dalam manik mata pria di depannya. "Saya menantu Bunda Frina. Bukan menantu Bapak."

Hansanto bungkam seketika. Lidahnya mendadak kelu mendengar jawaban telak dari istri putranya tersebut.

Tanpa berniat memperpanjang obrolan, Lintang langsung berbalik badan, melangkah terburu-buru masuk ke dalam rumah, lalu menutup pintu depan dengan rapat.

Meninggalkan Hansanto sendirian di luar pekarangan bersama dengan segala penyesalannya yang terlambat.

Pria itu menghela nafas panjang, menatap pintu rumah yang tertutup rapat dengan mata yang berkaca-kaca. Bahunya merosot lesu.

"Gimana caranya Ayah bilang... kalau kamu bukan anak kandung Frina sama Ayah, Arka?" gumam Hansanto lirih, suaranya tercekat di tenggorokan.

Pria paruh baya itu meremas dadanya yang terasa begitu sesak. "Gimana caranya kamu percaya... kalau Ayah nggak pernah bermaksud bikin kalian sengsara..."

...----------------...

Di dalam rumah, Lintang melangkah dengan perasaan campur aduk. Dia berjalan pelan, mengikuti Arka dari belakang hingga sampai di depan kamar cowok itu di lantai dua.

"Arka..." panggil Lintang lirih saat melihat suaminya hendak menutup pintu.

Arka menghentikan gerakannya, lalu berbalik pelan. Sorot matanya menatap Lintang dengan begitu datar dan dingin. "Kamar lu di bawah, bukan di sini," ujarnya tanpa emosi.

"Tapi, Ka..." Lintang menggigit bibir bawahnya, menatap wajah Arka yang masih tampak pucat karena demam. Dia hanya ingin memastikan kondisi suaminya baik-baik saja.

"Kalau nggak ada hal penting, keluar. Jangan ganggu gue," potong Arka cepat, menutup rapat segala celah obrolan di antara mereka.

Lintang menunduk dalam. Rasa bersalah yang membayangi hatinya sejak kemarin membuat dia tidak berani membantah ucapan Arka sedikit pun. "Oke," cicitnya pasrah.

Lintang membalikkan badannya, perlahan melangkah keluar dari area kamar cowok itu. Begitu kakinya melewati ambang pintu, suara dentuman pelan terdengar di belakangnya. Pintu kamar itu ditutup rapat oleh Arka dari dalam.

Dikunci.

Lintang berdiri terpaku di depan pintu kayu yang tertutup rapat itu. Dia menghela napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang mulai menjalar di dadanya.

"Mungkin dia cuma butuh waktu sendiri," gumam Lintang menenangkan dirinya sendiri.

...----------------...

Tengah malam, Lintang terbangun dari tidurnya. Kamar di lantai bawah terasa begitu asing baginya. Banyaknya beban pikiran yang menumpuk secara bersamaan membuat matanya enggan terpejam. Pikirannya benar-benar menolak untuk beristirahat.

Akhirnya, Lintang bangkit dari kasur dan berjalan keluar kamar. Dia melangkah menaiki satu demi satu anak tangga menuju lantai dua, sambil memandangi sudut-sudut rumah Arka yang terasa begitu luas namun sunyi mencekam.

‘Kalau dulu gue nolak nikah sama dia... nggak kebayang dia malam ini sendirian di rumah segede gini,’ batin Lintang pilu.

Langkah kaki Lintang mendadak terhenti tepat di depan kamar Arka. Telinganya menangkap suara lirih yang samar dari dalam ruangan bercat gelap tersebut.

Lintang mendekat, menempelkan telinganya ke permukaan pintu kayu itu. Suara raungan dan rintihan parau Arka justru terdengar semakin jelas dan menyayat hati.

Lintang mengetuk pintu pelan. "Arka..." panggilnya.

Tidak ada jawaban.

"Arka," panggil Lintang lagi, kali ini dengan nada yang lebih kencang.

Tetap hening. Hanya ada suara rintihan tertahan dari dalam.

Khawatir terjadi sesuatu, Lintang nekat mencoba memutar gagang pintu. Alisnya mengernyit heran begitu menyadari pintu itu bergerak terbuka. "Nggak dikunci?" gumamnya pelan.

Secara perlahan, Lintang mendorong pintu itu lebih lebar. Di bawah temaram cahaya lampu tidur yang redup, terlihat sosok tegap Arka sedang meringkuk pasrah di atas ranjang. Tubuhnya menggigil hebat dengan napas yang memburu pendek-pendek.

"Jangan pergi... Bunda... Arka... Arka ikut..." meracau cowok itu dengan suara yang teramat lemas, hampir habis tak bertenaga.

Deg.

Mata Lintang seketika memanas. Rasa iba langsung menghujam dadanya.

Dia melangkah mendekat, lalu duduk di pinggir ranjang, tepat di samping tubuh Arka yang bergetar. Tangan Lintang terangkat, menyentuh kening suaminya lembut.

Panas luar biasa. Suhu tubuh Arka kembali melonjak drastis.

"Ya Allah... panasnya kok malah makin tinggi begini..." gumam Lintang panik.

Lintang bergerak hendak berdiri, berniat ke dapur untuk mengambil baskom dan kain kompres. Namun, baru saja dia mengangkat tubuhnya, sebuah tangan yang terasa sangat panas mendadak menyambar pergelangan tangan Lintang dengan gerakan refleks.

Lintang terdiam kaku di tempatnya.

"Jangan... jangan pergi..." rintih Arka di sela tidurnya yang tidak tenang.

Merasa hawa dingin dari luar menyentuh kulitnya yang membara, alam bawah sadar Arka menuntun tubuhnya untuk bergerak.

Dengan sisa tenaga yang sangat lemah, cowok itu malah menarik lengan Lintang, memaksa tubuh Lintang mendekat agar dia bisa meringkuk, menyembunyikan wajah pucatnya di dekat perut Lintang demi mencari kehangatan.

Napas panas Arka berembus menerpa kulit Lintang, membuat Lintang menahan napasnya seketika. Jantungnya berdegup tak karuan melihat kerapuhan cowok di hadapannya.

"Lu diemin gue dari kemarin, Ka... Tapi kenapa pas tidur lu bisa serapuh ini?" bisik Lintang lirih.

Lintang sempat mencoba menarik tangannya pelan karena masih ingin mengambil kompresan. Namun, gerakan itu justru membuat cekalan tangan Arka yang gemetar semakin mengencang kuat, menolak dilepaskan.

"Jangan tinggalin Arka... Bunda... dingin..." rintih Arka lagi, suaranya terdengar sangat parau, hampir menangis dalam tidurnya. Tubuhnya semakin merapat, mencari sisa kehangatan dari tubuh Lintang.

Lintang menghela napas panjang, menyerah. Dia membatalkan niatnya untuk pergi. Lintang bergerak menggeser tubuhnya, duduk bersandar pada kepala ranjang, lalu membiarkan Arka meringkuk nyaman di sisinya.

Jemari Lintang terangkat, mengusap lembut rambut hitam Arka dengan penuh rasa sayang. Mencoba menyalurkan ketenangan yang dia punya.

"Gue nggak suka lu diemin gue kayak tadi, Ka. Tapi gue tahu... lu masih kecewa berat sama gue," bisik Lintang pada keheningan malam. Air matanya menetes satu per satu, jatuh mengenai bantal.

Tangannya perlahan turun, mengusap rahang tegas cowok itu yang kini terasa sangat panas akibat demam.

"Walau gue tahu gue nggak salah sepenuhnya karena kejadian kemarin... tapi gue paham posisi lu gimana sekarang," Lintang menjeda kalimatnya, menatap wajah suaminya yang sangat lelah.

"Tapi tolong... jangan diemin gue lama-lama ya, Ka..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!