Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.
Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.
Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.
Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Yang Akan Menyesal Bukan Aku
Dengan penuh percaya diri, Daril berjalan menghampiri Vira. Tak lama kemudian, ia sudah berdiri di depan etalase toko.
"Hai, Ra. Lama gak ketemu," sapanya ringan dengan senyuman tipis yang tersungging di bibirnya.
Vira mengangkat wajah. Tatapannya datar tanpa sedikit pun kehangatan. "Ada perlu apa?"
Daril terkekeh pelan. "Gak boleh datang ya, kalau gak ada perlu?"
"Enggak." Vira tetap menatapnya tanpa ekspresi. "Tapi aku lagi jaga toko. Jadi kalau gak ada urusan, jangan mengganggu pembeli."
"Kamu nyambut mantanmu sedingin ini?"
"Kamu datang sebagai pembeli atau tamu?"
Daril mengernyit. "Memangnya beda?"
"Tentu saja beda," jawab Vira. "Kalau pembeli, silakan pilih barang. Kalau bukan..." Vira menunjuk ke arah jalan. "...pintunya di sana."
Daril tersenyum, tetapi senyum itu tak sampai ke matanya. "Kamu benar-benar beda, Ra."
Vira tetap sibuk menyusun beberapa dus mi instan yang masa kedaluwarsanya sudah dekat.
"Kayak..." Daril mengamati wajah Vira beberapa saat. "Tubuh yang sama, tapi rohnya beda."
Vira terkekeh pelan. "Kamu kebanyakan nonton film horor."
Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia kembali memeriksa barang-barang di rak.
Diabaikan seperti itu membuat rahang Daril mengeras. "Ra..."
Tak ada jawaban.
"Kamu tahu gosip yang lagi beredar di kampung ini?" tanya Daril akhirnya.
Tangan Vira yang sedang memisahkan mi instan berhenti sepersekian detik. Namun sesaat kemudian kembali bergerak.
"Gosip apa?" tanyanya datar tanpa menoleh.
"Kamu beneran gak tahu?"
"Aku bukan orang yang suka bergosip." Vira mengambil beberapa bungkus mi lagi. "Apalagi bikin gosip."
Daril menarik napas pelan. "Orang-orang bilang kamu udah gak perawan."
Vira tetap diam.
"Terus..." lanjut Daril, "katanya kamu sering bawa laki-laki masuk ke rumah."
"Oh." Hanya itu respons Vira.
Daril justru dibuat bingung. "Kamu... kok biasa aja?"
Vira akhirnya mengangkat wajah. "Buat apa aku marah sama pembawa berita?" katanya tenang. "Yang harus kupikirkan sekarang bukan gosipnya."
"Terus?" tanya Daril.
"Siapa orang yang pertama kali nyebarin." Tatapan Vira berubah tajam. "Kalau Pak Kades berhasil menemukan penyebarnya, aku bakal menuntut orang itu."
Daril sedikit terkejut. "Menuntut?"
"Iya." Vira mengangguk mantap. "Nama baikku dirusak. Tokoku jadi sepi. Banyak barang hampir kedaluwarsa karena gak laku."
Ia menatap Daril lurus.
"Kerugian mentalku ada. Kerugian materi juga ada. Orang itu harus mempertanggungjawabkan semuanya."
Untuk sesaat, wajah Daril menegang. Namun ia segera menutupinya dengan senyum tipis.
"Ra..." suaranya melembut. "Sebenarnya aku datang karena khawatir."
Vira hanya menatapnya.
"Aku masih gak tega lihat kamu digosipin kayak begini." Daril mencondongkan tubuhnya, mendekat.
"Kalau kamu mau..." katanya pelan, "aku siap nikahin kamu."
Vira mengangkat sebelah alis.
"Dengan begitu semua gosip itu bakal berhenti. Orang-orang juga gak akan berani ngomong macam-macam lagi."
Beberapa detik Vira hanya menatap Daril. Lalu ia tersenyum tipis.
"Daril."
"Ya?"
"Kalau aku dipaksa menikah karena fitnah..." suara Vira tetap tenang, "berarti yang menang adalah penyebar fitnah itu."
Daril terdiam.
Vira kembali melanjutkan.
"Lagian..." Tatapannya menusuk tepat ke mata Daril. "Kalau dipikir-pikir, siapa orang yang paling diuntungkan kalau nama baikku hancur?"
Senyum di wajah Daril perlahan memudar.
"Orang-orang mulai menjauhiku. Hartato batal melamar." Vira sengaja berhenti beberapa detik. "Kalau semua laki-laki menjauh..."
Tatapannya tak bergeser sedikit pun dari Daril. "...bukankah yang peluangnya paling besar justru mantan pacarku sendiri?"
Daril membeku. Meski wajahnya masih berusaha terlihat tenang, tapi jantungnya mulai berdetak lebih cepat.
"Dia makin sulit dikendalikan," batin Daril.
Ia kembali menatap gadis yang selama ini ia kira akan menjadi istri penurut, yang akan terus mencintainya apa pun yang terjadi.
Daril menarik napas pelan. "Aku cuma menawarkan solusi. Kalau kamu gak mau..." Daril mengangkat bahunya ringan. "Ya udah."
"Makasih," jawab Vira tenang. "Tapi aku gak butuh solusi yang nantinya bakal kusesali untuk kedua kalinya."
Daril mengernyit.
"Kedua kalinya?"
Vira seketika tersadar telah keceplosan. Namun raut wajahnya tetap tenang. "Maksudku, aku gak mau mengulangi kesalahan yang sama."
Ia menatap Daril tanpa ragu. "Kalaupun nanti gak ada laki-laki yang mau nikah sama aku, aku lebih memilih hidup sendiri."
Senyum tipis terukir di bibirnya. "Setidaknya aku gak perlu repot ngurusin suami atau mertua yang cuma nganggep aku sebagai mesin ATM."
Daril tertegun. Ucapan itu terasa seperti tamparan yang mengarah tepat kepadanya.
Selama ini, Vira memang sering membantu kebutuhan keluarganya. Karena itu, ia tak pernah menyangka gadis itu menyadari bagaimana dirinya dan sang ibu memanfaatkan penghasilannya.
"Kenapa dia bicara seolah-olah tahu semua yang akan terjadi?" batin Daril.
Tatapannya tak lepas dari wajah Vira. "Atau... selama ini dia memang sadar, hanya saja memilih diam?"
Tak ada lagi Vira yang mudah ia bujuk yang bisa ia kendalikan.
Kini, Vira berdiri di hadapannya jauh berbeda . "Dia kayak udah tahu akhir dari setiap permainan yang bakal kumulai."
"Maaf. Kalau udah gak ada keperluan lagi, silakan pergi." Suara Vira tetap tenang. Nyaris tanpa emosi.
Namun, jauh di dalam hatinya, bayangan kehidupan yang pernah ia alami kembali berkelebat. Wajah pria di hadapannya itu... pria yang dulu memanfaatkan kerja kerasnya, lalu mengakhiri hidupnya demi menguasai semua yang ia miliki.
"Kali ini... Aku tak akan membiarkan sejarah itu terulang."
Daril tersenyum sinis. "Kamu terlalu sombong, Ra."
Ia menatap Vira lekat-lekat. "Ingat kata-kataku. Suatu hari nanti jangan sampai kamu yang datang mengemis minta dinikahi."
Vira tak menjawab. Tatapannya tetap datar, seolah ancaman itu sama sekali tidak berarti.
Daril mendengus pelan, lalu berbalik meninggalkan toko.Namun, saat melangkah menuju motornya, rahangnya mengeras.
"Lihat saja, Vira," batinnya. "Suatu hari nanti, aku bakal bikin kamu menyesali semua perkataanmu hari ini."
Tanpa menoleh lagi, Daril menyalakan motornya.
Brumm...
Suara mesin perlahan menjauh, meninggalkan Vira yang masih berdiri di balik etalase.
Tatapannya mengikuti punggung Daril hingga pria itu menghilang dari pandangan.
"Kali ini..." gumam Vira lirih, "...yang akan menyesal bukan aku."
...✨"Musuh paling berbahaya bukanlah orang yang membencimu terang-terangan, melainkan mereka yang mencari keuntungan dari kehancuranmu."✨...
.
To be continued
silahkan saja kalo bisa,nanti kalianlah yang akan menyesal...
buat mereka jera Vira
orang yg di beri kesempatan bukan ya berbuat Baik tapi malah semakin jahat ..
keluarga bisa Jadi musuh terbesar dalam ujian hidupmu vira , kamu usir Salah g kamu usir kamu sendiri yg di buat menderita oleh mereka
keep strong vira
semangat buat kak Nana juga
ra vira usir aja tuh yanti sudah cukop kamu kasih dia kesempatan Dan tempat tinggal ,, jauhilah orang² yang tak pernah menghargai kebaikanmu
Hayo lo Yanti bentar lagi kamu di usir karena ulahmu sendiri nyari penyakit sama Vira😄