NovelToon NovelToon
Suamiku Spesial

Suamiku Spesial

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Fantasi / Perjodohan
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: gigiwww

Liora terpaksa menandatangani perjanjian pranikah dan dinikahkan dengan Alexander, seorang pria berkebutuhan khusus yang diasingkan keluarganya di sebuah desa terpencil. Ia pun pergi ke desa itu untuk merawat suaminya yang asing baginya. Namun, semakin lama merawat Alex, Liora mulai menyadari ada keanehan dan ketakutan dari warga sekitar terhadap pria itu. Ia pun curiga, jangan-jangan Alex tidak seperti yang terlihat. Di balik keterbatasannya, Alex ternyata menyimpan rahasia besar yang menjadi alasan keluarganya membuangnya. Liora kini harus mengungkap kebenaran di balik pengasingan suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17: Percakapan di Balkon dan Labu Pagi

Setelah mandi, Liora merasa tubuhnya lebih segar. Air hangat yang mengalir di tubuhnya seolah membersihkan semua kebingungan dan kegelisahan yang ia rasakan sejak pagi tadi. Ia mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk putih yang lembut, menggosoknya perlahan hingga tidak lagi menetes.

Rambut Liora yang panjang dan hitam tergerai di bahunya. Udara pagi yang dingin dan sejuk membuatnya ingin merasakan suasana luar. Ia membuka pintu balkon kamarnya yang menghadap ke halaman belakang, lalu melangkah keluar.

Angin pagi berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Kabut tipis masih menyelimuti desa, tetapi matahari mulai naik, menerangi pepohonan dan peternakan dengan cahaya keemasan yang lembut. Liora menarik napas panjang, menghirup udara segar yang begitu berbeda dengan udara kota yang penuh polusi.

Ia menatap ke arah peternakan, melihat beberapa ekor ayam yang sudah mulai berkeliaran di halaman. Lalu, matanya tertumbuk pada sesuatu.

Di dekat kandang kuda, di bawah pohon rindang yang besar, ada dua sosok sedang berbicara. Yang satu adalah Rama—pria tua yang merawat peternakan. Yang satu lagi adalah Alex.

Liora mengerutkan kening. Ia melihat Alex dan Rama sedang berbicara dengan serius. Alex tampak sangat fokus, berbicara dengan gerakan tangan yang tegas. Ekspresi wajahnya tidak seperti biasanya. Tidak ada senyuman polos, tidak ada tatapan lugu yang sering ia tunjukkan pada Liora. Wajah Alex serius, tegas, seperti seorang pria dewasa yang sedang membicarakan sesuatu yang penting.

Liora memicingkan matanya. Ia mencoba mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi jarak antara balkon dan kandang kuda terlalu jauh. Suara angin dan kicauan burung menutupi percakapan mereka.

Liora bertanya-tanya. Apa yang sedang mereka bicarakan? Mengapa Alex terlihat begitu serius? Bukankah Alex adalah pria dengan perilaku seperti anak kecil? Mengapa ia bisa berbicara dengan ekspresi yang begitu dewasa?

Liora menggelengkan kepalanya. Mungkin ia salah melihat. Mungkin ia hanya terlalu lelah, atau terlalu banyak berpikir sejak malam tadi. Alex tetaplah Alex—pria polos yang suka bermain Lego dan memetik apel.

Namun, ada sedikit kegelisahan di dalam hatinya. Liora memutuskan untuk tidak berlama-lama di balkon. Ia takut ketahuan jika Alex menoleh ke atas dan melihatnya sedang mengawasi.

Liora melangkah mundur, masuk kembali ke dalam kamar, dan menutup pintu balkon dengan pelan. Ia menghela napas, mencoba membuang pikiran aneh itu, lalu berjalan turun ke dapur untuk mempersiapkan sarapan.

---

Liora mulai mengeluarkan bahan-bahan sarapan dari kulkas. Ia mengambil telur, mentega, dan beberapa potong daging asap. Ia juga mengambil roti tawar yang masih segar. Ia berniat membuat telur orak-arik dengan daging asap dan roti panggang—sarapan yang sederhana tetapi mengenyangkan.

Suara minyak yang mulai panas di wajan memenuhi dapur. Liora memecahkan telur ke dalam wajan, mengaduknya dengan spatula kayu hingga menjadi orak-arik yang lembut dan kuning. Aroma mentega dan telur mulai menyebar, menciptakan suasana hangat di dalam dapur.

Saat ia baru saja selesai menata roti panggang di atas piring, ia mendengar suara pintu depan terbuka. Langkah kaki yang dikenalnya masuk ke dalam rumah, diikuti oleh suara ceria yang sudah sangat akrab di telinganya.

"Liora! Liora, lihat apa yang Alex bawa!"

Liora menoleh. Alex berdiri di ambang pintu dapur, tersenyum lebar. Di tangannya, ia membawa sebuah keranjang bambu berisi beberapa buah labu kuning berwarna oranye cerah. Labu-labu itu tampak segar, masih ada sedikit tanah yang menempel di kulitnya—tanda bahwa mereka baru saja dipetik.

"Labu? Kamu memetik labu?" tanya Liora, sedikit terkejut.

Alex mengangguk semangat. "Iya! Rama bilang labu ini sudah matang! Alex minta sama Rama, dan Rama kasih! Labu ini dari kebun belakang!"

Liora mendekati Alex dan mengambil salah satu labu. Labu itu cukup besar dan berat, dengan tekstur kulit yang keras dan warna yang cerah.

"Labu ini bagus sekali, Alex," puji Liora.

Alex tersenyum bangga. "Liora, Alex mau minta tolong. Alex mau Liora buatkan puding labu. Boleh, Liora?"

Liora mengangkat alis. "Puding labu?"

"Iya! Puding labu itu enak banget! Emi pernah buatin Alex, dan Alex suka sekali. Tapi Emi sekarang jarang ke sini. Jadi, Alex mau Liora yang buatin," jelas Alex dengan wajah penuh harap.

Liora tersenyum. Ia tidak tega menolak permintaan Alex. "Baiklah, Alex. Nanti sore, setelah sarapan, Liora akan buatkan puding labu untukmu."

Alex bertepuk tangan gembira. "Terima kasih, Liora! Alex suka Liora!"

Liora tersenyum hangat. Ia meletakkan labu-labu itu di atas meja dapur, lalu kembali ke kompor untuk menyelesaikan sarapan.

Saat mereka duduk di meja makan, Liora teringat sesuatu. Ia menatap Alex yang sedang menyantap telur orak-arik dengan lahap.

"Alex," panggil Liora pelan.

Alex mengangkat wajahnya, dengan mulut yang masih penuh makanan. "Hmm?"

"Tadi pagi, Liora melihat Alex berbicara dengan Rama di dekat kandang kuda," kata Liora, mencoba terdengar santai. "Alex bicara apa dengan Rama?"

Alex mengunyah makanannya, lalu menelannya. Ia memiringkan kepalanya, seolah mengingat-ingat.

"Oh, itu... Alex bicara tentang perkebunan, Liora," jawab Alex dengan wajah polosnya. "Rama bilang, ada beberapa tanaman di kebun yang perlu dipupuk. Dan ada juga pohon yang perlu dipangkas. Alex suka berkebun, jadi Alex ingin tahu."

Liora menatap Alex. Jawabannya terdengar sangat masuk akal. Sangat sederhana. Sangat seperti Alex.

"Rama juga bilang, kalau Liora suka, Liora boleh ikut berkebun," tambah Alex dengan semangat. "Nanti Alex ajak Liora, ya!"

Liora tersenyum. Rasa curiganya perlahan lenyap. Mungkin ia terlalu banyak berpikir. Mungkin Alex memang hanya berbicara tentang perkebunan.

"Tentu, Alex. Liora akan ikut," jawab Liora.

Alex tersenyum lebar, lalu kembali menyantap sarapannya dengan lahap.

Mereka pun sarapan bersama dengan hikmat. Suara kunyahan dan sesekali suara cangkir yang diletakkan di atas meja menjadi satu-satunya suara yang memecah keheningan pagi.

Di luar, kabut mulai menghilang, dan matahari semakin tinggi. Hari itu akan menjadi hari yang tenang, dengan janji puding labu di sore hari.

Namun, di dalam hati Liora, ada sedikit pertanyaan yang belum terjawab. Tentang wajah serius Alex tadi pagi. Tentang percakapan yang tidak bisa ia dengar.

Tapi untuk saat ini, Liora memilih untuk menikmati sarapan bersama suaminya—seorang pria yang polos, yang mencintai labu, dan yang selalu membuatnya tersenyum.

1
Ilfa Yarni
oooo jadi gitu tp syukurlah udah ga ada rahasia lg diantara mereka dan jg bisa bersikap sebagaimana mestinya dan skr kalian bisa menghadapi masalah bersama2
Ilfa Yarni
aku jg penasaran bukan km saja liora
wulaniii
gais like dan komen kalo bisa tonton yah biar dapet komisi 🤣
Alia Chans
Hadir Thor, penasaran banget ama lanjutan nya ...🤭🤭

saling support sabi kali😉
Muhajir Al musyaffa
halo kak aku punya karya loh mampir yu kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!