NovelToon NovelToon
Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Takdirku Bersama Suami Mafiaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Penyesalan Suami / Balas Dendam
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: PUTRI

Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.

Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam dirinya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

tuduhan tanpa bukti

Tanpa membuang waktu lagi, aku segera berlari kembali menuju rumah sakit. Langkah kakiku terdengar cepat dan bergetar menyusuri lorong yang panjang itu. Sesampainya di depan pintu ruangan tempat Aslan dirawat, aku membukanya agak keras — mataku segera menangkap sosok adikku yang masih sedang meringis hebat menahan rasa sakit yang tak tertahankan. Kakinya terasa lemas saat aku mendekat ke tepi ranjang, hatiku terasa perih melihat keadaannya, namun aku tahu aku tidak boleh hanya berdiri diam menunggu. Aku segera berbalik arah dan berlari lagi menuju bagian pendaftaran rumah sakit.

Di sana terlihat dua orang petugas sedang duduk di balik meja pelayanan. Aku mendekat dengan hati yang masih berdebar kencang, suaraku terasa tercekat saat aku mulai berbicara. “Permisi… maaf mengganggu. Saya ingin bertanya, apakah biaya operasi untuk pasien atas nama Aslan sudah ada yang melunasi?”

Kedua petugas itu saling berpandangan sejenak, lalu sama-sama menggelengkan kepala. “Maaf Nona, sampai saat ini belum ada pembayaran yang masuk untuk pasien tersebut.”

Seketika dadaku terasa semakin sesak dan berat, aku menggigit bibir bawahku dengan cukup kuat menahan rasa kecewa yang mulai menyerang. Aku pun berbalik perlahan sambil bergumam sangat pelan pada diriku sendiri. “Apakah mungkin dia hanya menipuku? Tidak mungkin… lalu apa yang harus kulakukan sekarang?”

Aku hanya berdiri terpaku di tengah lorong yang ramai itu dengan pikiran yang kembali kacau balau. Tiba-tiba ada seseorang yang berhenti berdiri tepat di hadapanku. Rambutnya berwarna hitam pekat yang tampak berkilau terkena cahaya lampu, disisir dengan sangat rapi namun tidak terasa kaku. Tubuhnya tinggi dan tegap, mengenakan setelan jas hitam yang sangat pas menyesuaikan bentuk tubuhnya, dengan kemeja putih bersih dan dasi yang senada — penampilannya terlihat sangat berkelas dan berwibawa. Garis rahangnya terlihat tegas, sepasang matanya tajam dan dingin seolah mampu melihat apa saja yang ada di dalam pikiran seseorang. Di bagian sisi lehernya terlihat sebuah tato dengan corak yang rumit berwarna gelap; hal itu semakin memperjelas bahwa orang yang berdiri di hadapanku ini bukanlah orang sembarangan.

“Permisi, apakah Anda Nona Zara?” tanyanya dengan nada yang sopan namun tetap tegas.

“Benar, saya sendiri,” jawabku sambil sedikit mengerutkan dahi karena merasa heran. Siapakah pria ini dan bagaimana dia bisa mengetahui namaku?

“Saya Yamal, sekretaris pribadi Tuan Adrian Romanov. Saya datang ke sini untuk melunasi seluruh biaya pengobatan serta biaya operasi adik Anda mulai dari sekarang hingga sembuh total — Anda tidak perlu merasa cemas atau khawatir lagi mengenai hal itu.”

Setelah berkata demikian, ia berjalan menuju meja pendaftaran, lalu menyampaikan sesuatu kepada petugas yang ada di sana. “Ini adalah pelunasan seluruh biaya perawatan pasien bernama Aslan sampai operasi selesai dan kondisinya stabil. Selain itu, pasien tersebut harus segera dipindahkan ke ruang perawatan kelas satu yang paling nyaman.”

Setelah semua urusan selesai, ia kembali menghadapku. “Tuan Adrian juga berpesan agar Anda bersiap-siap besok pagi. Saya akan datang menjemput Anda tepat waktu untuk menuju kantor urusan agama guna melangsungkan pernikahan sesuai perjanjian yang telah disepakati.”

Aku tidak merasa terlalu terkejut mendengar pesan itu, aku hanya berdiri diam mematung di tempat — seluruh perhatian dan perasaanku saat ini sepenuhnya hanya tertuju pada satu hal: keselamatan Aslan sudah terjamin. Tanpa menunggu jawaban atau tanggapan apa pun dariku, Yamal segera berbalik badan dan pergi meninggalkanku sendirian di sana.

Mataku terpaku tak berkedip pada pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Kedua tanganku saling meremas erat satu sama lain, sementara hatiku tak henti-hentinya berdoa sepenuh jiwa. Enam jam yang berlalu terasa seperti berabad-abad lamanya di tengah keheningan yang terasa menekan dada. Hingga akhirnya pintu itu terbuka perlahan dari dalam, dan dokter beserta tim medis keluar dengan raut wajah yang tampak lega.

“Syukurlah, operasi berjalan dengan sangat lancar tanpa hambatan sedikit pun,” ucap dokter itu dengan nada yang meyakinkan hatiku. “Adikmu akan segera dipindahkan ke ruang perawatan intensif. Ia masih akan terbaring dalam keadaan koma untuk beberapa waktu — hal itu wajar terjadi agar tubuhnya bisa beristirahat sepenuhnya dan memulihkan tenaganya. Saat ini kondisinya sudah stabil, kita hanya tinggal menunggu waktu sampai ia sadar kembali secara alami.”

Setelah menyampaikan hal itu, dokter dan timnya pun berpamitan pergi untuk melanjutkan tugas mereka. Tak lama kemudian, tandu tempat Aslan berbaring didorong keluar perlahan. Banyak selang dan alat pemantau yang menempel pada tubuh kecilnya, lalu ia dibawa masuk ke dalam ruang ICU yang luas. Aku sempat tertegun memandang ke sekeliling — ruangan itu tampak sangat luas, bersih, dan dilengkapi dengan peralatan yang terlihat sangat canggih serta mewah. Bahkan tersedia ruang istirahat terpisah untuk keluarga, meski saat ini aku belum diizinkan masuk untuk menjenguknya.

Seorang perawat mendekat kepadaku dengan sopan. “Mohon maaf Nona, untuk saat ini kunjungan dilarang. Daya tahan tubuh pasien masih sangat lemah, dan kami harus menjaganya dari segala kemungkinan kuman demi keselamatan dan pemulihannya. Kami akan segera memberitahu Nona begitu perawatannya sudah diperbolehkan.”

Aku pun kembali duduk diam di bangku panjang yang ada tepat di depan pintu ruangan itu, mataku hanya menatap dinding kosong di hadapanku. Langit di luar jendela perlahan berubah menjadi gelap, aku tak lagi tahu sudah berapa jam lamanya aku duduk diam di sana sendirian. Hingga tiba-tiba pesan yang disampaikan Yamal tadi pagi terlintas kembali di benakku: Besok pagi kau harus bersiap untuk melangsungkan pernikahan…

Keheningan kembali menyelimuti sekitarku. Perlahan aku bangkit berdiri, lalu melangkah mendekat ke arah celah kaca kecil yang ada di pintu ruangan itu. Melihat sosok Aslan yang terbaring lemah namun tenang di dalam sana, seketika itu juga air mataku jatuh perlahan membasahi pipi. Aku tersenyum tipis namun terasa getir, lalu bergumam pelan seolah sedang berbicara kepada Ayah dan Ibu yang telah tiada: “Ayah, Ibu… lihatlah dari atas sana. Aku berhasil menyelamatkan nyawa Aslan seperti yang kalian harapkan. Kalian tidak perlu lagi merasa cemas akan nasibnya. Selama aku masih bernapas di dunia ini, aku tidak akan pernah membiarkan apa pun yang buruk menimpanya.”

Rasa berat yang membebani dadaku terasa sedikit terangkat. Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam sebagai tanda syukur yang tulus: “Terima kasih… terima kasih telah mendengar doa hamba dan menyelamatkan nyawa adikku.”

Pagi hari, suara kicauan burung terdengar riang bersahutan dari pepohonan di luar, sesekali tercampur dengan suara klakson kendaraan yang lewat di jalan raya. Di dalam ruang perawatan itu, Aslan masih terbaring dengan tenang, belum terlihat ada tanda-tanda bahwa ia akan segera sadar. Aku sempat membersihkan diriku sejenak, namun karena tidak memiliki pakaian ganti yang lain, aku terpaksa tetap mengenakan pakaian yang sama — yang tampak lusuh, kusam, dan masih terlihat bekas kotoran di sana-sini.

Tiba-tiba perutku berbunyi cukup nyaring, mengingatkanku bahwa sudah hampir dua hari ini aku nyaris tidak memasukkan makanan apa pun ke dalam perutku. Tanganku merogoh saku baju, hanya menemukan selembar uang kertas kecil yang terlipat rapi di sana. Rasa lapar terasa semakin menyengat, dan tiba-tiba aku teringat kembali akan botol ramuan pemberian Ibu yang belum sempat kuminum sejak lama.

Aku pun menyusuri lorong rumah sakit hingga sampai ke pintu keluar, berjalan mencari warung makan kecil yang terjangkau. Di sana aku membeli sebungkus nasi sederhana dan sebotol air minum. Sepanjang perjalanan kembali, masih ada saja orang-orang yang melirikku dengan pandangan yang tidak menyenangkan, namun entah mengapa aku sudah mulai terbiasa — bahkan sejak kami masih tinggal di desa, pandangan seperti itu sudah sering kulihat dari orang-orang sekitar. Namun saat aku hendak melangkah kembali menuju rumah sakit, kakiku tiba-tiba terhenti. Di depan sebuah restoran yang tidak jauh dari sini terlihat keadaan yang sedang ricuh, sekumpulan orang berkumpul memenuhi halaman depannya. Aku hanya berdiri agak menjauh, kedua tanganku meremas erat kantung plastik berisi makanan itu dengan rasa cemas.

Ternyata wanita pemilik restoran yang dulu pernah memaki dan menginjak makananku itu sedang berdiri di sana dengan wajah yang memerah karena amarah. Di belakangnya berjejer rapi seluruh karyawan laki-laki maupun perempuan, beserta petugas keamanan tempat itu. Ia berteriak dengan suara yang sangat keras, meluapkan segala kemarahannya kepada mereka.

“Bagaimana mungkin ada barang berharga yang hilang dari sini tanpa satu pun dari kalian menyadarinya?! Apakah begitupula cara kalian bekerja? Aku menggaji kalian untuk menjaga tempat ini dengan baik, tapi apa yang kalian tunjukkan padaku sekarang? Dasar orang-orang yang tidak berguna! Kalian semua sama sekali tidak berguna!”

Saat matanya menangkap sosokku yang berdiri agak jauh, ia langsung melangkah cepat mendekatiku dengan wajah yang penuh kebencian. Hatiku seketika merasa tidak tenang, aku mencoba berbalik badan untuk pergi menjauh, namun suaranya yang lantang langsung terdengar memecah keheningan pagi itu: “Hei kau! Berhenti di situ dan jangan melangkah lagi!”

Ia segera berdiri tepat di hadapanku, dan tanpa aba-aba tangannya terayun keras — terdengar suara nyaring saat tamparan itu mendarat tepat di pipi kananku.

“Ini semua pasti berawal dan berkat kehadiranmu yang sial ini! Sejak kau muncul di sini, tidak ada satu pun hal baik yang pernah terjadi!” ucapnya sambil menunjuk-nunjuk wajahku dengan jari telunjuknya yang kasar.

Aku hanya menekan pipiku yang terasa sangat perih dan panas, mataku perlahan mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit hati yang mendalam. Aku merasa begitu bingung dan sedih — mengapa ada begitu banyak orang yang tidak menyukai keberadaanku padahal aku tidak pernah berniat mengganggu siapa pun? Aku tidak memiliki apa-apa, tidak mampu membela diri, dan hanya bisa menerima segala perlakuan itu dengan pasrah. Sementara itu orang-orang di sekitar mulai berkerumun semakin rapat mengelilingi kami seolah sedang menonton pertunjukan yang menarik.

Di antara kerumunan itu, terdengar suara bisik-bisik dari salah satu pegawai wanita yang tampak terkejut: “Bukankah itu gadis yang adiknya sakit parah dan membutuhkan biaya operasi yang sangat besar itu?”

“Benar, aku juga pernah mendengar hal itu,” sahut temannya dengan nada yang penuh penghinaan. “Kalau begitu berarti sekarang ia sudah mendapatkan uang itu entah dari mana? Percuma saja menghabiskan uang sebanyak itu hanya untuk menyelamatkan nyawa orang yang akhirnya hanya akan menjadi beban seumur hidup. Kalau aku yang berada di posisinya, aku pasti tidak akan bersusah payah seperti itu.”

Mendengar bisikan itu, wanita pemilik restoran itu terdiam sejenak, lalu menatapku dengan tatapan yang penuh kecurigaan dan dugaan buruk. “Jangan-jangan kau sebenarnya bersekongkol dengan orang-orang yang merampok tempatku ini ya? Kau pasti masih menyimpan dendam padaku, itulah sebabnya kau berani bekerja sama merencanakan kejahatan ini!”

“Tidak! Aku sama sekali tidak melakukannya, aku tidak pernah mencuri apa pun, percayalah!” aku mengangkat kedua tanganku menolak dengan panik, kepalaku tergeleng-geleng kuat memohon agar ia tidak menuduhku sembarangan.

“Kalau kau benar-benar tidak bersalah, cobalah jelaskan dari mana kau bisa mendapatkan uang sebanyak itu hanya dalam waktu semalam?! Jawab aku sekarang! Atau jangan-jangan kau menjual dirimu kepada orang lain? Padahal dengan penampilanmu yang lusuh dan tidak terawat begini, mana mungkin ada orang yang mau membelimu!”

Ia segera menyambar paksa kantung plastik yang sedari tadi kugenggam erat di tanganku. “Tolong jangan, kembalikan padaku!” aku berusaha menahannya sekuat tenaga, namun kekuatannya jauh lebih besar daripada diriku. Ia mendorong tubuhku dengan sangat keras hingga aku terjatuh tersungkur di atas permukaan jalan yang keras dan kasar. Telapak tanganku tergores tajam hingga terasa perih dan lecet. Kantung itu direbut dariku, lalu dibanting keras ke tanah, sebelum akhirnya diinjak-injak berkali-kali hingga seluruh isinya lumat dan tercampur debu.

Air mata yang sedari tadi kutahan sekuat tenaga akhirnya tumpah deras membasahi kedua pipiku. Aku mencoba menyekanya dengan punggung tanganku yang kini mulai mengeluarkan darah, namun rasanya aku tak lagi sanggup menahan segala kesedihan yang meluap-luap di dadaku.

Namun belum sempat aku bangkit berdiri, ia kembali menginjak telapak tanganku yang terluka itu dengan sepatu hak tingginya — dengan tekanan yang sangat kuat hingga terasa nyeri sekali. Aku merasakan rasa sakit yang tajam menyelimuti seluruh tubuhku, berusaha menarik tanganku menjauh namun ia justru menekannya semakin keras.

1
Nur Cha
fantasi kha ?
Putry Chan: sebenarnya bukan sih
total 1 replies
Intan Tan
👍
helena
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!