Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
28
“Max, Max,” teriakan Selina dari atas membuat Maxime yang baru saja hendak meminum air itu langsung berhenti.
Rasa khawatir terlihat jelas di matanya. Tanpa ragu, ia langsung berlari ke atas, menaiki tangga dengan langkah besar dan langsung membuka pintu kamarnya dengan kasar.
“Sayang, apa terjadi sesuatu?” tanyanya cemas.
Selina, dengan perut setengah buncitnya itu mendongak. Matanya memerah, ia mengulurkan ponsel.
“Max, kak Helen masuk rumah sakit. Dia keguguran,” ucapnya dengan air mata mengalir.
Mendengar itu, Maxime terdiam. Ia pandangi istrinya itu. “Kau berteriak seperti itu hanya karena kabar Helena?” tanyanya setengah tak percaya.
Selina mengangguk. Matanya menatap Maxime dengan tatapan sedih. “Apa maksudmu dengan kata hanya? Dia kakakku. Dia keguguran. Bagaimana aku tidak khawatir. Max, kita harus ke rumah sakit. Aku ingin melihat keadaan kakak,” pintanya penuh harap.
Maxime yang sebenarnya benar benar muak untuk melihat Helena, terlebih mengingat bagaimana Helena hampir mengacaukan pesta pernikahannya dengan Selina waktu itu terdiam.
“Max, tak peduli apa yang sudah dilakukan kakak, dia tetap kakakku. Aku menyayanginya, aku tidak bisa membiarkan kakakku sendirian,” bujuknya dengan lembut.
Maxime menghela nafas panjang. “Baiklah, tapi kau harus makan dulu. Kau belum makan apa pun sejak aku pulang,” ucapnya sungguh sungguh.
Selina terdiam. Wajahnya terlihat murung. Namun, Maxime sama sekali tak menunjukkan kelonggarannya.
“Bisakah kita makan di mobil? Aku benar benar mengkhawatirkan kakak,” bujuknya lagi.
Wajah Maxime tampak muram. Di mata istrinya, kedudukannya benar benar tidak bisa menyaingi Helena. Dan itu benar benar membuatnya marah.
Namun, hanya sistem yang tahu. Semua yang dilakukan Selina sudah ia rencanakan. Baik sikapnya yang terus terusan terlihat polos dengan selalu mengagumi kakaknya, mau pun keputusannya untuk mendatangi rumah sakit tempat Helena saat ini dirawat.
Semuanya tak ubahnya karena Selina ingin melihat secara langsung, kehancuran Helena dengan mata kepalanya sendiri.
***
“Kau masih berani membawa selingkuhanmu ke sini? Apa kau tidak memiliki hati, Franklin!” teriak Helena saat melihat Franklin muncul bersama dengan wanita muda yang mungkin baru masuk SMA itu.
Wanita yang ia pergoki sedang berhubungan intim dengan suaminya di ranjang pernikahannya. Wanita yang dibela suaminya, hingga membuat ia keguguran.
Franklin yang mendengar teriakan itu mengerutkan kening. “Apa yang kau teriakan?”
“Frank!”
“Helen, berhenti membuat masalah.”
“Masalah? Kau menganggap semua kemarahanku ini masalah? Kau berselingkuh! Kau tidur dengan orang yang bahkan usianya lebih cocok menjadi keponakanmu. Kau tidur dengannya, di ranjang kita saat aku sedang hamil! Frank, kau anggap apa aku?” teriaknya benar benar histeris.
Franklin mendecakkan lidah tak sabar. Alih alih menghibur Helena, ia malah menutupi kedua telinga kekasih kecilnya itu, seolah tak ingin pendengaran kekasihnya tercemar dengan teriakan Helena.
Helena yang melihat itu benar benar gemetar karena marah. Rasa sakit akibat kuret yang harus dilakukannya beberapa jam yang lalu, ditambah patah hatinya dengan sikap Franklin saat ini benar benar membuat tubuhnya gemetar hebat.
Kebenciannya memenuhi rongga matanya. Membuat wajahnya yang biasanya terlihat menawan itu kehilangan cahayanya.
“Tutup mulutmu! Apa kau pikir aku tuli. Tidak bisakah kau bicara baik baik. Selain itu, aku hanya tidur dengannya. Apa salahnya.”
Helena benar benar marah. Ia tanpa memikirkan perutnya yang masih nyeri langsung turun dari brangkar. Kakinya terasa dingin saat bersentuhan langsung dengan lanta dingin.
“Hanya? Hanya tidur? Kalau kau butuh teman tidur, kau bisa mencariku. Apa kurangnya aku dibanding jalang itu!”
Franklin yang mendengar itu terkekeh. Sementara wanita yang ia dekap penuh kehangatan masih mempertahankan ekspresi polosnya, membuat Helena yang melihat itu ingin mencabik cabiknya sampai tak bersisa.
“Kau lihat penampilanmu yang lusuh itu,” ucap Franklin setengah mencibir.
“Kau?” mata Helena melebar. Menunjukan urat urat disekitar rongga itu menonjol dan terlihat memerah.
“Tubuhmu bau, dan area tertentumu juga menghitam. Itu benar benar membuat aku merasa mual. Satu lagi, lihat aset asetmu itu. Benar benar kendur dan terlihat menjijikan,” ucapnya benar benar menghina fisik Helena yang berubah drastis semenjak mengandung.
“FRANK!” teriaknya benar benar terhina.
“Sudah aku katakan, jangan berteriak. Nasib baik aku tidak menceraikanmu, karena bagaimana pun, kau sudah mengandung anakku. Aku hanya mencari kesenangan di luar. Jadi, kau tidak perlu membuat kegaduhan.”
“Dan lihat, apa yang kau lakukan? Karena kebodohanmu, kau membuatku kehilangan anak yang sudah aku nantikan. Benar benar wanita tidak berguna.”
Helena yang mendengar itu benar benar gila. Ia menerjang Franklin, membuat mata Franklin membelalak dan dengan cepat melindungi kekasih kecilnya
Sementara Helena, hanya karena tubuhnya yang masih lemah, ia tanpa ragu mendorongnya menjauh, membuat tubuh Helena membentur kaki brangkar dan menangis histeris.
“Kau yang membunuh anakku! Kau yang membunuhnya. Kau masih memiliki keberanian melimpahkan semua kesalahan atas keguguran ini padaku! Dasar kau bajingan! Kau mendorongku, membuat perutku menghantam lemari saat itu. Kau lah pembunuhnya Frank! Kau yang membunuhnya!” teruaknya seperti orang gila.
Wajah Franklin pucat pasi. Bukan hanya karena kata kata Helena yang benar, tapi bagaimana cara Helena mempermalukannya di depan kekasih kecilnya itu.
“Kau yang salah. Kalau kau tidak mencoba melukai Laiya, apa aku akan mendorongmu. Semua ini karena kecerobohanmu! Dasar wanita sialan!” umpatnya menuding wajah Helena penuh amarah.
“Kau sendiri yang membunuh anakku!” sengitnya sebelum berlalu meninggalkan Helena yang terjatuh di lantai
Helena yang melihat kepergian Franklin itu menangis histeris. “Kau tidak boleh pergi! Franklin! Kau harus kembali!” teriaknya seperti oang gila.
Namun, Franklin sama sekali tak mempedulikannya. Sikap Franklin benar benar kontras dengan sikap Franklin di masa lalu.
Di masa lalu, Franklin akan memanjakannya. Membantunya, dan bersikap seperti anjingnya
Namun, sekarang, sikap Franklin benar benar seperti bajingan. Jika Helena mau sedikit intropeksi, bukankah semua yang ia dapatkan saat ini sepadan dengan segala kejahatan yang dia lakukan? Baik pada Franklin, mau pun wanita wanita tak bersalah di luar sana, yang ia renggut paksa kebahagiannya, bahkan nyawanya.
“Kak Helen, kak Helen, kenapa kakak duduk di lantai. Dimana suami kakak? Di mana mama?” pertanyaan dengan nada penuh kekhawatiran itu membua Helena yang menangisi nasibnya saat ini langsung mendongak.
Matanya bertemu dengan tatapan khawatir Selena. Melihat penampilan Selina saat ini, dan bagaimana protektifnya Maxime yang menjaga selina, ia seolah menemukan seseorang yang bisa ia jadikan pelampiasan amarahnya.
“Selina, semua ini gara gara kau!” tudingnya marah.
Selina yang baru saja hendak membantu Helena berdiri tertegun. Lebih tertegun lagi saat Helena hendak menyerangnya.
“Kau harus mati! Selina, kau dan anakmu harus mati!” teriaknya yang entah memiliki kekuatan dari mana menerjang Selina.
Maxime yang berada di belakang Selina membelalakkan mata. Ia melihat dengan jelas, bagaimana tangan Helena dengan kuat mendorong tubuh Selina, tepat di perut wanitanya.
“SELINA!” teriak Maxime panik.
Begitu pula dengan sistem yang sama sekali tidak tahu dengan rencana tuannya itu.
[“TUAN!”]