Desi adalah seorang guru di sebuah sekolah negeri, saat ini ia memiliki 3 orang anak. Si sulung bernama Bagas, adiknya Rafi dan si bungsu bernama Aqilla. Jarak umur mereka rata-rata 2 tahun. Kehidupan rumah tangga Desi awalnya baik-baik saja. Namun, kebutuhan ekonomi yang kian mendesak membuat suami Desi mencoba mencari pekerjaan di luar kota. Suami Desi bekerja di luar kota demi untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, siapa sangka ternyata Ridwan menikah lagi diam-diam tanpa sepengetahuan Desi. Akibatnya, Ridwan menjadi abai dengan nafkah untuk anak-anaknya. Bahkan seringkali tidak memberi nafkah sama sekali, sehingga Desi harus berjuang seorang diri untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ya, anak-anaknya memiliki ayah tapi nasib mereka tak jauh berbeda dari anak yatim yang tidak memiliki ayah. Bahkan terkadang untuk makan pun Desi harus berhutang. Sungguh menyedihkan kehidupannya. Pernikahannya bagai tergantung.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yayuk riyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18. Resmi Menjadi Guru P3K
Selesai pemberkasan, Desi dan Mila tinggal menunggu SK P3K nya keluar. Katanya bulan-bulan ini SK nya keluar. Desi menanti dengan hati yang deg-deg an dan bahagia. Dia berharap, ini menjadi langkah awal untuk kesuksessannya dan juga kebahagiaan anak-anaknya. Namun, Desi sengaja tidak memberitahukan kepada suaminya. Untuk apa, selama ini juga suaminya tidak pernah memperhatikan nafkah untuknya dan anak-anak. Desi berjuang sendiri untuk anak-anaknya. Namun, Desi tidak mau mengeluh lagi. Hanya membuatnya capek, menangis juga tidak ada gunanya. Dan akan membuat rezeki sempit jika selalu mengeluh. Desi sudah bahagia dengan apa yang sudah dia raih selama ini. Dia tidak mau terlalu pusing dengan urusan rumah tangganya lagi. Pernikahannya seperti digantung, memiliki suami tapi tidak mendapatkan nafkah lahir dan bathin.
"Mungkin lebih baik jadi janda saja.' , bathin Desi.
Namun, dia segera membuang jauh-jauh pikiran itu. Saat ini, dia hanya ingin fokus dengan anak-anaknya saja. Dia tidak mau menambah pikiran lagi.
Saat ditunggu-tunggu pun tiba. Hari ini, SK P3K Desi sudah keluar. Desi dan Mila bersiap-siap ke dinas pendidikan untuk pengukuhan dan penyerahan SK. Desi mengenakan seragam putih hitam juga memakai dasi.
"Des, akhirnya perjuangan kita sudah berhasil. Tidak sia-sia setiap hari kita belajar untuk tes P3K kemarin ya." , ucap Mila.
"Iya Mil. Alhamdulillahi rabbil 'alamiin. Saya bersyukur sekali Mil. Akhirnya ada rezeki untuk anak-anak saya." , jawab Desi.
"Iya Des. Ayok kita berangkat biar nggak telat." , ajak Mila.
"Iya, ini sudah siap kok.Ayok jalan." , jawab Desi.
Kemudian mereka pergi ke kantor dinas pendidikan untuk mengikuti acara pengukuhan dan penyerahan SK. Setelah semua acara selesai, Desi dan Mila kembali ke sekolah karena ini masih jam dinas.
Sesampainya di sekolah, teman-teman sesama guru memberi ucapan selamat atas keberhasilan yang telah diraih. Desi dan Mila sangat bahagia.
Sepulang dari sekolah, Desi tidak lupa menjemput Aqilla di rumah mbok Muna. Aqilla senang sekali melihat mamanya datang.
"Mama, mama, bawa apa?" , tanya Aqilla.
"Mama nggak bawa apa-apa sayang. Nanti kita beli jajan di warung dekat rumah aja ya." , jawab Desi.
"Iya ma, yang banyak ya belinya." , pinta Aqilla.
"Iya sayang. "
"Mbok, makasih banyak ya mbok sudah jagain Aqilla. Nanti insyaallah pas saya gajian ada sedikit rezeki buat mbok." , ucap Desi.
"Nggak usah bu, nggak papa. Mbok ikhlas kok. Simpan aja uang ibu buat anaķ-anak." , jawab mbok.
"Baik sekali hati mbok. Saya beruntung bisa mengenal mbok. Makasih banyak ya mbok." , balas Desi.
"Sama-sama bu. Jangan dilebih-lebihkan bu. Biasa aja." , jawab mbok lagi.
"Iya mbok, saya pamit ya. Assalamu'alaikum." , jawab Desi.
"Wa'alaikumsalam." , jawab mbok Muna.
Kemudian Desi dan anak-anaknya pulang dengan berjalan kaki. Kebetulan rumah mbok Muna juga tidak terlalu jauh.
Sesampainya di rumah, Desi dan anak-anaknya beristirahat dulu melepas lelah. Mereka tidur siang. Sore harinya, Desi membuat es mambo untuk jualan besok kemudian memasak untuk makan malam dia dan anak-anak.
Seperti itulah kegiatan Desi sehari-hari. Walaupun tanpa kehadiran ayah nya, anak-anak Desi tetap tumbuh dengan ceria seperti anak-anak lainnya. Desi sangat bersyukur, anak-anak nya tidak menunjukkan kesedihan yang mendalam ataupun menuntut hal yang Desi tidak mampu untuk mewujudkannya.
Besok adalah hari minggu. Rencananya Desi akan mengajak anak-anaknya untuk mengunjungi nenek dan kakek nya. Kebetulan orang tua Desi tinggalnya tidak begitu jauh. Masih satu kota dengan tempat tinggal Desi. Anak-anak begitu senang saat diberitahu akan ke rumah nenek dan kakek nya.
Besoknya, mereka jadi akan berkunjung ke rumah nenek dan kakeknya. Mereka pun bersiap-siap. Desi dan anak-anak pergi naik taksi online. Di perjalanan, mereka begitu menikmati pemandangan di sepanjang jalan. Akhirnya, mereka pun sampai di rumah orang tua Desi.
"Nenek, kakek, kami datang." , teriak Bagas lantang memanggil nenek dan kakeknya.
"Eh...cucu-cucu nenek datang. Kok nggak ngasih kabar kalau kesini?" , tanya nenek.
"Iya nek. Surprice...." , jawab Rafi.
"Iya....iya...nggak papa. Nenek seneng banget kalian semua datang." , jawab nenek.
"Mana kakek nek? Aku mau main sama kakek." , tanya Bagas.
"Kakek lagi di belakang perbaiki keran air yang lepas. Sebentat lagi juga selesai." , jawab nenek.
"Kami ke belakang ya nek. " , tanya mereka.
"Iya sana. Cari kakekmu di belakang." , jawab nenek.
Sesampainya di belakang, anak-anak mengagetkan kakeknya. Mereka berebutan memeluk kakek nya dari belakang.
"Kakek....kami datang." , ucap Bagas dan Rafi.
"Ya Allah, cucu-cucu kakek datang." , jawab ayah Desi.
"Iya kek. Bagas sama Rafi mau main sama kakek." , ucap mereka.
"Ya, sebentar ya, kakek masih perbaiki keran air ini." , jawab kakek.
Setelah kakek selesai memperbaiki keran air, kakek langsung mengajak cucu-cucunya bermain. Mereka sangat gembira bisa bermain dengan kakek mereka. Setelah puas bermain, mereka beristirahat dulu lalu makan sama-sama. Selesai makan, mereka berbincang-bincang.
"Kakek kapan mau nginap di rumah kami?" , tanya Bagas.
"Iya kek, kapan? Rafi ingin main sama kakek lagi. " , tanya Rafi.
"Iya sabar ya. Tunggu kakek pensiun nanti, baru kakek akan nginap di rmh kalian." , jawab kakek.
"Masih lama kek." , jawab Bagas.
"Nggak kok, tahun depan kakek sudah pensiun. Nanti kita bisa main sepuasnya." , jawab kakek.
Setelah puas bermain seharian, sorenya mereka pulang kembali ke rumah mereka.
Sampai di rumah, anak-anak kecapean. Setelah mandi lalu makan terus langsung pada tepar. Karena besok hari senin, Desi pun tidur lebih awal agar bisa bangun pagi-pagi.
Hari pun berganti, seperti biasa Desi melakukan kegiatan paginya sebelum berangkat ke sekolah. Setelah semua rapi, mereka berangkat ke sekolah bersama.
Sesampainya di sekolah, mereka langsung beraktifitas seperti biasa. Hari senin diawali dengan upacara pengibaran bendera. Bapak kepala sekolah bertindak sebagai pembina upacara. Upacara berjalan dengan khidmat.
Selesai upacara, diumumkan anak-anak yang mendapatkan juara pada lomba Pentas PAI tibgkat kecamatan. Kepala sekolah merasa senang dan terharu atas juara yang telah diraih oleh anak-anak semua.
Saat jam istirahat, anak-anak berhamburan keluar kelas untuk beristirahat. Ada yang ke kantin sekolah juga ada yang jajan di gerbang sekolah.
Bagas dan Rafi tidak ikut jajan karena mereka membawa bekal makanan dari rumah.
Bagas menghampiri ke kelas adiknya untuk makan bekal bersama
"Masakan ibu enak ya kak." , ucap Rafi.
"Iya dong. " , jawab Bagas.
Mereka pun makan bersama-sama. Setelah habis, Bagas segera merapikan kotak bekal mereka untuk dibawa pulang kembali.
Bagas dan Rafi makan dengan perasaan gembira. Tidak lama kemudian, terdengar suara bel masuk. Anak-anak pun berhamburan masuk ke dalam kelasnya masing-masing. Sambil menunggu guru datang, anak-anak ada yang bermain.
pulang juga desi masih mau di tiduri ma laki nya pdhl laki nya gk peduli ma mereka kerja jauh krn punya gundik. desi tau tp masih mau berarti desi yg kecintaan ma lakinya. pdhl anak anak juga dia ngurus sendiri masih hrs kerja juga.
kl aku juga ogah jd desi.
kl Aku mnding cerai toh anak juga gk di nafkahi. cerai lbih jos bhgia walau tanpa suami.