"Apa kita berdua dijodohkan!" Celia dan Alfian sama-sama terpeki kaget ketika orang tua mereka merencanakan Perjodohan di masa muda mereka.
"Benar sekali," sahut Darius.
"Ini tidak masuk akal. Pa, kami berdua masih sekolah dan bahkan kami tidak akrab," sahut Alfian.
"Tenanglah Alfian, justru perjodohan ini akan membuat kalian akrab dan belajar untuk menuju hidup di masa depan," aahhh Darius.
Alfian dan Celia benar-benar tidak menyangka bahwa mereka akan dijodohkan, mereka sudah mencoba untuk protes, tetapi para orang tua itu menginginkan hubungan mereka diikat dalam ikatan pertunangan.
Alfian dan Celia saling bertukar cincin sebagai ikatan diantara mereka berdua jika ada hubungan spesial yang tidak akan terpisahkan oleh apapun.
Raut wajah Alfian dan Celia terlihat murung, tidak memiliki pilihan selain menuruti permintaan orang-orang dewasa.
Celia terpaksa melakukannya agar memiliki akses lebih luas untuk bisa sekolah di luar negeri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31 Study Tour
2 Bis besar sudah terparkir di pekarangan sekolah, hari ini murid-murid kelas 12 yang mendapat giliran akan mengikuti study tour.
"Baiklah anak-anak, sebelum kita melakukan perjalanan kita sebaiknya berdoa terlebih dahulu, doa di mulai!" Pak Tedy memberi arahan kepada murid-murid dengan mereka semua yang berdoa dengan khusyuk.
"Doa selesai," sahut pak Tedy.
"Bapak ingatkan sekali lagi untuk menjaga ketertibannya, perjalanan kita cukup jauh, terus berdoa dan jangan membuat kegaduhan, masuk secara antri kedalam Bis dan jangan saling mendahului, kalian harus ingat untuk memulai sesuatu harus dimulai dengan hal yang baik dan maka hasilnya juga akan baik," ucap pak Tedy.
"Baik. Pak," sahut semua murid-murid dengan serentak.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kalian masuk ke dalam Bis dengan tertib dan jangan ada saling dorong, saling mendahului satu sama lain!" tegas Pak Tedy.
"Baik Pak," sahut semuanya saling mengangguk satu sama lain akhirnya membubarkan barisan.
Mereka memasuki bus tersebut sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, murid-murid yang sudah masuk meletakkan barang-barang mereka ke dalam kabin bus dan tidak lupa dikunci dan kemudian mereka menduduki bus tersebut.
"Valery ayo duduk sini!" Kania mengajak Valery untuk duduk di sebelahnya.
Valery menganggukkan kepala dan mengikuti.
Kemudian Celia memasuki bus dan melihat tempat duduk yang kosong. Celia kemudian duduk bertepatan di pinggir jendela.
"Celia!" Chintya menegurnya.
"Boleh aku duduk di sini?" tanya Chintya.
"Boleh," jawab Celia tidak masalah sama sekali.
Chintya tersenyum memasukkan tasnya ke dalam kabin bis tersebut dan kemudian duduk di Celia.
Diego dan Yogi duduk secara bersamaan dan Alfian baru saja memasuki bus dari matanya langsung melihat Celia yang sudah mengobrol dengan Chintya. Alfian menghela nafas dan akhirnya mencari tempat duduk lain.
Alfian duduk bersama dengan Rafa yang juga sendirian, ketika semua murid-murid sudah dipastikan mendapat tempat duduk masing-masing dan mereka kembali berdoa untuk melanjutkan perjalanan, kemudian bis melaju dengan kecepatan santai.
Aktifitas seperti biasa yang dilakukan murid-murid SMA Bintang saat berada di dalam, mereka tampak bernyanyi bersorak gembira, saling membuat lelucon satu sama lain, bertepuk tangan untuk memberikan semangat, canda tawa mereka hadapi di dalam bus tersebut.
Celia juga menikmati pertunjukan di dalam bis yang membawa suasana begitu bahagia dan ceria, tetapi berbeda dengan Alfian yang ternyata tidak tertarik untuk melakukan apapun.
Alfian memilih untuk menutup matanya menggunakan penutup mata dan memakai earphone dengan kedua tangannya dilipat di dadanya dan sudah pasti dia saat ini sedang tidur.
"Bisa-bisanya dia tidur dengan suasana seperti ini, mengatakan aku tidak ingin berbaur dengan orang lain dan sementara dia yang memiliki dunia sendiri, lalu siapa yang sebenarnya sombong di sini," batin Celia tampak sewot.
"Cie....., kamu ternyata memperhatikan Alfian secara diam-diam!" goda Chintya menyadari arah pandang Celia.
"Tidak apaan sih," sahut Celia terlihat malu-malu.
"Tidak usah bohong Celia, sejak tadi aku memperhatikan, kamu terus saja melihat ke arah Alfian dan padahal ada pertunjukan yang menarik di dekat kita, jujur saja padaku sebenarnya kamu memiliki perasaan bukan dengan Alfian?" tebak Chintya.
"Kamu kok bisa mengambil kesimpulan seperti itu?" tanya Celia.
"Kelihatan dari mata kamu tidak bisa bohong, kamu sudah pasti memiliki perasaan pada Alfian, memang kalian berdua dijodohkan, tetapi bukan berarti perjodohan itu adalah awal mula dari kedekatan dan sudah pasti ada rasa yang tersimpan," ucap Chintya.
"Kamu bisa saja, aku tidak memperhatikannya dan mungkin kamu hanya salah pengertian saja," sahut Celia
"Suka dengan Alfian juga tidak apa-apa, dia tampan, pintar, kaya raya dan juga sangat populer di sekolah, ya sayangnya saja hanya sedikit pemalas dan selalu membuat masalah, merokok, bahkan juga dugaan pecandu narkoba," ucap Cynthia membuat Celia mengerutkan dahi.
"Maksud kamu?" tanya Celia.
"Kamu itu masih murid baru di SMA Bintang, tetapi seharusnya kamu juga tidak terlalu polos dan pasti sudah mengetahui isu-isu di sekolah bahwa Alfian termasuk murid yang mengonsumsi barang-barang haram seperti itu dan hanya saja kedua orang tuanya memiliki kuasa yang besar di sekolah dan membuat kasus itu tertutupi,"
"Sebenernya murid-murid SMA Bintang tidak terlalu pintar, dan seharusnya kamu bisa mendahului mereka, hanya saja mereka memiliki akses yang luas melalui orang tua mereka dan orang tua mereka akan mulai bergerak ketika ujian-ujian semester tiba dan bahkan ujian ulangan juga, mereka tidak ingin nama anak-anak mereka jelek dan mereka harus berjuang untuk meningkatkan prestasi melalui uang yang mereka miliki," ucap Chintya membuat Celia sejak tadi mengerutkan dahi.
Ini adalah berita yang pertama dia dapatkan, seolah-olah Chintya juga tidak mengakui kepintaran murid-murid SMA Bintang.
"Tetapi aku tetap berjuang untuk tetap pada juara agar tidak didahului oleh siapapun, dan pada intinya sekeras apapun aku ingin berusaha untuk menjadi peringkat pertama dalam umum, tetap tidak akan bisa didahului Alfian karena orang tuanya memiliki kuasa dan sementara aku harus berjuang sendiri, sama seperti kamu Celia, sekeras apapun kamu berusaha, kamu tidak akan bisa mendahului mereka, karena kamu tidak memiliki koneksi di sekolah," ucap Chintya.
"Tetapi kemarin aku berbicara dengan bu Widya wakil kepala sekolah, beliau justru memberikan semangat dan akses yang besar kepadaku agar aku mau belajar dan artinya masalah prestasi di sekolah ini jujur dilakukan tanpa campur tangan orang tua," sahut Celia.
"Masa iya, bu Widya harus mengatakan bahwa kamu tidak perlu bekerja keras, karena usaha yang kamu lakukan hanya akan sia-sia," jawab Chintya.
Celia tidak mudah mencerna apa yang dikatakan Chintya.
"Sudahlah yang terpenting kamu sudah berusaha dan berjuang, jika pada ujian semester nanti, nilai kamu masih menjadi yang terakhir, mungkin kamu benar-benar apes sih masuk ke sekolah yang salah yang bersaing bukan karena prestasi tetapi karena uang orang tua yang mengatur," ucap Chintya.
"Apa benar seperti itu? Kalau begitu aku hanya sia-sia saja masuk SMA Bintang. Tetapi kenapa dengan mudah Om Angga menempatkanku di SMA Bintang dan sudah pasti karena beliau memiliki koneksi," batin Celia saat ini terlihat mulai meragukan sesuatu.
"Valery!" Kania menegur Valery dengan menyenggol lengannya.
"Kenapa?" tanya Valery.
"Chintya aneh sekali mencari teman seperti Celia? Apa coba maksudnya?" tanya Kania.
"Lo nyuruh gue untuk memikirkan apa maksudnya berteman dengan Celia?" tanya Valery.
Kania menganggukkan kepala.
"Kania, masalah yang terjadi sama gue sudah begitu banyak dan gue tidak punya waktu untuk mencari tahu hal itu, lagi pula berurusan dengan Chintya bukanlah suatu hal yang harus gue kejar, sejak awal dia selalu ingin menjadi saingan gue dan gue sudah capek berurusan dengannya dan terserah dia mau mencari teman siapa," jawab Valery masa bodoh.
"Iya juga sih, tetapi kalau dilihat-lihat dia tuh seperti ada maunya deh, masa iya harus menurunkan harga dirinya untuk berteman dengan cewek kampungan itu, jika tidak punya sesuatu hal yang menguntungkan," ucap Kania sejak tadi memperhatikan kedekatan Celia dan Chintya.
"Penting banget harus mengurus hal-hal seperti itu, sudahlah sebaiknya lo tidur aja," sahut Valery benar-benar cuek yang tidak ingin membahas apapun.
Bersambung......