NovelToon NovelToon
Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Rahimku Diangkat Suamiku Menikah Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa / Penyesalan Suami / Penyesalan Keluarga
Popularitas:10k
Nilai: 5
Nama Author: Almesha

Tiga tahun Davira bertahan dalam pernikahan perjodohan yang dingin dengan Arka. Baginya, Arka adalah satu-satunya tempat bersandar setelah ayahnya meninggal karena bangkrut dan adik laki-lakinya hilang tanpa kabar di luar negeri. Davira terus bertahan, berharap kehadiran seorang anak kelak bisa melunakkan hati suaminya.

Namun, takdir justru merenggut segalanya dalam semalam. Di saat dokter memvonisnya menderita kanker rahim stadium 3 dan harus mengangkat rahimnya.

Bukannya mendapat perlindungan, Davira malah dihujat mandul oleh ibu mertua dan adik iparnya. Arka yang tega bahkan memberinya ultimatum: menerima Sheila sebagai istri kedua, atau pergi dari rumah tanpa membawa sepeser pun uang.

Di titik terendah hidupnya, hati Davira mati. Dia memilih pergi membawa luka dan penyakitnya. Davira bersumpah akan sembuh, bangkit, dan kembali untuk membuat Arka beserta keluarganya membayar mahal setiap tetes air mata dan penghianatan keji ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Almesha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Senjata Tersembunyi di Kalimantan

Malam kian melarut saat mobil Rolls-Royce Phantom milik Adrian meluncur membelah jalanan Jakarta yang basah oleh sisa hujan. Di dalam kabin yang senyap dan hangat, Elvano sudah tertidur lelap di pangkuan Vira, tertutup selimut wol tebal.

Adrian memandangi wajah istrinya dari samping. Pria itu mengulurkan telapak tangannya, merengkuh jemari Vira yang terasa halus namun dingin, lalu mengusapnya lembut dengan ibu jarinya.

"Kamu mengatasinya dengan sangat luar biasa malam ini, Vira," bisik Adrian, suaranya bariton rendah penuh kekaguman. "Nenek bukanlah orang yang mudah memberikan pengakuan pada siapa pun. Dalam sepuluh tahun terakhir, kamu adalah orang pertama yang membuat Bibi Rosalin dan Bibi Catherine tidak bisa berkutik di meja makan itu."

Vira membalas genggaman tangan suaminya, mengulas senyuman tipis yang memancarkan ketenangan. "Aku sudah lelah menjadi wanita yang selalu diam saat dipojokkan, Adrian. Masa lalu mengajarkanku bahwa berdiam diri di hadapan orang yang berniat jahat hanya akan membuat mereka semakin menginjak-injak kita. Sekarang, aku punya kamu, Reno, dan Elvano... tidak ada alasan bagiku untuk ragu berdiri tegak."

Adrian mengecup punggung tangan Vira dengan ketulusan yang mendalam. "Dan aku akan selalu berdiri di belakangmu sebagai benteng terkuatmu."

Ponsel kerja Adrian yang berada di saku jasnya mendadak bergetar secara berkala. Adrian merogohnya, menatap layar yang menampilkan nama Reno Mahendra. Dengan gerakan cepat, pria itu menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel itu di telinganya.

"Reno? Ada perkembangan baru mengenai bursa Singapura?" tanya Adrian langsung pada intinya.

"Lebih dari sekadar bursa, Tuan Adrian," suara Reno di seberang telepon terdengar sangat serius dan dingin. "Gavin dari Verona Capital baru saja mendarat di Jakarta dua jam yang lalu. Dia telah melayangkan surat tuntutan klaim sengketa lahan tambang Kalimantan kepada tim hukum V-Tech lewat pengadilan arbitrase internasional di Singapura."

Mata elang Adrian seketika berkilat tajam. "Berapa besar klaim yang mereka ajukan?"

"Mereka menuntut penghentian seluruh operasional anak perusahaan tambang kita serta ganti rugi sebesar lima ratus juta dolar Amerika," jawab Reno. "Mereka membawa berkas perjanjian pengalihan hak guna usaha yang ditandatangani oleh Siska Narendra tiga tahun lalu, lengkap dengan stempel notaris dan bukti transfer dana."

Vira yang duduk di samping Adrian bisa mendengar sayup-sayup percakapan tersebut. Alisnya yang terukir indah bertaut rapat.

"Gavin memanfaatkan celah hukum dari kecurangan Siska di masa lalu," gumam Vira setelah Adrian menutup sambungan telepon. "Siska menjual klaim palsu itu saat dia sadar posisi keluarga Narendra mulai goyah, untuk mengamankan uang tunai lepas pantai."

"Ini bukan sekadar sengketa lahan biasa Reno." pangkas Adrian tegas. "Verona Capital sengaja menggunakan momentum merger kita untuk menjatuhkan nilai saham Atmadja Group di bursa global. Jika kita membiarkan kasus ini menggantung di arbitrase Singapura, kepercayaan investor internasional akan terguncang."

Vira menatap lurus ke depan, otaknya yang cerdas berputar cepat menyusun setiap kepingan puzzle yang ditinggalkan almarhum ayahnya.

"Ibuku adalah orang yang sangat teliti, Adrian," ujar Vira penuh kepastian. "Saat membeli lahan tambang di Kalimantan, Beliau selalu membuat peta batas tanah dan sertifikat hak milik ganda yang disimpan di dalam brankas besi privat milik keluarga Mahendra di Bank Central Zurich. Siska hanya memegang salinan dokumen hak operasional lokal yang sudah kadaluarsa."

Adrian menoleh, menatap istrinya dengan penuh rasa bangga yang tak terhingga. "Emas di brankas Zurich?"

Vira mengangguk mantap. "Bukan sekadar dokumen... di dalam brankas itu juga terdapat buku catatan keuangan asli yang mencatat aliran dana penyuapan Siska Narendra kepada notaris yang menandatangani berkas tersebut. Kita punya senjata utama untuk menghancurkan Gavin sebelum dia sempat menginjakkan kaki di ruang sidang arbitrase."

Keesokan harinya, di suite mewah Hotel Indonesia Kempinski Jakarta, Gavin, pria berpaspor Eropa dengan setelan jas mahal berharga ribuan euro sedang duduk santai menyesap wiski sembari memandangi pemandangan Bundaran HI dari jendela kaca.

Di hadapannya, tiga orang pengacara internasional senior sedang merapikan berkas-berkas tuntutan terhadap V-Tech dan Atmadja Group.

"Tuan Gavin," ujar pengacara utamanya. "Pihak V-Tech telah menerima surat panggilan pemeriksaan awal dari perwakilan arbitrase Singapura yang ada di Jakarta sore ini. Apakah Anda yakin pihak Adrian Atmadja tidak akan mengambil jalur damai di luar pengadilan?"

Gavin terkekeh dingin, memutar-mutar gelas wiski di tangannya. "Adrian Atmadja adalah pria yang terlalu sombong untuk menyerah. Tapi kali ini, dia tidak punya pilihan. Dokumen yang ditinggalkan Siska Narendra sangat rapi. Bahkan jika dokumen itu cacat hukum di Indonesia, pengadilan arbitrase internasional akan membekukan aset tambang itu selama bertahun-tahun selama proses penyidikan. Pembekuan itu sudah cukup untuk membuat saham Atmadja Group anjlok dua puluh persen."

Sebelum pengacara tersebut sempat membalas, pintu suite mendadak diketuk dengan ketukan yang teratur dan penuh wibawa.

Sopir pribadi Gavin membuka pintu. Dua orang pria bertubuh tegap berpakaian setelan hitam melangkah masuk, diikuti oleh Reno Mahendra yang berjalan dengan aura kepemimpinan yang dingin.

Gavin berdiri dari kursinya, menyunggingkan senyum meremehkan. "Ah, Mr. Reno Mahendra... CEO muda V-Tech. Apakah Anda datang untuk membawa cek ganti rugi agar kasus ini selesai tanpa keributan?"

Reno tidak tersenyum. Pria muda itu menarik kursi di hadapan Gavin dan duduk dengan santai, melipat kedua tangannya di atas meja.

"Aku datang bukan untuk membawa uang, Tuan Gavin," ujar Reno tenang, suaranya sangat mengintimidasi. "Aku datang untuk membawakanmu tiket penerbangan kembali ke Eropa sebelum kamu membusuk di penjara Indonesia atas tuduhan penampungan dana hasil kejahatan dan konspirasi pemalsuan aset."

Wajah Gavin sedikit berubah. "Apa maksudmu?"

Reno memberi isyarat tangan. Salah satu pengawalnya meletakkan sebuah dokumen tebal berstempel kedutaan besar Swiss di atas meja, tepat di depan Gavin.

"Ini adalah salinan sertifikat kepemilikan mutlak lahan Kalimantan yang dikeluarkan langsung oleh otoritas pertanahan Swiss dan Indonesia, atas nama tunggal almarhum Ibuku bukan atas nama Siska Narendra," terang Reno dengan tatapan mata setajam sembilu. "Dan di lembar berikutnya... kamu bisa melihat bukti analisis forensik digital bahwa transfer dana yang dilakukan Verona Capital kepada Siska tiga tahun lalu adalah tindakan money laundry atau pencucian uang gelap dari rekening lepas pantai di Cayman Islands."

Gavin membelalakkan matanya saat membuka halaman demi halaman dokumen tersebut. Keringat dingin mulai membasahi dahi pria Eropa itu. Semua transaksi rahasia yang ia kira tersembunyi rapi di perbankan luar negeri kini terpapar dengan sangat jelas di depan matanya.

"Bagaimana... bagaimana kalian bisa mendapatkan akses ke brankas Zurich sejauh ini?" bisik Gavin dengan suara bergetar.

Reno menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin, senyuman yang persis seperti milik kakaknya, Vira.

"Kamu lupa dengan siapa kamu berhadapan, Gavin." pangkas Reno tegas. "Nyonya Vira Atmadja adalah pemilik sah seluruh identitas dan aset keluarga Mahendra. Tuan Adrian Atmadja telah mendaftarkan gugatan balik atas tindakan pencemaran nama baik dan pemerasan internasional terhadap konsorsiummu pagi ini. Kamu punya waktu dua puluh empat jam untuk menarik seluruh tuntutanmu di Singapura, atau nama Verona Capital akan hancur permanen di seluruh bursa saham Eropa!"

Gavin merosot jatuh kembali ke kursinya. Gelas wiski di tangannya terlepas, jatuh menghantam karpet mahal tanpa suara. Rencana besar yang ia susun untuk menjebak dinasti Atmadja hancur lebur hanya dalam hitungan menit di tangan dokumen rahasia keluarga Mahendra.

Sementara itu, di dalam ruang kerja utama Atmadja Tower, Vira berdiri di samping meja kerja Adrian, menyaksikan laporan berita bisnis melalui layar televisi besar.

BREAKING NEWS: Konsorsium Verona Capital Resmi Menarik Seluruh Tuntutan Hukum Terhadap V-Tech dan Atmadja Group. Saham Atmadja Group Melonjak Hingga 15 Persen di Bursa Singapura.

Vira bernapas lega, menyandarkan tubuhnya ke tepi meja.

Adrian berdiri dari kursi kebesarannya, melangkah mendekati Vira, lalu melingkarkan kedua lengannya di pinggang sang istri. Ia menyandarkan dahinya di dahi Vira, menatap mata bening wanita yang selalu berhasil membuatnya kagum itu.

"Satu musuh luar lagi ditumbangkan dengan sangat sempurna oleh Nyonya Atmadja," bisik Adrian dengan suara baritonnya yang teramat hangat.

Vira tersenyum, menyentuh rahang tegas Adrian dengan lembut. "Kita melakukannya bersama, Adrian. Bukan hanya sebagai mitra bisnis, tapi sebagai suami istri."

Adrian mendaratkan sebuah kecupan hangat di bibir Vira, mengunci kebahagiaan mereka di atas puncak kejayaan.

Namun, di balik kemenangan besar atas Verona Capital, sebuah bayangan baru di dalam negeri mulai bergerak. Di dalam Lembaga Pemasyarakatan Khusus Tahanan Wanita, Siska Narendra yang terbaring sakit di bangsal penjara menerima kunjungan rahasia dari seorang pria misterius berpakaian serba hitam...

1
Yeni Wahyu Widiasih
kalo banyak uang bisa transplantasi rahim ke LN..
Ariany Sudjana
puji Tuhan, congrats yah Adrian dan Vira 😄😄🙏
Ariany Sudjana
itulah hukum tabur tuai arka dan Shella, jalani saja 🤣🤣😂😂 kan keinginan kamu sendiri membuang batu permata demi batu kerikil 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
hahaha mampus kalian berdua 😂😂🤣🤣 selamat menikmati hidup di penjara 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha kamu menyesal arka? itulah hukum tabur tuai, nikmati saja konsekuensinya. kain ini pilihan kamu dan pelacur murahan kesayangan kamu itu 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
ayo Vira, coba buka hati kamu, laki-laki seperti Adrian dan elvano yang akan menyembuhkan luka di hati kamu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!