NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang Mafia

Penyesalan Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Irh Djuanda

"Hentikan, Jose!"
"Kau akan menyesal!" ucap Eva merintih kesakitan.

Jose tak menggubrisnya sama sekali. Bahkan ia dengan tega meminta pengawalnya untuk memukul Eva lebih keras.

"Jangan bersandiwara, Eva. Kau telah menyakiti Luna."

Mata Eva membelalak, Eva tak menyangka disaat seperti ini suaminya masih membela gadis yang telah memfitnahnya.

"Kau salah, Jose. Aku tak pernah menyentuh Luna. Apa lagi menyakitinya," balas Eva.

"Cukup, Eva! Berhenti berpura-pura. Luna adalah korban. Jangan mencoba menyangkalnya," ucap Jose dingin.

"Baiklah, Jose. Aku menerima apapun. Tak aku tidak akan pernah memaafkan mu jika sesuatu terjadi padaku dan..."

"Pukul dia lebih keras!" potong Jose, seakan tak ingin lagi mendengar sepatah kata pun dari Eva.

Plak Plak Plak

"Hentikan...Aku mohon padamu," rintih Eva lagi, namun kini suaranya lirih dan sudah kehabisan tenaga.

Bulir bening mengalir begitu saja dari pipinya. Eva memegang erat perutnya merasakan sakit di dalam sana. Hingga ia menatap bawa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irh Djuanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Escobar Khawatir

Malam yang semula tenang mendadak berubah mencekam. Di dalam ruang kerja yang luas dan diterangi lampu temaram, Escobar tengah menandatangani beberapa dokumen. Pria paruh baya itu tampak tenang, hingga suara ketukan tergesa-gesa memecah keheningan.

TOK! TOK! TOK!

"Masuk."

Pintu terbuka.

Seorang anak buah berjas hitam masuk dengan napas memburu. Wajahnya terlihat tegang.

"Selamat malam, Tuan."

Escobar mengangkat wajahnya perlahan.

"Ada apa?"

Anak buah itu menelan ludah.

"Tuan Jose diserang."

DEG!

Pulpen di tangan Escobar terhenti.

"Apa kau bilang?"

"Tuan Jose diserang, Tuan."

Escobar langsung berdiri dari kursinya.

"Bagaimana kondisinya?"

"Beliau terkena tembakan."

Sorot mata Escobar berubah tajam.

"Siapa pelakunya?"

"Itu yang belum kami ketahui."

Escobar berjalan menuju jendela besar di belakang meja kerjanya.

"Kapan kejadiannya?"

"Beberapa jam yang lalu."

"Lalu kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?"

Anak buah itu langsung menundukkan kepala.

"Maaf, Tuan. Jalur komunikasi kami seperti sengaja diputus. Baru beberapa menit lalu kami berhasil mendapatkan laporan."

Escobar mengepalkan tangannya.

"Jose..." gumamnya pelan.

Ia mengenal Jose sebagai pria yang sangat berhati-hati. Sulit membayangkan seseorang mampu melukainya.

"Katakan semuanya."

Anak buah itu segera membuka sebuah map.

"Menurut informasi yang kami terima, Tuan Jose sedang memindahkan Nyonya Eva dari rumah sakit."

"Di tengah perjalanan mereka disergap."

"Tuan Jose melindungi Nyonya Eva dan terkena tembakan."

Escobar terdiam.

"Eva..."

Ia mengulang nama itu pelan.

"Jadi... wanita itu benar-benar telah menjadi kelemahan Jose."

Anak buah itu kembali berbicara.

"Setelah itu mereka berhasil meloloskan diri."

"Namun lokasi persembunyian Tuan Jose sampai sekarang tidak diketahui."

Escobar membalikkan badan.

"Siapa saja yang mengetahui operasi pemindahan itu?"

"Hanya Tuan Jose, Erick, dokter, dan beberapa orang kepercayaan."

Escobar mengernyit.

"Kalau begitu..."

Ia menatap anak buahnya tajam.

"...ada seseorang yang membocorkan informasi."

Ruangan kembali sunyi.

Beberapa detik kemudian Escobar mengambil ponselnya.

Hubungan pertama.Tidak aktif.Hubungan kedua.Tidak tersambung.Escobar mengembuskan napas pelan.

"Masih hidup..." gumamnya.

"Kalau Jose masih bisa memutus semua komunikasi, berarti dia belum kalah."

Ia menyerahkan ponselnya kepada anak buah itu.

"Kerahkan orang-orang kita.Tapi ingat."

Suara Escobar berubah dingin.

"Jangan mencari Jose."

Anak buah itu tampak bingung.

"Lalu apa yang harus kami lakukan, Tuan?

"Cari siapa yang menyerangnya.Aku ingin mengetahui siapa yang cukup berani menembak orang yang berada di bawah perlindunganku."

Anak buah itu mengangguk mantap.

"Baik, Tuan."

Saat pria itu hendak keluar, Escobar kembali memanggilnya.

"Tunggu."

"Ya, Tuan?"

"Kalau Jose menghubungiku..."

Escobar memandang keluar jendela, ke arah langit malam yang gelap.

"...jangan katakan bahwa aku mengirim orang untuk mencarinya."

"Dia tidak suka dicampuri. Namun kalau ada yang berani menyentuh keluarganya..."

Sorot mata Escobar berubah sedingin es.

"...pastikan mereka menyesali keputusan itu."

"Baik, Tuan."

Pintu kembali tertutup.Escobar berdiri sendirian di ruang kerjanya.Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasakan firasat buruk.

Karena ia tahu...

Serangan terhadap Jose bukan sekadar percobaan pembunuhan.Melainkan awal dari perang yang jauh lebih besar.

***

"Jose terluka? Siapa yang berani mengusiknya?" gumam Luna.

Sejak tadi ia mondar-mandir di kamarnya.Namun bukannya merasa cemas. Luna seakan merasa lega dengan kejadian yang menimpa Jose. Dengan begitu, Jose tak akan melanjutkan penyelidikan atas tuduhan terhadapnya.

"Tapi... bukankah itu baik untukku? Itu artinya Jose tidak akan melanjutkan penyelidikannya."

Tiba-tiba ponselnya berdering. Luna menatapnya sekilas. Nama "Papa" muncul di layar. Luna berjalan mendekat, mengambil ponsel itu lalu menggeser tombol hijau di layar.

"Papa..."

"Kau yang melakukannya?"

Luna mengernyit, "Maksud Papa... mencurigai ku?"

"Sudah ku katakan padamu jangan menyentuh Eva lagi. Tapi kau tetap melakukannya?"

Luna tertawa keras.

"HAHAHAHAHA!"

"Pa... Aku tidak memiliki kekuatan seperti itu. Aku juga menyesal hal demikian terjadi pada Jose."

"Aku memang membenci Eva... tapi aku tidak suka melihat Jose terluka." tambahnya.

Diujung telepon terdengar suara helaan napas panjang.

"Luna... Ayah harap kau tidak berbohong. Jika kau melakukan itu maka Ayah yang akan menghukum mu."

Luna terdiam sesaat. Ia sadar Ayahnya sendiri sudah tidak mempercayai dirinya sendiri. Padahal... sejak kecil Ayahnya sangat menyayanginya. Bahkan rela melakukan apa pun untuknya. Namun, setelah Jose menemukan wanita yang menjadi pendamping hidupnya, Escobar seakan melepas tangannya untuk memberikan apa yang seharusnya miliknya.

Luna menggenggam ponselnya semakin erat. Buku-buku jarinya memutih karena menahan emosi.

"Baik, Pa," ucapnya lirih.

KLIK.

Sambungan telepon terputus. Beberapa detik kemudian...

BRAK!

Luna melempar ponselnya ke atas sofa. Napasnya memburu. Dadanya naik turun menahan amarah yang selama ini ia pendam.

"Kenapa..."

Air matanya mulai menggenang.

"Kenapa semuanya berubah setelah Eva datang?"

Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar yang luas itu.

"Dulu... aku adalah putri yang paling Ayah banggakan. Semua yang kuinginkan selalu Ayah berikan. Tapi sekarang..."

Luna menoleh ke arah sebuah foto keluarga yang terpajang di atas meja.Di dalam foto itu terlihat Escobar yang masih lebih muda, berdiri dengan satu tangan di bahu Jose dan tangan lainnya merangkul Luna yang saat itu masih remaja. Ketiganya tersenyum.Luna mengambil bingkai foto itu.Tatapannya terpaku pada sosok Jose.

"Sejak kau menikahi Eva... Semuanya berubah."

Air mata menetes satu per satu.

"Dulu Ayah selalu membelaku.Tapi sekarang..."

Ia tersenyum pahit.

"...Ayah lebih memilih mempercayaimu."

Tanpa sadar, jemarinya mencengkeram bingkai foto itu semakin kuat.

PRAANG!

Bingkai kaca itu pecah di tangannya.

Pecahan kaca melukai telapak tangannya hingga darah menetes ke lantai.

Namun Luna sama sekali tidak merasakan sakit.

Ia hanya terus menatap wajah Jose dalam foto yang kini telah retak.

"Kenapa... Kenapa harus Eva? Kalau saja wanita itu tidak pernah muncul... Jose pasti tetap menjadi milikku."

Matanya berubah merah.

Suara ketukan pelan terdengar dari balik pintu.

TOK... TOK...

"Nona Luna?"

Luna buru-buru mengusap air matanya.

"Apa?"

Seorang pelayan membuka pintu sedikit.

"Makan malam susah siap, Nona."

Luna menggeleng pelan.

"Nanti saja. Aku tidak lapar."

"Baik, Nona."

Pelayan itu hendak menutup pintu.

"Tunggu."

Pelayan itu kembali menoleh.

"Dimana Rafael? Sudah beberapa hadi aku tak melihatnya."

Pelayan tampak ragu sebelum menjawab.

"Sudah beberapa hari ini... dia tidak datang, Nona."

Setelah mengatakan itu, pelayan menundukkan kepala lalu pergi. Pintu kembali tertutup. Luna mengepalkan tangannya.

"Oh... jadi Rafael sudah berani melawan ku."

Luna mengambil ponselnya. Layarnya retak. Ia menghela napas kasar.

"Sial!"

Luna melangkah ke samping ranjang. Disana ada rak laci besi. Luna membukanya perlahan lalu mengambil ponsel sekali pakai. Lalu menghubungi orang-orang yang biasa melakukan sesuatu untuknya.

"Cari tahu di mana Rafael sekarang! Kalau sudah ketemu... cepat kabari aku!"

1
Anonim
Mantap
Anonim
Menstik
Dark Mystic
Eva, jgn tolol yaa
Anonim
Lanjut
Anonim
💪💪💪💪
Dark Mystic
Hei, Luna.
belajar sono dari Ragna yg punya bapak setengah sinting setengah waras sana.
jadi anak mafia kok bulol plus obses payah sih🤣

pak Escobar juga terlalu manjain sih. didik tuh anakmu dgn benar. bukan dukung jadi pelakor.
Dark Mystic
kembaran Luna?
atau ada yg sengaja buat wajahnya semirip mungkin?
Anonim
Baper 😄😄
shanie shaniee: kiw kiw 🤭🤭
total 1 replies
Anonim
Tegang ni ye 😄😄😄
Anonim
Wah semakin seru 🤭🤭
Anonim
Heeeemmm
Dark Mystic
aku suka ama kebaikanmu, Jose.
tapi, kau nggak tau, selingkuhan mu itu dekat dengan musuhmu
Dark Mystic
sejauh ini, tulisannya rapi, alurnya mudah dipahami.
semangat.
jangan lupa mampir di karya aku..
Anonim
Seru nya
Anonim
Mantap
Dark Mystic
halah, pret.
udah nyiksa malah ngatain cinta.
dulu kemana, Jose?
Dark Mystic
heh, Jose. sepertinya kau perlu diterapi nih.
mau ketemu sama tokoh aku nggak?
btw, Eva. kalau kau sudah dengar pengakuan Jose, jgn ampuni dia, ya.
Dark Mystic
harusnya Jose bisa bedain suara orang bohong dan jujur.
padahal udah jadi mafia selama beberapa tahun loh.
pasti pengalamannya banyak dan udah bertemu banyak orang.
Dark Mystic
mafia nya kok gini ya?
mudah banget dikibulin
Dark Mystic
Erick, kau pintar.
nggak kayak bosmu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!