NovelToon NovelToon
Istri Paruh Waktu

Istri Paruh Waktu

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa Fantasi
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: aurora23

Nadira terpaksa menerima pernikahan kontrak dengan seorang CEO dingin bernama Arka Mahendra demi melunasi utang ayahnya. Dalam perjanjian itu, ia hanya akan menjadi "istri paruh waktu"—seorang istri yang hadir saat keluarga besar membutuhkan, tetapi tak pernah benar-benar dicintai.
Arka masih terikat pada cinta masa lalunya, Selena, yang tiba-tiba kembali setelah bertahun-tahun menghilang. Tanpa ragu, Arka mengabaikan Nadira dan diam-diam menjalin hubungan kembali dengan Selena, membuat Nadira berkali-kali dipermalukan.
Semua orang menganggap Nadira hanyalah perempuan miskin yang mengejar harta keluarga Mahendra. Namun, di balik sikap lembutnya, ia menyimpan identitas yang tak seorang pun ketahui.
Ketika penghianatan demi penghianatan terus terjadi, Nadira memilih pergi tanpa membawa apa pun. Kepergiannya justru membuka rahasia besar yang membuat Arka menyesal seumur hidup.
Sayangnya, saat Arka akhirnya menyadari bahwa perempuan yang ia sia-siakan adalah cinta sejatinya, Nadira telah b

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aurora23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Eps 18 : CEO yang Mulai Cemburu

Pagi hari di TK Pertiwi selalu diawali dengan keriuhan yang menyenangkan. Suara tawa anak-anak, langkah-langkah kecil yang berlarian di koridor, serta aroma krayon dan minyak telon yang khas seolah menjadi penawar paling ampuh bagi penat yang menyelimuti benak Nadira. Setelah berminggu-minggu didera tekanan mental di kediaman Mahendra—mulai dari intimidasi Selena hingga rahasia kesehatan ibunya—berada di antara anak-anak adalah satu-satunya momen di mana Nadira bisa bernapas lega dan menjadi dirinya sendiri seutuhnya.

Hari itu, suasana sekolah sedikit berbeda. Sesuai dengan agenda bulanan yayasan, pihak sekolah mengadakan program penyuluhan kesehatan dan pemeriksaan fisik gratis untuk para murid. Sejak pukul delapan pagi, sebuah ambulans dari rumah sakit swasta terdekat sudah terparkir di halaman.

"Anak-anak, ayo berbaris yang rapi ya. Hari ini kita kedatangan Dokter Dion yang baik sekali, yang akan memeriksa kesehatan gigi dan tinggi badan kalian," ujar Nadira dengan suara riang, menuntun anak-anak kelas B menuju aula kecil.

Seorang pria muda bertubuh tinggi dengan jas dokter putih bersih yang melapisi kemeja kasualnya berbalik mendengar suara Nadira. Wajahnya yang rupawan langsung dihiasi senyuman lebar begitu sepasang matanya menangkap sosok Nadira.

"Nadira! Sudah lama ya tidak bertemu," sapa pria itu hangat, melangkah mendekat setelah menyelesaikan pemeriksaan seorang murid.

"Dion! Aku tidak menyangka rumah sakitmu yang ditunjuk untuk penyuluhan di sini bulan ini," balas Nadira, matanya berbinar senang.

Dion adalah teman satu kampus Nadira saat menempuh pendidikan sarjana dulu. Sebagai mantan aktivis mahasiswa yang sering terlibat dalam kegiatan sosial bersama, keduanya memiliki ikatan pertemanan yang cukup solid dan penuh tawa. Kehadiran Dion di sekolah seolah membawa kembali potongan masa lalu Nadira yang ringan, jauh sebelum dirinya terjebak dalam lingkaran pernikahan kontrak yang rumit dengan Arka Mahendra.

Sepanjang siang itu, keduanya bekerja sama dengan sangat serasi. Dion dengan telaten memeriksa anak-anak menggunakan pendekatan yang jenaka, sementara Nadira mendampingi di sampingnya, mencatat data medis dan sesekali menenangkan murid yang ketakutan melihat peralatan dokter. Di sela-sela pergantian kelas, mereka saling melempar candaan ringan dan mengenang masa-masa kuliah yang penuh perjuangan.

Kedekatan yang alami dan tanpa sekat itu terlihat begitu kasat mata bagi siapa pun yang memandang mereka dari luar.

---

Sementara itu, di lantai teratas gedung Mahendra Group, atmosfer di dalam ruang kerja CEO justru terasa sebaliknya. Sejak pagi, aura dingin yang dipancarkan oleh Arka Mahendra membuat tim sekretaris dan para kepala divisi berjalan dengan ujung kaki karena takut memicu amarah sang bos.

Arka duduk di balik meja kerjanya yang megah, namun fokusnya sama sekali tidak tertuju pada draf laporan akuisisi kelautan yang terbuka di hadapannya. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang tidak sabar. Pikirannya terus melayang pada perubahan sikap Nadira pascainsiden hujan malam itu.

Ada getaran halus yang aneh yang kini menetap di dada Arka. Ia tidak bisa lagi menolak kenyataan bahwa ia mulai terbiasa memperhatikan detail terkecil dari diri istrinya—bagaimana wanita itu merapikan rambutnya, cara dia tersenyum lembut pada Opa Wijaya, hingga aroma samar cedarwood yang tertinggal di jas kerjanya yang tempo hari dipakai Nadira.

Arka melirik jam tangan Rolex-nya. Pukul satu siang. Ini adalah jam pulang sekolah untuk anak-anak TK.

"Yudha," panggil Arka melalui interkom.

Dalam hitungan detik, asisten pribadinya sudah berdiri di depan meja kerja. "Iya, Tuan Arka? Ada yang bisa saya bantu?"

Arka berdeham kecil, memperbaiki posisi duduknya demi menjaga wibawa. "Jadwal rapat sore dengan vendor logistik... pindahkan ke jam tiga. Saya ada urusan mendesak yang harus diselesaikan sekarang."

Yudha mengernyitkan dahi sekilas, memeriksa tablet digitalnya. "Urusan mendesak? Tapi Tuan, tidak ada agenda luar kantor yang tercatat di sistem untuk siang ini."

Arka menatap Yudha dengan pandangan tajam yang membuat asistennya itu langsung meneguk ludah. "Saya bilang ada, ya ada. Siapkan mobil. Saya sendiri yang akan menyetir."

"Baik, Tuan," jawab Yudha buru-buru, memilih untuk tidak mencari perkara dengan menanyakan lebih lanjut ke mana bosnya itu akan pergi, meskipun di dalam hatinya ia sudah bisa menebak ke mana arah roda mobil SUV hitam itu akan bergulir.

---

Arka membelah jalanan kota dengan kecepatan yang sedikit di atas rata-rata. Alasan logis yang ia susun di dalam kepalanya adalah: ia ingin menjemput Nadira karena kakeknya meminta mereka untuk menemani makan siang bersama di luar. Sebuah alasan yang terdengar sangat rapi dan tidak bercelah. Namun, jauh di lubuk hatinya, ada dorongan posesif yang egois yang menolak membiarkan Nadira pulang sendirian atau menaiki taksi umum seperti biasanya.

Lima belas menit kemudian, SUV hitam Arka berbelok memasuki area parkir TK Pertiwi. Karena ukuran mobilnya yang besar dan mewah, kehadirannya langsung menarik perhatian beberapa guru dan orang tua murid yang masih tersisa di depan pagar.

Arka mematikan mesin mobil, namun ia tidak langsung turun. Dari balik kaca depan yang dilapisi kaca film gelap, matanya menyapu area halaman sekolah yang rindang. Pandangannya terhenti pada area teras aula yang terbuka.

Di sana, Nadira sedang duduk di bangku taman kecil bersama seorang pria asing berjas dokter putih.

Arka menyipitkan matanya tajam. Rahangnya mendadak mengeras, dan cengkeramannya pada setir mobil mengencang hingga buku-buku jarinya memutih. Dari posisinya, ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana Nadira tertawa lepas—sebuah tawa renyah dan bebas yang belum pernah wanita itu tunjukkan selama hidup bersamanya di bawah satu atap. Pria dokter di sampingnya itu tampak menatap Nadira dengan pandangan yang teramat hangat, penuh dengan kekaguman yang tidak disembunyikan.

Rasa tidak nyaman yang luar biasa mendadak menyerang dada Arka. Ada sensasi panas yang membakar sanubarinya, sebuah emosi asing yang liar yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Arka Mahendra, sang pemegang kendali bisnis raksasa yang selalu tenang menghadapi krisis miliaran rupiah, kini merasa posisinya terancam hanya karena melihat istrinya tersenyum bersama pria lain.

---

Di teras aula, Nadira baru saja selesai membantu merapikan sisa-sisa cat air yang digunakan anak-anak untuk membuat poster kesehatan. Tanpa ia sadari, ada noda cat berwarna biru tua yang tertinggal di pipi kirinya akibat guratan tangan salah seorang murid yang gemas padanya tadi.

"Dira, tunggu sebentar," kata Dion sambil terkekeh pelan, menghentikan kalimat Nadira yang sedang membahas rencana reuni kampus mereka.

"Ada apa, Yon?" tanya Nadira bingung.

"Ini, ada noda cat di pipimu. Kamu ini guru atau ikut jadi murid sih? Masih saja ceroboh seperti dulu," canda Dion. Dengan gerakan yang sangat alami dan tanpa prasangka buruk, Dion mengulurkan tangan kanannya, menggunakan ibu jarinya untuk mengusap noda cat biru di pipi lembut Nadira dengan sangat hati-hati.

Nadira sedikit terkejut namun tidak menghindar, ia hanya tertawa kecil menerima ledekan temannya itu.

Namun, pemandangan itu menjadi sumbu pendek yang meledakkan seluruh sisa kesabaran Arka di dalam mobil.

*Brak!*

Arka membuka pintu mobilnya dengan kasar. Langkah kakinya yang panjang dan tegap berderap cepat di atas paving block halaman sekolah, memancarkan aura dominasi dan kemarahan yang begitu pekat hingga membuat beberapa orang di sekitarnya refleks mundur memberi jalan. Wajahnya sedingin es batu, dan matanya terkunci lurus pada tangan Dion yang masih berada di dekat wajah istrinya.

"Nadira."

Suara bariton yang berat, dingin, dan penuh penekanan itu menggema di udara teras aula, seketika memutus tawa di antara Nadira dan Dion.

Nadira menoleh dengan cepat, matanya membelalak sempurna saat melihat sosok suaminya sudah berdiri tegak di depan mereka dengan raut wajah yang tampak siap untuk menghancurkan apa saja. "Pak... Pak Arka? Kenapa Anda bisa ada di sini?"

Arka tidak menjawab pertanyaan Nadira. Matanya beralih menatap Dion dengan pandangan yang begitu tajam dan mengintimidasi, seolah-olah sedang menguliti pria berjas dokter itu hidup-hidup. Dion yang merasakan tekanan atmosfer yang mendadak mencekam itu perlahan menurunkan tangannya dari pipi Nadira, menatap Arka dengan dahi mengernyit, mencoba menilai siapa pria berjas mahal yang tiba-tiba datang dengan emosi meluap-luap ini.

Sebelum ada yang sempat bersuara lagi, Arka melangkah maju satu langkah, memotong jarak di antara mereka. Tanpa memberikan peringatan atau penjelasan apa pun, Arka mengulurkan tangan kanannya, meraih pergelangan tangan Nadira yang halus, lalu menggenggam jemari istrinya dengan sangat erat dan posesif di depan mata Dion, para guru, dan semua orang yang menyeksikannya di halaman sekolah.

*Genggaman itu erat, hangat, dan mutlak.*

Nadira tersentak hebat. Tubuhnya membeku seketika saat merasakan kulit telapak tangan Arka yang besar dan kokoh mengunci jemarinya dengan begitu rapat. Sepanjang bulan-bulan pernikahan kontrak mereka, Arka belum pernah bersikap seperti ini di depan umum—tidak pernah ada kontak fisik yang dipaksakan atau pamer kepemilikan yang seberani ini. Sentuhan itu mengirimkan sengatan hangat yang aneh langsung ke dalam dada Nadira, membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang tidak beraturan.

"Maaf, siapa Anda ya?" tanya Dion akhirnya, mencoba mencairkan ketegangan meski suaranya terdengar agak kaku di bawah intimidasi tatapan Arka.

Arka menarik tubuh Nadira sedikit lebih dekat ke arah sisinya, sebuah gestur perlindungan yang sangat dominan. Ia menatap Dion dari atas ke bawah dengan pandangan meremehkan seorang penguasa bisnis.

"Saya Arka Mahendra. Suami Nadira," jawab Arka, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar seperti sebuah maklumat mutlak yang tidak boleh diganggu gugat. "Dan saya rasa, jam kerja istri saya di sekolah ini sudah selesai untuk hari ini. Kami ada urusan keluarga yang jauh lebih penting."

Dion tertegun. Berita tentang pernikahan mendadak Nadira memang sempat ia dengar samar-samar, namun melihat sosok suami Nadira yang ternyata adalah sang pimpinan puncak Mahendra Group dengan sikap seposesif ini adalah sesuatu yang sama sekali di luar dugaannya.

"Ah... begitu ya. Salam kenal, Tuan Mahendra. Saya Dion, teman kuliah Nadira," ucap Dion sopan, berusaha menjaga profesionalitasnya.

Arka tidak membalas jabat tangan atau sapaan itu. Ia beralih menatap Nadira yang masih mematung di sampingnya dengan wajah yang mulai merona merah padam karena malu sekaligus bingung.

"Ayo pulang. Kereta bayi dan kakek sudah menunggu di rumah," perintah Arka, suaranya sedikit melunak saat berbicara pada Nadira, namun genggaman tangannya pada jemari wanita itu sama sekali tidak melonggar sedikit pun.

"Eh... iya, Pak. Yon, aku... aku pulang duluan ya. Terima kasih untuk hari ini," pamit Nadira terbata-bata pada Dion.

Dion hanya bisa mengangguk dengan senyum canggung. "Iya, Dira. Sampai jumpa lagi."

Arka langsung membalikkan badannya, menuntun—atau lebih tepatnya menarik lembut—Nadira berjalan menyusuri halaman sekolah menuju mobil SUV hitamnya. Sepanjang jalan menuju parkiran, Arka membiarkan seluruh pasang mata menyaksikan bagaimana tangannya mengunci erat jemari kecil guru TK tersebut, seolah ingin mengumumkan pada dunia bahwa wanita itu berada di bawah kuasanya yang mutlak.

---

Begitu mereka berdua masuk ke dalam kabin mobil dan pintu tertutup rapat, keheningan yang intens seketika membungkus mereka. Arka melepaskan genggaman tangannya, lalu menyalakan mesin mobil dengan gerakan yang sedikit menghentak, langsung mengemudikan kendaraan keluar dari area sekolah.

Nadira duduk di kursi penumpang samping dengan napas yang masih sedikit tertahan. Ia memandangi jemari tangan kanannya yang masih menyisakan rasa hangat dan sedikit kemerahan akibat genggaman Arka tadi. Rona merah di pipinya belum juga hilang. Rasa penasaran dan keterkejutan yang membuncah membuatnya akhirnya memberanikan diri untuk bersuara.

"Pak Arka..." panggil Nadira pelan, menoleh ke arah suaminya yang fokus menatap jalanan di depan dengan raut wajah yang masih kaku. "Kenapa Anda tadi... bersikap seperti itu di depan Dokter Dion?"

Arka tetap diam, matanya menatap lurus ke depan seolah marka jalanan adalah hal paling menarik di dunia. Namun, cengkeramannya yang mengeras pada lingkar kemudi mengkhianati ketenangannya.

"Bersikap bagaimana maksudmu?" tanya Arka datar, berusaha menyembunyikan getaran di suaranya.

"Anda menggenggam tangan saya... dan berbicara dengan nada yang sangat tidak ramah pada Dion. Dia hanya teman kuliah saya yang sedang bertugas di sana, Pak. Tidak ada hal lain," jelas Nadira, mencoba meluruskan kesalahpahaman yang ia duga menjadi penyebab kemarahan Arka. "Tindakan Anda tadi... bisa membuat orang-orang di sekolah salah paham."

Mendengar penjelasan Nadira yang seolah sedang membela pria dokter itu, Arka mendadak menginjak pedal rem dengan sedikit sentakan saat mobil mereka berhenti di lampu merah. Ia memalingkan wajahnya sepenuhnya ke arah Nadira, menatap lurus ke dalam manik mata jernih istrinya dengan kilatan emosi yang bergejolak hebat di balik manik mata hitamnya.

"Salah paham tentang apa, Nadira?" tuntut Arka, suaranya terdengar rendah namun sarat akan penekanan yang tajam. "Tentang fakta bahwa kamu adalah istri sah saya? Tentang fakta bahwa pria itu tidak punya hak sedikit pun untuk menyentuh wajahmu dengan begitu lancang di depan umum?"

Nadira tertegun, matanya membelalak menatap intensitas emosi di wajah Arka. "Tapi kita... kita kan hanya terikat..."

"Kontrak?" potong Arka cepat, kata itu keluar dari bibirnya dengan nada yang entah mengapa terdengar pahit bagi dirinya sendiri. Ia memajukan tubuhnya sedikit lebih dekat ke arah Nadira, mengunci pandangan wanita itu hingga Nadira tidak bisa mengalihkan wajahnya. "Dengar, Nadira. Meskipun ini sebuah kontrak, selama satu tahun ini kamu adalah tanggung jawab saya. Namamu terikat dengan nama saya. Dan saya tidak suka melihat milik saya... disentuh atau dipandang dengan cara seperti itu oleh pria lain. Mengerti?"

Setelah mengucapkan kalimat ketat itu, Arka kembali memalingkan wajahnya ke depan seiring lampu lalu lintas yang berubah hijau, menginjak pedal gas dan membiarkan mobil kembali melaju membelah jalanan.

Di sampingnya, Nadira terdiam seribu bahasa. Kalimat *"milik saya"* yang diucapkan oleh Arka bergema berulang kali di dalam kepalanya, menimbulkan debaran jantung yang berkali-kali lipat lebih dahsyat daripada saat petir menyambar malam itu. Ada rasa manis yang samar yang menyelinap di antara rasa bingungnya.

Sementara itu, di balik kemudi, Arka Mahendra merasakan dadanya bergemuruh hebat. Logika bisnisnya yang diagungkan selama ini mendadak lumpuh total. Ia tahu alasan tentang 'kontrak dan nama baik keluarga' yang baru saja ia ucapkan hanyalah sebuah tameng rapuh untuk menyembunyikan kenyataan yang sesungguhnya.

Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Arka harus mengakui sebuah fakta yang sangat mengusik egonya: bahwa rasa panas yang membakar dadanya melihat Nadira bersama pria lain, genggaman tangan yang posesif, dan kemarahannya yang meledak-ledak siang ini... bukanlah karena masalah nama baik perusahaan.

Itu adalah rasa cemburu yang murni. Sebuah kecemburuan seorang pria yang hatinya perlahan namun pasti telah sepenuhnya jatuh dan dikuasai oleh sosok guru TK sederhana yang duduk di sampingnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!