NovelToon NovelToon
Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Cinta Ini Salah Tempat. (Kau Kaka Tiriku)

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Fantasi
Popularitas:401
Nilai: 5
Nama Author: Denny Priyanto

Viona tumbuh di Candisari Semarang dengan selalu merasa terlindungi oleh Zidan– kakak tirinya yang sepuluh tahun lebih tua. Sejak ayahnya tiada, Zidan selalu ada buat dia.
pelindung, guru, bahkan tempat curhat setiap kali dia punya masalah. Perlahan, rasa kagum yang dulu ada berubah jadi sesuatu yang lebih dalam. Viona tahu bahwa cinta pada kakak tiri itu tidak boleh ada, tapi perasaan itu seperti akar yang tumbuh dalam hati, sulit untuk dihilangkan.
Sampai hari itu datang, saat Zidan dengan bangga memperkenalkan Gina sebagai calon istri di ulang tahunnya yang ke-30. Dunia Viona seolah runtuh. Akhirnya dia berani mengungkapkan semua yang ada di dalam hati, tapi Zidan menolaknya dengan lembut tapi tegas:

"Aku hanya bisa melihat kamu sebagai adik perempuanku, sebagai mana cinta dan kasih sayang antara Kaka & Adik. Tidak lebih dari itu."

Untuk menyembuhkan luka dan menempatkan Cinta yang salah, Cara apa yang harus Viona lakukan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Priyanto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ujian pertama & Kebenaran yang Terungkap

Seminggu telah berlalu sejak momen intim di bawah pohon mangga. Hubungan Viona dan Zidan berkembang dalam diam, seperti akar pohon yang menjalar kuat di bawah tanah sebelum batangnya terlihat di permukaan. Di depan Rani dan Pak Wahyu, mereka tetap bersikap sebagai kakak-adik tiri yang saling peduli, namun bagi mereka berdua, setiap tatapan mata, setiap sentuhan tangan yang terselip saat berpapasan di lorong sempit, dan setiap bisikan singkat adalah pengingat akan janji rahasia mereka.

Namun, kedamaian itu segera diuji.

Hari itu, Zidan menerima telepon dari kantor pusat. Proyek gedung pemerintahan yang ia pimpin mengalami masalah serius: kontraktor utama mundur mendadak karena isu korupsi, dan klien menuntut penyelesaian desain ulang dalam waktu tiga hari atau kontrak dibatalkan. Bagi Zidan, ini bukan sekadar masalah pekerjaan; ini adalah ujian integritas dan ketahanannya. Jika gagal, reputasi perusahaannya—dan nama baik keluarga—akan hancur.

Zidan pulang larut malam, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun. Matanya cekung, bahunya menunduk berat. Ia langsung masuk ke ruang kerjanya tanpa menyapa siapa pun, menutup pintu rapat-rapat.

Viona, yang sedang membaca buku di kamarnya, merasakan gelisah. Ia tahu Zidan tidak pernah membawa stres kerja sampai sedalam ini kecuali situasinya sangat kritis. Tanpa ragu, ia mengambil nampan berisi teh chamomile hangat dan beberapa potong kue kering buatan sendiri, lalu berjalan menuju ruang kerja Zidan.

Ia mengetuk pintu pelan. "Kak?"

Tidak ada jawaban. Hanya suara ketikan keyboard yang cepat dan kasar.

Viona membuka pintu perlahan. Zidan duduk di depan komputer dengan lampu meja yang menyala redup, dikelilingi tumpukan kertas blueprint yang berantakan. Wajahnya pucat, matanya merah karena kurang tidur.

"Aku bawa teh," ucap Viona lembut, meletakkan nampan di sudut meja yang kosong.

Zidan tidak menoleh. "Pergilah, Vion. Aku sibuk. Ini darurat."

"Aku tahu," jawab Viona tenang. Ia tidak pergi. Sebaliknya, ia menarik kursi dan duduk di samping Zidan.

"Tapi Kakak tidak bisa bekerja efektif jika otakmu sudah jenuh. Lima menit. Minum tehnya dulu."

Zidan menghela napas panjang, frustasi. Ia akhirnya menoleh, menatap Viona dengan mata yang penuh kelelahan dan kemarahan terpendam. "Kamu tidak mengerti tekanan ini, Vion. Jika aku gagal, semuanya runtuh. Nama Bapak, masa depan perusahaan, bahkan... bahkan stabilitas kita di sini."

"Aku mengerti," sahut Viona tegas. Ia mengambil cangkir teh dan menyodorkannya ke bibir Zidan. "Minum. Lalu ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi. Bukan versi laporan resmi, tapi versi Kakak."

Zidan menatap Viona sejenak, lalu menyerah. Ia mengambil cangkir itu, meneguk teh hangat yang menenangkan tenggorokannya. Perlahan, ia mulai berbicara. Tentang tekanan klien yang tidak masuk akal, tentang pengkhianatan rekan bisnis, tentang rasa takut akan kegagalan yang mengingatkannya pada trauma masa kecilnya saat merasa tidak mampu mencegah kepergian ibunya.

Viona mendengarkan dengan saksama, tidak memotong, hanya memegang tangan Zidan yang dingin. Saat Zidan selesai, keheningan mengisi ruangan, namun kali ini bukan keheningan yang mencekam, melainkan keheningan yang lega.

"Kakak tidak sendirian," ucap Viona pelan. "Kita cari solusi bersama. Aku bisa bantu merapikan data administrasi, atau menelepon kontak Bapak untuk saran hukum. Atau..." Viona tersenyum kecil, "...atau aku bisa sekadar duduk di sini menemani Kakak berpikir sampai ide itu datang."

Zidan menatap Viona, kekaguman tumbuh di hatinya. Gadis ini tidak hanya menjadi sumber kenyamanan emosional, tapi juga mitra strategis yang tenang di tengah badai.

"Bantu aku cek bagian struktur baja di halaman 45," perintah Zidan tiba-tiba, suaranya kembali tajam namun kali ini ada nada harapan.

"Aku curiga ada kesalahan perhitungan beban angin di sana yang membuat klien ragu."

Mereka bekerja berdampingan selama empat jam berikutnya. Viona, dengan ketelitian dan kesabarannya, membantu Zidan menemukan ketidaksesuaian kecil dalam data yang luput dari tim insinyur lain. Temuan itu menjadi kunci untuk memperbaiki desain dan meyakinkan klien bahwa Zidan menguasai detail proyeknya.

Pukul 03.00 pagi, Zidan finally mengirim email revisi final. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menghela napas panjang.

"Terima kasih, Vion," ucapnya lelah namun tulus. "Tanpa kamu, aku mungkin sudah menyerah atau membuat keputusan emosional yang salah."

Viona tersenyum, mengusap pelipis Zidan. "Kita tim, Kak. Ingat?"

Zidan mengangguk, lalu tiba-tiba menarik Viona ke dalam pelukannya. Pelukan erat, penuh rasa syukur. "Ya. Kita tim."

Keesokan paginya, kabar baik datang. Klien menerima revisi Zidan dan memperpanjang kontrak. Suasana di rumah kembali ceria. Namun, kebahagiaan itu terusik ketika Rani memanggil Viona dan Zidan ke ruang tamu siang harinya.

Wajah Rani tampak serius, berbeda dari biasanya. Pak Wahyu duduk di sebelahnya, ekspresinya sulit dibaca.

"Duduklah, kalian berdua," ucap Rani pelan.

Viona dan Zidan saling bertukar pandang waspada. Apakah mereka ketahuan?

"Ibu ingin bicara jujur," lanjut Rani, menatap Zidan lalu Viona bergantian. "Ibu perhatikan perubahan antara kalian dua minggu terakhir. Ada sesuatu yang berbeda. Bukan sekadar hubungan kakak-adik biasa."

Jantung Viona berdegup kencang. Zidan menegakkan punggungnya, siap membela diri atau mengakui segala-galanya.

"Ibu tidak marah," tambah Rani cepat, melihat ketegangan di wajah mereka.

"Ibu hanya ingin memastikan. Karena jika ada perasaan lebih dari sekadar keluarga... Ibu ingin kalian berhati-hati.

Dunia luar tidak selalu memahami. Dan Bapak..." Rani menoleh pada Pak Wahyu.

Pak Wahyu menghela napas, lalu tersenyum tipis.

"Ayah sudah tahu sejak kalian mulai saling melindungi secara berlebihan saat Ibu sakit. Ayah tidak buta."

Viona terkejut. "Pak tahu?"

"Ayah adalah ayah," jawab Pak Wahyu sederhana.

"Pertanyaannya bukan apakah Ayah setuju atau tidak. Pertanyaannya adalah: Apakah kalian siap? Siap menghadapi gosip, siap menghadapi pertanyaan, dan siap membuktikan bahwa cinta ini bukan sekadar pelarian dari kesepian, tapi pilihan dewasa yang bertanggung jawab?"

Zidan menatap ayahnya, lalu menatap Viona. Ia menggenggam tangan Viona di bawah meja, kuat dan pasti.

"Kami siap, Yah. Bu," jawab Zidan tegas. "Kami tidak menyembunyikan ini karena malu. Kami melakukannya karena kami ingin membangun fondasi yang kuat sebelum mengumumkannya. Dan ya, ini adalah pilihan sadar. Vion bukan pelarian. Dia adalah tujuan."

Rani tersenyum, air mata bahagia menggenang di matanya.

"Kalau begitu, Ibu restui. Asal kalian saling menjaga, saling menghormati, dan tidak melupakan kewajiban pada keluarga."

Viona merasa beban berat diangkat dari dadanya. Restu orang tua bukanlah jaminan kemudahan, tapi itu adalah izin untuk bernapas lega. Mereka tidak lagi harus bersembunyi dalam bayang-bayang.

Malam itu, setelah semua tidur, Zidan dan Viona berdiri di balkon kamar Zidan, memandang langit berbintang.

"Kita baru saja melewati ujian pertama," gumam Viona.

"Dan kita lulus," sahut Zidan, melingkarkan lengannya di bahu Viona. "Tapi ini baru awal, Vion. Akan ada ujian lain. Karir, sosial, mungkin bahkan konflik internal nanti."

"Aku tidak takut," jawab Viona, mencondongkan kepalanya ke bahu Zidan.

"Selama Kakak ada di sampingku, aku bisa menghadapi apapun."

Zidan mengecup puncak kepala Viona. "Dan selama kamu ada di sisiku, aku tidak akan pernah merasa sendirian lagi."

Di bawah langit malam yang luas, dua jiwa yang pernah terluka kini menemukan kekuatan baru. Bukan kekuatan untuk bertahan sendiri, tapi kekuatan untuk berjuang bersama. Cinta mereka mungkin dimulai dari keadaan yang rumit, tapi niat mereka murni, dan langkah mereka pasti.

Mereka tahu, jalan ke depan masih panjang. Tapi untuk pertama kalinya, mereka tidak berjalan sendirian. Mereka berjalan beriringan, tangan tergenggam, menuju fajar yang lebih terang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!