Shen Dazhi, seorang pengembara yang berhasil mengumpulkan 10 pusaka legendaris yang diturunkan oleh Dewa. Bukan hanya itu, dirinya juga berhasil mengalahkan pemimpin sekte aliran hitam terbesar dan menjadi salah satu orang terkuat di dunia.
Namun rasanya semua itu tidak sepadan karena banyak sekali rekan-rekan serta orang tersayangnya yang mati dimasa lalu karena ulah sekte hitam tersebut.
Sampai akhirnya, dirinya diberikan kesempatan kedua oleh Dewa untuk kembali ke masa lalu dan menyelamatkan orang-orang berharganya.
Inilah cerita sang Pengembara dari masa depan yang kembali ke masa lalu untuk menulis ulang takdirnya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dazhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 : Membuka Dantian Pertama
"Lagi-lagi kak Zhi berlatih. Ibu!! Aku pergi ke desa dulu ya!!"
"Hati-hati Yunyun!!"
Yunhe menatap kakaknya yang sedang bermeditasi. Sudah 2 bulan kakaknya itu tidak mau bermain dengannya karena alasan ingin berlatih agar bisa mengalahkan beruang. Akhirnya, Yunhe memutuskan untuk pergi ke desa dan bermain dengan anak-anak desa.
Di sisi lain, Dazhi sama sekali tidak mempedulikan kepergian adiknya. Ia sedang sibuk memeriksa tubuhnya.
Sudah 2 bulan Dazhi melakukan latihan fisik untuk memperkuat tubuhnya, dan selama dua bulan itu, Dazhi mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Dari yang awalnya kelelahan hanya karena melakukan 50 Push up, sekarang ia bahkan bisa melakukan 500 push up tanpa kelelahan. Tubuhnya juga menjadi lebih kekar dan berotot daripada sebelumnya.
"Yes! Aku akhirnya bisa masuk ke ranah Kultivasi pertama!" Ucap Dazhi senang.
Seharusnya untuk bisa mencapai ranah Kultivasi ke-1, orang biasa membutuhkan waktu satu tahun untuk melatih fisiknya. Tetapi Dazhi melakukan latihan intens nan keras yang membuat fisiknya menjadi matang hanya dalam dua bulan.
Latihan itu adalah 100 push up, 100 sit up, 100 squat, lari 10 km. Kalau misalnya dirasa masih kuat, maka bisa menambahkan intensitas latihannya.
Latihan itu memang terdengar menyiksa dan tidak manusiawi, tapi latihan ini terbukti ampuh karena berhasil membuat fisik Dazhi masuk kedalam ranah Kultivasi pertama.
"Selanjutnya waktunya membuka Dantian." Dazhi bangkit berdiri dari posisi duduk bersila. Ia masuk kedalam rumah.
"Ada apa Zhizhi?"
Baru melangkahkan kakinya kedalam rumah, Dazhi langsung disuguhkan pemandangan Xiao Xinyue yang sedang menjahit baju anak-anaknya yang berlubang.
"Tidak apa-apa ibu. Aku hanya ingin melakukan sesuatu dikamar." Jelas Dazhi
Sebenarnya Dazhi ingin membuka Dantiannya. Tapi ia tak mau ada yang mengetahui hal tersebut, apalagi orang tuanya. Metode membuka Dantian yang akan Dazhi gunakan itu akan sangat berbahaya bagi dirinya, jadi Dazhi tak mau jika nanti orangtuanya khawatir karena hal tersebut.
"Jangan lupa minum air putih yang banyak. Akhir-akhir ini, ibu lihat dirimu berlatih sangat keras."
"Baik Ibu!!"
Dazhi segera mengisi penuh gelasnya lalu meminumnya sampai habis seperti yang Xiao Xinyue perintahkan. Setelah itu, dirinya masuk kedalam kamar dan menguncinya dari dalam.
Tanpa berlama-lama, Dazhi mendudukkan dirinya dilantai degan posisi bersila. Matanya terpejam erat dan nafasnya dibuat setenang mungkin. Lalu dengan perlahan, tangan anak itu bergerak kearah perutnya.
Dantian sebenarnya bisa terbuka sendiri seiring waktu dan seiring berkembangnya tubuh seorang Kultivator. Ada tiga dantian utama dalam tubuh seseorang, yaitu dantian atas, tengah, serta bawah. Setiap dantian membutuhkan waktu minimal 5 bulan untuk terbuka sendiri.
Tetapi 5 bulan itu terlalu lama bagi Dazhi. Karena itu, ia memutuskan menggunakan cara curang agar bisa membuka Dantiannya lebih cepat.
Cara itu adalah dengan mengalirkan darah secara manual menggunakan tangan ke titik-titik tempat dimana Dantian berada. Terdengar mudah, tetapi sebenarnya sangat berbahaya dan membutuhkan presisi tinggi.
"Uhuk!!"
Dazhi mengeluarkan darah dari mulutnya. Inilah resiko dari membuka Dantian secara manual. Ia terlalu cepat mengalirkan darah sehingga darah menjadi tidak stabil dan keluar dari jalur pembuluh darah yang seharusnya.
Beruntungnya pembuluh darah Dazhi tidak sampai pecah. Kalau hal itu terjadi, maka dampaknya akan sangat berbahaya bagi tubuhnya.
"Ugh... Aku harus memelankan tempo dalam mengalirkan darahnya." Gumam Dazhi.
Dazhi kembali mencoba lagi. Kali ini dirinya memelankan jarinya agar tak melakukan kesalahan yang sama. Selama lima menit, dirinya berhasil mengalirkan darahnya dengan lancar, tetapi...
"Uhuk!"
Lagi-lagi darah keluar dari mulutnya. Kali ini tidak ada masalah dalam mengalirkan darahnya. Yang menjadi masalah adalah detak jantungnya itu terlalu keras.
Jantung Dazhi berdetak lebih keras dari sebelumnya sehingga jantung memompa darah lebih cepat. Otomatis tempo aliran darahnya juga meningkat membuat dirinya kesusahan.
Dazhi menarik nafas dalam-dalam. Tubuh kecilnya ini susah sekali diatur, tidak seperti di kehidupan lampaunya, salah sedikit juga tidak akan berefek apapun karena tubuhnya sudah kuat.
Akhirnya Dazhi kembali mencoba lagi. Targetnya hari ini adalah untuk membuka Dantian tengahnya. Hari masih siang, jadi dirinya masih punya waktu setengah hari untuk membuka Dantian sebelum malam tiba.
Selama empat jam Dazhi terus berkutat dengan aliran darahnya. Bercak darah terlihat di lantai sekeliling anak itu, tetapi tak ada tanda-tanda kalau Dazhi akan berhenti.
Sudah banyak kesalahan yang Dazhi lakukan. Dimulai dari terlalu lambat mengalirkan darah, salah jalur pembuluh darah, jarinya yang bergetar sehingga prosesnya tidak stabil, dan masih banyak lagi.
Namun kini proses pengaliran darah Dazhi menjadi lebih baik dari sebelumnya. Ia belajar dari setiap kesalahannya dan memperbaikinya agar kesalahan yang sama tidak terulang lagi.
Itulah Dazhi, ia menjadikan setiap kegagalannya sebagai pelajaran agar kedepannya menjadi lebih baik. Sama seperti di kehidupan sebelumnya, ia menjadikan kematian orang-orang berharganya sebagai pelajaran yang memotivasi agar dirinya menjadi lebih kuat lagi.
"Akhirnya..."
Tubuh Dazhi terasa hangat, terutama di bagian perutnya. Dazhi membuka matanya secara perlahan. Setelah 13 kali percobaan, dirinya kini berhasil membuka Dantian tengahnya. Anak itu tersenyum bangga.
"Huft... Lelah sekali... Tetapi untungnya berhasil. Terimakasih Ruanruan, berkat teknik mu, aku bisa membuka Dantian di usia 8 tahun!"
Dazhi membaringkan tubuhnya dilantai. Ruanruan adalah salah satu rekan Dazhi di kehidupan sebelumnya, nama aslinya Lin Ruanyu. Dialah yang membuat dan memberitahu tentang teknik membuka Dantian secara manual ini.
Dulu Dazhi meremehkan teknik Ruanyu, baginya teknik itu tak ada gunanya karena Dazhi sudah mempunyai ribuan titik Dantian ditubuhnya. Tapi sekarang, ia benar-benar berterimakasih kepada Ruanyu atas teknik yang sangat berguna ini.
Tiba-tiba wajah Dazhi mengeras, mengingat Ruanyu juga membuat Dazhi teringat akan kematian pria itu. Ruanyu mati karena dibunuh oleh anggota sekte aliran hitam. Namun sekarang, seharusnya pria itu masih hidup bukan? Sama seperti kedua orangtuanya.
"Ruanruan, aku pasti akan mencegahmu dari kematian. Juga rekan-rekan ku yang lainnya, aku pasti akan menyelamatkan kalian dan tak akan membiarkan kalian mati seperti sebelumnya!"
Meskipun kata-kata itu dilontarkan oleh seorang anak kecil umur 8 tahun, tapi keseriusan didalamnya benar-benar terasa nyata.
Tok!! Tok!! Tok!!
Ditengah-tengah Dazhi sedang bernostalgia mengingat Ruanyu, pintu kamarnya diketuk. Dari luar juga terdengar suara gadis kecil.
"Kak Zhi ayo makan!! Lagipula kenapa pintunya harus dikunci sih?!!" Yunhe berteriak dari luar kamar.
Dazhi sontak segera bangkit dari posisi berbaring nya. Ia lalu menatap lantai-lantai kamarnya yang penuh becak darah. Kalau sampai ada orang yang melihat ini, maka jadi rumit masalahnya.
"S–sebentar Yunyun!! Kakak mau merapikan kamar dulu! Nanti kakak akan menyusul keruang makan!!"