NovelToon NovelToon
My Favorite Customer

My Favorite Customer

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama
Popularitas:780
Nilai: 5
Nama Author: Rygobii_15

Gimana rasanya suka sama customer sendiri?
Kalau customer-nya jomblo, oke lah... masih bisa dideketin pelan-pelan.

Lah, aku?

Aku ajah kerja di toko bunga.

Yang artinya, sebagian besar customer-ku datang buat beli bunga untuk pacarnya, calon istrinya, atau bahkan istrinya beneran.

Sial banget nggak sih?

Gini nih kalau kelamaan jomblo. Sekalinya suka sama cowok, malah suka sama cowok yang kemungkinan besar udah ada yang punya.

Huhuhu.

Tapi tenang, aku tahu diri kok.

Aku cuma mengaguminya dari jauh.

Lagian, mana mungkin ada kisah cinta antara karyawan toko bunga biasa sepertiku dengan customer yang cuma datang sesekali?

...kan?

Atau jangan-jangan, semesta memang sedang menyiapkan sesuatu yang nggak pernah aku duga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rygobii_15, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 hal-hal kecil yang berubah

Senin pagi datang lebih cepat dari yang Wulan harapkan Meski tubuhnya sudah sibuk sejak tadi, pikirannya masih sesekali kembali ke suasana pantai semalam.

Bukan karena ombaknya, Bukan juga karena lamaran Kak Nara yang berhasil bikin semua orang ikut terharu.

Melainkan karena satu kejadian yang terus terulang di kepalanya.

Tanpa sadar, ia menggenggam tangan Saka.

"Ya ampun..." gumam Wulan pelan sambil menepuk kedua pipinya. "Malu banget, gilaa..."

"Wulan."

Suara Sarah membuatnya langsung tersadar.

"Iya, Kak?"

"Rangkaian bunga buat pesanan hotel udah selesai?"

"Sebentar lagi."

Wulan kembali fokus menyusun mawar putih, baby breath, dan eucalyptus menjadi satu buket yang rapi.

Pagi itu Ibusya Flower Studio sudah cukup ramai. Beberapa pelanggan datang silih berganti. Wulan sibuk merangkai bunga sekaligus melayani pembeli, sementara Sarah mengecek jadwal pesanan dan beberapa dokumen di meja kerjanya.

Ting...

Bel pintu berbunyi Seorang pria masuk sambil membawa map hitam.

"Pagi, Mbak Sarah."

Sarah mendongak lalu tersenyum. "Pagi, Mas Saka."

"Saya bawa revisi layout dari klien. Ada sedikit perubahan di area backdrop sama penempatan standing flower."

Sarah mengangguk. "Oke. Sebentar ya, kita cocokkan."

Belum sempat mereka mulai berdiskusi, bel pintu kembali berbunyi, Seorang pelanggan masuk sambil melihat-lihat rangkaian bunga yang dipajang.

Wulan yang sedang merapikan buket langsung menghampiri dengan senyum ramah. "Selamat pagi, Kak. Ada yang bisa saya bantu?"

"Iya, Mbak. Saya mau pesan buket buat wisuda."

"Boleh banget. Kira-kira pengennya dominan warna apa?"

Pelanggan itu mulai menjelaskan keinginannya. Wulan mendengarkan dengan saksama, sesekali memberikan saran mengenai jenis bunga dan perpaduan warna yang cocok.

Tangannya cekatan mencatat setiap detail pesanan.

Dari tempatnya berdiri, Saka tanpa sadar memperhatikan Tangannya masih memegang map revisi, tetapi pandangannya beberapa kali beralih ke arah Wulan.

Cara Wulan menjelaskan pilihan bunga, senyumnya yang ramah Kesabarannya menjawab pertanyaan pelanggan.

Entah kenapa, semua itu membuat suasana toko terasa lebih hangat Tanpa sadar, sudut bibir Saka terangkat tipis.

Sarah yang melihat sekilas hanya menahan senyum sebelum kembali membuka layout di tangannya.

Beberapa menit kemudian pelanggan selesai melakukan pemesanan. "Terima kasih ya, Kak. Buketnya bisa diambil siang nanti."

"Oke. Makasih ya, Mbak."

"Sama-sama." Setelah pelanggan keluar, Wulan kembali ke meja kerjanya.

Tak lama kemudian Sarah memanggil. "Wulan."

"Iya, Kak?"

"Sini sebentar."

Wulan menghampiri.

Sarah menggeser lembar layout ke arahnya. "Klien minta ada sedikit perubahan di bagian standing flower sama backdrop. Karena nanti yang ngerangkai bunganya kamu, sekalian lihat ya."

"Oh, oke." Wulan berdiri di samping Sarah sambil memperhatikan layout yang terbentang di atas meja.

Saka menunjuk salah satu bagian gambar. "Standing flower yang ini dipindah ke area photobooth."

Wulan mengangguk pelan. "Berarti bunga putihnya ikut pindah ya, Mas?"

"Iya. Biar hasil fotonya lebih seimbang."

"Ooh... pantes."

Sarah ikut menambahkan, "Nanti jumlah bunganya juga kita sesuaikan."

"Siap, Kak." Setelah pembahasan selesai, Wulan kembali ke meja kerjanya.

Tak lama kemudian, supplier datang mengantarkan sebuah kardus besar berisi vas kaca.

"Ya ampun..." Wulan mencoba menggesernya sendiri.

Kardus itu hanya bergeser sedikit, Ia mencoba lagi tetap saja berat.

" berat banget sialan "

Saka yang melihat langsung menghampiri. "Biar saya bantu"

Wulan spontan menoleh. " Hah? Nggak usah, Mas. Aku bisa kok."

"Nggak apa-apa."

Tanpa banyak bicara, Saka mengangkat kardus itu dengan mudah. "Mau ditaruh di mana?"

"Di samping rak bunga matahari aja."

Saka mengangguk lalu meletakkannya dengan hati-hati. "Nah, di sini."

Wulan tersenyum kecil. " Makasih ya, Mas."

"Iya." Jawabannya tetap singkat.

Namun entah kenapa Hari ini, Saka terasa tidak sedingin dulu.

Belum sempat Wulan kembali bekerja, ponsel Sarah berdering.

Sarah melirik layar ponselnya.

"Klien."

Ia segera mengangkat telepon sambil berjalan keluar toko agar suaranya lebih jelas, Kini hanya tinggal Wulan dan Saka di area kerja.

Suasana mendadak lebih hening, Wulan kembali menyusun beberapa tangkai mawar ke dalam vas, sementara Saka masih berdiri di dekat kardus yang tadi ia angkat.

Beberapa detik berlalu.

"Tadi..." suara Saka memecah keheningan.

Wulan menoleh.

"Iya, Mas?"

"Buket wisudanya."

"Kenapa?"

"Kombinasi warnanya bagus."

Wulan sedikit terdiam, Ia tidak menyangka Saka memperhatikan sampai sedetail itu. "Oh... makasih."

"Saya nggak terlalu paham bunga."

"Tapi tadi kelihatan paham." jawab wulan

"Saya cuma lihat."

Wulan terkekeh pelan. "Berarti Mas Saka diem-diem merhatiin, dong?"

Saka terdiam sesaat.

Tatapannya beralih ke rangkaian bunga di meja.

"Kerjaan saya memang harus memperhatikan detail."

Jawaban itu terdengar datar seperti biasa Namun entah kenapa, pipi Wulan justru terasa menghangat. "Oh... iya juga sih."

Ia buru-buru kembali fokus merangkai bunga, menyembunyikan senyum kecil yang diam-diam muncul di wajahnya.

Menjelang sore, pembahasan revisi akhirnya selesai.

Saka memasukkan kembali beberapa lembar layout ke dalam map hitam miliknya. "Kalau gitu saya pamit dulu, Mbak Sarah."

Sarah mengangguk. "Iya, Mas. Makasih ya."

Saka mengalihkan pandangannya ke arah Wulan yang masih sibuk membungkus sebuah buket.

"Saya dulu pamit "

Wulan mendongak. "Oh... iya, Mas. Hati-hati."

Saka mengangguk singkat sebelum melangkah keluar dari toko.

Ting...

Bel pintu berbunyi pelan saat pintu kembali menutup.

Tanpa sadar, pandangan Wulan masih mengikuti langkah Saka sampai mobilnya benar-benar keluar dari halaman toko.

"Wulan." Suara Sarah membuatnya tersentak.

"Hah?"

"Buketnya belum diikat."

Wulan langsung menoleh ke tangannya. "Eh... iya."

Sarah hanya tersenyum tipis melihat tingkah bawahannya itu.

Waktu menunjukkan hampir pukul lima sore Setelah memastikan semua pesanan untuk hari itu selesai, Wulan mulai merapikan meja kerjanya.

Tak lama kemudian, bel pintu kembali berbunyi Namun kali ini bukan pelanggan.

Melainkan Siwi yang muncul sambil mengangkat satu tangan. "Assalamualaikum, penghuni toko bunga."

Wulan langsung tertawa kecil. "Waalaikumsalam. Tumben tepat waktu."

"Ya iyalah. Gue kan sopir pribadi."

Sarah yang sedang membereskan berkas ikut terkekeh. "Untung ada Siwi, jadi saya nggak khawatir Wulan pulang sendirian."

Siwi langsung mengangguk bangga. "Betul. Saya memang sahabat terbaik."

"PD banget."

"Fakta."

Sarah menggeleng geli. "Nah, kalian hati-hati di jalan ya."

"Iya, Kak."

Beberapa menit kemudian, motor Siwi melaju meninggalkan Ibusya Flower Studio.

Awalnya mereka hanya mengobrol soal pelanggan yang cerewet, supplier yang telat datang, sampai makanan yang ingin mereka beli nanti.

Sampai tiba-tiba... "Lan."

"Hm?"

"Gue mau nanya."

"Nanya aja."

Siwi melirik sekilas ke arah Wulan melalui kaca spion. "Lo sama babang Saka kenapa?"

Wulan yang sedang menikmati angin sore langsung membeku.

"Hah?"

"Nah."

"Nah apaan?"

"Belum juga gue jelasin, lo udah panik."

"Gue nggak panik!"

"Yakin?"

"Iya."

Siwi terkekeh.

"Gue kan sering jemput lo di toko."

"Iya..."

"Jadi lumayan sering lihat babang Saka datang."

Wulan mulai merasa tidak enak. "Terus?"

"Biasanya dia datar."

"Hm."

"Tapi sekarang..."

Siwi sengaja menggantung kalimatnya.

"...kayaknya lebih sering ngelihat ke arah lo."

Wulan langsung membulatkan mata. "Hah? Mana ada."

"Ada."

"Nggak."

"Lan."

"Apa?"

"Gue emang nggak sepinter Sarah kalau soal baca situasi."

"Iya..."

"Tapi kalau ada cowok yang mulai merhatiin sahabat gue... masa gue nggak sadar."

Wulan langsung mengalihkan pandangannya ke jalan. "Dia paling lagi lihat bunga."

"Iya."

"Atau lihat pelanggan."

"Iya."

"Atau..." Siwi menahan tawa. "...lagi ngitung jumlah pot."

"Ih, Siwi!"

Siwi akhirnya tertawa lepas. "Ya ampun, muka lo merah."

"Nggak merah."

"Bohong."

"Nggak!"

"Kalau bukan karena babang Saka, terus kenapa?"

Wulan mendengus pelan. "Gue tuh capek kerja."

"Iya, iya... capek kerja." Nada bicara Siwi jelas terdengar penuh godaan.

Beberapa saat kemudian, tawanya mereda.

Ia menepuk pelan tangan Wulan."Lan."

"Hm?"

"Kalau nanti ternyata emang suka..."

Wulan langsung memotong. " tentu."

"Gue belum selesai."

"..."

"Kalau nanti ternyata emang suka, jangan buru-buru takut dulu."

Wulan terdiam Angin sore menerpa wajahnya pelan Entah kenapa, Ucapan Siwi justru terus terngiang di kepalanya. "kayaknya lebih sering ngelihat ke arah lo."

Apa benar begitu? Atau, Itu cuma perasaan Siwi?

Tanpa sadar, sudut bibir Wulan tersenyum tipis.

Lalu buru-buru ia geleng-geleng kepala sendiri.

"Ih, Wulan... jangan overthinking lagi."

Motor mereka terus melaju, membelah jalanan sore yang mulai dipenuhi lampu-lampu kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!