Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Menjadi Pengantin Pengganti
Malam terus bergulir menuju dini hari.
Sejak mengetahui Jelita Arumi Atmojo meninggalkan rumah, Danendra Atmojo tidak membuang waktu sedikit pun. Ia segera menghubungi beberapa orang kepercayaannya dan membagi mereka ke berbagai lokasi yang mungkin menjadi tujuan putri sulungnya.
Rumah sahabat, apartemen lama, hingga tempat-tempat yang biasa dikunjungi Jelita satu per satu didatangi.
Danendra bahkan memutuskan pergi sendiri ke kediaman Dani Ardianto. Ia berharap putrinya memilih menemui laki-laki yang dicintainya itu.
Namun harapan tersebut kembali pupus. Dani terlihat sama terkejutnya ketika mengetahui Jelita menghilang. Ia mengaku tidak menerima kabar apa pun dan tidak mengetahui ke mana kekasihnya pergi.
Pencarian terus dilakukan. Sayangnya, hingga pukul 3 dini hari, usaha mereka tidak membuahkan hasil.
Nomor telepon Jelita masih tidak aktif, sementara tidak ada satu pun orang yang mengaku melihat keberadaannya.
Dengan langkah berat, Danendra kembali ke rumah. Raut wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak mampu lagi disembunyikan.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang keluarga sambil mengusap wajah berkali-kali.
"Sudah nggak ada waktu..." gumamnya lirih.
Beberapa jam lagi rombongan keluarga Bagaskara akan datang ke lokasi akad. Cepat atau lambat, mereka pasti mengetahui bahwa calon pengantin perempuan telah menghilang.
Fina yang duduk di samping suaminya hanya mampu memandang dengan mata sembab. Tangisnya sejak tadi tak kunjung berhenti.
Sementara itu, Amora memilih diam. Ia duduk tidak jauh dari kedua orang tuanya, memeluk kedua lutut sambil terus memikirkan keadaan sang kakak.
Keheningan itu akhirnya dipecahkan oleh suara Danendra.
"Amora."
Perempuan itu segera mengangkat wajah.
"Iya, Yah?"
Danendra terdiam beberapa saat. Bibirnya berkali-kali terbuka, tetapi tidak ada kata yang berhasil keluar.
Permintaan yang hendak ia sampaikan terasa terlalu berat. Namun keadaan tidak lagi memberinya kesempatan untuk mencari pilihan lain.
"Ayah ingin meminta bantuanmu." Nada bicaranya terdengar sangat pelan.
Amora langsung duduk lebih tegak.
"Bantuan apa?"
Danendra menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,
"Kalau keluarga Bagaskara masih bersedia melanjutkan akad... Ayah ingin kamu menggantikan posisi Jelita."
Kalimat itu membuat Amora membeku. Ia menatap ayahnya tanpa berkedip, seolah baru saja mendengar sesuatu yang sulit dipercaya.
"Maksud Ayah..."
"...aku yang menikah dengan Mas Razka?"
Danendra mengangguk perlahan.
"Keputusan akhirnya memang ada di tangan keluarga Bagaskara."
"Tapi sebelum Ayah berbicara dengan mereka, Ayah ingin tahu dulu... apakah kamu bersedia jika mereka menerima usulan itu?"
Amora menggigit bibir bawahnya. Ia sama sekali tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini.
Sejak awal, ia hanya berusaha membantu menenangkan Jelita. Kini justru dirinya yang diminta mengambil tempat sang kakak di pelaminan.
Beberapa detik berlalu tanpa suara. Kemudian Amora berkata dengan sangat hati-hati,
"Kalau mereka tahu aku bukan anak kandung keluarga Respati... apa mereka mau menerimanya?"
Pertanyaan sederhana itu membuat hati Danendra dan Fina terasa diremas. Selama ini mereka selalu berusaha membuat Amora merasa menjadi bagian utuh dari keluarga. Namun rupanya, perempuan itu tetap menyimpan kesadaran bahwa statusnya berbeda dari Jelita.
Danendra berpindah tempat duduk hingga berada tepat di hadapan Amora.
Ia menggenggam kedua tangan putrinya.
"Dengar baik-baik."
"Bagi Ayah dan Mama, kamu bukan pengganti siapa pun. Kamu adalah putri kami."
"Kalau nanti keluarga Bagaskara menolak, biar Ayah yang menghadapi semuanya."
"Yang ingin Ayah ketahui sekarang hanya satu."
"Apakah kamu bersedia membantu keluarga ini?"
Amora menundukkan kepala. Air matanya jatuh membasahi punggung tangannya. Ia teringat bagaimana Danendra dan Fina membesarkannya tanpa pernah membedakan kasih sayang. Semua yang dimilikinya hari ini berasal dari keluarga itu.
Setelah menghapus air mata, Amora perlahan menganggukkan kepala.
"Kalau ini bisa meringankan beban Ayah dan Mama..."
"Aku bersedia."
Jawaban itu diucapkan tanpa keraguan lagi.
Fina yang sejak tadi hanya menangis langsung memeluk Amora erat.
Perempuan paruh baya itu tidak mampu mengucapkan apa pun selain rasa syukur dan bersalah yang bercampur menjadi satu.
Sementara Danendra memejamkan mata sejenak. Kini tinggal satu langkah terakhir yang harus ia hadapi.
Menghubungi Atharazka Bagaskara dan menyampaikan kenyataan bahwa calon pengantin yang akan berdiri di hadapannya saat akad nanti bukan lagi Jelita Arumi Respati, melainkan Amora Dania Respati.
.
Persetujuan dari Amora tidak serta-merta membuat beban di pundak Danendra Atmojo berkurang.
Justru setelah itu, tugas yang jauh lebih sulit telah menunggunya. Ia harus menghubungi Atharazka Bagaskara.
Danendra meraih telepon genggam yang sejak tadi tergeletak di atas meja ruang keluarga. Ia menatap nama Atharazka di layar beberapa saat sebelum akhirnya memberanikan diri menekan tombol panggil.
Rasa gugup yang jarang ia rasakan kembali muncul. Bagaimanapun juga, keluarga Atmojo telah gagal memenuhi kesepakatan awal.
Nada sambung terdengar beberapa kali. Tak lama kemudian panggilan tersambung.
"Selamat malam, Om."
Suara Atharazka terdengar tenang, rendah, dan tetap terdengar formal meskipun waktu telah menunjukkan dini hari.
Danendra menarik napas panjang.
"Razka... Om ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting."
"Silakan."
Tidak ada basa-basi. Atharazka memang dikenal sebagai pribadi yang lebih suka berbicara langsung pada intinya.
Danendra memejamkan mata sejenak sebelum berkata,
"Jelita... tidak ada di rumah."
Di seberang sana tidak terdengar kepanikan. Hanya keheningan beberapa detik.
"Dia pergi?" Atharazka bertanya dengan nada datar.
"Iya."
"Kami sudah mencarinya ke mana-mana, tapi belum menemukan hasil."
Danendra mengusap dahinya yang mulai dipenuhi keringat.
"Om benar-benar minta maaf."
Atharazka kembali diam. Alih-alih terdengar terkejut, suaranya justru tetap stabil.
"Kalau begitu, Om pasti sudah menyiapkan solusi."
Danendra sedikit terkejut.
"Kamu... tidak kaget?"
"Lumayan bisa ditebak."
Jawaban singkat itu membuat Danendra mengembuskan napas pelan.
Atharazka rupanya sudah memperkirakan kemungkinan terburuk tersebut sejak awal.
"Amora bersedia menggantikan Jelita."
Danendra akhirnya menyampaikan maksud sebenarnya.
"Tapi keputusan tetap ada di tanganmu. Kalau kamu menolak, Om bisa memahami."
Belum sempat ia berkata lebih banyak, Atharazka langsung memberikan jawaban.
"Saya tidak keberatan."
Danendra terdiam. Ia tidak menyangka persetujuan itu datang secepat ini.
"Kamu yakin?"
"Saya menikah karena menghormati kesepakatan kedua keluarga. Bukan karena calon pengantinnya siapa." Kalimat itu meluncur tanpa keraguan sedikit pun.
Bagi Atharazka, keputusan tersebut terdengar mudah. Tidak perlu ada yang harus ia pusingkan. Namun bagi Danendra, jawaban itu justru menimbulkan perasaan yang sulit dijelaskan.
"Bagaimana dengan Pak Bima dan Bu Selia?" tanya Danendra hati-hati.
"Mereka pasti mempertanyakan perubahan mendadak ini." Atharazka terdengar mengembuskan napas pelan.
"Soal Daddy dan Mommy, biar saya yang menjelaskan."
"Mereka akan mendengar penjelasan saya."
Danendra menganggukkan kepala, meski lawan bicaranya tidak dapat melihat.
"Terima kasih, Razka. Om benar-benar berutang budi."
"Tidak perlu." Jawaban Atharazka tetap singkat. "Besok akad tetap berjalan sesuai jadwal. Itu saja yang penting."
Setelah mengucapkan kalimat terakhir, Atharazka mengakhiri sambungan telepon.
Danendra masih memegang ponselnya beberapa saat. Ia menghela napas panjang, merasakan sebagian beban di dadanya perlahan berkurang.
Setidaknya, satu persoalan telah menemukan jalan keluar. Namun di sisi lain, hatinya kembali terasa nyeri.
Betapa mudahnya Atharazka menerima pergantian calon pengantin, seolah siapa pun perempuan yang berdiri di sampingnya saat akad tidak memiliki arti yang berbeda.
Pernikahan yang seharusnya diawali dengan harapan dan kebahagiaan, justru dimulai oleh dua orang yang sama-sama menjalankannya karena keadaan.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰