"Apa gunanya menjadi istri CEO kalau hatinya saja sedingin es kutub?"
Hidup Aratala Arasunya Grita tak pernah mudah. Sejak kecil di panti asuhan hingga berjuang demi biaya kuliah semester dua, Aratala sudah kenyang dengan kerasnya hidup. Namun, sebuah insiden sepeda listrik mempertemukannya dengan seorang wanita elegan—yang secara mengejutkan memintanya menjadi istri anaknya.
Elio Lerian Raymond, CEO muda yang dingin dan ceplas-ceplos, bukanlah pria yang mudah ditaklukkan. Awalnya Aratala menolak, namun angka fantastis yang ditawarkan mampu membungkam egonya.
Lagipula, ini cuma kontrak, pikir Aratala.
Namun, bagaimana jika pernikahan atas dasar kontrak dan kebutuhan biaya panti ini justru membawanya ke dalam pusaran perasaan yang tidak pernah ia rencanakan? Apalagi saat sang CEO mulai menunjukkan sisi posesifnya yang tak terduga.
Selamat datang di kehidupan penuh drama antara Cewe Cegil vs CEO dingin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nasib di ujung sepeda listrik
Hari ini adalah hari di mana semesta memutuskan untuk tidak berpihak padaku.
Aku baru saja keluar dari toko buku dengan perasaan campur aduk setelah melihat tagihan semester dua yang angkanya sanggup membuat jantungku berhenti berdetak. Dengan sepeda listrik butut yang remnya mulai menunjukkan tanda-tanda "pensiun dini", aku melaju terburu-buru. Aku harus sampai di panti asuhan sebelum jam makan malam, atau anak-anak akan kelaparan karena uang belanja bulan ini sudah habis kupakai untuk biaya daftar ulang.
"Awas! Minggir!" teriakku panik saat rem sepeda listrikku benar-benar tidak berfungsi di sebuah persimpangan elit.
BRUK!
Suara itu terdengar sangat mahal—seperti suara tabrakan antara kemiskinanku dan kemewahan yang tidak seharusnya aku sentuh. Seorang wanita paruh baya dengan pakaian yang tampak seperti seharga biaya kuliahku setahun, terjatuh di trotoar.
Jantungku rasanya melompat keluar. Aku segera melompat turun, kaki gemetar hebat saat menghampirinya. "Ya ampun, Ibu! Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf, rem saya blong!
Jantungku rasanya melompat keluar. Aku segera melompat turun, kaki gemetar hebat saat menghampirinya. "Ya ampun, Ibu! Maafkan saya! Saya benar-benar minta maaf, rem saya blong!"
Wanita itu perlahan mendongak. Meski bajunya sedikit kotor, wajahnya tetap terlihat elegan. Namun, begitu matanya menangkap sosokku, tatapannya berubah. Dia tidak marah. Justru, tangannya yang terawat dengan kuku-kuku yang tertata rapi langsung menggenggam kedua tanganku dengan erat—terlalu erat untuk ukuran seseorang yang baru saja tertabrak.
Matanya menyusuri wajahku, turun ke bahuku, lalu kembali menatap mataku dengan binar yang sulit kuartikan. Ada kepuasan aneh yang terpancar di sana, seolah ia baru saja menemukan barang antik yang sudah lama ia cari di tumpukan rongsokan.
"Siapa namamu, Sayang?" tanyanya dengan nada yang lembut, sangat kontras dengan situasi kacau tadi.
Aku mengerjapkan mata, masih dalam posisi setengah berlutut di aspal. "Aratala, Bu. Aratala Arasunya Grita."
🌴🌴🌴
Wanita itu tersenyum, lalu mengelus punggung tanganku. "Nama yang cantik. Sangat cantik."
"Ibu, Anda tidak terluka? Saya benar-benar minta maaf. Saya akan tanggung jawab, tapi—" suaraku tercekat. Tanggung jawab apa? Uang di dompetku saja bahkan tidak cukup untuk membeli satu set rem baru, apalagi membayar biaya berobat orang seperti dia.
Lalu dia melirik ke arah mobil sedan hitam yang berhenti mendadak di samping kami. Seorang pria turun dengan setelan jas yang membuat auranya terasa sepuluh derajat lebih dingin dari cuaca hari ini. Itu Elio Lerian Raymond.
"Ibu? Apa yang terjadi?" Suara pria itu berat, datar, dan tajam seperti pisau. Dia melirikku sekilas—hanya sekilas—seperti sedang melihat sampah di jalanan.
Wanita itu berdiri dengan bantuan Elio, namun tangannya tak pernah lepas dari lenganku. "aratala kenalkan. Ini anak ibu satu-satunya, Elio Lerian Raymond. Ganteng, kan?"
Aku mengerjapkan mata, menatap Elio dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pria itu memang punya garis rahang tajam dan setelan jas yang sempurna, tapi tatapannya saat ini seolah ingin menelanku hidup-hidup. Aku hanya bisa meringis canggung. "Eh... iya, Bu. Sangat... tampan."
"Dia punya usaha sendiri, tinggi 185 cm, berat 70 kg. Benar-benar tipe idaman cewek-cewek, kan?" lanjutnya antusias, seperti penjual barang dagangan.
Aku terbelalak. Apa-apaan ini? Aku merasa seperti sedang berada di pameran barang dagangan. Ibu ini mendeskripsikan anaknya seperti sedang menjual spesifikasi barang elektronik terbaru, tanpa tahu bahwa aku bahkan tidak punya uang untuk mengganti rem sepeda listrikku yang hancur.
"Sayangnya," wanita itu mendesah dramatis sambil menatap anaknya, "dia belum punya pacar. Tidak pernah sekalipun membawa wanita ke rumah. Hidupnya membosankan, hanya kerja dan kerja."
Elio, yang sejak tadi hanya diam dengan wajah datar, akhirnya menyela dengan suara yang sangat dingin. "Ibu, cukup. Kita tidak sedang di pasar loak. Dia hanya orang asing yang menabrak Ibu."
Wanita itu tidak mengindahkan protes anaknya ia mendekat ke telingaku, lalu berbisik pelan, "Bagaimana kalau kamu saja yang menjadi istrinya? Saya akan membayarmu tiga miliar untuk kontrak dua tahun."
sebenarnya itu bukan bisikan karna suara wanita paruh baya itu lumayan keras, sehingga masih bisa di dengar oleh Elio, atau mungkin sengaja.
Tiga miliar. Angka itu menghantam kepalaku lebih keras daripada sepeda listrikku tadi. Kehidupan panti asuhan, biaya kuliah, makan anak-anak... semuanya bisa teratasi.
Aku menatap Elio yang masih tampak kesal, lalu menatap Ibu itu dengan senyum paling manis yang bisa kubuat. "Mau, Bu! Kapan kita tanda tangan?"
Elio membeku. Dia menatapku—tatapan yang kini tidak lagi datar, melainkan penuh tanda tanya dan amarah. "Apa yang barusan kau katakan?"
Aku membusungkan dada, membiarkan sifat nekatku mengambil alih. lalu wanita paruh baya itu berbisik pelan kembali', " panggil aku mama Karina aja"
"Saya bilang saya mau, Pak. Lagipula, tiga miliar itu angka yang sangat masuk akal untuk menanggung beban hidup saya."
Balasku menatap Elio yang masih terlihat Shok.
🌴🌴🌴
Hai semua jangan lupa like koment yaa😅😉
aduh mau di apain si cegil jangan kokop pula biar liur najis angel ilang
ko bisa sih Thor angel bebas masuk apa ga ada bodyguard satpam gitu