"Luka terdalam seorang wanita bukanlah saat dia harus melepaskan, melainkan saat dia menyadari bahwa selama ini dia telah mempertaruhkan seluruh hidupnya untuk seorang pria yang bahkan tidak sudi melangkah satu senti pun untuk mempertahankannya."
Menikah dengan Arman membuat Aini Lidya paham rasanya terlantar secara mental. Nafkah pas-pasan, suami yang gemar pulang larut malam, hingga mertua dan ipar yang toxic, semuanya Aini telan bulat-bulat selama satu tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: BATAS YANG TAK TERSENTUH
Udara di koridor lantai atas gedung pencakar langit itu terasa sepi setelah ketegangan rapat naskah berakhir. Aini melangkah keluar dari ruangan dengan tas laptop yang tersampir di pundaknya. Langkah kaki celana levis cutbray-nya berayun tegap di atas lantai marmer yang mengilat. Meskipun di depan meja hijau tadi dia tampil sangat tenang bagai air di dalam cangkir, di dalam dadanya sebenarnya masih ada sisa-sisa api kekesalan yang membara.
Bagaimana mungkin pria korporat sekaku Arka Mahesa Pratama dengan mudahnya menyebut naskah "Luka dalam Rumah Tangga"—yang ditulisnya dengan perasan darah dan air mata trauma—sebagai cerita yang menye-menye?
Saat Aini sedang berdiri sendirian di depan pintu lift sambil memencet tombol panah ke bawah, sebuah langkah kaki yang berat dan berwibawa terdengar mendekat. Aini melirik sekilas dari sudut matanya, dan helaan napas pasrah langsung lolos dari bibirnya. Pria berjas hitam mahal itu kini sudah berdiri tepat di sampingnya. Arka Mahesa Pratama, sang presdir angkuh, sengaja menyuruh asistennya menunggu di ujung koridor agar bisa berbicara empat mata.
Suasana di depan lift mendadak berubah menjadi canggung dan kaku. Arka memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan premiumnya, menatap lurus ke depan dengan profil wajah yang sedingin es batu di dalam kulkas.
"Kamu penulis yang sangat keras kepala, Aini," ucap Arka tiba-tiba, suaranya yang berat memecah keheningan lift dengan nada mendikte yang kental.
"Baru pertama kali dalam hidup saya, ada seorang penulis amatir yang berani menolak mentah-mentah saran perbaikan dari investor tunggal terbesar di proyeknya sendiri. Apakah kamu tidak tahu bahwa uang saya bisa dengan mudah menghentikan seluruh proses syuting film ini bahkan sebelum kamera pertama dinyalakan?"
Mendengar ancaman kekuasaan yang bernada sombong itu, Aini bukannya gemetar ketakutan atau bersujud mengemis agar proyeknya diselamatkan. Sebaliknya, ego wanita mandirinya justru tersengat lucu. Aini membalikkan tubuhnya, menatap langsung ke arah wajah sang presdir raksasa dunia itu. Sebuah senyuman manis perlahan terukir di bibirnya, menenggelamkan sebuah lesung pipi yang teramat manis di pipi sebelah kirinya.
"Wah, Bapak Arka yang terhormat ternyata suka sekali mengancam, ya?" sahut Aini, suaranya terdengar sangat santai bahkan cenderung mengesalkan di telinga Arka.
"Silakan saja batalkan investasimu, Pak. Tarik semua uangmu sekarang juga. Uang jutaan dolar milikmu itu mungkin bisa membeli seluruh gedung pencakar langit di kota ini, tapi uangmu tidak akan pernah bisa membeli air mata dan rasa cinta dari jutaan pembaca setiamu yang menyukai kejujuran ceritaku. Lagipula, kalau film ini batal diproduksi hanya karena aku mempertahankan harga diri tokoh wanita yang tersakiti, aku tidak akan rugi kok. Aku tinggal mengemas pakaianku ke dalam koper, lalu pulang naik travel dengan bangga ke rumah orang tuaku di Pesisir Selatan. Beres, kan?"
Arka seketika menolehkan kepalanya dengan cepat, sepasang matanya menyipit tajam menatap Aini dengan pandangan tidak percaya. Rahangnya mengeras seketika.
"Kamu... menganggap remeh kekuatan finansial saya? Kamu pikir memproduksi film ini semudah membalikkan telapak tangan?"
"Eh, denger ya, Mas... eh, Bapak Presdir yang terhormat," potong Aini blak-blakan, hampir saja salah memanggil pria kaku itu dengan sebutan 'Mas' akibat terbawa emosi naskah novelnya. "Bisnis memang butuh angka-angka di atas kertas, tapi kalau semua hal di dunia ini diukur pakai uang, mending Bapak Arka bikin film tentang kalkulator atau mesin kasir saja, jangan bikin film tentang perasaan manusia. Dijamin tidak akan ada emosi menye-menye yang bikin Bapak pusing!"
Uhuk!
Arga sang asisten pribadi yang sejak tadi mengintip dari kejauhan di ujung koridor, seketika membekap mulutnya sendiri agar tidak kelepasan tertawa mendengar bos besarnya disuruh membuat "film tentang kalkulator" oleh orang asing.
Wajah Arka Mahesa Pratama yang biasanya pucat dingin kini mendadak memerah padam akibat menahan rasa gemas dan kesal yang luar biasa. Selama 35 tahun hidup di dunia, semua orang selalu menunduk gemetar ketakutan setiap kali dia membuka mulut. Namun wanita di depannya ini justru mengomelinya dengan nada santai seolah-olah dia adalah anak kecil yang sedang merengek meminta mainan baru.
"Kamu... benar-benar keterlaluan. Berani-beraninya kamu berbicara seperti itu kepada saya," desis Arka, mencoba mengembalikan wibawa dinginnya meskipun batinnya sudah acak-acakan oleh kelucuan argumen Aini.
"Aku cuma bicara fakta, Pak Arka," balas Aini cuek, tepat saat pintu lift di depan mereka berdenting nyaring dan terbuka lebar. Aini melangkah masuk ke dalam kotak besi tersebut dengan gerakan yang teramat anggun, lalu berbalik badan menatap Arka yang masih berdiri membeku di luar ambang pintu lift.
Sambil memegang tombol penahan pintu, Aini menatap langsung ke dalam manik mata tajam sang presdir, memperlihatkan kedutan tipis di lesung pipi kirinya. "Oh ya, satu lagi, Pak. Di dalam lift khusus kemarin, Bapak menatap saya dengan sangat aneh sampai saya terpaksa berteriak 'pria hidung belang'. Hari ini, di depan meja rapat, Bapak malah mengkritik naskah saya habis-habisan. Kalau boleh saya tebak... Bapak sengaja mencari-cari kesalahan naskah saya hanya karena Bapak gengsi dan bingung bagaimana cara meminta maaf yang benar kepada saya atas kejadian di lift kemarin, bukan?"
Mendengar tebakan Aini yang teramat telak dan blak-blakan meruntuhkan harga diri egonya, kedua bola mata Arka seketika melebar sempurna karena terkejut. Lidahnya mendadak kelu, membeku seribu bahasa di tempatnya berdiri bagai patung batu di tengah koridor gedung.
Aini melepaskan tombol penahan pintu lift dengan seulas senyuman kemenangan yang teramat manis.
"Permisi, Bapak Presdir. Selamat memikirkan film kalkulatornya," ucap Aini menutup pembicaraan dengan komedi segar.
Pintu besi lift perlahan bergeser menutup rapat, memutuskan pandangan mata mereka dan membawa Aini meluncur turun menuju lantai bawah dengan hati yang teramat lapang, puas, dan merdeka. Sementara itu, di koridor lantai atas, Arka Mahesa Pratama masih berdiri diam membisu dengan dada yang bergemuruh hebat, bukan oleh amarah murka, melainkan oleh rasa takjub dan getaran asing yang kian menghunjam sedalam-dalamnya ke dalam relung batinnya. Dia baru saja menyadari bahwa dia telah menemukan satu-satunya wanita di dunia yang memiliki batas harga diri yang tidak akan pernah bisa ditekuk oleh tumpukan hartanya.
Sebab, benteng harga diri yang dibangun seorang wanita di atas kaki kemandiriannya sendiri adalah zirah yang teramat mahal; membuktikan bahwa kilau keangkuhan harta tidak akan pernah memiliki kekuatan untuk mendikte jiwa yang telah merdeka dari lingkaran luka batin.