NovelToon NovelToon
Pilihan Hati Anisa

Pilihan Hati Anisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Single Mom
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: pinkanmiliar

Kehamilan yang selama ini mati-matian disembunyikan Anisa akhirnya terbongkar. Ironisnya, orang pertama yang mengetahui rahasia itu justru Reinhart—dokter magang di kampus tempatnya menimba ilmu.

Sejak hari itu, hidup Anisa berubah. Semakin ia berusaha menghindar, semakin sering takdir mempertemukan mereka. Tatapan penuh rasa ingin tahu dari Reinhart perlahan berubah menjadi kepedulian yang sulit diabaikan.

----------------------------

"Siapa ayah dari bayimu?"

"Itu bukan urusan Dokter."

"Kalau begitu... izinkan saya menjadi ayah untuk bayi itu."

Anisa hanya tersenyum getir.

"Maaf. Saya menolaknya."

-----------------------

Namun, sampai kapan rahasia itu bisa disembunyikan? Dan ketika kebenaran akhirnya terungkap, apakah cinta Reinhart masih cukup kuat untuk menerima Anisa... beserta luka dan masa lalunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pinkanmiliar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jurus Jitu Reinhart

Cahaya senja menyinari halaman rumah yang dipenuhi tanaman hijau, memberi nuansa tenang namun sedikit mencekam bagi Anisa. Ia berdiri di depan pintu, menatap rumah itu dengan tatapan ragu.

"Apakah ini keputusan yang benar?" gumamnya dalam hati, sambil menggenggam kunci di tangannya. Kenangan tentang Reinhart, pria yang pernah membuat hatinya berdebar, kembali mengusik pikirannya. Lalu ada Ruby, si kakak kelas yang dulu selalu membuat hari-harinya di SMA penuh warna. Namun, sekarang semua itu hanya menjadi bagian dari masa lalu yang ingin ia tinggalkan.

Anisa mengambil napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu dan memulai lembaran baru di rumah ini bersama Rere, putri kecilnya yang merupakan sumber kebahagiaannya. Langkah kakinya yang ragu akhirnya memutuskan untuk melangkah masuk, mendorong pintu yang terbuka dengan sedikit berderit. Ruangan di dalamnya terasa hangat dan menyambut, seakan mengerti kegelisahan yang tersimpan dalam dada Anisa.

Ia meletakkan tasnya di sofa dan berjalan ke jendela, melihat ke halaman belakang yang sunyi.

"Aku hanya ingin hidup tenang bersama Rere. Hanya kami berdua," bisik Anisa pada bayangan di kaca jendela.

Di kejauhan, suara anak-anak bermain mengingatkannya pada keinginan untuk memberikan yang terbaik bagi putrinya, menjauh dari kerumitan masa lalu yang sempat menghantui. Dengan tekad baru, Anisa memutuskan untuk memulai hidup baru ini, penuh harapan dan ketenangan untuk masa depan mereka.

Anisa merasakan tekanan lembut di bahunya, memutarnya dan menemukan Mak Rahma, adik ibunya, dengan senyuman yang menghangatkan. "Kamu sudah pulang ternyata," ucap Mak Rahma lembut.

"Iya, Mak. Rere mana, Mak? Kok gak kelihatan sama anak-anak tetangga?" tanya Anisa, cemas melihat ke sekeliling.

Mak Rahma menarik napas panjang, "Anakmu itu setiap hari membicarakan soal Dokter Reinhart terus. Sepertinya dia sangat merindukan sosok ayah, Nisa."

Anisa merasa perih mendengarnya, dia duduk di kursi kayu yang sudah sedikit reot di teras rumah. "Tapi, Dokter Reinhart bukan ayahnya Rere, Mak," jawabnya pelan, suaranya nyaris tidak terdengar.

"Emak tahu. Kamu yang paling memahami putrimu kan. Dia hanya ingin bermain," Mak Rahma membalas dengan nada mengerti, matanya tidak lepas dari wajah Anisa yang tampak gundah.

Anisa menunduk, pikirannya melayang pada keinginan kuat Rere yang terus-terusan berbicara tentang dokter yang ramah itu. Mungkin dalam benak Rere, dokter itu adalah pahlawan yang bisa menggantikan sosok ayah yang tak pernah ada dalam hidupnya. Anisa mengusap air mata yang mulai menggenang, berusaha keras untuk tetap kuat demi putri kecilnya itu.

"Nisa pergi dulu ya, Mak. Aku mau jemput Rere di rumah Dokter Reinhart."

Mak Rahma mengangguk. "Iya, hati-hati."

***

Cemas melingkupi hati Anisa saat matahari mulai turun di ufuk barat. Jantungnya semakin mencelos ketika dia melihat betapa mesranya Rere, anak perempuannya, bermain dengan Reinhart. Pria itu, dengan senyuman lembut dan matanya yang tulus, sepertinya mengerti bahasa hati Rere yang masih kecil.

Anisa mengetuk pintu rumah Reinhart yang ternyata terbuka, "Assalamu'alaikum," suaranya agak bergetar.

Dari dalam, Reinhart segera menanggapi dengan hangat, "Wa'alaikumsalam, Anisa. Oh, kamu datang untuk menjemput Rere?"

Anisa hanya mengangguk kecil, matanya tak lepas dari Rere yang sedang asyik bermain. Rere tampak begitu bahagia dengan tumpukan mainan baru di atas karpet yang empuk itu.

Mendekati Anisa, Reinhart menatap mainan-mainan itu. "Oh, ini? Saya yang membelikannya," ujarnya seraya menggaruk tengkuknya, "saya pikir, dia akan suka." Sikapnya tampak canggung tapi tulus.

"Dokter tidak perlu repot melakukan semua ini." Anisa menghampiri Rere dan meminta gadis kecil itu untuk ikut pulang dengannya.

Rere menatap Reinhart lebih dulu sebelum menatap ibunya lagi. "Iya, Ma. Rere pulang."

"Besok jangan main kesini tanpa izin dari Mama. Mengerti?" peringat Anisa.

"Anisa!" Reinhart menghentikan langkah Anisa dan Rere. "Saya tidak keberatan Rere sering main kesini."

"Tapi saya yang keberatan! Apa kata orang-orang kalau tahu Rere sering main kemari? Tolong jangan membuat hidup saya bertambah rumit, Dokter." Anisa menggandeng tangan Rere dan membawa putrinya keluar dari rumah Reinhart.

Tanpa Anisa ketahui, rupanya ada sepasang mata yang memperhatikan interaksi mereka bertiga.

"Ada hubungan apa mereka bertiga itu?" gumam pria yang adalah Rudi itu.

*

*

*

Keesokan harinya, Rere mulai merengek lagi, matanya mengembang penuh harap saat ia menarik-narik ujung baju Anisa.

"Mama, Rere mau main ke rumah Om Dokter, dong." Suara lembut itu berubah menjadi isakan tangis saat Anisa, dengan wajah lelahnya, menggeleng tegas. "Ayo main dengan Emak di rumah saja, sayang," rayunya pelan.

"Gak mau! Rere mau main sama Om Dokter!" seru Rere, tangisnya pecah. Anisa memijat pelipisnya, mencoba meredam rasa sakit yang mulai menusuk-nusuk kepalanya. "Mama juga bisa belikan mainan, sayang, seperti yang Om Dokter belikan." Ucapannya semakin pelan, berharap bisa meredakan amukan Rere.

Tiba-tiba, suara berat menggema, membuat keduanya menoleh. Reinhart berdiri di ambang pintu, tersenyum hangat. "Selamat pagi, Anisa," sapanya ramah.

Anisa hanya menatapnya, bibirnya mengeras.

"Om Dokter jadi kan bawa Rere ke kota?" tanya Rere, matanya bersinar penuh harap.

Kejut memenuhi wajah Anisa. "APA! Ke kota?" suaranya meninggi, nyaris tak percaya.

Reinhart menggaruk kepalanya, tampak canggung. "Maaf, Anisa. Saya lupa mengabarkan kepadamu bahwa saya ajak Rere ke kota sebentar saja. Lagipula hari ini kan hari libur," ujarnya mencoba menenangkan.

Anisa menarik napas dalam, berusaha menata kembali emosinya yang berkecamuk oleh sikap Reinhart yang seolah sudah berhak atas Rere.

"Ayo, Ma. Rere mau pergi sama Om Dokter," rajuk Rere dengan memelas.

"Oh, Ya Allah..." Anisa mengusap wajahnya. Lalu beralih menatap Reinhart. "Apa saya bisa mempercayai Dokter?"

Reinhart dengan sikap berdiri tegap membalas Anisa, "tentu saja! Kamu bisa percaya sama saya. Kalau perlu ... kamu bisa kasih nomor telepon kamu, dan saya akan mengabarkan tentang Rere setiap waktu." Reinhart menyodorkan ponselnya.

Anisa ragu untuk mengambil ponsel di tangan Reinhart. Jika ia memberikan nomor teleponnya pada Reinhart, itu artinya mereka akan menjalin komunikasi seperti dulu.

"Kita ini rekan kerja. Masa saya tidak punya nomor kamu? Kalau ada apa-apa bagaimana?"

"Haaaahhh." Anisa mengembus napas lelah. Anisa mengambil ponsel Reinhart dan menuliskan nomor ponselnya di sana.

Reinhart menerima kembali ponselnya. Ia segera memastikan jika nomor ponsel Anisa adalah asli.

Dering ponsel menggema. Anisa menunjukkan ponselnya. "Saya tidak bohong," ketusnya.

"Oke! Tolong kamu simpan nomor saya itu ya."

"Kira-kira nanti pulang jam berapa?" tanya Anisa.

"Hmm, belum tahu. Tapi, perjalanan ke kota sudah lebih cepat karena ada fasilitas dari dokter Boy. Atau kamu ... mau ikut dengan kami?"

"Ha? E-enggak perlu. Biar Rere saja yang pergi." Anisa salah tingkah. Tidak mungkin juga ia pergi bertiga dengan Rere dan Reinhart. Macam keluarga kecil yang bahagia saja.

"Ya sudah, kalau begitu. Kami berangkat dulu. Yuk, Re!" Reinhart mengulurkan tangan dan disambut oleh tangan mungil Rere.

"Dah, Mama..." Rere melambaikan tangan.

Sepeninggal mereka berdua, Anisa duduk terdiam di sofa. Dia memikirkan masa depan dirinya dan Rere. Lalu Reinhart? Sampai kapan pria itu tinggal di desa ini?

Anisa memegangi kepala dengan dua tangan. Inginnya selalu menolak Reinhart. Namun, pesona pria itu sungguh kuat dan memikat. Rere saja seperti jatuh cinta padanya.

"Gak perlu ditahan, Nak. Kalau kamu memang masih memiliki perasaan sama dia, akui saja."

"Emak!" protes Anisa. "Aku dan dia gak ada apa-apa kok."

"Bibir kamu memang bicara begitu. Tapi coba tanya sama hati kamu. Kamu masih cinta kan sama dia? Emak lihat dia tulus menyayangi Rere dan kamu. Apa salahnya membuka lembaran baru dengannya."

Anisa menggeleng. "Gak semudah itu, Mak."

"Kamu yang membuatnya sulit. Padahal Nak Reinhart sudah mengeluarkan jurus jitunya."

Anisa mengernyitkan dahi. "Jurus jitu? Jurus jitu apa?"

Mak Rahma mencebikkan bibir. "Begitu saja gak tahu. Kamu memang tidak peka." Mak Rahma menggeplak lengan Anisa.

Anisa hanya diam dan mengusap lengannya yang dipukul Mak Rahma. Sementara itu, di mobil yang menuju ke hanggar, Reinhart senyam-senyum menatap layar ponselnya. Ia sudah mendapatkan nomor kontak Anisa. Akan lebih mudah baginya untuk mendekati wanita itu kali ini.

"Aku yakin kali ini pasti berhasil." Reinhart mengusap puncak kepala Rere yang sedang bersenandung gembira.

1
falea sezi
oalah bodoh bgt anisa😒
Emak Femes: makasih udh mampir Kak 🫶🏻🫶🏻
total 1 replies
Sunarti Narti
itu namanya jodoh
Dian
suka
Emak Femes: Makasih sudah mampir, Kak 😍
total 1 replies
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐
Baru episode satu kamu udah bikin hidup orang rumit, Mak🤣

daebaklah! karya baru terus pkoknya!🤸
≛⃝ᴹᵃᵍⁱˢⁿᵃ❀࿐: ❤️❤️❤️
semangART, Emak!
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!