NovelToon NovelToon
The Sarcastic Survival Log

The Sarcastic Survival Log

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Fantasi Isekai / Survival
Popularitas:181
Nilai: 5
Nama Author: D'Silent Novel

Sinopsis: Mati konyol akibat tersedak tutup pulpen saat mencoba pamer trik sulap di depan kucingnya, Raditya dilempar oleh Dewa Administrasi yang burnout ke Aethelgard—dunia fantasi purba yang super kejam dan mematikan.

Bukannya dibekali pedang suci atau sihir penghancur masal, Raditya hanya diberi sebuah Sistem Survival yang hobi menghujat, bermulut sarkas, dan gemar memberikan hadiah absurd seperti panci aluminium. Tanpa kemampuan bertarung, Raditya terpaksa mengandalkan logika Bumi yang pas-pasan, keberuntungan yang aneh, dan adu bacot dengan sistemnya sendiri demi tidak mati untuk kedua kalinya di dasar rantai makanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'Silent Novel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: Undangan Kastel Baron

Pagi hari di Distrik Barat Oakhaven biasanya disambut oleh bau amis parit dan teriakan kasar para penjagal monster. Namun, sejak Warung Grosir Sachet Raditya berdiri, distrik ini bertransformasi total. Udara pagi kini harum semerbak oleh aroma serai, daun jeruk, dan gurihnya kaldu ayam yang begitu pekat, membuat para tikus selokan pun mendadak mogok makan sampah dan ikut mengantre di depan lapak Raditya.

​"Ayo, antre yang rapi! Jangan ada yang memotong kompas antrean kalau tidak mau dahi kalian saya stempel pakai ketapel!" seru Raditya, tangan kirinya sibuk mengaduk sebuah panci besar berisi air mendidih.

​Hari ini, setelah membuka kategori [Grosir Sembako] berkat kesuksesan misi kemarin, Raditya memutuskan untuk melakukan diversifikasi produk. Dia tidak lagi menjual mi instan goreg, melainkan menaikkan level kuliner warungnya ke tahap yang lebih ekstrem: Soto Ayam Instan Kemasan Kardus (Rasa Otentik Madura).

​Nona Lira duduk di bangku kayu panjang sembari mengunyah kerupuk bungkusan plastik transparan yang baru saja dibelinya seharga satu koin perak. "Tuan Raditya, cairan kuning berminyak di dalam pancimu itu... baunya benar-benar bisa membuat naga tidur terbangun kelaparan. Sihir hitam apa lagi yang kau masukkan ke dalamnya?"

​"Ini bukan sihir hitam, Nona Lira. Ini namanya kuah soto dengan kombinasi bumbu sachet komplit, koya gurih instan, dan sisa Akar Jahe Bara kemarin untuk sensasi hangat," jawab Raditya bangga. Dia lalu menuangkan kuah kuning itu ke dalam mangkuk seorang petualang tingkat menengah yang sudah menunggu sejak subuh.

​Ding!

​[Analisis Produk - Soto Ayam Sachet v3.0]:

​Kualitas: Epik (Rasa Gurih Menembus Batas Logika).

​Efek Tambahan: Buff [Semangat Juang Membara] selama 3 jam, meningkatkan regenerasi stamina sebesar 250% dan memberikan efek kekebalan terhadap sihir cuaca dingin.

​Catatan Sistem: Bau soto Anda begitu kuat hingga faksi intelijen kastel yang mengintai di balik pohon sejak tadi malam terus-terusan menelan ludah sampai tenggorokan mereka kering.

​Tepat saat sistem memunculkan notifikasi tersebut, kerumunan petualang yang sedang asyik menyeruput kuah soto mendadak sunyi senyap. Suara derap langkah kaki kuda yang teratur dan gemerincing zirah besi berkualitas tinggi terdengar mendekat dari arah jalan utama.

​Empat orang ksatria berkuda dengan zirah perak mengilat berlambang pohon ek emas—simbol pasukan elit pengawal pribadi Baron Vane—berhenti tepat di depan lapak kumuh Raditya. Pemimpin mereka, seorang pria paruh baya dengan janggut rapi dan pedang besar di pinggangnya, turun dari kuda dengan gerakan formal yang kaku.

​"Apakah kau yang bernama Raditya, sang pemilik warung sachet?" tanya ksatria itu dengan suara bariton yang berwibawa, meskipun matanya sempat melirik tidak fokus ke arah panci kuah soto.

​"Benar, Tuan Ksatria. Ada yang bisa saya bantu? Mau memesan soto? Maaf, slot pagi ini sudah habis, tinggal sisa kuah dan remah-remah koyanya saja," sahut Raditya santai tanpa menghentikan kegiatannya menghitung koin perak.

​Nona Lira langsung berdiri, wajahnya pucat. "Ksatria Senior Jaxon... dari Pengawal Kastel Dalam..." bisiknya ketakutan.

​Ksatria Jaxon mendehem keras, berusaha menjaga wibawanya yang hampir runtuh akibat godaan aroma serai kuah soto. "Tuan Raditya, saya datang membawa perintah langsung dari penguasa kota ini, Baron Vane. Beliau mendengar tentang... keunikan barang daganganmu dan kontribusimu dalam menertibkan preman Distrik Barat. Anda diundang secara resmi ke Kastel Oakhaven untuk jamuan makan malam privat bersama Baron malam ini."

​Jaxon menyerahkan selembar surat perkamen tebal yang disegel dengan lilin merah berlogo kastel.

​Para petualang di sekitar langsung berbisik panik. Diundang oleh Baron Vane biasanya hanya berarti dua hal: kau akan diberi posisi militer yang mematikan, atau bisnismu akan disita secara paksa atas nama hukum wilayah.

​Raditya menerima surat itu, membolak-baliknya dengan santai, lalu tersenyum tipis laksana seorang CEO yang baru saja mendapatkan proposal merger dari perusahaan kompetitor.

​Ding!

​[Misi Utama Faksi Aktif]: Diplomasi Meja Makan Kastel Oakhaven!

​Tujuan: Hadiri undangan Baron Vane dan amankan hak operasional dagang independen Anda tanpa harus membayar pajak upeti yang absurd.

​Rekomendasi Sistem: Para bangsawan terbiasa memakan daging monster panggang yang keras dan anggur asam. Tunjukkan pada mereka superioritas kuliner instan Bumi. Siapkan menu sachet tingkat tinggi yang bisa membuat lidah sang Baron kelu.

​Hadiah Misi: Pembukaan Kategori 'Grosir Minuman Sachet' (Kopi, Teh Tarik, dan Es Sirup Instan) serta +500 Poin Survival.

​"Undangan yang sangat terhormat," ujar Raditya sambil membungkuk sopan ala kadarnya. "Sampaikan pada Tuan Baron, saya dengan senang hati akan hadir. Dan sebagai tamu yang tahu tata krama, saya sendiri yang akan memasak menu makan malam untuk beliau nanti."

​Ksatria Jaxon mengernyitkan dahi. "Kau ingin memasak di dapur kastel? Baron Vane memiliki koki kerajaan tingkat tinggi—"

​"Koki Anda mungkin bisa mengolah daging naga, Tuan Jaxon, tapi mereka tidak punya rahasia kebahagiaan dunia modern," potong Raditya penuh percaya diri.

​Malam harinya, Raditya berjalan menuju Distrik Dalam ditemani oleh Nona Lira yang bersikeras ikut dengan alasan ingin menjadi saksi jika Raditya mendadak dieksekusi atau dipenjara. Raditya mengenakan kemeja flanel terbaiknya yang sudah disetrika secara magis oleh sistem (menggunakan fungsi pelurusan kain otomatis seharga 2 poin survival), sementara di punggungnya bertengger sebuah tas ransel taktis hitam yang berisi 'senjata diplomasi' kulinernya.

​Kastel Oakhaven berdiri megah dengan arsitektur gotik kuno. Aula makannya dilapisi karpet merah beludru tebal, diterangi oleh ratusan lilin sihir yang melayang. Di ujung meja panjang berbatu marmer, duduklah Baron Vane—seorang pria bertubuh kurus dengan tatapan mata elang yang dingin, mengenakan jubah bulu serigala salju yang mewah.

​Di sampingnya, sang menteri logistik yang gemuk menatap Raditya dengan pandangan bermusuhan.

​"Selamat malam, Tuan Raditya," suara Baron Vane bergema dingin di dalam aula. "Aku telah mendengar banyak hal tentangmu. Seorang pengembara tanpa faksi yang bisa membuat kerusuhan komersial di distrik kumuhku, mengusir preman berlevel tinggi dengan bumbu dapur, dan menjual makanan kemasan aneh yang membuat para petualangku mogok membeli ransum kastel."

​Raditya menjabat tangan Baron dengan formal, lalu mengambil tempat duduk di seberangnya. "Semua itu hanya usaha kecil-kecilan untuk menyambung sirkulasi modal, Tuan Baron."

​"Usaha kecil yang mengganggu stabilitas monopoli kastel, Tuan Raditya," sela sang menteri logistik dengan ketus. "Makanan plastizmu itu ilegal! Tidak terdaftar di Kementerian Alkimia Kerajaan!"

​Baron Vane mengangkat tangan kanannya, menyuruh menterinya diam. "Aku adalah orang yang pragmatis, Raditya. Aku bisa saja menyita seluruh barang bawaanmu malam ini dan menjebloskanmu ke penjara bawah tanah atas tuduhan perdagangan gelap. Namun, aku ingin memberi sepotong keadilan. Tunjukkan padaku apa yang membuat makananmu begitu digilai, atau serahkan formula sihir kemasan plastik itu kepadaku sebagai pajak wilayah."

​Raditya tidak panik sedikit pun. Dia justru tertawa kecil, suara tawanya terdengar sangat santai hingga membuat para pengawal zirah perak di sekitar meja refleks memegang hulu pedang mereka.

​"Tuan Baron yang Bijaksana," Raditya bangkit berdiri, membuka ritsleting tas ransel taktisnya dengan gerakan dramatis. "Formula plastik itu tidak akan bisa direplikasi oleh penyihir terhebat Anda sekalipun karena itu diproduksi oleh pabrik lintas dimensi. Tapi, sebelum kita bicara soal hukum dan pajak, bagaimana kalau kita biarkan lidah Anda yang mengambil keputusan bisnis?"

​Dengan izin dari Baron, Raditya melangkah ke arah meja penyajian darurat yang sudah disiapkan di samping aula. Dari dalam tasnya, dia mengeluarkan tiga buah cup sterofoam putih misterius: Mi Instan Seduh Cup Rasa Bakso Sapi Mercon, lengkap dengan potongan daging kornet sapi, potongan cabai rawit lokal yang dia beli di pasar, serta bungkusan bumbu minyak yang pekat.

​Raditya meminta seorang pelayan kastel menuangkan air panas mendidih ke dalam cup tersebut, lalu menutupnya selama tiga menit menggunakan selembar kertas nota kosong warungnya.

​Selama tiga menit itu, keheningan aula makan malam berubah menjadi ketegangan aromatik. Bau uap kaldu bakso sapi yang bercampur dengan minyak cabai yang pedas mercon mulai merembes keluar dari celah-celah cup sterofoam, memenuhi seluruh ruangan aula kastel yang mewah.

​Menteri logistik yang gemuk itu mendadak memegang perutnya yang berbunyi kruuuk, sementara Baron Vane sendiri yang tadinya bersandar angkuh di kursinya pelan-pelan menegakkan punggung, matanya menatap tajam ke arah tiga cup putih di atas meja.

​Ding!

​[Operasi Diplomasi Kuliner Dimulai]:

​Target: Lidah Bangsawan Baron Vane.

​Senjata Utama: Rasa Gurih Bakso Mercon Level 5 Bumi.

​Pesan Sistem: Saatnya menghancurkan harga diri kuliner kelas atas mereka dengan kekuatan MSG tingkat absolut, Manajer! Jangan biarkan mereka menyisakan kuahnya!

​"Waktunya habis," ujar Raditya sambil membuka penutup cup dengan gerakan anggun laksana pelayan restoran bintang lima. "Silakan dinikmati, Tuan Baron. Ini adalah Sup Kaldu Sapi Mercon Jiwa dari faksi Grosir Sachet."

​Pelayan dengan tangan gemetar menyodorkan cup tersebut ke hadapan Baron Vane dan sang menteri logistik.

​Baron Vane menatap garpu plastik kecil yang disediakan Raditya dengan ragu. Dia menusuk beberapa helai mi yang keriting, mengambil sedikit potongan kornet, lalu memasukkannya ke dalam mulutnya yang terhormat.

​Hening.

​Satu detik... dua detik... tiga detik...

​Mata Baron Vane mendadak membelalak lebar hingga hampir keluar dari rongganya. Wajahnya yang tadinya pucat aristokrat langsung berubah menjadi merah padam seperti udang rebus. Keringat sebesar biji jagung mulai bercucuran dari dahinya, menetes membasahi jubah bulu serigala saljunya yang mewah.

​"T-Tuan Baron?!" teriak sang menteri panik, namun tangannya sendiri sudah refleks menyuap mi dari cup miliknya dan detik berikutnya si menteri langsung mengerang histeris, "DEMI DEWA! INI... INI... PEDAS TAPI KENAPA SANGAT ADIKTIF REYOT SEPERTI INI?!"

​BRAAAK!

​Baron Vane menghantamkan tangannya ke meja, bukan karena marah, melainkan karena syok emosional akibat ledakan rasa gurih micin yang bercampur dengan pedasnya mercon cabai Bumi. Dia tidak memedulikan lagi tata krama bangsawan; dengan gerakan barbar yang mirip petualang kelaparan di distrik kumuh, sang Baron langsung mengangkat cup sterofoam itu dan meneguk kuah bakso mercon tersebut sampai tetes terakhir!

​"AHHHHHHHHH!!!" Baron Vane mendesah keras, wajahnya penuh keringat namun ekspresinya tampak seperti pria yang baru saja mendapatkan pencerahan spiritual setelah bertapa seratus tahun. "Sensasi rasa apa ini?! Pedasnya membakar tenggorokanku, tapi kegurihan kaldunya... ini jauh lebih murni daripada seluruh sup daging yang pernah dimasak di istana kerajaan! Aliran energiku... staminaku yang lelah karena memikirkan anggaran kota mendadak pulih total!"

​Baron Vane menatap Raditya dengan pandangan yang tidak lagi dingin, melainkan pandangan penuh rasa hormat yang bercampur dengan rasa takut akan potensi adiksi makanan tersebut.

​"Raditya..." ujar Baron Vane dengan napas memburu, menyeka sisa kuah merah di sudut bibirnya dengan sapu tangan sutra. "Sebutkan maumu. Hak dagang? Pembebasan pajak? Atau kau mau menjadi koki pribadi kastelku dengan gaji seratus koin emas per bulan?!"

​Raditya merapikan kerah kemeja flanelnya, tersenyum lebar dengan aura kapitalis yang memancar kuat dari tubuhnya.

​"Menjadi koki kastel terlalu membatasi ruang gerak finansial saya, Tuan Baron," jawab Raditya tenang. "Bagaimana kalau kita bicara soal skema kemitraan bisnis? Saya tetap membuka warung secara mandiri, kastel mendapatkan pasokan komoditas sachet eksklusif setiap minggu untuk pasukan pengawal, dan sebagai gantinya... Warung Grosir Sachet Raditya dibebaskan dari segala bentuk pajak wilayah Oakhaven selama satu tahun ke depan. Bagaimana, Deal?"

​Ding!

​[Negosiasi Sukses Mutlak!]:

​Baron Vane menerima syarat kemitraan tanpa syarat akibat efek [Adiksi Bakso Mercon].

​Kategori Baru Terbuka: 'Grosir Minuman Sachet' kini aktif di menu Toko Sistem Anda!

​Poin Survival Diperoleh: +500 Poin!

​Sisa Saldo Poin Anda Saat Ini: 1.280 Poin! (Anda resmi menjadi Jutawan Poin pertama di faksi selatan!).

​Baron Vane mengangguk cepat tanpa ragu sedikit pun. "Setuju! Jaxon, siapkan surat kontrak resmi dengan cap darah kastel sekarang juga! Jangan sampai pedagang flanel ini berubah pikiran dan membawa sup mercon ini ke kota benteng sebelah!"

​Di sudut ruangan, Nona Lira hanya bisa menepuk dahinya dengan pasrah, melihat bagaimana seorang penguasa militer tertinggi di sektor selatan tak berkutik dan bertekuk lutut hanya di hadapan seonggok cup mi instan sterofoam seharga beberapa perak dari dunia lain.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!