Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Di dalam kabin mobil yang melaju membelah kegelapan malam, atmosfer terasa begitu mencekam.
Efek obat perangsang dosis tinggi yang disuntikkan Bramasta kini semakin menggila dan merusak kesadaran Diaz.
Wanita itu mulai mengerang frustrasi, tangannya bergerak gelisah meraba dan menaikkan pakaiannya sendiri karena merasa seluruh organ tubuhnya terbakar dari dalam.
"Panas... Ganda, a-aku tidak kuat... tubuhku rasanya mau pecah..." ucap Diaz dengan napas yang memburu parah, pelipisnya basah kuyup oleh keringat.
Ganda melirik dari kaca spion tengah dengan dada yang bergemuruh panik.
Ia tahu jarak menuju rumah sakit daerah masih terlampau jauh, melewati jalur yang berliku.
Dengan dosis sekeras itu, jika tidak segera ditangani, racun kimia tersebut bisa memicu serangan jantung mendadak atau merusak jaringan saraf Diaz.
Menyadari kondisi istrinya sudah di ambang batas bahaya, Ganda mengambil keputusan nekat.
Ia membanting setir, membelokkan mobilnya masuk ke pelataran sebuah hotel mewah terdekat yang ia temui di pinggir jalan raya.
Tanpa memedulikan pandangan resepsionis, Ganda langsung membopong tubuh Diaz yang terus melenguh pasrah, membawanya masuk ke dalam kamar kelas VVIP yang sunyi.
Ia membaringkan tubuh istri pertamanya itu di atas ranjang king-size yang luas.
Di tengah siksaan gairah yang membakar, Diaz yang masih memiliki sisa-sisa kesadaran terakhirnya mendadak menggerakkan tangan, mendorong dada tegap Ganda menjauh.
"Jangan... jangan sentuh aku..." bisiknya lirih, air mata mengalir dari sudut matanya yang memerah. Ia takut, ia trauma, dan ia merasa kotor.
Ganda menahan kedua tangan Diaz, menatap lurus ke dalam manik mata istrinya dengan tatapan yang teramat cemas namun serius.
"Diaz, dengar aku. Tolong tatap mataku," ucap Ganda, suaranya bergetar berat.
"Kamu bisa mati, atau pembuluh darah di otakmu bisa pecah kalau racun obat jahanam ini tidak disalurkan sekarang. Ini bukan lagi soal nafsu, Diaz. Ini soal nyawamu."
Mendengar kalimat itu, benteng pertahanan terakhir di kepala Diaz runtuh total.
Kehilangan kendali penuh atas tubuhnya sendiri akibat stimulasi obat yang memaksa, Diaz mendadak merangsek maju.
Ia menarik kerah baju Ganda dengan beringas, lalu mencium bibir suaminya dengan ganas, liar, sekaligus frustrasi—sebuah jeritan tak bersuara dari tubuhnya yang meminta pertolongan.
"Panas sekali, aku tidak kuat. Maafkan aku, Ganda... maaf..." ratap Diaz di sela-sela ciumannya yang kacau.
Ganda tertegun sebentar, jantungnya berpacu hebat.
Dengan memohon ampun yang teramat sangat di dalam lubuk hatinya kepada Allah atas situasi darurat ini, Ganda perlahan mulai membuka kemeja formalnya sendiri, lalu membantu melepaskan pakaian istrinya demi menolong dan menuntaskan racun yang menyiksa itu.
Di antara kepungan gairah obat yang mengaburkan akal sehat, sisa hati nurani Diaz menangis lirih.
Ia menyembunyikan wajahnya yang merah padam di ceruk leher Ganda.
"Ganda, jangan lihat... aku malu..."
Ganda tidak menjawab dengan kata-kata kasar. Ia justru mengepalkan jemarinya, lalu mengecup kening Diaz dengan teramat lembut namun dalam, menyalurkan rasa hormat dan perlindungan yang utuh.
"Maafkan aku, Diaz. Malam ini, persyaratan dan perjanjian pernikahan kita terpaksa aku langgar untuk menyelamatkanmu," bisik Ganda tulus.
Meski keadaan di atas ranjang itu begitu mendesak dan dipenuhi gejolak insting, Ganda tidak kehilangan jati dirinya sebagai seorang lelaki yang taat agama.
Sebelum memulai hubungan intim yang sama sekali tak terduga itu, Ganda merapatkan tubuhnya, lalu dengan khusyuk dan fasih melafalkan doa sebelum bersetubuh tepat di samping telinga Diaz yang tengah mengerang.
"Bismillah, Allahumma jannibnas-syaithan wa jannibis-syaithana ma razaqtana..."
(Dengan nama Allah, ya Allah, jauhkan lah kami dari setan dan jauhkan lah setan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami).
Ganda menguduskan momen darurat tersebut dengan kalimat-kalimat thayyibah, memastikan bahwa apa yang mereka lakukan malam ini berada di bawah payung pernikahan yang sah dan diridhai, bukan sekadar pelampiasan zat kimia.
Saat penyatuan itu akhirnya terjadi, Diaz langsung membelalak.
Ia mencengkeram erat punggung tegap Ganda, kuku-kukunya menancap kuat hingga memutih saat rasa sakit yang hebat dan sensasi panas dari obat bercampur menjadi satu di dalam tubuhnya.
"S-sakit... Ganda, sakit..." Tangisnya pecah seketika.
Ganda menghentikan gerakannya sejenak, menahan napasnya sendiri demi meredam gejolak di dadanya. Ia mengusap peluh di wajah Diaz dengan jemarinya yang hangat.
"Kamu tahan sebentar, ya, Dek.." bisik Ganda dengan suara yang teramat lembut dan menenangkan, memanggil Diaz dengan sebutan yang begitu intim.
Ganda menuntun Diaz melewati malam yang penuh badai dan gejolak itu dengan penuh kehati-hatian, memperlakukannya layaknya porselen berharga yang tak boleh retak.
Setelah hampir satu jam berlalu, pertarungan melawan efek obat biadab itu akhirnya mereda.
Cairan kimia yang sempat mencuci darah Diaz kini perlahan luruh dan melandai, mengalir keluar bersamaan dengan tuntasnya hak mereka yang suci sebagai sepasang suami istri seutuhnya.
Napas Diaz yang tadinya tersengal-sengal parah perlahan mulai teratur kembali.
Dadanya kini naik turun dengan sangat rileks, dan suhu tubuhnya yang tadinya membakar berangsur-angsur mendingin dan normal.
Rasa pening di kepalanya pun sirna, digantikan oleh rasa lelah yang luar biasa nyaman.
Di bawah remangnya lampu kamar hotel VVIP, Diaz akhirnya tertidur dengan sangat pulas, tenang, dan aman di dalam dekapan hangat dada bidang suaminya.
Ganda mengeratkan pelukannya, menyelimuti tubuh mereka berdua, sembari menatap wajah lelap Diaz dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa kepemilikan yang utuh—meninggalkan jejak malam sakral yang diselimuti ketidaksengajaan, yang dipastikan akan mengubah total dinamika dan rasa di dalam pernikahan poligami mereka ke depannya.
Sementara itu, di teras rumah baru yang sunyi, Laura duduk di atas kursi kayu dengan dada yang naik turun menahan emosi.
Sakit hati, cemburu, dan rasa terhina karena dicampakkan begitu saja oleh Ganda malam ini membuat akal sehatnya hilang.
Dengan jemari yang gemetar, ia merogoh ponselnya dan langsung menghubungi nomor Umi Mariam.
Begitu panggilan tersambung, Laura tidak membuang waktu.
Ia langsung memasang suara terisak yang dibuat-buat, memanipulasi kejadian malam ini demi menghancurkan Diaz.
"Umi... Tolong Laura, Umi. Perempuan kota itu, Diaz... dia benar-benar keterlaluan!" tangis Laura pecah di telepon, terdengar begitu menderita.
"Tadi waktu Mas Ganda mau ajak Laura keluar membeli martabak, tiba-tiba ada lelaki asing keluar dari dalam rumah, Umi! Wajahnya berantakan. Diaz selingkuh di dalam rumah baru kami saat Mas Ganda lengah! Sekarang Mas Ganda pergi mengejar mereka... Laura takut sekali di sini sendirian, Umi!"
Di seberang telepon, Umi Mariam yang mendengar laporan itu seketika berdiri dari duduknya.
Wajah sepuhnya memerah padam, urat lehernya menegang mendengar kesucian pondok dan harga diri anak tunggalnya diinjak-injak. Amarah Umi Maryam meledak seketika.
"Astaghfirullah !! Sudah Umi duga! Perempuan itu memang membawa sial! Dia itu penyihir, Laura! Dia sudah menyihir Ganda sampai Ganda buta dan berani membela dia di depan santri kemarin!" teriak Umi Maryam histeris di seberang telepon, suaranya melengking penuh kebencian.
"Kamu tidak usah takut, Laura. Pegang kata-kata Umi. Besok pagi-pagi sekali, Umi sama Abah akan langsung datang ke rumah baru kalian! Kita selesaikan jalang itu besok. Kita lihat saja, Abah pasti tidak akan tinggal diam. Abah pasti yang akan meminta Ganda untuk menceraikan Diaz seketika itu juga! Pondok kita tidak boleh dikotori oleh wanita pezina!"
"Iya, Umi... terima kasih... Laura tunggu besok pagi," ucap Laura dengan suara yang masih bergetar, seolah menahan tangis yang mendalam.
Pip.
Laura langsung mematikan sambungan ponselnya.
Begitu layar meredup, sedetik kemudian, suara tangisan histeris itu lenyap tanpa bekas.
Laura menyeka sisa air mata di pipinya—air mata penuh kepalsuan dan sandiwara yang menjijikkan.
Raut wajahnya yang tadinya tampak menderita kini berubah drastis menjadi sebuah seringai dingin yang penuh kelicikan.
Ia menatap ke arah jalan raya yang sepi, membayangkan kehancuran Diaz besok pagi.
"Lihat saja besok, Diaz," desis Laura tajam, suaranya berbisik penuh dendam di tengah kegelapan malam.
"Kamu pasti akan diusir secara terhormat oleh Abah dan Umi dari keluarga ini. Dan setelah itu, aku yang akan menjadi satu-satunya istri Mas Ganda, tanpa ada pembanding seperti kamu lagi!"
😡😡😡😡😡😡😡😡
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡