Fatimah mengira pernikahan paksa dengan Rayhan Khalif adalah akhir dari impiannya.
Namun, saat ia mulai mencintai sang suami yang selalu memanjakannya, sebuah rahasia kelam terbongkar: Rayhan Khalif telah dijebak dan menikah siri dengan wanita dari masa lalunya.
Alih-alih mengamuk, Fatimah menghadapi pengkhianatan ini dengan cara yang elegan.
Menggunakan strategi psikologis dan ketenangan yang mematikan, sang istri bercadar siap merebut kembali kebahagiaannya. Air mata berbalut iman, siasat paling mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Janji Suci di Depan Saksi
Gema kata "Sah" yang diucapkan para saksi masih menyisakan getaran halus di dinding kamar utama yang sempit itu.
Doa-doa pernikahan yang dilantunkan oleh bapak penghulu mengalir khusyuk, diaminkan dengan tulus oleh semua yang hadir.
Di balik kain cadar putihnya, napas Fatimah berembus perlahan, mencoba meredakan debaran jantungnya yang bertalu-talu.
Kini, statusnya telah berubah. Ia bukan lagi sekadar seorang gadis santriwati, melainkan seorang istri yang pundaknya telah diikat oleh sebuah perjanjian yang kokoh.
"Silakan, Mbak Fatimah, mencium tangan suaminya sebagai tanda bakti pertama,"
Tuntun bapak penghulu dengan senyum ramah.
Fatimah sempat terpaku selama beberapa detik. Jemarinya yang dingin bergerak ragu di atas pangkuan gaun pengantinnya.
Di hadapannya, Rayhan Khalif, pria berusia tiga puluh delapan tahun yang kini resmi menjadi suaminya, mengulurkan tangan kanan dengan gerakan yang sangat sopan dan tenang.
Sorot mata pria dewasa itu tampak begitu teduh, tidak ada guratan paksaan atau keangkuhan di sana.
Dengan membaca basmalah di dalam hati, Fatimah meraih jemari tegap itu.
Kulit tangan Pramudya terasa hangat, sangat kontras dengan tangan Fatimah yang sedingin es.
Fatimah menundukkan kepalanya, lalu mengecup punggung tangan suaminya dengan takzim yang mendalam.
Sebuah sentuhan pertama yang menandai penyerahan seluruh bakti dan ketaatannya setelah Allah dan Rasul-Nya.
Pramudya tidak langsung menarik tangannya. Pria itu justru mengulurkan tangan kirinya, meletakkannya dengan lembut di atas ubun-ubun kepala Fatimah yang tertutup jilbab dengan aroma melati.
Dengan suara yang berat namun terdengar sangat tulus, Rayhan merapalkan doa yang diajarkan Rasulullah untuk memperlakukan istri baru: memohon kebaikan dari diri Fatimah dan berlindung dari keburukan yang mungkin ada.
Mendengar doa itu dibacakan dengan fasih, setitik air mata haru menyelinap dari sudut mata Fatimah. Pria di hadapannya ini ternyata mengerti agama.
Setelah prosesi penandatanganan buku nikah selesai, perhatian semua orang kembali tertuju pada ranjang kapuk di sudut kamar.
Ayah, yang sejak tadi menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, tampak mengembuskan napas dengan sangat lega.
Senyum yang terukir di wajah tirusnya begitu lebar, seolah seluruh beban dunia yang selama ini menghimpit dadanya menguap dalam sekejap.
Fatimah dan Rayhan segera bergeser, mendekat ke sisi ranjang untuk melakukan sungkem.
Fatimah bersimpuh paling depan, memeluk kaki ayahnya yang terasa semakin kurus.
"Ayah... Fatimah sudah memenuhi keinginan Ayah,"
Bisik Fatimah, suaranya tercekat oleh tangis yang kembali membubung.
"Doakan Fatimah agar bisa menjadi istri yang saleha untuk Mas Rayhan."
Ayah menggerakkan tangannya yang gemetar, mengusap puncak kepala Fatimah dengan sisa-sisa kekuatan yang ada.
"Anakku... kebanggaan Ayah... terima kasih, Nak."
" Kamu sudah... menyempurnakan bakti... kepada Ayah."
Ucap Ayah terputus-putus, suaranya sangat parau namun sarat akan kebahagiaan yang hakiki.
Ayah kemudian menoleh ke arah Rayhan yang kini ikut menunduk takzim di samping Fatimah.
"Ray... kutitipkan permata hatiku bersamamu. Jaga... dan bimbing dia..."
"Insya Allah, Ayah. Saya akan menjaga dan memuliakan Fatimah dengan seluruh jiwa dan raga saya. Ayah tidak perlu khawatir."
jawab Pramudya mantap, menjabat tangan sang mertua dengan penuh rasa tanggung jawab.
Mendengar janji itu, Ayah memejamkan matanya perlahan sembari mengangguk.
Garis-garis ketegangan di wajah pucatnya mendadak sirna, berganti dengan guratan kedamaian yang teramat sangat.
Ibu yang berdiri di dekat pintu kamar langsung memeluk Faisal, menangis bahagia melihat pemandangan indah di depan mata mereka.
Fatimah merasakan sebuah ketenangan aneh merayapi hatinya. Pengorbanan impian kuliahnya yang semula terasa begitu menyakitkan, kini terbayar lunas hanya dengan melihat senyuman terakhir ayahnya yang begitu bermakna.
Namun, keheningan damai itu mendadak terusik ketika genggaman tangan Ayah pada jemari Fatimah perlahan-lahan mengendur.
Napas Ayah yang tadinya berat, tiba-tiba terdengar menghela panjang untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya dada pria paruh baya itu berhenti bergerak.
Kelopak matanya terpejam dengan sangat rapat dan tenang, menyisakan sisa senyuman yang masih terukir di bibirnya yang mengering.
"Ayah? Ayah..."
Panggilan Fatimah memecah keheningan kamar. Ia mengguncang pelan lengan ayahnya, namun tidak ada respons.
Faisal dan Ibu langsung merangsek maju dengan wajah panik.
Rayhan dengan sigap memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan sang mertua, lalu menempelkan dua jarinya di leher Ayah.
Setelah beberapa detik yang menegangkan, Rayhan menoleh ke arah keluarga barunya dengan tatapan mata yang sarat akan duka mendalam.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Ayah sudah tiada," ucap Rayhan lirih.
Tangis Ibu seketika pecah memenuhi ruangan, diikuti histeria Fadia yang baru saja masuk.
Fatimah terpaku di tempatnya bersimpuh. Air matanya meleleh deras di balik cadar, membasahi gaun pengantin putihnya.
Hanya beberapa menit setelah kata "Sah" terucap, takdir langsung menghadapkannya pada duka yang teramat dalam.
Ayahnya benar-benar pergi, tepat setelah menepati janjinya untuk mengantarkan Fatimah ke gerbang pernikahan.