"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERGOLAKAN DI MEJA MAKAN
Mentari pagi baru saja menyembul dari balik cakrawala, menyiratkan cahaya keemasan yang menembus jendela kaca kediaman Habib Umar yang megah. Aroma kopi Arabika dan nasi kebuli yang hangat menyeruak, menciptakan suasana rumah tangga yang seharusnya harmonis. Namun, di meja makan itu, keheningan terasa begitu berat, hanya denting sendok yang sesekali memecah kesunyian.
Zaid duduk dengan wajah yang masih tampak mengantuk. Rambutnya yang sedikit acak-acakan justru menambah kesan maskulin pada wajah tampannya. Di sampingnya, Khadijah duduk dengan tenang, cadar hitamnya sudah terpasang sempurna, menutupi kecantikan yang hanya boleh dilihat oleh mahramnya. Ia dengan telaten melayani kebutuhan Zaid, menuangkan air putih dan menyendokkan nasi, meski suaminya itu hanya menatap piring dengan pandangan dingin.
"Zaid, hari ini kamu berangkat ke kampus jam berapa?" tanya Umi Syarifah dengan suara lembut namun berwibawa.
"Jam delapan, Mi. Ada kelas pagi," jawab Zaid singkat tanpa menoleh.
Umi Syarifah tersenyum kecil, matanya melirik ke arah Khadijah yang sedang menunduk. "Kebetulan sekali. Khadijah juga ada jadwal pagi, kan? Kenapa kalian tidak berangkat bareng saja? Lagipula kampus kalian sama, hanya beda fakultas."
Zaid tersedak kopinya. Ia terbatuk kecil sambil menatap Uminya dengan mata membelalak. Selama tiga tahun kuliah di Universitas Nasional, Zaid tidak pernah tahu—atau tepatnya tidak pernah peduli—bahwa istrinya juga menimba ilmu di tempat yang sama. Dunia mereka terlalu berbeda; Zaid adalah penguasa area parkir dan kantin teknik, sementara Khadijah adalah permata yang tersembunyi di Fakultas Tarbiyah.
"Bareng?" Zaid mengernyit. "Enggak bisa, Mi. Zaid mau naik motor. Kalau naik motor nanti cadar Khadijah terbang-terbang, repot."
"Zaid!" suara berat Habib Umar menyahut dari ujung meja. "Abi sudah bilang, selama kamu sudah berkeluarga, simpan dulu motor besarmu itu. Pakai mobil Abi saja. Lebih aman dan lebih pantas untuk seorang suami yang mengantar istrinya."
Zaid mengembuskan napas kasar. Ia merasa terjepit. Baginya, membawa mobil ke kampus berarti merusak citra "cool" dan bebas yang selama ini ia bangun di depan anggota geng motornya. Namun, melihat tatapan tajam Abinya, Zaid tak berani membantah lebih jauh.
Sebelum suasana semakin tegang, Khadijah mengangkat kepalanya. "Maaf Umi, Abi... sepertinya Khadijah memang tidak bisa bareng Mas Zaid hari ini."
Zaid sedikit terkejut mendengar Khadijah memanggilnya 'Mas' di depan orang tua mereka, namun ia lebih lega karena penolakannya mendapat dukungan.
"Khadijah sudah ada janji ketemuan sama teman-teman sebelum kelas dimulai. Ada urusan organisasi yang harus diselesaikan segera. Jadi, Khadijah berangkat sendiri saja naik taksi online," lanjut Khadijah dengan nada yang sangat sopan, mencoba mencairkan suasana agar suaminya tidak semakin terpojok.
Setelah perdebatan di meja makan, Khadijah benar-benar berangkat lebih awal. Ia turun di sebuah kafe dekat gerbang kampus untuk menemui dua sahabat dekatnya, Aisyah dan Fatimah. Mereka adalah sesama Hafizah yang selalu menjadi tempat Khadijah berbagi keluh kesah.
"Khadijah, kamu pucat sekali. Apa Mas Zaid masih bersikap dingin?" tanya Aisyah cemas saat melihat sahabatnya itu lebih banyak melamun.
Khadijah hanya tersenyum di balik cadarnya. "Mas Zaid hanya butuh waktu, Isyah. Hidayah itu milik Allah, tugas saya hanya bersabar."
Namun, ketenangan Khadijah runtuh dalam sekejap. Dari jendela kafe yang menghadap langsung ke area parkir fakultas hukum yang berseberangan, Fatimah tiba-tiba mematung. Matanya menatap tajam ke arah sebuah mobil mewah yang baru saja terparkir.
"Khadijah... bukannya itu mobil mertuamu?" Fatimah menunjuk dengan tangan gemetar.
Khadijah menoleh. Ia melihat Zaid keluar dari mobil mobil Abinya. Namun, Zaid tidak sendiri. Seorang wanita dengan pakaian minim dan rambut pirang yang tergerai indah langsung menghampiri Zaid. Tanpa rasa malu, wanita itu menggelayut manja di lengan Zaid, tertawa lepas seolah-olah mereka adalah pasangan paling bahagia di dunia.
"Astaghfirullah... Khadijah, itu suamimu, kan?" Aisyah menutup mulutnya karena terkejut. "Kenapa dia membiarkan wanita itu menyentuhnya seperti itu di depan umum?"
Dunia seolah runtuh bagi Khadijah. Dadanya terasa sesak, seperti ada ribuan jarum yang menusuk jantungnya secara bersamaan. Ia melihat Zaid tidak menepis tangan wanita itu, bahkan Zaid tampak menikmati perhatian yang diberikan.
Sakit. Sangat sakit. Hati Khadijah yang lembut hancur berkeping-keping. Pria yang baru beberapa jam lalu duduk satu meja makan dengannya, kini bersikap seolah pernikahan mereka tidak pernah ada.
"Khadijah, kamu mau ke sana?" tanya Fatimah geram. "Biar aku yang jambak wanita itu!"
"Jangan," suara Khadijah bergetar. Ia memejamkan mata rapat-rapat, buliran bening mulai membasahi cadarnya. "Astaghfirullahaladzim... Astaghfirullahaladzim..."
Khadijah beristighfar berkali-kali dalam hati, mencoba menekan rasa hancur yang membuncah. Ia tidak ingin membuat keributan yang akan mempermalukan nama besar keluarganya dan mertuanya. Dengan tangan yang gemetar, ia meremas tasnya.
"Ayo kita masuk kelas sekarang. Saya... saya tidak ingin melihatnya lebih lama lagi," ucap Khadijah seraya bangkit dengan langkah yang goyah.
Di parkiran sana, Zaid sempat menoleh ke arah kafe, merasa seperti ada sepasang mata yang memperhatikannya. Namun, ia kembali larut dalam tawa teman-teman kampusnya, sama sekali tidak menyadari bahwa di seberang sana, ada sekeping hati suci yang baru saja ia hancurkan hingga tak berbentuk lagi.