Sepasang kekasih yang terlihat baik-baik saja, pada akhirnya bisa berakhir juga. Ayra Grizelle mengakhiri hubungannya pada Bagas Cakra Wardana kekasihnya, di hari bahagia mereka yaitu saat wisuda. Keduanya tampak bahagia, tapi sayang seribu sayang Bagas mendengar ucapan Ayra bahwa wanita itu ingin mengakhiri hubungan mereka.
Bagas sangat terkejut dan tidak suka dengan keputusan Ayra secara sepihak yang menurutnya egois. Bahkan Bagas belum mengetahui penyebab Ayra memutuskan hubungan mereka.
Maka dari itu, Bagas bertekad untuk membuat Ayra kembali padanya sekaligus ingin mengetahui penyebab Ayra meninggalkan dirinya. Semua usaha Bagas untuk mendapatkan Ayra menjadi miliknya kembali haruslah dia tempuh dengan caranya sendiri. Setiap perjuangan bahkan ujian akan dia hadapi walau itu membuat dirinya kecewa. Tapi kalau jodoh pasti tak akan kemana. Bagas yakin jika Ayra memang jodohnya maka dia pasti akan bersatu dan kembali bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rati Tiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maksa Banget Sih
Akhirnya setelah pertimbangan dan pikiran serta hati Ayra, sungguh dia benar-benar sekaligus ingin memastikan sesuatu yang telah lama dia risaukan. Mungkin dengan persetujuan dirinya untuk kembali ke Jakarta bersama Bagas adalah salah satunya karena dia ingin berdamai dimasa lalunya. Dan benar pula saran Stevi yang dia pikirkan semalaman.
Dan juga dia ingin memfokuskan masa depan dirinya yang tidak lagi menghindari masalah atau sesuatu yang mungkin tidak pernah orang ketahui tanpa kita sendiri yang memberitahu masalah itu. Bisa jadi orang lain bisa salah paham dan akan menyalahkan diri kita sendri bahkan mencelakai batin kita dalam waktu yang cukup lama.
"Aku senang sekali akhirnya kamu mau kembali ke Jakarta bersamaku, aku benar-benar tidak menyangka," ujar Bagas yang sedari tadi tidak henti menatap Ayra.
Tepatnya di dalam pesawat, Bagas yang duduknya saat ini bersebelahan dengan Ayra. Tampak Bagas yang tak berhenti menatap Ayra, sedangkan yang ditatap tidak menoleh sedikitpun. Namun Ayra tahu sejak tadi Bagas menatapnya, tapi Ayra tidak peduli sama sekali, karena entah saat ini perasaan dirinya tidak menentu. Bukan lagi gugup ataupun canggung, melainkan keraguan.
Jangan ditanya soal hatinya, bahkan jantungnya pun cukup berdetak sejak saat masuk pesawat bersama Bagas. Tapi beruntungnya Ayra bisa mengontrol dirinya agar tidak salah tingkah di depan Bagas. Sebisa mungkin Ayra harus bersikap tenang.
"Aku ke Jakarta karena ingin berdamai dengan masa lalu, bukan karena kamu. Apalagi aku juga rindu sama adek-adek panti dan ibu panti yang sudah aku anggap seperti keluarga sendiri," ucap Ayra dengan kata-kata yang sangat luwes, lembut dan sedikit agak lelah.
"Baiklah, apapun alasan kamu, aku senang bisa sama kamu lagi," ujar Bagas dengan senyuman mengembang.
Ayra yang mendengar kalimat Bagas seperti itu langsung menolehkan kepalanya ke arah Bagas. Seolah mempertanyakan ucapan Bagas.
"Eh maksudnya bisa baik sama kamu seperti teman, iya gitu maksudnya," ujar Bagas yang langsung membenarkan kalimatnya dengan senyum menyengir, dia merasa malu sekali. Padahal apa yang dikatakan diawal tadi adalah sebuah pengakuan dan kebenaran yang sesungguhnya.
Ayra pun tak mau berdiam, seolah dirinya ingin sekali mengetahui sesuatu dari Bagas. Bukan penasaran tapi sekedar hanya ingin tau saja.
"Kenapa kamu masih peduli padaku, padahal dulu aku yang ninggalin kamu," tanya Ayra to the point.
Bagas menengok ke arah Ayra, sesekali menatap bibirnya yang cukup seksi dimatanya, lalu dia tersenyum tipis.
"Entah kenapa aku merasa begitu sangat dekat denganmu, Ay. Beberapa kali aku mencoba untuk menjalin hubungan dengan perempuan lain, tapi hatiku tetap saja menginginkan kamu," jawab Bagas dengan sangat jujur.
"Aku merasa ada sesuatu dalam diri kamu yang selalu ingin aku jaga. Aku juga tidak mengerti, Ay. Jujur aku belum bisa move on dari kamu. Melihat wajah kamu saja seperti ada sesuatu yang membuat hatiku tidak bisa jauh dari kamu," lanjut Bagas dengan ucapannya yang dari hati ke hati, tidak ada paksaan sama sekali.
Mendengar ucapan Bagas, membuat hati Ayra bergetar dan kedua mata Ayra berkaca-kaca, tapi Ayra menyembunyikan itu dari wajahnya yang melengos dari Bagas. Ayra merasa malu untuk hal itu.
Bagas selalu saja bisa mengambil hati Ayra, entah itu dari ucapan atau dari perbuatan Bagas. Lelaki itu seperti penyihir yang tiba-tiba bisa membuat hati Ayra menjadi lunak padahal Ayra itu cukup keras kepala.
Tapi ini juga berkat Stevi yang sudah memberikan saran yang baik padanya. Coba jika tak ada Stevi yang memberikan saran, maka bisa jadi Ayra tidak akan mau menerima tawaran Bagas untuk kembali ke kota kelahirannya. Ayra juga berharap bisa berdamai dengan masa lalunya pada Bagas.
DEG
Jantung Ayra seakan tak berhenti berdetak, dirinya seperti merasa begitu dekat dengan Bagas. Ya, Ayra seketika mengingat semua kejadian waktu dulu saat dia masih kecil dan berada di panti asuhan. Dia begitu sangat akrab dengan Bagas.
Tapi sayang, Bagas tidak mengenali dirinya ketika mereka dipertemukan kembali saat sudah dewasa. Begitu juga dengan Ayra yang Baru mengetahui Bagas setelah hubungan mereka berdua sudah berjalan selama beberapa tahun. Ayra sangat terpukul dan dari situlah Ayra memutuskan Bagas secara sepihak. Apalagi Bagas nyatanya anak orang kaya.
"Ay, kamu dengar aku kan?" tanya Bagas pada Ayra karena wanita itu hanya diam seribu bahasa.
Ayra pun terbangun dari bayang-bayang masa lalunya. Dia beralih menatap Bagas yang memanggil dirinya. Ayra pun menjadi sedih karena hal itu.
"Hemm, aku dengar!" ucap Ayra singkat sambil diam-diam menyeka air matanya yang sedikit basah di pipinya.
"Oh ya, nanti kamu tinggal di apartemen yang dekat dengan kantor biar lebih mudah kamu berangkat kerja, aku sudah atur semuanya kok," ujar Bagas bersemangat dengan kata-katanya.
Sontak Ayra kaget, bagaimana bisa Bagas seenaknya saja memberikan perintah ini dan itu. Ya walaupun atasan, tapi setidaknya harus bilang terlebih dahulu pada Ayra. Itu lah yang ada dibenak Ayra saat ini.
"Kenapa kamu baru bilang ke aku?" tanya Ayra.
"Ya, inisiatif aku aja sih. Tapi ini cuma semata-mata agar kamu lebih mudah ke tempat kerja, Ay. Itu doang kok," jawab Bagas agak mikir sebagai alasan dia menjawab pertanyaan Ayra.
"Seharusnya kamu bilang ke aku dulu, kamu nggak usah repot-repot cari apartemen. Aku tinggal di tempat kost juga biasa kok," ujar Ayra yang dirinya ingin hidup mandiri tanpa bergantung pada orang lain.
"Nggak, kali ini biar aku tenang makanya lebih baik kamu tinggal di apartemen," tukas Bagas sambil tersenyum ke arah Ayra.
Ayra menghela nafasnya perlahan melihat perlakuan Bagas yang begitu perhatian padanya. Ya diakuinya bahwa sejak dulu Bagas adalah sosok lelaki yang sangat perhatian dan dermawan, bukan pada Ayra saja melainkan pada orang lain juga tentunya. Dengan begini Ayra juga merasa tidak enak hati. Bagas begitu sangat peduli padanya walaupun Ayra menyakiti lelaki itu beberapa tahun lalu. Tapi nyatanya Bagas juga lelaki yang keras kepala, tidak bisa dibantah, apalagi lelaki itu sekarang adalah bos besar Ayra.
"Baiklah, tapi pas sampai di Bandara, aku mampir ke panti dulu," ujar Ayra memberitahu.
"Ok, nanti aku antar," kata Bagas dengan sigap.
"Nggak usah, biar aku aja sendiri," tolak Ayra percaya diri.
"Aku yang antar, Ay!" kata Bagas tak mau ditolak.
"Aku sendiri aja!" bantah Ayra dengan pendiriannya.
"Pokoknya aku yang antar, titik nggak pake koma!" ucap Bagas seperti perintah, ya bisa dibilang egois. Tapi Bagas semata-mata melakukannya hanya ingin Ayra sampai dengan selamat.
"Ihhh, maksa banget sih. Ini kan sudah diluar kantor seharusnya nggak boleh maksa gitu," kesal Ayra dengan wajah cemberutnya.
Bagas terkekeh geli melihat kekesalan Ayra. Bagas tersenyum melihat tingkah Ayra yang menurutnya selalu indah dimatanya.
Sedangkan Ayra sangat kesal dengan sifatnya Bagas yang kali ini seperti kekanakan. Saat ini perintah Bagas tak bisa dia tolak. Walaupun ngeselin Ayra tetap menaruh hati pada Bagas. Orang yang selama ini dia rindukan dan tak bisa dia melupakan seorang Bagas.
Bersambung....