NovelToon NovelToon
Pendekar Tanpa Nama

Pendekar Tanpa Nama

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:6k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Menolong Desa Nelayan.

Suara gemuruh ombak Laut Selatan yang megah di bawah tebing Parangtritis mendadak kalah nyaring oleh jeritan histeris yang terbawa angin dari arah timur. Erlang yang baru saja hendak melangkah menjauh dari puing rumah Mbah Wiro yang hangus, langsung menajamkan pendengarannya. Sepasang telinganya bergerak-gerak kecil, menangkap suara denting besi yang beradu kasar ditengah suara tangisan wanita dan anak-anak.

"Nimas Sekar, kau dengar itu?" tanya Erlang, matanya langsung beralih menatap ke arah perkampungan nelayan yang terletak di balik gumuk pasir pantai. "Ada keributan besar di desa nelayan bawah sana."

Sekar Arum membetulkan letak kain pengikat kepalanya, matanya berkilat tajam. "Iya, Erlang. Baunya juga tidak enak, ada asap hitam baru yang mengepul dari arah pemukiman mereka. Ini bukan kebakaran biasa, suaranya terlalu ramai oleh teriakan."

"Ayo kita lihat, Nimas! Jangan sampai warga desa yang tidak bersalah jadi korban lagi seperti Mbah Wiro," ajak Erlang santai namun cekatan. Ia langsung menyampirkan pikulan bambunya ke pundak, lalu melesat turun menuruni bukit pasir menggunakan gerak dasar Langkah Bambu Gurun.

"Hei, tunggu aku, Erlang! Jangan melompat sembarangan!" teriak Sekar kesal sembari ikut berlari mengejar pemuda polos itu, jubah sutra birunya berkibar indah menembus angin laut.

Saat mereka tiba di batas desa, pemandangan di depan mata sungguh memprihatinkan. Belasan rumah panggung bambu milik nelayan tampak berantakan. Jaring-jaring ikan robek besar, dan beberapa perahu kayu di tepi pantai sengaja dibakar. Sekitar dua puluh orang pria bertubuh kekar, berkulit legam karena matahari pantai, dengan tato gambar gurita dan tengkorak di lengan mereka, sedang sibuk mengobrak-abrik isi rumah warga. Mereka adalah kelompok Bajak Laut Pantai Selatan, gerombolan perompak kejam yang biasa merampok upeti dari desa-desa pesisir terpencil.

"Heh! Serahkan semua simpanan koin perak dan hasil laut kering kalian! Kalau tidak, anak-anak ini kami lempar ke tengah laut untuk makanan hiu!" bentak seorang bajak laut bertubuh raksasa yang memegang sebuah kapak besar berkarat. Di depannya, beberapa tetua desa berlutut gemetar sembari memeluk anak-anak mereka.

"Ampun, Tuan... Hasil tangkapan minggu ini sedikit sekali karena badai laut selatan sedang mengamuk. Kami beneran tidak punya koin perak lagi," ratap seorang kakek tua berkepala botak, kepala desa nelayan tersebut.

"Banyak alasan! Tebas saja kepalanya satu per satu!" perintah si pemimpin bajak laut bercaping lebar yang duduk santai di atas sebuah perahu yang terbalik.

"Waduh, Paman-paman sekalian, siang-siang begini kok hobinya marah-marah terus toh? Apa tidak capai berteriak di pinggir pantai yang bising begini?"

Suara santai dan renyah milik Erlang mendadak memotong ketegangan di tengah desa. Pemuda itu berjalan dengan tenang dari balik pohon kelapa, memikul bambu tuanya dengan gaya cuek seolah-olah ia hanya sedang berjalan-jalan sore di pasar desa Kaliwungu dulu.

Semua mata, baik dari para nelayan maupun gerombolan bajak laut, seketika tertuju pada sosok Erlang dan Sekar Arum yang baru saja berdiri berdampingan di tengah gumuk pasir.

"Siapa kau, Bocah Gendeng?! Berani-beraninya ikut campur urusan Bajak Laut Pantai Selatan!" bentak si raksasa pemegang kapak, melangkah maju beberapa tindak dengan wajah garang. "Musafir gembel seperti kalian lebih baik cepat angkat kaki kalau masih sayang nyawa!"

Sekar Arum melirik Erlang sembari melipat tangan di depan dadanya, bertingkah anggun seperti biasa. "Nah, Erlang. Sesuai perjanjian kita di kedai Nyai Pinah kemarin, kan? Kalau ada orang jahat, kau yang harus maju duluan jadi tamengku. Ingat, jubah sutra biruku ini baru saja dibersihkan dari abu bakar tadi, jangan sampai terkena darah kotor perompak-perompak amis ini."

Erlang tertawa kecil, menggaruk kepalanya. "Nggih, Nimas Sekar. Siap laksanakan tugas. Nimas duduk manis saja di bawah pohon pandan itu ya." Erlang kemudian menatap si raksasa pemegang kapak dengan pandangan polos. "Paman Raksasa, begini saja... Bagaimana kalau Paman dan teman-teman Paman pergi dari sini dengan damai? Kasihan warga desa ini, rumah mereka sudah rusak semua. Mencari ikan di laut selatan itu susah lho, bertaruh nyawa melawan ombak besar."

"Kurang ajar! Bocah bau kencur malah menasihatiku! Rasakan kapakku ini!" raung si raksasa.

Ia mengangkat kapak besarnya tinggi-tinggi, lalu mengayunkannya ke bawah dengan kekuatan penuh, berniat membelah tubuh Erlang menjadi dua bagian. Serangan itu membawa angin yang cukup kencang, membuktikan bahwa ia bukan sekadar preman pasar biasa.

Wusss!

Erlang sama sekali tidak bergeming dari tempatnya. Namun, di dalam dadanya, hawa hangat tak terbatas dari kitab kulit tanpa nama langsung bergulung secepat kilat menuju lengan kanannya. Mengikuti insting batinnya yang kian matang setelah pertarungan di Kediri, Erlang menggeser kaki kirinya sedikit ke samping, gerak dasar Tapak Angin Sepoi, membuat mata kapak raksasa itu hanya menebas angin kosong dan menancap dalam ke dalam pasir pantai.

Jleb!

"Lho? Kok meleset?!" si raksasa terkejut.

"Fokusnya terlalu condong ke depan, Paman," bisik Erlang santai yang tahu-tahu sudah berdiri tepat di samping pundak si raksasa.

Erlang menepuk pergelangan tangan si raksasa menggunakan dua jarinya, menyalurkan sedikit saja hawa murni mampet dari kitab. Hanya dengan sentuhan seringan kapas itu, seluruh otot lengan si raksasa mendadak lemas seketika. Kapak besarnya terlepas dari genggaman, dan tubuh kekarnya limbung ke samping sebelum akhirnya ambruk berguling-guling di atas pasir pantai yang basah.

"Keparat! Bocah ini punya ilmu gaib! Serang bersama-sama!" teriak si pemimpin bajak laut bercaping lebar, terkejut melihat anak buah terkuatnya tumbang tanpa perlawanan berarti.

Melihat belasan bajak laut mulai mencabut golok panjang mereka dan mengepung Erlang dari segala penjuru, Sekar Arum tidak bisa tinggal diam begitu saja. Meskipun Erlang adalah tameng utamanya, insting bertarungnya sebagai pendekar yang berwibawa tetap bergejolak melihat kepungan yang tidak adil.

"Heh, Perompak Amis! Lawanmu bukan cuma dia!" teriak Sekar Arum lantang.

Tubuh anggun Sekar melesat maju menembus badai pasir pantai. Jubah sutra birunya berkibar indah membentuk lingkaran pelindung di sekitar para nelayan tua. Dengan menggunakan gerakan silat meliuk mirip tarian keraton yang mematikan, Sekar memutar kedua lengan jubahnya, menangkap dan membelokkan arah tebasan golok dua bajak laut yang mencoba mendekatinya.

Plak! Plak!

Sentuhan gemulai dari tangan terbuka Sekar Arum membuat golok-golok itu saling berbenturan satu sama lain dengan keras hingga mengeluarkan percikan api, menyebabkan kedua bajak laut itu menjerit kesakitan karena pergelangan tangan mereka terpelintir oleh tenaga balik senjata mereka sendiri.

Sementara itu, di tengah kepungan utama, Erlang bergerak seperti bayangan bambu yang bergoyang ditiup angin laut. Setiap tebasan golok yang mengarah ke tubuhnya selalu berhasil dihindarinya dengan senyuman santai, hanya menyisakan jarak seujung rambut dari kain baju lusuhnya. Kombinasi ilmu tenaga dalam dari kitab tanpa nama membuat gerakan Erlang kian efisien, ia tidak perlu banyak membuang tenaga untuk melompat tinggi, cukup dengan geseran tumit dan dorongan hawa murni yang lembut untuk menetralkan setiap serangan kasar lawan.

Brak! Jleg!

Satu per satu bajak laut bertumbangan di atas pasir. Ada yang terlempar beberapa meter ke laut akibat tepukan dada ringan dari Erlang, ada pula yang mengaduh kesakitan memegangi lutut mereka yang mendadak mati rasa akibat totokan jari halus sang pemuda.

"Edan... ini bukan manusia! Ini iblis laut kidul!" teriak salah satu bajak laut yang ketakutan melihat teman-temannya sudah terkapar rapi di atas pantai tanpa ada satu pun yang berhasil menggores baju Erlang atau Sekar.

Si pemimpin bajak laut bercaping lebar yang melihat situasi kelompoknya sudah hancur total dalam waktu kurang dari seperminuman teh, langsung melompat turun dari perahu terbalik. Wajahnya pucat pasi, golok besar di tangannya gemetar hebat. "K-kalian... sebenarnya siapa?! Jangan harap bisa hidup tenang setelah berurusan dengan kelompok kami!"

Erlang melangkah maju dengan santai, membersihkan sisa pasir yang menempel di ujung celananya. "Waduh, Paman Caping. Sudah kalah kok masih suka mengancam toh. Kami ini cuma pengembara biasa yang kebetulan lewat dan mau menumpang istirahat di desa ini. Sekarang, mending Paman bawa semua teman-teman Paman yang pingsan ini pergi dari sini, dan janji jangan pernah kembali mengganggu warga nelayan di sini lagi, ya?"

Mendengar ucapan Erlang yang bernada santai namun sarat akan tekanan tenaga dalam yang membuat dadanya sesak, si pemimpin bajak laut tidak berani banyak tingkah lagi. Ia buru-buru menjatuhkan goloknya ke pasir. "B-baik! Kami janji tidak akan kembali lagi! Cepat bangun kalian semua! Ayo kabur!"

Dengan sisa tenaga yang ada, para perompak Pantai Selatan yang babak belur itu saling memapah satu sama lain, lalu berlari terbirit-birit meninggalkan area desa nelayan menuju perahu cadangan mereka di balik tebing timur, melarikan diri secepat mungkin seolah baru saja melihat hantu di siang bolong.

Suasana desa nelayan seketika berubah menjadi sunyi, digantikan oleh suara deburan ombak laut yang kembali terdengar tenang. Kepala desa dan para nelayan lainnya yang menyaksikan keajaiban tersebut perlahan bangkit berdiri. Mereka langsung membungkuk dalam-dalam di hadapan Erlang dan Sekar Arum dengan mata yang berkaca-kaca dipenuhi rasa haru dan takjub yang luar biasa.

"Matur nuwun... matur nuwun sanget, Gusti Pendekar! Kebaikan dan kesaktian panjenengan berdua telah menyelamatkan nyawa seluruh warga desa kami dari pembantaian," ujar sang kepala desa dengan suara bergetar penuh rasa hormat.

Erlang buru-buru meletakkan pikulan bambunya, lalu memapah kakek kepala desa itu untuk berdiri kembali dengan senyuman tulusnya yang polos. "Aduh, jangan memanggil pendekar toh, Paman Kepala Desa. Panggil saja saya Erlang, dan ini teman saya, Nimas Sekar. Kami beneran cuma kebetulan lewat saja kok. Yang penting sekarang semua warga sudah aman dan tidak ada yang terluka parah."

Sekar Arum berjalan mendekat, menyeka jubah sutranya yang untungnya tetap bersih tanpa noda darah. Ia tersenyum tipis, menatap Erlang dengan pandangan bangga yang terselubung. "Kerja bagus, Tamengku. Caramu menepuk pergelangan si raksasa tadi sudah agak ada kemajuan, tidak terlalu kasar seperti saat di Kediri kemarin."

"Hehe, terima kasih atas pujiannya, Nimas Sekar. Ini semua juga berkat umpan tarian silat Nimas yang hebat tadi," balas Erlang santai sembari terkekeh renyah.

Pertolongan dadakan di tepi pantai Parangtritis itu berjalan dengan sukses tanpa menyisakan bahaya lanjutan bagi warga lokal. Di bawah langit sore pantai selatan yang kian meredup indah, Erlang dan Sekar Arum memilih untuk menerima tawaran kepala desa menginap semalam di pondok nelayan yang tersisa, mengistirahatkan tubuh mereka sembari mengumpulkan informasi baru demi melanjutkan pengembaraan panjang menembus misteri tanah selatan yang kian menantang di depan sana.

1
anggita
novel laga lokal yg cukup menghibur 👌
anggita
nama jurus yg sederhana namun tetap keren👌👍
Rokok Remik
sampai bab ini ceritanya bagus.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!