Seorang pemuda dari Klan Lin, Lin Huang mencoba mencari jalannya sendiri di tengah keputusannya. Hingga suatu hari, kejadian tak terduga yang dia alami justru menjadi titik balik baginya untuk hidup di tempat yang hanya peduli pada kekuatan ini... Apa yang sebenarnya terjadi padanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yann_Story, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kemunculan Penguasa Benua Barat
Sebuah riak spasial berwarna ungu tua yang teramat pekat terbuka perlahan di langit tertinggi. Dari dalam retakan tersebut, sebuah tangan raksasa yang terbuat dari asap hitam pekat dan dipenuhi mata merah yang berkedip menjuntai turun. Tekanan yang dipancarkan oleh tangan ini begitu masif, hingga aura tiga master Transformasi Dewa di bawahnya langsung merosot tajam bagai lilin di tiup angin kencang.
Ini adalah tekanan dari seseorang yang telah melangkah ke Ranah Transformasi Dewa Tingkat Puncak—atau bahkan mungkin setengah langkah menuju Ranah Keabadian (Ascension).
"Penguasa Tertinggi Benua Barat... Jenderal Agung Tian Ming!" Penatua Jiu menyipitkan matanya, raut wajahnya berubah menjadi sangat serius untuk pertama kalinya. Dia langsung melangkah di depan Huang, memadatkan seluruh domain pedangnya untuk bersiap menahan hantaman dari sang musuh bebuyutan.
Tangan raksasa bermata banyak itu tidak menyerang Huang, melainkan mencengkeram kapal induk milik Long Jiao beserta dua master Transformasi Dewa lainnya.
Dari dalam retakan ruang, sebuah suara wanita yang sangat berat, bergema, dan dipenuhi daya hipnotis kuno terdengar dingin, menembus langsung ke telinga Lin Huang.
"Pewaris Asura... kau telah tumbuh lebih cepat dari yang kuperkirakan. Long Yan dan Wu Feng hanyalah pion tidak berguna untuk menguji taringmu. Simpan kepalamu baik-baik untuk saat ini. Ketika Gerbang Alam Kuno terbuka tiga bulan lagi, aku sendiri yang akan turun untuk menelan Jiwa Nascent-mu dan menyempurnakan takdirku."
WUSH!
Tangan raksasa itu menarik kapal perang beserta seluruh sisa pasukan faksi Iblis masuk ke dalam retakan spasial, lalu menutup kembali dalam sekejap mata, menyisakan langit malam yang mendadak sunyi dan bersih dari awan badai.
Armada musuh telah mundur, namun ancaman yang ditinggalkan oleh Jenderal Agung Gorgon justru bagai pedang tak kasat mata yang kini tergantung di atas kepala semua orang. Tiga bulan. Itulah waktu tersisa sebelum konfrontasi puncak yang sesungguhnya antara sang pembawa warisan Asura dan penguasa tertinggi faksi Iblis pecah, yang akan menentukan hidup dan matinya seluruh peradaban di Benua Pusat dan Barat.
Lin Huang menatap langit hampa tempat retakan itu lenyap. Lingkaran emas di pupil ungunya berputar pelan, memancarkan tekad yang semakin membara. Tiga bulan mungkin waktu yang singkat bagi kultivator biasa, namun dengan Sumsum Tulang Asura Sejati dan tingkat penyempurnaan baru Kitab Pembalik Surga Sembilan Putaran, tiga bulan adalah waktu yang lebih dari cukup bagi sang Asura baru untuk mengumpulkan kekuatan yang sanggup meruntuhkan seluruh Benua Barat.
Setelah retakan spasial tertutup rapat, Aula Dewan Tertinggi akademi dan seluruh area puncak luar mendadak sunyi. Hujan cahaya spiritual yang turun pasca-kesengsaraan petir menyentuh kulit para murid, namun tidak ada satu pun dari mereka yang berani bersuara. Semua mata terpatri pada sosok Lin Huang yang masih melayang di udara, jubah abu-abunya yang robek berkibar perlahan, memancarkan aura seorang penguasa muda yang baru bangkit.
"Tiga bulan..."
Huang menggumamkan kata-kata Jenderal Agung Tian Ming. Suaranya rendah, namun di dengar jelas oleh Penatua Jiu yang berada di sampingnya. Lingkaran emas di pupil ungunya perlahan memudar, kembali menjadi sepasang mata hitam pekat yang jernih. Kontrol Kitab Pembalik Surga Sembilan Putaran miliknya kini telah mencapai tingkat di mana dia bisa menyembunyikan badai energi Asura di dalam Dantiannya dalam sekejap mata.
Penatua Jiu mendekat, menepuk pundak Huang dengan lambaian tangan yang santai, meski sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bangga sekaligus kewaspadaan. "Bocah sialan, kau baru saja memaksa proyeksi spiritual Tian Ming turun tangan sendiri. Di seluruh sejarah generasi muda Benua Pusat, tidak ada yang pernah mendapatkan 'kehormatan' seperti ini dari sang penguasa kegelapan."
Kepala Akademi melayang mendekat bersama para tetua inti yang setia. Wajah sang pemimpin tertinggi akademi itu tampak dipenuhi kompleksitas emosi. "Lin Huang, dengan promasimu sebagai Murid Inti Utama, akademi akan mengerahkan seluruh sumber daya faksi ortodoks untuk melindungimu. Namun, ancaman Tian Ming tentang Gerbang Alam Kuno tiga bulan lagi... itu bukan gertakan semata."
"Gerbang Alam Kuno, Kepala Akademi? Tempat apa itu sebenarnya?" tanya Huang, indra batinnya menangkap riak kegelisahan dari para tetua saat nama itu disebutkan.
Kepala Akademi menghela napas panjang, mengisyaratkan agar mereka semua turun dan kembali ke Aula Utama yang kini telah hancur sebagian.
---
Di dalam ruang rahasia bawah tanah Puncak Arak, hanya ada Huang dan Penatua Jiu. Sebuah peta kulit binatang purba yang memancarkan energi magis kuno terbentang di atas meja batu.
"Tian Ming tidak salah," Penatua Jiu memulai, wajahnya kembali serius tanpa kendi arak di tangannya. "Gerbang Alam Kuno adalah sebuah celah dimensi yang terbuka setiap seratus tahun sekali di titik netral terdalam antara Benua Pusat dan Barat. Tempat itu adalah medan perang sekte-sekte kuno era Asura dahulu. Di dalam sana, terdapat Kolam Darah Asal, tempat di mana esensi kehidupan ras purba mengkristal."
Penatua Jiu menatap lurus ke mata Huang. "Tian Ming telah mencapai puncak Ranah Transformasi Dewa selama ratusan tahun. Alasan dia tidak bisa melangkah ke Ranah Keabadian (Ascension) adalah karena tubuhnya kekurangan esensi purba tingkat tinggi. Dia menginginkan Jiwa Nascent Asura milikmu dan Kolam Darah Asal di dalam Gerbang Kuno untuk menyempurnakan hukum jalannya."
Huang mengepalkan tangannya. Sumsum tulang Asura di dalam tubuhnya mendadak berdenyut panas, seolah-olah merespons nama Kolam Darah Asal tersebut. "Jika dia mendapatkannya, bukan hanya aku yang mati, tapi seluruh Benua Pusat akan jatuh ke tangannya."
"Benar. Karena itu, tiga bulan ini adalah batas hidup dan matimu," Penatua Jiu berdiri, berjalan ke arah jendela batu yang menghadap ke lembah awan. "Kultivasi Jiwa Nascent Tingkat Awalmu saat ini, ditambah fisik Asura murni, memang sanggup mengejutkan master Transformasi Dewa tingkat awal seperti Long Jiao. Tapi di hadapan Gorgon sejati yang menguasai hukum ruang... kau masih terlalu hijau."
"Murid mengerti. Saya butuh kekuatan yang lebih besar. Setidaknya... Ranah Jiwa Nascent Lingkaran Sempurna dalam tiga bulan," ucap Huang, tekad di suaranya tidak tergoyahkan sedikit pun oleh nama besar musuhnya. Bagi orang lain, melompat tiga sub-ranah dalam tiga bulan di tingkat Jiwa Nascent adalah hal yang mustahil, namun Huang memiliki struktur tulang dewa iblis dan teknik pembalik surga yang menentang logika fana.
Penatua Jiu tersenyum tipis, matanya berkilat misterius. "Aku tahu satu tempat. Tempat pemurnian terlarang milik para pendiri akademi yang belum pernah dibuka selama lima ratus tahun: Ngarai Sembilan Kematian Api Purba. Di sana, energi apinya begitu ekstrem hingga bisa melelehkan Jiwa Nascent biasa dalam hitungan detik. Tapi bagi fisik perunggunya yang dialiri sumsum Asura... itu adalah tungku penempaan terbaik."
Pria tua itu melemparkan sebuah kunci batu berbentuk kepala gagak yang telah patah—pusaka yang dia rebut dari sisa-sisa pertempuran di luar tadi. "Gunakan tiga hari untuk menstabilkan jiwamu, temui Putri Elysa untuk menyelesaikan urusan tim ekspedisi kalian, lalu masuklah ke ngarai itu. Tiga bulan lagi, aku ingin melihat seberapa tinggi kau bisa membalikkan langit ini, Bocah!"
"Murid menerima perintah!" Huang menjura hormat, darah di dalam nadinya membakar semangat bertarung yang murni.
Tiga bulan ke depan tidak akan menjadi waktu istirahat, melainkan neraka penempaan yang akan menguji batas terjauh dari kemampuannya. Lin Huang tahu, saat Gerbang Alam Kuno terbuka nanti, dia tidak akan datang sebagai mangsa yang ketakutan—dia akan datang sebagai sang pembalas yang membawa badai kepunahan bagi seluruh faksi Tian Ming.