Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."
Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.
Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.
Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.
Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.
Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Topeng Kepalsuan dan Intaian Malam
Sepanjang hari, Randy tampil sempurna di depan publik. Dia mondar-mandir di kantor polisi, menyeka air mata buatan yang dia paksakan keluar dari sudut matanya, dan memposting status di media sosial dengan foto Anita yang tampak paling bahagia.
"Tolong, bagi siapa pun yang melihat istri saya, segera hubungi saya! Kita semua hancur! Kita semua merasa kehilangan. Terutama saya dan Vano anak kita." tulisnya dengan penuh drama.
Di balik layar, Randy justru menyesap kopi dengan tenang di ruang pribadinya. Setiap panggilan telepon dari tim SAR atau relawan yang bertanya tentang perkembangan pencarian Anita di manapun, dijawab dengan nada yang bergetar dibuat-buat, padahal di dalam hatinya, dia tertawa lebar.
'Cari saja sampai mampus,' batinnya.
'Anita sudah hancur lebur di dasar jurang. Tidak akan ada yang bisa menemukan apa pun selain tulang belulang yang membusuk.'
Baginya, hilangnya Anita adalah kebahagiaan terbesar. Tidak ada lagi sorotan tajam Anita pada keuangannya.
Malam harinya, rumah mewah Randy berubah menjadi sarang dosa. Di kamar utama, kamar yang dulunya adalah tempat ternyaman bagi Anita, kini Valeria sudah menunggu dengan pakaian yang sangat menggoda.
Begitu Randy masuk, Valeria langsung menyambutnya dengan ciuman liar yang sarat akan rasa lapar.
Tidak ada kesedihan di sana. Tidak ada penyesalan.
Valeria duduk di atas perut Randy, menatap mata pria itu dengan ambisi yang lebih gelap.
"Randy," bisik Valeria dengan napas memburu, tangannya mengusap wajah pria itu.
"Aku mau kita punya anak. Sekarang Anita udah nggak ada, aku mau menempati posisinya secara permanen. Aku mau jadi Nyonya Randy yang sah, membawa keturunanmu di rumah ini."
Randy tertegun sejenak, namun kemudian menyeringai. Ambisi Valeria adalah senjata yang bisa dia kendalikan. Mereka bercinta sepuasnya di atas ranjang yang masih menyimpan sisa-sisa aroma parfum Anita, tanpa menyadari bahwa di luar sana, sebuah badai emosional sedang menuju ke arah mereka.
Sementara itu, di rumah Bu Kiara, suasana jauh dari kata tenang. Vano, yang baru berusia enam tahun, terus menangis tanpa henti. Wajahnya sembab, bibirnya gemetar setiap kali dia memanggil nama ibunya.
"Nenek, Mama ada di rumah. Vano yakin Mama di sana!" tangis Vano sambil menarik-narik ujung baju Bu Kiara.
"Ayo antar Vano, Nek! Vano nggak mau di sini!"
Bu Kiara, yang hatinya hancur melihat cucunya, merasakan dorongan untuk menenangkan Vano. Insting seorang ibu dan nenek yang mencintai anaknya tidak pernah salah. Bu Kiara terpaksa mengajak Vano ke rumah Randy dan Anita untuk menenangkan cucunya sementara waktu.
Dia menatap Vano, lalu mengambil kunci mobil dengan tangan gemetar.
"Baik, Nak. Nenek antar kamu. Kita cek rumah Papa."
Bu Kiara tidak ingin membiarkan Vano terus menderita. Dia ingin membuktikan pada cucunya bahwa Anita tidak ada di sana, agar Vano bisa tenang dan berhenti berharap. Mereka berangkat pada tengah malam, membelah kesunyian kota menuju rumah mewah Randy.
Begitu sampai, rumah itu tampak gelap, namun sebuah mobil asing terparkir rapi di balik pagar mobil sedan butut yang biasanya digunakan Valeria.
Bu Kiara mengerutkan kening. Instingnya langsung waspada. Dia tidak membunyikan klakson, melainkan memarkir mobilnya jauh dari gerbang, lalu mengajak Vano masuk melalui pintu samping yang biasanya tidak terkunci rapat jika petugas kebersihan lupa menutupnya.
"Sstt, Vano. Ikut Nenek. Jangan berisik," bisik Bu Kiara dengan napas tertahan.
Mereka berhasil menyelinap masuk ke dalam ruang keluarga. Namun, suasana rumah terasa sangat berbeda. Ada aroma parfum yang sangat menyengat, parfum yang sering dipakai Valeria.
Tiba-tiba, suara tawa wanita yang sangat familier terdengar dari arah lantai atas.
Bu Kiara mematung. Jantungnya berdegup kencang. Suara itu adalah suara Valeria.
Tiba-tiba, terdengar langkah kaki menuruni tangga. Valeria hanya dengan mengenakan jubah mandi tipis turun ke bawah menuju dapur untuk mengambil minum.
"Vano, sembunyi!" bisik Bu Kiara panik, mendorong Vano ke balik pilar besar di ruang tamu yang tertutup bayangan.
Keduanya menahan napas. Bu Kiara memeluk Vano erat-erat, menutup mulut cucunya agar tidak mengeluarkan isak tangis. Mereka bisa melihat punggung Valeria yang berjalan santai menuju dapur.
Deg... Deg... Deg...
Jantung Bu Kiara terasa mau meledak. Dia melihat Valeria menuangkan air ke gelas. Wanita itu tampak sangat santai, bahkan bersenandung kecil, seolah-olah dia adalah pemilik rumah tersebut.
"Randy, sayang! Minumnya udah aku ambil!" teriak Valeria ke arah tangga.
Dari atas, suara Randy menjawab dengan tawa kecil,
"Cepat balik ke atas, aku udah nggak sabar!"
Bu Kiara merasa dunianya runtuh. Anita baru hilang satu hari, dan pria itu sudah membawa selingkuhannya ke rumah, bercinta di atas ranjang istrinya, seolah-olah Anita tidak pernah ada.
Amarah, rasa jijik, dan duka bercampur menjadi satu.
"Nenek, itu Tante Valeria," bisik Vano dengan suara gemetar, matanya mulai berkaca-kaca melihat wanita yang pernah dia temui di kantor ayahnya.
"Diam, Vano. Jangan gerak," bisik Bu Kiara dengan mata yang kini berkilat penuh dengan kebencian dan keberanian yang baru.
Dia menyadari satu hal krusial. Randy tidak sedang mencari Anita. Randy sedang berpesta di atas penderitaan mereka. Saat Valeria berbalik arah menuju tangga kembali, Bu Kiara harus berpikir cepat.
Dia harus membawa Vano keluar dari rumah ini tanpa terlihat, agar dia bisa segera menghubungi pihak berwajib dan mengungkap kebenaran yang busuk ini.
Di tengah kegelapan, di balik bayang-bayang pilar rumah yang mewah namun menyimpan kebobrokan moral yang mengerikan, Bu Kiara memeluk Vano lebih erat.
Melihat Valeria yang perlahan melangkah kembali menaiki tangga, Bu Kiara langsung memanfaatkan momentum tersebut. Dia menunduk, menatap mata Vano yang berkaca-kaca, lalu berbisik dengan nada yang sangat meyakinkan namun lembut.
"Vano sayang, dengerin Nenek. Mama sebenarnya nggak ada di sini. Mama... Mama sekarang ada di rumah sakit, dia lagi nungguin Vano. Maaf Nenek bohong karena Mama pesan ke Nenek untuk gak ngasih tahu Vano dulu, takutnya Vano nangis. Tapi sekarang, ayo, kita susul Mama sekarang juga ya? Tapi kita harus keluar pelan-pelan," bujuk Bu Kiara, menenangkan cucunya sekaligus membawanya keluar dari sarang iblis ini.
Mendengar kata 'Mama', mata Vano seketika berbinar harapan. Bocah itu mengangguk patuh dan menghapus air matanya. Bu Kiara segera menuntun tangan kecil Vano, melangkah mundur dengan sangat hati-hati di atas lantai menuju pintu samping.
Namun malang, di tengah kegelapan ruang tengah, ujung sepatu Vano tidak sengaja menyenggol sebuah vas bunga hias berukuran kecil yang terletak di sudut meja rendah.
Prang!
Suara pecahan kaca itu menggema nyaring menembus keheningan rumah. Di atas tangga, langkah Valeria mendadak terhenti. Dia menoleh ke bawah, matanya yang tajam seketika menyipit penuh kecurigaan.
"Siapa di bawah?!" teriak Valeria ketus. Dia berbalik arah dengan cepat, berlari menuruni anak tangga dan langsung menyalakan saklar lampu utama.
Klik!
Seketika itu juga, ruang tamu menjadi terang benderang. Bu Kiara dan Vano yang baru saja mencapai ambang pintu samping langsung membeku. Valeria berdiri di ujung tangga dengan jubah mandinya, menatap mereka berdua dengan pandangan mata yang melotot lebar.
"Oh... jadi ada tikus tua dan tikus kecil yang berani menyelinap ke rumah gue?" desis Valeria kejam, menutup jalan keluar mereka.
Bersambung