Kania mengira pernikahannya dengan Firman adalah takdir bahagia. Selama dua tahun, Firman menjadi suami sempurna sekaligus pahlawan yang menyelamatkan ekonomi keluarganya.
Meski hidup dengan disabilitas pada kaki kirinya akibat sebuah kecelakaan, Kania tak pernah menyerah menjalani hidup. Ia percaya, selama Firman tetap berada di sisinya, semua kekurangan itu bukanlah penghalang untuk meraih kebahagiaan.
Namun, saat perusahaan Firman bangkrut, badai besar menghantam rumah tangga mereka.
Pria yang pernah berjanji akan terus menggenggam tangannya mendadak berubah dingin. Lalu, seorang wanita dari masa lalu Firman datang menawarkan suntikan dana untuk menyelamatkan perusahaan dengan satu syarat, Firman harus membuang Kania dari hidupnya.
Demi mengembalikan kejayaan dan mempertahankan ambisinya, Firman tak ragu mengkhianati janji suci pernikahan mereka.
Terluka hebat, Kania memutuskan pergi meraih kebahagiaannnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 16 Rayuan Mawar
"Aku berangkat kerja dulu," ucap Firman sambil berdiri dari kursinya. Ia meraih tas kerjanya di atas meja, lalu menatap istrinya, mengharapkan rutinitas pagi yang biasa ia dapatkan.
Kania yang sedang mencuci piring di wastafel hanya menoleh sekilas. "Hmm."
Hanya gumaman pelan itu yang keluar dari bibir Kania. Wanita itu kembali fokus pada cucian piringnya, sama sekali tidak mendekat untuk mencium punggung tangan suaminya, apalagi berjinjit manis merapikan dasi Firman seperti yang selalu dilakukannya selama bertahun-tahun pernikahan mereka.
Melihat sikap acuh tak acuh itu, rahang Firman mengeras.
Egonya sebagai suami merasa diinjak-injak.
"Cuma hmm?!" tegur Firman dengan nada meninggi. "Kamu ini kenapa sih, Kania? Cuma gara-gara masalah semalam, kamu mau bersikap kurang ajar sama suami? Nggak mau cium tangan? Nggak mau merapikan dasiku?!"
Kania menghentikan gerakannya. Ia membilas tangannya dari busa sabun, menegakkan tubuh, dan menatap suaminya dengan pandangan yang tak lagi memancarkan kehangatan, melainkan kekecewaan.
"Tanganmu bisa merapikan dasi itu sendiri, Mas," jawab Kania santai, membalas tatapan tajam suaminya. "Dan soal cium tangan, kurasa tanganku yang selalu berbau bumbu dapur ini sudah tidak pantas menyentuh suamiku yang sekarang lebih suka dengan keharuman parfum wanita lain."
"Kania! "Aku sudah bilang berkali-kali aku nggak selingkuh! Kenapa kamu keras kepala sekali sih?!"
"Kalau begitu buktikan dengan tindakanmu, bukan dengan bentakan mu, Mas," potong Kania cepat. "Bukannya Mas lagi pusing mencari suntikan dana untuk perusahaan? Sebaiknya Mas cepat berangkat ke kantor sekarang. Nanti terlambat. Berdebat denganku di sini tidak akan melunasi utang-utang Mas."
Setelah mengatakan itu, Kania membalikkan badan, mengabaikan Firman yang dadanya naik-turun menahan emosi.
"Sialan!" umpat Firman tertahan.
Dengan kasar ia menyentak kerah jasnya, lalu melangkah keluar rumah dengan langkah lebar dan penuh amarah.
Begitu menginjakkan kaki di halaman rumah, langkah Firman terhenti mendadak. Keningnya berkerut tajam melihat sebuah mobil sedan hitam mewah terparkir anggun tepat di depan pagar rumahnya.
Mobil yang sama persis dengan yang mengantarnya pulang semalam.
Kaca jendela mobil itu perlahan turun, lalu pintu kemudi terbuka. Sosok wanita cantik dengan balutan blazer elegan berwarna merah maroon dan rok span selutut melangkah keluar.
Rambutnya dicatok rapi bervolume, memancarkan aura wanita karier kelas atas. Kehadirannya seakan membuat lingkungan perumahan sederhana itu terlihat salah tempat.
"Pagi, Mas," sapa Mawar dengan senyum manis yang dihiasi lipstik berwarna persis seperti noda di kemeja Firman semalam. Ia melangkah mendekat dengan wangi vanilla musk yang langsung menguar di udara. "Sudah sarapan?"
Firman terdiam sejenak, melirik dengan was was ke arah pintu rumahnya, takut Kania tiba-tiba keluar. Ia segera berjalan cepat menghampiri Mawar agar menjauh dari pagar.
"Sudah," jawab Firman singkat.
Mawar yang pandai membaca situasi langsung menangkap gurat kekesalan di wajah pria itu. Senyumnya berubah menjadi tatapan penuh simpati.
"Kok mukanya ditekuk begitu pagi-pagi?" tanya Mawar lembut, suaranya terdengar seperti melodi yang menenangkan bagi telinga Firman. "Ada apa, Mas? Masih pusing kepala kamu gara-gara minum semalam?"
Firman menghela napas panjang, mengusap wajahnya frustrasi.
"Istriku ngambek besar. Dia menemukan noda lipstik di kerah kemejaku yang semalam. Itu pasti milikmu, kan, Mawar?" tanya Firman menatap lurus ke mata wanita itu.
Mendengar tuduhan itu, Mawar menutup mulutnya dengan sebelah tangan, berpura-pura terkejut.
"Astaga... Ya ampun, Mas... maafin aku, ya," ucap Mawar dengan nada memelas yang dirancang khusus untuk membuat laki-laki luluh.
"Aku beneran nggak sengaja semalam. Pas bawa kamu yang lagi mabuk berat masuk ke mobil, badanmu kan limbung nyaris jatuh, terus kepalaku nggak sengaja membentur dadamu dan bibirku pasti menempel di kemeja mu. Aku sama sekali nggak sadar kalau sampai berbekas di sana. Ya ampun, istrimu pasti marah besar ya sama kamu? Duh, aku jadi merasa bersalah banget."
Penjelasan yang masuk akal itu, ditambah wajah memelas Mawar yang terlihat begitu tulus, membuat amarah Firman seketika surut.
Ego Firman yang tadi terkoyak oleh sikap dingin Kania perlahan terobati melihat betapa wanita sukses di depannya ini begitu peduli dan merasa bersalah padanya.
Firman menghela napas pasrah, melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik. "Ya sudahlah, nggak apa-apa. Kania memang akhir-akhir ini suka melebih-lebihkan masalah. Pusing aku jadinya."
Melihat Firman termakan alasannya, senyum tipis yang penuh kemenangan terbit di bibir Mawar. Ia memajukan selangkah kakinya, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatunya nyaris bersentuhan dengan sepatu Firman.
Dengan perlahan, Mawar mengangkat kedua tangannya. Jari-jari lentiknya yang dihiasi cat kuku mahal itu menyentuh dada bidang Firman, lalu perlahan naik merapikan simpul dasi pria itu yang sedikit miring, tepat melakukan apa yang Kania tolak lakukan pagi ini.
Sentuhan tangannya terasa hangat menembus kemeja Firman.
"Kasian banget sih, Mas Firman..." bisik Mawar , matanya menatap lekat ke dalam manik mata Firman dengan pandangan memuja.
Mawar dengan sengaja mengusap dada Firman perlahan, seolah sedang menenangkan kegelisahan pria itu, namun sentuhannya jelas mengundang makna lain.
"Pagi-pagi sudah dibikin pusing sama istri sendiri. Padahal kan kamu di luar sana kerja keras peras keringat juga demi menghidupi dia."
Firman menelan ludah, tubuhnya terpaku merasakan usapan lembut di dadanya. Aroma parfum wanita itu menginvasi indra penciumannya, memabukkan pikirannya yang sedang kalut.
"Harusnya istrimu itu sadar diri dan lebih bersyukur punya suami sehebat kamu, Mas," lanjut Mawar dengan suara berbisik manja. Jari telunjuknya kini menelusuri kerah jas Firman.
"Kalau aku jadi istrimu, jangankan marah dan ngambek., aku pasti akan melayani mu sebaik mungkin dari ujung kepala sampai ujung kaki setiap kali kamu pulang. Aku nggak akan biarkan wajah tampan laki-lakiku ditekuk sedikit pun."
Dada Firman berdebar tak karuan mendengar rayuan manis itu. Perlakuan Mawar benar-benar memanjakan egonya sebagai laki-laki yang merasa tidak dihargai di rumahnya sendiri.
Tanpa sadar, alih-alih menepis tangan wanita itu karena statusnya sebagai suami orang, Firman justru diam saja.
Firman membiarkan dirinya terhanyut dalam kehangatan semu yang ditawarkan sang wanita masa lalu, tanpa menyadari bahwa sebuah tatapan dingin sedang mengawasi mereka dari balik celah tirai jendela rumahnya.
"Ini yang kamu bilang nggak selingkuh? Kamu menyakitiku Mas!" batinnya.
kamu pasti bisa bangkit kembali😭😭
kamu gak tau KLO mawar ingin menjadikan firman sebagai budak catur
yg harus kerja rodi
siap siap lembur stiap hari dan istri barumu akan menghabiskan uang perusahaan
dan Bu Tuti akan kehilangan jatah bulananmu
ahay
Nah betul nih si 🌹 berduri adiknya si kulkas. Eng ing eng...
sebenarnya itu bukan dosa
hanya ujian😁
ternyata dia dari anak pengusaha
ish ish kelakuannya berbanding terbalik sama kakaknya
huh dasar pelakor