NovelToon NovelToon
Unexpected Scenario

Unexpected Scenario

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:584
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

❣️ Update : 19.00 WIB ❣️

Bagaimana jika skenario hidup yang selama ini kamu anggap menyedihkan ternyata adalah skenario terindah yang Tuhan siapkan untukmu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

18 - Day 1

Pagi itu samar-samar aku mendengar suara adzan.

Perlahan kubuka mata.

Kamar masih gelap.

Namun beberapa detik kemudian aku menyadari ada sesuatu yang terasa aneh.

Ada tangan yang melingkar di pinggangku.

Tubuhku langsung menegang.

Dalam keadaan setengah sadar, aku menunduk.

Tanganku sendiri ternyata juga berada di pinggang seseorang.

Hah?

Jantungku langsung berdebar.

Refleks aku melepaskan pelukanku lalu turun dari tempat tidur.

Dengan panik aku meraba-raba dinding mencari sakelar.

Klik.

Lampu kamar menyala.

Aku langsung menoleh ke arah tempat tidur.

Seorang laki-laki tampak baru saja terbangun dan kini menatapku dengan bingung.

Javier.

Beberapa detik aku hanya berdiri mematung.

Lalu semuanya kembali teringat.

Pernikahan.

Rumah orang tuaku.

Dan Javier yang kini duduk di atas tempat tidurku.

Jadi...

semua itu benar-benar terjadi.

Aku benar-benar sudah menikah dengannya.

Dan yang lebih parah lagi, kami tidur di ranjang yang sama.

Bahkan dalam posisi saling berpelukan.

Oh tidak.

Apa yang sebenarnya terjadi?

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyaku cepat. "Kenapa posisi kita kayak gitu? Kenapa kita saling peluk? Kamu nggak macam-macam sama aku, kan, Mas?"

Javier yang baru saja sadar sepenuhnya langsung mengerutkan dahi.

"Enak aja. Ya nggak lah," jawabnya. "Aku kan udah bilang aku bukan cowok brengsek yang sukanya memanfaatkan kesempatan."

Aku masih menatapnya curiga.

Sulit mempercayai seseorang yang baru sehari menjadi suamiku.

"Coba cek tubuhmu. Pasti nggak ada jejak apa pun."

"Nggak ada jejak bukan berarti kamu nggak ngapa-ngapain aku, kan?"

Javier memejamkan mata sesaat lalu menghela napas panjang.

"Terserah kamu mau mikir apa tentang aku."

Aku tetap diam.

Javier menatapku tak percaya.

"Nay, tadi malam kamu sendiri yang nyuruh aku tidur di sini bareng kamu. Kenapa sekarang malah nuduh-nuduh aku?"

"Iya aku memang bilang begitu, tapi seharusnya kamu jaga kepercayaanku dong."

"Aku nggak ngapa-ngapain kamu. Berapa kali lagi aku harus bilang?" Javier menggeleng pelan. "Astaga..."

Ia kembali mengembuskan napas panjang.

"Udah ah. Aku mau salat dulu. Lama-lama ngobrol sama kamu, nanti aku malah darah tinggi."

"Hah?"

Belum sempat aku membalas, Javier sudah turun dari tempat tidur.

Ia merapikan kausnya sekilas lalu berjalan menuju pintu kamar.

Aku masih duduk mematung di atas ranjang saat ia membuka pintu.

"Eh, Ayah?" suara Javier terdengar terkejut. "Mau ke masjid ya, Yah?"

Aku langsung menoleh ke arah pintu.

Di sana Ayah berdiri dengan peci hitam di kepala dan sarung yang sudah rapi dikenakan.

"Iya," jawab Ayah. "Mau salat Subuh."

“Sebentar. Saya juga mau ikut,” ucap Javier.

“Eh, kamu nggak mandi dulu?” tanya Ayah.

“Nanti saja, Yah. Setelah dari masjid.”

“Eh, kamu harus mandi dulu kalau habis ngelakuin itu,” ucap Ayah.

Eh?

Aku langsung paham maksud Ayah.

Tanpa berpikir panjang, aku segera mendekati mereka.

“Ngelakuin apa, Yah?” tanya Javier bingung.

“Ayah, kita nggak ngapa-ngapain tadi malam,” ujarku cepat.

Javier langsung menoleh ke arahku dengan ekspresi terkejut.

“Kan kemarin capek banget,” lanjutku.

Ayah langsung mengalihkan pandangannya kepada Javier.

“Betul begitu?”

“Iya, Yah. Lihat nih.”

Aku langsung menggerakkan kedua kakiku.

“Kalau kita ngelakuin itu, jangankan gerakin kaki kayak gini. Bangun aja pasti aku susah.”

Javier kembali menatapku dengan ekspresi yang sulit dijelaskan.

“Udah sana, Mas. Kamu wudhu.”

Aku mendorong pelan lengannya.

“Ah iya, iya.”

Javier pun berjalan menuju kamar mandi.

Begitu ia pergi, Ayah kembali menatapku.

“Benar kalian nggak ngapa-ngapain?”

“Iya, Ayah. Berapa kali aku harus bilang sih? Lagian kan kita belum saling cinta. Dan aku juga udah bilang aku nggak mau disentuh sama cowok yang nggak cinta sama aku dan nggak aku cintai.”

“Berarti tadi kamu bohong dong. Bukan karena capek kalian nggak ngelakuin itu.”

Aku langsung terdiam.

“Iya. Maaf.”

“Ayah nggak maksa kalian buat ngelakuin itu. Ayah cuma ingin kamu tahu aturannya. Kalau udah ngelakuin itu, harus mandi.”

“Iya, Ayah. Aku tahu. Aku kan bukan anak kecil lagi.”

Lalu Javier muncul dan masuk ke kamar memakai baju koko dan sarung."

“Ayo, Yah.”

“Kami ke masjid dulu, Nay. Assalamu'alaikum.”

“Wa'alaikumsalam.”

Ayah dan Javier pun keluar rumah.

Aku masih berdiri di sana sambil memikirkan ucapan Ayah tadi.

Aku dan Javier melakukan itu?

Oh tidak!

Dua jam kemudian, aku, Javier, Ayah, dan Ibu kembali duduk bersama di meja makan untuk sarapan.

Suasana pagi terasa jauh lebih santai dibanding semalam.

Setidaknya sampai Ayah membuka percakapan.

"Jam berapa kalian akan ke rumah baru?" tanyanya.

Aku menelan suapan terakhirku sebelum menjawab.

"Setelah sarapan ini aku mau beres-beres barang dulu. Habis itu langsung berangkat."

Ibu langsung mengerutkan dahi.

"Cepat banget, Nay. Apa nggak bisa nanti sore aja? Atau lusa? Kan cuti kamu tiga hari."

"Ibu, tadi malam aku kan udah jelasin alasannya."

"Sudah, Bu. Biarkan saja," sela Ayah santai. "Namanya juga pengantin baru. Mungkin mereka pengen berduaan. Di sini kan ada kita, jadi mungkin mereka malu."

Aku hampir tersedak.

"Ayah!"

Baik Ayah maupun Ibu langsung menatapku.

"Kami nggak gitu ya."

"Iya juga nggak apa-apa, Nay," kata Ayah santai. "Udah halal ini."

"Nggapain juga kami kayak gitu? Saling suka aja nggak. Lagian dia juga pasti harus ke rumah makan. Iya, kan?"

Javier yang tiba-tiba diseret ke dalam percakapan langsung mengangkat kepala.

"Ah... iya."

"Nah, kan."

Aku kembali menatap Ayah dan Ibu seolah baru saja memenangkan perdebatan.

Namun Ibu justru menggeleng pelan.

"Naya..."

"Apa lagi, Bu?"

"Kok kamu ngomongnya 'dia-dia' terus?"

Aku mengerutkan dahi.

"Memangnya kenapa?"

"Javier udah jadi suami kamu, lho."

Aku menghela napas panjang.

"Ibu... Mas Vie harus ke rumah makan. Jadi kami pindahnya sekarang. Lagian rumah baru lebih dekat ke rumah makan daripada dari sini."

Ibu langsung berhenti mengunyah.

Ayah juga menoleh.

Bahkan Javier ikut menatapku.

"Mas Vie?" tanya Ibu bingung.

"Itu panggilan Naya ke saya, Bu," jawab Javier.

"Ya ampun, Nay. Kamu bilang nggak saling suka, tapi punya panggilan sayang buat Javier."

"Itu bukan panggilan sayang."

"Lalu apa?"

"Biar gampang aja."

Ibu tampak tidak percaya.

"Tapi setahu Ibu nggak ada orang lain yang manggil Javier pakai nama itu."

Aku membuka mulut.

Lalu menutupnya lagi.

Karena memang tidak ada.

"Berarti panggilan sayang dong."

"Bukan!"

"Kelihatannya iya."

"Ibu!"

Ayah mulai tertawa kecil.

Sedangkan Javier memilih menunduk sambil menyembunyikan senyumnya di balik gelas.

Aku langsung melotot ke arahnya.

Jangan ikut-ikutan!

"아니야... (bukan...)" gumamku pelan.

Ibu langsung menoleh.

"Kamu ngomong apa?"

"Nggak ada."

Aku buru-buru makan kembali.

Namun Ibu belum selesai.

"Iya juga nggak apa-apa. Wajar kok punya panggilan sayang."

"Itu bukan panggilan sayang, Bu. Astaga..."

"Iya, iya."

Ibu langsung menatap Javier.

"Kalau kamu panggilan sayang ke Naya apa, Javier?"

Aku langsung membeku.

Javier yang sedang minum juga hampir tersedak.

Kami berdua spontan saling menatap.

Sama-sama panik.

"Ehm... Itu...”

Untuk pertama kalinya sejak menikah, aku melihat Javier benar-benar kehilangan kata-kata.

“Nggak ada, Bu. Dibilang aku manggil dia Mas Vie biar gampang. Bukan panggilan sayang,” ucapku.

“Ya udah, panggil sayang aja,” ucap Ibu.

“Ibu!” seruku kesal.

Ibu hanya tertawa kecil.

“Iya, iya.”

Aku menghela napas panjang.

Percuma.

Kalau Ibu sudah mulai menggoda seperti ini, mau aku menjelaskan sampai besok pagi juga tidak akan ada gunanya.

“Udah ah... aku mau ke kamar.”

Aku langsung berdiri dari kursiku.

“Makananmu belum habis, Nay,” tegur Ayah.

Aku menunduk melihat piringku.

Masih ada beberapa suap makanan yang tersisa.

“Aku udah kebayang, Yah.”

Setelah mengatakan itu, aku segera melangkah meninggalkan meja makan.

Di belakangku, aku masih bisa mendengar suara tawa kecil Ibu.

Begitu masuk ke kamar, aku langsung duduk di depan meja rias.

Aku menatap pantulanku sendiri di cermin.

"Ibu nyebelin banget deh," gerutuku pelan. "Kenapa sih Ibu harus ngomong kayak gitu? Padahal udah tahu aku sama Javier nggak saling suka."

Aku mengembuskan napas panjang.

Baru saja aku hendak berdiri, terdengar suara ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

"Nay... Nay..."

Suara Ayah.

Aku segera membuka pintu.

Di luar sudah berdiri Ayah dan Javier.

"Ayah berangkat dulu, ya."

"Iya, Yah."

Ayah menatapku beberapa detik.

"Kamu jangan nyusahin Javier."

Aku langsung mengerucutkan bibir.

"Ayah..."

"Dan bertingkahlah layaknya istri."

Aku menghela napas.

"Iya, Ayah."

"Kalau mau pergi atau melakukan apa pun, izin dulu ke Javier. Kamu nggak sendiri lagi sekarang."

"Iya, Ayah."

Baru setelah itu Ayah terlihat puas.

"Ya udah. Ayah berangkat."

Aku langsung mencium tangannya.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumsalam."

"Saya antar ke depan ya, Yah," ujar Javier.

"Nggak usah. Kamu bantuin Naya aja."

Setelah mengatakan itu, Ayah pun berjalan menuju pintu depan.

Aku memperhatikannya sampai menghilang dari pandangan.

Entah kenapa, ada perasaan aneh saat melihat punggungnya menjauh.

Biasanya aku selalu tinggal di rumah ini bersama Ayah dan Ibu.

Tapi sekarang semuanya berbeda.

Sekarang aku akan pindah.

Dan tinggal bersama Javier.

Begitu Ayah pergi, aku kembali masuk ke kamar.

Javier masuk menyusul di belakangku.

Aku langsung menarik koper ke depan lemari lalu membukanya.

"Perlu aku bantu?" tanya Javier.

"Nggak usah."

"Baiklah."

Ia duduk di tepi tempat tidur sementara aku mulai mengeluarkan pakaian dari lemari.

Satu per satu.

Baju kerja.

Baju santai.

Suasana kamar sempat hening selama beberapa menit.

Sampai tiba-tiba...

"Itu ukuranmu?"

Aku langsung membeku.

"Hah?"

Aku mengikuti arah pandang Javier.

Lalu wajahku langsung panas.

Ternyata tanpa sadar aku memasukkan pakaian dalam ke koper begitu saja.

Refleks aku langsung memindahkannya ke bagian bawah tumpukan pakaian.

"Ngapain kamu nanya-nanya begitu?"

Javier terlihat bingung.

"Ya nanya aja."

"Kamu mau macam-macam ya?"

"Astaga."

Javier langsung memijat pelipisnya.

"Kenapa sih kamu suudzon terus sama aku?"

"Ya terus ngapain nanya kayak gitu?"

"Aku cuma nanya."

"Itu pertanyaan mesum."

"Itu bukan pertanyaan mesum."

"Itu mesum."

"Nggak."

"Iya."

"Nggak."

Aku melipat tangan di depan dada.

"Kalau nggak mesum, kenapa harus nanya soal begituan?"

Javier menghela napas panjang.

"Nggak tahu."

"Nah kan."

"Bukan begitu maksudku."

"Terus?"

"Aku cuma penasaran."

Aku langsung menunjuk wajahnya.

"Tuh kan! Penasaran!"

Javier menutup matanya sebentar.

Seolah sedang menghitung kesabaran yang tersisa.

"Lagian," lanjutku, "kita juga nggak akan ngapa-ngapain. Ngapain nanya soal ukuran segala?"

"Emang harus ngapa-ngapain dulu buat nanya?"

"Ya iyalah."

"Kenapa?"

Aku menatapnya tidak percaya.

"Bukannya cowok-cowok kayak gitu suka ukuran tertentu?"

"Aku nggak gitu. Aku nggak peduli yang kayak gitu."

"Terus kenapa kamu nanya?"

"Entahlah. Tiba-tiba pengen nanya aja."

Aku mendongak ke langit-langit.

"Ya Allah... kenapa hamba harus menikah dengan laki-laki mesum seperti ini?"

"Aku nggak mesum ya!"

"Kalau nggak mesum, kenapa nanya-nanya begitu?"

Javier kembali menghela napas.

Kali ini lebih panjang dari sebelumnya.

"Udah lah."

Ia berdiri dari tempat tidur.

"Ngomong sama kamu nggak ada habisnya."

Javier berjalan menuju pintu.

"Aku panasin mobil dulu."

Lalu tanpa menunggu jawabanku, ia keluar dari kamar.

Pintu tertutup.

Aku masih berdiri di depan koper sambil mengepalkan tangan.

Dasar aneh.

Kenapa dia bertanya tentang ukuran?

Kalau bukan mesum terus apa?

Aku mendengus kesal lalu kembali memasukkan pakaianku ke dalam koper.

Namun beberapa saat kemudian gerakanku melambat.

Aku teringat ekspresi Javier tadi.

Ia memang terlihat kesal.

Seolah-olah akulah yang berlebihan.

Padahal jelas-jelas dia yang memulai semuanya.

Aku menggeleng cepat.

Tidak.

Tetap saja dia aneh.

Sangat aneh.

Aku menutup koper dengan keras.

Hari pertama menjadi istri Javier saja sudah membuatku hampir darah tinggi.

Dan entah kenapa aku merasa...

hari-hari berikutnya tidak akan lebih mudah.

1
Mamah Dini11
sebenarny kmu itu nay oon atau loding sih bkn nya mulai menerima yg du otakmu cerai dan cerai aja gk punya frinsip banget. ,kan kmu itu pegawi bang ko sebodoh itu pemikiranmu. liat javer gk. kayak kmu Dia santai tenang gk mikirin hal2 aneh ,mungkin di pikirannya jalani aja dulu, nah kmu nay blm apa2 udh ribet pikiranmu .lanjut
Mamah Dini11
kok takut bknnya bagus., dan teganya javer biarkan kmu hujan2an,kalau dia. punya mobil kan bisa anterin kmu. jadi gk kehujanan , atau blm punya kali.
Mamah Dini11
kmu terlalu jauuuh mikirnya nay , coba mikirny yg positif2 aja biar ringan kedepan nya, ok. permisi thor ikutan ni..
Mamah Dini11
thor maaf setiap episodnya. bisa tambah bhs, indo. kuring ngerti aku mh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!