Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 - Segel Dahi Retak
Cahaya terang menyelimuti tubuh Bobon. Seluruh taman istana bersinar seperti terkena sinar matahari di tengah malam. Wulan terpaksa menutup matanya dan mundur beberapa langkah. Angin kencang berputar di sekitar Bobon, mengacak-acak rambutnya dan membuat pakaiannya berkibar.
Bobon merasakan sesuatu yang luar biasa mengalir di dalam tubuhnya. Energi murni yang hangat dan kuat mengalir dari dadanya ke seluruh anggota tubuh. Rasa sakit yang luar biasa mulai mereda, digantikan oleh perasaan ringan dan kebebasan. Dia tidak pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.
Ketika cahaya mulai meredup, Bobon membuka matanya. Wulan menatapnya dengan kagum. Sesuatu telah berubah pada Bobon. Tubuhnya masih gemuk, wajahnya masih polos, tapi ada aura baru yang memancar darinya.
"Bobon... kau baik-baik saja?" tanya Wulan khawatir.
"Aku... aku merasa berbeda, Wulan. Ada kekuatan besar di dalam diriku. Kekuatan yang belum pernah aku rasakan."
Bobon mengangkat tangannya dan memerhatikan telapak tangannya. Garis-garis halus berwarna keemasan muncul di kulitnya, lalu menghilang perlahan. Dia merasakan energi yang mengalir di setiap pembuluh darahnya.
"Apa yang terjadi padamu?" tanya Wulan.
"Segel keempat telah terbuka. Kekuatanku mulai pulih."
Wulan tersenyum lega. "Kau pasti akan menjadi lebih kuat sekarang. Tapi tolong, jangan terlalu memaksakan diri."
"Aku tidak akan, Wulan. Aku berjanji."
Dari balik pohon, Nenek Mira, Pangeran Bima, dan Putri Laras berjalan mendekat. Mereka semua tersenyum melihat Bobon.
"Kau berhasil membuka segel keempat," kata Nenek Mira dengan bangga. "Sekarang kau memiliki kekuatan yang lebih besar."
"Apa yang bisa kulakukan sekarang, Nek?"
"Kau bisa merasakan energi orang lain. Kau bisa membaca gerakan mereka sebelum mereka melakukannya. Dan kau bisa menggunakan kekuatan fisik yang lebih besar."
Bobon mengangguk. Dia merasakan semua itu. Dia bisa merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya. Dia bisa merasakan detak jantung mereka, aliran energi mereka. Semua terasa begitu jelas.
"Aku bisa merasakan semuanya, Nek. Aku bisa merasakan energi kalian."
"Itu adalah tanda bahwa segel keempat telah terbuka. Sekarang kau harus membuka segel berikutnya. Segel kelima di tangan kirimu."
Bobon melihat pergelangan tangan kirinya. Ada pola samar berbentuk lingkaran di sana. Segel kelima.
"Tapi Nek, setiap segel membawa kenangan menyakitkan. Segel keempat tentang Wulan sudah sangat berat."
"Memang, Nak. Tapi kau harus terus maju. Tidak ada jalan lain."
Malam harinya, Bobon duduk di kamarnya dengan perasaan baru yang aneh. Dia bisa mendengar suara dari jauh, merasakan getaran di tanah, melihat bayangan yang tidak terlihat oleh mata biasa. Semua itu membuatnya sedikit pusing, tapi dia perlahan mulai terbiasa.
Wulan datang ke kamarnya. Dia duduk di samping Bobon dan memegang tangannya.
"Kau terlihat lelah, Bobon."
"Aku lelah, Wulan. Tapi aku juga bersemangat. Ada banyak hal yang ingin aku pelajari."
"Kau akan belajar perlahan. Jangan terburu-buru."
Bobon menatap Wulan. "Wulan, aku ingin bertanya sesuatu."
"Tanya saja."
"Kenapa kau mau meninggalkan Sekte Iblis untukku? Aku tahu itu bukan keputusan mudah."
Wulan tersenyum sedih. "Karena aku masih mencintaimu, Bobon. Meskipun aku membencimu selama bertahun-tahun, cinta itu tidak pernah hilang. Ketika aku melihatmu hari ini, aku tahu aku tidak bisa membunuhmu. Aku tidak bisa menyakitimu."
"Aku bersyukur kau memilihku."
"Aku juga bersyukur kau mencariku. Kau tidak menyerah padaku."
Bobon menggenggam erat tangan Wulan. "Aku tidak akan pernah menyerah padamu. Apapun yang terjadi."
Mereka berbicara lama. Tentang masa lalu, tentang masa depan, tentang semua yang telah mereka lewati. Wulan menceritakan bagaimana dia bergabung dengan Sekte Iblis, bagaimana Kaisar Kegelapan memberinya kekuatan, bagaimana dia menjadi Jenderal Seruling Kematian.
"Aku melakukan banyak hal buruk, Bobon," kata Wulan dengan mata berkaca-kaca. "Aku membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Aku menghancurkan desa-desa. Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkan diriku sendiri."
"Kau bisa, Wulan. Aku akan membantumu. Kita akan memperbaikinya bersama-sama."
"Apakah kau yakin? Aku sudah terlalu jauh."
"Tidak ada yang terlalu jauh untuk cinta sejati."
Wulan menangis di pelukan Bobon. Untuk pertama kalinya, dia merasa ada harapan. Harapan untuk masa depan yang lebih baik. Harapan untuk kedamaian.
Saat mereka berpelukan, tiba-tiba Bobon merasakan getaran aneh dari kejauhan. Getaran yang tidak biasa. Getaran yang membawa bahaya.
"Ada sesuatu," kata Bobon. "Aku merasakan sesuatu."
"Apa?"
"Getaran... dari luar istana. Seperti... banyak orang bergerak."
Bobon berjalan ke balkon dan melihat ke kejauhan. Di balik tembok kerajaan, dia melihat bayangan-bayangan gelap bergerak. Banyak bayangan.
"Mereka datang," bisik Bobon. "Sekte Iblis menyerang."
Wulan berdiri di sampingnya. Wajahnya pucat. "Tidak mungkin. Mereka seharusnya menyerang dalam beberapa minggu."
"Kaisar Kegelapan pasti tahu kau mengkhianatinya. Dia mempercepat rencana."
Suara terompet peringatan mulai terdengar di seluruh istana. Para penjaga berlarian. Keluarga kerajaan bangun dan bersiap.
Bobon menarik napas dalam-dalam. "Aku harus pergi ke gerbang. Aku harus melindungi kerajaan."
"Aku ikut denganmu," kata Wulan.
"Kau yakin? Kau akan melawan mantan sekutumu."
"Ya. Aku sudah memilih sisi. Aku memilihmu."
Bobon tersenyum. "Terima kasih, Wulan. Aku tidak akan mengecewakanmu."
Mereka berlari menuju gerbang utama. Di sana, pasukan kerajaan sudah bersiap. Pangeran Bima berdiri di depan dengan pedang di tangannya.
"Bobon! Mereka menyerang dari semua sisi!" teriak Pangeran Bima.
"Aku akan menghadapi mereka, Pangeran. Jaga bagian belakang."
Bobon melompat ke atas tembok dan melihat ke bawah. Ratusan prajurit Sekte Iblis bergerak maju. Di depan mereka, ada Jenderal Pedang Besar dan Jenderal Sabit Kutukan Darah.
"Ini baru permulaan," gumam Bobon. "Tapi aku tidak akan menyerah."
Dia menarik napas dalam-dalam dan merasakan kekuatan segel keempat mengalir di tubuhnya. Energi hangat memenuhi setiap ototnya. Dia merasa siap.
Bobon melompat dari tembok dan mendarat di tengah pasukan musuh. Tanah di bawahnya pecah karena benturan. Prajurit-prajurit Iblis terkejut dan mundur.
"Aku Bobon," kata Bobon dengan suara lantang. "Aku Pendekar Dewata. Dan aku tidak akan membiarkan kalian memasuki kerajaan ini."
Jenderal Pedang Besar tertawa. "Bocah gendut berani melawanku? Aku akan menghancurkanmu!"
Jenderal itu mengayunkan pedang raksasanya. Tapi Bobon bergerak lebih cepat. Tubuhnya yang gemuk berputar dan menghindari serangan dengan mudah. Dia meninju perut Jenderal Pedang Besar dengan kekuatan penuh.
Jenderal itu terpental dan jatuh ke tanah. Matanya terkejut. "Kau... kau lebih kuat dari yang aku kira!"
"Tapi kau bisa menjadi lebih kuat," kata Wulan dari belakang. "Jangan menyerah, Bobon!"
Bobon tersenyum. Dia merasakan energi baru mengalir di tubuhnya. Segel di dahinya mulai berdenyut. Segel pertama. Segel yang sudah retak total sejak lama.
"Tubuhku... bergerak sendiri," gumum Bobon.
Dia melompat ke udara dan meninju tanah. Gelombang kejut menyebar ke segala arah. Puluhan prajurit Iblis terpental dan jatuh.
"Luar biasa!" teriak Pangeran Bima dari atas tembok.
Tapi Bobon tidak berhenti. Dia terus melawan. Setiap pukulan, setiap tendangan, setiap gerakan dilakukan dengan sempurna. Tubuhnya mengingat semua jurus yang pernah dia pelajari. Semua latihan yang pernah dia lakukan.
Di tengah pertempuran, Bobon merasakan sakit di dahinya. Segel pertama berdenyut dengan kuat. Lalu tiba-tiba, kilasan muncul.
Dia melihat gurunya. Pria tua dengan jubah putih. Pria itu tersenyum dan berkata, "Kau hebat, muridku. Aku bangga padamu."
"Aku berhasil, Guru!" teriak Bobon dalam kilasan itu.
"Ya. Tapi perjalananmu masih panjang. Teruslah berjuang."
Bobon terbangun dari kilasannya. Air mata mengalir di pipinya. Tapi kali ini, air mata itu bukan karena kesedihan. Tapi karena kebanggaan.
"Aku ingat, Guru," bisik Bobon. "Aku ingat semuanya."
Segel di dahinya retak total. Kekuatan baru mengalir di tubuhnya. Kecepatan dan kekuatan fisiknya meningkat drastis. Dia bisa merasakan setiap gerakan musuhnya sebelum mereka melakukannya.
Bobon menatap Jenderal Pedang Besar dan Jenderal Sabit Kutukan Darah. "Kalian berdua. Ayo."
Para jenderal itu saling pandang. Mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Bocah gendut itu berubah menjadi mesin penghancur.
"Mundur!" teriak Jenderal Sabit Kutukan Darah. "Kita butuh bala bantuan!"
Tapi Bobon tidak memberi mereka kesempatan. Dia melompat dan menghantam keduanya dengan satu pukulan. Mereka jatuh dan tidak bangkit lagi.
Pasukan Sekte Iblis mulai mundur. Mereka ketakutan melihat kekuatan Bobon.
"Kita menang!" teriak Pangeran Bima. "Kita menang!"
Seluruh istana bersorak. Bobon berdiri di tengah medan perang, mengatur napas. Tubuhnya lelah, tapi hatinya penuh kebahagiaan.
Wulan berlari menghampirinya. "Bobon! Kau hebat!"
"Aku tidak sendirian," kata Bobon sambil tersenyum. "Aku punya kalian."
Wulan memeluknya. Di kejauhan, Nenek Mira menangis bahagia.
Bobon telah membuka dua segel dalam semalam. Segel keempat dan segel pertama. Dan kekuatannya terus tumbuh.
Tapi dia tahu perang belum selesai. Kaisar Kegelapan masih di luar sana. 10 Jenderal Iblis masih berkumpul. Dan masih ada lima segel yang harus dibuka.
"Besok," bisik Bobon. "Besok aku akan melanjutkan perjalananku."
Dan di bawah sinar bulan, Bobon berjanji pada dirinya sendiri. Dia akan menjadi kuat. Dia akan melindungi semua orang yang dicintainya. Dan dia akan mengalahkan Kaisar Kegelapan.
Apapun yang terjadi.